
"Lalu? Apakah kita akan membicarakan tentang imbalan yang akan kau berikan?" tanya Julian tanpa berbasa-basi.
Gydhea menatap Julian lalu berkata, "Kau ini, langsung ke intinya ya. Yah tapi benar, di sini aku akan memberikan imbalan karena kau telah menyelesaikan tugas yang aku berikan."
Julian tersenyum, "Ho? Aku menantikan imbalan apa yang akan diberikan oleh sang Dewi Perang."
Gydhea menyentuh dagunya, "Hm, kau tidak memerlukan senjata karena gaya bertarungmu yang berbeda. Lalu kau juga tidak memerlukan kekuatan lain karena kekuatanmu yang unik itu sudah kuat."
"Aku sudah memikirkannya. Aku akan memberikanmu sebuah sebuah kekuatan pendukung yang bisa membuatmu bertarung dengan lebih efisien," tambahnya.
"Kekuatan pendukung yang bisa membuatku bertarung lebih efisien, aku penasaran kekuatan apa itu," ucap Julian yang penasaran.
Gydhea tidak berbicara, ia menempelkan jari telunjuknya di dahi Julian dan memasukan kekuatan miliknya ke dalam diri Julian melalui jari telunjuknya.
Julian memejamkan mata seperti sebelumnya, namun kali ini ia merasakan sesuatu. Ia bisa merasakan seluruh bagian tubuhnya sampai ke aliran darah.
Kemudian, setelah beberapa saat. Gydhea menarik kembali tangannya dan Julian juga membuka matanya secara perlahan-lahan.
"Kekuatan apa ini? Aku bisa merasakan seluruh bagian dari tubuhku," tanya Julian dengan rasa penasaran.
"Seperti yang kau ucapkan, kau bisa merasakan seluruh bagian tubuhmu bukan? Karena hal itu kau juga bisa mengendalikannya," ucap Gydhea.
"!!" Julian melebarkan matanya karena terkejut.
Ia terkejut karena paham dengan ucapan Gydhea. Karena ia bisa merasakan seluruh bagian tubuhnya, maka ia juga bisa mengendalikannya seluruh tubuhnya bahkan bisa mengendalikan aliran darah.
"Kekuatan ini sangat berguna saat bertarung karena kau bisa mengendalikan seluruh bagian tubuhmu. Disaat-saat kritis, kau juga bisa memindahkan jantungmu ke kanan agar tidak terkena tusukan yang mematikan," ucap Gydhea sambil tersenyum cemerlang.
Seperti yang dikatakan oleh Gydhea, manusia, tidak, makhluk hidup hanya bisa mengendalikan tubuh bagian luarnya saja dan tidak dengan organ dalam.
Jika Julian bisa mengendalikan organ dalam, maka ia bisa memindahkan jantungnya saat ia akan ditusuk dan berpura-pura mati untuk mengelabui musuh.
Tidak hanya itu, ia juga lebih mahir dalam mengendalikan kekuatannya dan tahu seberapa pas kekuatan yang akan digunakan agar tidak lebih atau kurang.
"Kekuatan yang sangat berguna. Aku sedikit kesulitan menggunakan tubuhku saat dalam mode dinosaurus, namun dengan ini aku bisa mengendalikan tubuhku dengan bebas," pikir Julian.
Gydhea tersenyum melihat reaksi Julian, "Bagaimana? Apakah kau puas dengan imbalannya?"
"Hahaha, bagaimana bisa aku tidak puas? Tentu saja aku puas!!" teriak Julian dengan semangat.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu," angguk Gydhea.
"Ngomong-ngomong, kau pasti penasaran dengan Robben bukan?" tambahnya.
"Hm? Ya, aku penasaran. Tapi aku juga tidak terlalu peduli," jawab Julian sambil mengangkat bahunya.
"Akan aku jelaskan, jadi dengarkan baik-baik," ucap Gydhea.
Ternyata Robben adalah uskup di gereja di Kota Crosa. Alasan Robben dikurung di lantai terdalam labirin adalah karena Robben sedang menguji sebuah benda sihir.
Benda sihir tersebut adalah benda sihir yang memiliki fungsi untuk menarik banyak sekali monster. Namun ada sedikit kesalahan di dalam benda sihir tersebut yang malah membuat sebuah labirin.
Dan bagaimana bisa labirin itu ada di pulau tak berpenghuni di dekat Kota Coramon adalah karena orang-orang dari gereja memindahkan labirin tersebut menggunakan benda sihir lain yang memiliki kekuatan ruang.
Namun karena labirin itu terlalu kuat, benda sihir itu jadi tidak bisa memindahkan labirinnya sesuai dengan keinginan orang-orang dan malah memindahkannya ke tempat acak.
