
Karena monster gorila berteriak dengan sangat keras, tiba-tiba muncul getaran di dalam gua. Mereka berempat langsung waspada karena sepertinya getaran ini bukan karena gempa.
Dan benar saja, beberapa saat setelahnya, muncul banyak sekali monster gorila yang berpenampilan sama seperti monster gorila yang tergeletak di tanah karena kakinya tidak bisa digerakkan.
"Oho? Sepertinya kita telah mengundang banyak monster. Karena kita tidak melawan para Werewolf di lantai satu, maka kita akan melawan gorila sialan ini untuk merenggangkan otot-otot kita," ucap Julian.
"Baik!!" mereka bertiga mengangguk dengan penuh semangat karena akhirnya mereka bisa bertarung dengan bebas.
Nimi langsung masuk ke dalam bayangan Mine, Mine berlari dengan celah ke arah pada monster gorila yang sedang marah karena salah satu rekan mereka disakiti oleh manusia.
Para monster gorila juga berlari ke arah Mine. Saat mereka mendekat, monster gorila mengayunkan kedua lengannya untuk memukul Mine namun berhasil dihindari oleh Mine dengan mudah.
Struktur tubuh monster gorila tidak cocok untuk pertarungan tangan kosong karena dengan tubuh seperti itu mereka tidak bisa bergerak dengan bebas apalagi dengan tubuh mereka yang besar yang memperlambat pergerakan mereka.
Mina melompat menghindari pukulan monster gorila dan seperti sebelumnya, ia memeluk kepala monster gorila itu dan menusuk dua matanya.
Saat Mine berada di udara, Nimi keluar dari bayangannya dan menusuk perut monster gorila lalu ia merobek perutnya sampai terbentuk luka yang lebar.
"Wargh!!!" monster gorila itu berteriak dengan kesakitan karena mata dan perutnya diserang yang menghasilkan rasa sakit yang sangat parah.
Ia mencoba untuk mengusir Mine dengan cara mengayunkan kedua lengannya. Namun, karena dia tidak bisa melihat, ayunan lengannya malah mengenai monster gorila yang lain.
...----------------...
"Hahaha, kurasa aku tidak bisa terus berdiam diri seperti ini," ucap Julian sambil tertawa.
Ia langsung berubah menjadi Allosaurus yang penampilannya mirip seperti Tyrannosaurus dan Giganotosaurus namun lebih kecil dari mereka.
Ia meraung dengan keras untuk menakuti para monster gorila. Monster gorila tertegun sebentar karena melihat ada monster yang menyeramkan di depan mereka.
Julian memanfaatkan kesempatan itu dengan cara menyeruduk salah satu monster gorila sampai jatuh dan menggigit kepalanya sampai putus.
Kemudian ia menggerakkan ekornya untuk menyapu monster gorila yang ada di sampingnya dan melompat untuk menginjak monster gorila tersebut sampai mati.
__ADS_1
Hanya dalam lima detik, Julian sudah membunuh dua monster gorila dengan mudah, dan itu ia lakukan tanpa menggunakan mana.
Salah satu monster gorila memberanikan diri untuk menyerang Julian. Namun tiba-tiba ada sesuatu yang datang ke arahnya dan mengenai kepalanya yang menghasilkan sebuah ledakan.
Itu adalah perbuatan Claire yang menembakkan peluru api yang bisa meledak ke arah monster gorila tersebut yang akan menyerang Julian.
"Kerja bagus, Claire! Bantu kami mengatasi monster gorila yang berada di luar jangkauan kami!" teriak Julian yang mencakar salah satu monster gorila.
"Baik! Serahkan saja padaku, Master!" teriak Claire yang terus menembakan peluru api yang bisa meledak.
Peluru api yang bisa meledak ini adalah salah satu cara yang disukai oleh Claire karena bisa menyebabkan kerusakan yang sangat parah.
Apalagi jika peluru apinya menembus kulit lawan dan meledak di dalam tubuhnya yang langsung menghancurkan lawan dari dalam yang membuatnya mati seketika.
Karena seberapa kuat makhluk hidup, organ dalam mereka pasti sama seperti yang lain yaitu sama sama lemah terhadap suatu serangan.
Oleh karena itu peluru api ini bisa menjadi sangat mematikan tergantung bagaimana cara Claire menggunakannya.
Lalu tiba-tiba saja ia merasakan ada kekuatan yang masuk ke dalam tubuhnya yang membuat dirinya merasa sangat kuat.
