
"Damian, apakah kau memiliki sesuatu untuk merekam bukti bahwa Keluarga Malone dan Sika bekerja sama dengan Raja Iblis Boldax untuk melakukan pemberontakan?" tanya Julian.
Julian, Karina, Damian, dan Inka sedang berada diruang kerja milik Damian. Mereka saat ini sedang membahas bagaimana tindak lanjut mengenai rencana pemberontakan tiga pihak.
Karena mereka tahu kalau Keluarga Malone dan Sika tidak akan tinggal diam setelah melihat Sea Serpent diambil dan dilelang oleh Keluarga Mollon.
Apalagi mereka tidak memenangkan Jantung Sea Serpent yang mereka inginkan dan pada akhirnya itu jatuh ke tangan Karina.
"Ya. Beruntung kami memiliki barang sihir yang bisa merekam sebuah kejadian." Damian mengangguk.
Ia berjalan dan membuka pintu ruangan, kemudian ia berbicara kepada penjaga yang sedang menjaga pintu ruang kerja.
Setelah mendengar ucapan Damian, penjaga itu mengangguk dengan hormat dan segera pergi dari sana.
"Tunggu sebentar, bawahanku sedang membawa barang yang aku maksud tadi." Julian kembali duduk.
"Bagus. Sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah bukti saja. Karena semua informasi mengenai rencana pemberontakan mereka sudah kita ketahui," ucap Julian.
"Haruskah kita menunggu kedatangan Marquiss Alan?" tanya Inka.
"Kurasa tidak, itu terlalu lama. Bahkan jika kita meminta Marquiss Alan untuk segera datang dengan alasan tangan kanannya melakukan pemberontak, dia tidak akan percaya." Karina menolak ide Inka.
"Karin benar. Justru kita yang akan dianggap sebagai pemberontak karena Marquiss Alan pasti sangat mempercayai Sika." Julian mengangguk setuju dengan ucapan Karina.
"Benar juga ya." Inka sadar dan mengangguk kalau idenya tadi cukup beresiko.
Setelah beberapa saat, pintu ruangan diketuk. Setelah Damian mempersilakan untuk masuk, pintu terbuka dan datanglah penjaga tadi sambil membawa sebuah kotak kayu.
Penjaga tersebut menyerahkan kotak kayu yang ia pegang kepada Damian. Damian menerimanya dan memperbolehkan penjaga untuk pergi.
Setelah pintu tertutup, Damian membuka kotak kayu itu dan didalamnya berisi sebuah bola kaca seperti mutiara yang berwarna putih.
"Apakah itu?" tanya Julian.
"Ya, ini adalah benda sihir yang jika disalurkan dengan mana maka benda ini akan mengeluarkan sebuah cahaya yang redup."
"Kalian tinggal arahkan cahaya yang keluar ke objek atau sesuatu yang akan kalian rekam. Setelah selesai, tarik kembali mana kalian."
Damian mengambil benda sihir yang mirip seperti mutiara itu dan menjelaskan fungsinya kepada Julian dan Karina.
"Bagus, dengan ini, bisa dipastikan kalau Keluarga Malone dan Sika akan hancur." Julian menunjukan seringai jahat.
"Julian, kau seperti penjahat sekarang," ucap Karina.
"Hehehe." Julian hanya tertawa kecil.
Mereka berempat kemudian membahas beberapa hal lagi sampai malam hari. Kemudian, setelah makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing.
__ADS_1
...----------------...
Julian saat ini sedang duduk dikursi dengan teh hangat dimeja di depannya. Ia tiba-tiba ingin melihat bintang malam dengan secangkir teh.
"Hm, semoga saja ada orang yang kuat diantara Keluarga Malone. Aku ingin melawan seseorang yang kuat, bukan monster," batin Julian.
*tok tok tok
Pintu kamar Julian diketuk, Julian mengangkat alisnya karena bingung siapa yang datang ke kamarnya di waktu malam ini.
Julian bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu. Kemudian ia membuka pintu dan melihat kalau yang ada didepan kamarnya adalah Karina.
"Karin? Masuklah." Julian mempersilakan Karina masuk tanpa bertanya karena ia tahu kalau Karina memiliki sesuatu untuk dikatakan.
Julian mengeluarkan cangkir lain dan menuangkan teh hangat kedalamnya. Mereka berdua duduk berhadap-hadapan dibawah cahaya bulan.
"Julian..." Karina memanggil Julian.
"Ya, aku disini." Julian sedikit terdiam karena Karina tidak langsung mengatakan apa yang ia ingin katakan.
"Apakah kau mau menjadi suamiku?" Karina menatap Julian dengan tatapan tegas.
"Pfft-!" Julian tersedak saat ia sedang meminum teh.
"Tunggu, apa katamu?" Julian melebarkan matanya dan menunggu kata-kata Karina.