Gydhea menggunakan sedikit kekuatannya untuk melacak keberadaan labirin itu. Lalu meminta Julian yang kebetulan hadir untuk menyelamatkan Robben.
"Ah, jadi begitu. Aku kira ini perbuatan iblis, tapi saat aku berpikir begitu, tidak muncul monster iblis. Itulah mengapa aku sedikit heran," ucap Julian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Begitulah, jadi itulah mengapa kalau Robben sedikit pengecut karena dia memang tidak pernah berhadapan langsung dengan monster yang kuat," ucap Gydhea.
Gydhea terdiam, karena ia tahu kalau Julian tidak sedang berpura-pura, "Monster cacing pasir yang kau lawan."
"Ah itu! Monster itu tidaklah kuat," ucap Julian sambil menghembuskan napas panjang.
"Terserah, kembalilah." Gydhea melambaikan tangannya akan memindahkan Julian ke tempat semula.
"Oh, sampai jumpa! Ngomong-ngomong, terima kasih atas imbalannya," ucap Julian sambil tersenyum sebelum ia dipindahkan ke kamar penginapan kembali.
Ia berdiri dan keluar dari kamar, lalu ia berkata kepada Robben kalau ia akan pergi ke Kota Crosa besok dan bertanya apakah Robben akan ikut atau tidak.
"Terima kasih! Jika tidak keberatan, izinkan saya ikut!" ucap Robben dengan penuh rasa terima kasih sambil membungkukkan badannya.
"Ya. Datanglah ke Kediaman Mollon besok siang," angguk Julian sebelum pergi ke Mansion Mollon.
Julian keluar dari penginapan dan melihat kalau hari sudah sore. Ia kembali ke Mansion Mollon dan berbicara dengan yang lain.
Ia juga menjual tubuh monster-monster yang sudah mereka kalahkan di dalam labirin kepada Damian dan Damian membelinya dengan senang hati.
__ADS_1
Dan Damian senang karena kebanyakan tubuh monster yang dijual oleh Julian masih utuh dengan sedikit kerusakan ditubuhnya.
Sesuatu yang paling disukai oleh pedagang adalah seseorang yang menjual tubuh monster yang utuh dengan kerusakan yang minimal.
Karena tubuh dengan kerusakan yangs sedikit bisa dimanfaatkan dengan maksimal berbeda dengan tubuh yang rusak, maka manfaatnya juga berkurang drastis.
...----------------...
Keesokan harinya, Robben datang ke Mansion Mollon saat siang hari dan menemui Julian yang sudah bersiap-siap untuk pergi.
Ia juga sudah mengambil kereta kudanya dari penginapan, lalu setelah mengucapkan beberapa patah kata, Julian membuka gerbang teleportasi di bawah mata terkejut Damian dan Inka.
"Sialan!! Kau bisa menggunakan gerbang teleportasi!?" teriak Damian yang sangat terkejut.
Julian mengangguk sambil tersenyum polos, "Ah, iya. Sampai jumpa."
Kemudian ia mengemudikan kereta kuda dan masuk ke dalam gerbang teleportasi diikuti oleh Robben yang berjalan di belakangnya.
"Sialan, Julian!!!" teriak Damian dengan keras.
Damian ingin mengajukan banyak pertanyaan tapi Julian yang tahu hal itu tentu saja malas menjawabnya, jadi Julian langsung pergi dengan senyum cemerlangnya.
Damian dan Inka sangat terkejut tentu saja itu karena hanya sedikit orang yang bisa menggunakan gerbang teleportasi yang sangat rumit untuk digunakan dan orang yang bisa menggunakannya ada telah di depan mata mereka berdua.
Sebenarnya Robben juga sangat terkejut, namun setelah ia berpikir kalau Julian diutus oleh Gydhea, ia berpikir kalau gerbang teleportasi masihlah normal-normal saja.
...----------------...
"Kembalilah ke gerejamu, ngomong-ngomong, jangan beritahu identitasku," ucap Julian kepada Robben.
"Baik, Tuan. Saya juga mengerti kalau hal ini akan menimbulkan banyak masalah jika diketahui oleh publik," angguk Robben dengan sungguh-sungguh.
"Bagus, kalau begitu aku pergi dulu." Julian mengemudikan kereta kudanya masuk ke dalam gerbang.
Dia tidak perlu mengantre karena di Kota Crosa terdapat jalur khusus untuk bangsawan dan orang-orang yang memiliki status khusus.
Dengan kartu identitas Julian yang bercorak emas, tentu saja Julian akan menggunakan jalur khusus sehingga dirinya tidak perlu mengantre.
Setelah masuk ke dalam kota, Julian mengemudikan kereta kudanya ke kediaman Largus untuk menemui Karina di sana.
__ADS_1