Entah apa yang terjadi dan ia juga tidak bisa memikirkannya karena tidak memiliki kecerdasan. Ia segera maju ke arah Julian berniat untuk membunuhnya.
"Hm? Ada yang berbeda dengan monster ini. Sepertinya dia lebih kuat, tapi tadi aku tidak melihat kalau ada monster yang ini. Ah, apakah dia menjadi kuat karena diliputi oleh kemarahan?" pikir Julian.
Emosi memang bisa meningkatkan atau menurunkan kekuatan seseorang. Jadi tidak mengherankan kalau monster gorila tersebut menjadi lebih kuat karena dia sedang marah besar.
"Yah, apapun itu, kau tetaplah bukan tandinganku," ucap Julian yang berlari ke arah monster gorila yang marah.
Monster gorila tersebut melompat dan membanting kedua tangannya ke arah Julian. Namun Julian bisa melihat serangannya, ia bergerak ke kanan untuk menghindari serangan monster gorila.
Monster gorila menghantam tanah dan melihat kalau serangannya tidak berhasil. Ia bersiap untuk menyerang Julian lagi tapi tiba+yang saja ia dihantam oleh sesuatu yang membuatnya terhempas dan menabrak dinding gua.
Itu adalah perbuatan Julian yang menyerang monster gorila menggunakan sapuan ekor. Ekor dinosaurus sangatlah berat dan sapuan ekornya bisa menyebabkan kematian langsung bagi beberapa monster termasuk manusia.
__ADS_1
Monster gorila tidak menyangka kalau dirinya akan langsung kalah dalam satu serangan, padahal, tadi ia berpikir kalau ia bisa mengalahkan Julian setelah merasa kalau dirinya bertambah kuat.
Ia merasakan kalau punggungnya patah dan beberapa tulang ditubuhnya juga sudah hancur. Ia mengangkat kepalanya dan melihat Julian yang sedang berlari ke arahnya dengan cepat.
"Wargh!!" monster gorila itu berteriak dan berusaha untuk menggerakkan tubuhnya karena ia tidak mau mati.
Sebodoh apapun suatu makhluk hidup, mereka pasti akan berusaha mati-matian agar tidak mati meskipun kondisi tubuh mereka sudah sangat sekarat.
Tapi, serangan sapuan ekor Julian tadi sudah terlalu membebani tubuh monster gorila. Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya dan hanya bisa berteriak ketakutan.
Julian tidak mempedulikannya dan tetap berlari dengan sangat cepat. Kemudian ia menyeruduk monster gorila dengan kepalanya yang keras yang membuat dinding gua sampai hancur.
Tentu saja, monster gorila yang diseruduk oleh Julian memuntahkan banyak sekali darah dan mati seketika karena tubuhnya sudah hancur.
Setelah itu, pertarungan mereka menjadi lebih mudah karena beberapa monster gorila lari ketakutan melihat empat orang yang mereka lawan sangatlah kuat sampai-sampai mereka tidak bisa memberi perlawanan.
"Mereka sangat lemah, tapi mereka juga cocok untuk pemanasan," ucap Mine sambil menggerak-gerakkan tubuhnya.
"Setuju," angguk Nimi yang menyetujui ucapan Mine.
"Syukurlah. Master, aku tidak mengetahui mengenai gorila. Apakah tubuh mereka bisa dimanfaatkan?" tanya Claire kepada Julian.
"Hm? Bisa." Julian bertransformasi menjadi manusia kembali lalu merenggangkan tubuhnya sedikit.
"Hewan gorila memang tidak bisa dimanfaatkan, tapi kalau monster gorila bisa. Kalian lihat bulu mereka yang tebal bukan? Tapi jangan melakukannya sekarang, ayo kita simpan saja." Julian memasukan seluruh tubuh monster gorila ke dalam inventory karena inventory miliknya tidak memiliki batas.
"Baiklah." mereka bertiga mengangguk setuju karena tahu kalau menguliti monster sebesar itu akan membutuhkan waktu apalagi jumlahnya yang sangat banyak.
Lalu, mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk sampai ke lantai terdalam. Julian tidak tahu lantai terdalam itu lantai berapa tapi ia juga tidak terlalu mempedulikannya.
Jika ini adalah labirin yang sangat berbahaya, mungkin saja lantai terdalam adalah lantai seratus. Tapi jika ini labirin yang mudah, mungkin lantai terdalam adalah lantai sepuluh.
Kesulitan labirin dan monster-monster di dalamnya memang menentukan jumlah lantai. Semakin kuat monster maka semakin bahaya labirin dan semakin dalam lantai di dalamnya.
__ADS_1