"..." Julian mengenal napas panjang lalu menutup matanya sejenak.
"Bisakah kau jelaskan terlebih dahulu mengapa kau berkata seperti itu?" Julian memegangi kepalanya yang pusing.
"Hm, sebenarnya, bukan hanya Bruno yang menginginkanku sebagai istrinya. Ada satu orang lagi yang identitasnya lebih tinggi dibandingkan dengan Bruno," ucap Karina.
"Dan siapa itu?" Julian menyipitkan matanya karena penasaran.
"Pangeran kedua, Lucas von Cruya." Karina memberitahu identitas orang yang menginginkannya sebagai istrinya.
"Sial!" Julian ingin bersumpah serapah saat ini.
"Lalu mengapa kau bertanya seperti tadi? Apakah kau tidak ingin menikah dengan pangeran kedua?" Julian mengerutkan keningnya.
"Aku tidak menyukai seseorang yang hanya mengandalkan statusnya. Selain itu, Lucas sudah memiliki seorang istri." Karina menghela napas panjang.
"Hah? Dia memiliki seorang istri?" Julian terdiam dan tidak tahu harus bagaimana.
"Ya, istrinya tidak bisa melahirkan karena ada kecelakaan dimasa lalu. Oleh karena itu istrinya mengizinkan Lucas untuk menikah lagi dan targetnya adalah aku." Karina mengangguk dan menjelaskan mengapa Lucas boleh memilih istri baru.
"Ah, jadi begitu." Julian menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia paham dengan penjelasan Karina.
__ADS_1
"Jadi bagaimana?" Karina menatap Julian.
"Aku tidak menerima, karena aku sedang tidak ingin terikat. Namun aku juga tidak menolak karena aku juga merupakan seorang pria." Julian menjawab dengan ambigu.
"Kalau begitu bagaimana jika begini, kau jadi kekasihku saja. Hanya untuk menghentikan pengejaran Lucas." Karina berpikir sebentar lalu berkata.
"Diterima." Julian berdiri dan memeluk Karina.
"Apa yang kau lakukan!" Karina berteriak dengan malu.
"Latihan." Julian menjawab dengan asal-asalan.
"Kita tidak boleh melakukan hal diluar batas!" Karina masih berteriak.
"Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan hal itu. Tapi, apakah kau tahu? Ditempat asalku, orang yang berumur 15 tahun bahkan sudah berhubungan meskipun menjalin hubungan sementara," ucap Julian.
"Apa? Maksudmu, saat mereka berpacaran, mereka melakukan hubungan itu?" Karina merasakan kalau pipinya menjadi panas.
"Hm, ya. Bicara tentang usia, aku belum tahu usiamu." Julian melepaskan pelukannya dan bertanya kepada Karina.
"Ah iya, usiaku adalah 20 tahun. Kau?" Karina menjawab dan bertanya balik kepada Julian.
"18 tahun. Kita memiliki perbedaan dua tahun!" Julian tersenyum.
"Tidak kusangka kau akan lebih muda." Karina memutar matanya.
"Ngomong-ngomong, bukankah biasanya bangsawan akan bertunangan diusia 15 tahun? Bahkan ada beberapa yang masih dibawah umur sudah bertunangan," tanya Julian.
"Itu karena aku adalah satu-satunya anak di keluargaku. Aku bisa dengan bebas memutuskan apakah aku ingin menikah."
"Dan juga, aku ini mendambakan kekuatan. Oleh karena itu banyak lelaki yang sudah aku tolak karena mereka semua lemah."
"Bisa dikatakan, kalau kebanyakan hanyalah lelaki yang hanya bisa mengandalkan status orang tuanya," jawab Karina.
"Heh~ Jadi begitu." Julian mengangguk.
Mereka berdua kemudian berbincang-bincang dengan santai sambil menikmati teh hangat dan melihat bintang-bintang di langit malam.
Setelah itu, Karina kembali ke kamarnya yang berada didepan kamar Julian karena dia sendiri yang menginginkan kamar yang berada didekat Julian.
"Apakah disini aku bisa menemukan pasangan sejati?" Julian bertanya kepada dirinya sendiri saat Karina sudah keluar.
"Hm, apapun itu. Memang benar kalau aku tidak ingin terikat karena tujuanku juga berkeliling dunia dan berpetualang."
"Karina adalah anak dari seorang Duke, gelar yang berada dibawah pangeran atau tuan putri. Mereka pasti tidak akan mengizinkan anaknya berkeliling dunia."
"Yah, meskipun aku memang sedikit menyukai Karina dia adalah tipeku, hahaha." Julian tertawa.
__ADS_1
Kemudian, setelah membereskan cangkir teh, ia melompat keatas ranjang dan tertidur dengan pulas.