
Keesokan harinya, Julian dan yang lain termasuk Karina sedang berada di dalam kamar tidur yang ditempati oleh Julian di kediaman Keluarga Kerajaan.
"Kalian sudah ingin pergi?" tanya Karina yang melihat Claire, Nimi, dan Mine sedang membereskan barang-barang mereka.
Kemarin, setelah Julian kembali setelah berbicara dengan Gydhea, ia langsung memberitahu kepada mereka termasuk Keluarga Kerajaan kalau dirinya akan pergi ke Kota Coramon lagi.
Julian hanya mengatakan kalau ada urusan di dekat Kota Coramon dan tidak mengatakan kalau ada labirin di sana. Ia juga tidak mengatakan kalau dirinya baru saja bertemu dengan Dewi Perang, Gydhea.
"Ya, aku ada urusan di dekat Kota Coramon," jawab Julian yang sudah selesai membereskan barang-barangnya.
"Aku ingin mengikuti kalian tapi kakekku belum sembuh," ucap Karina dengan nada sedih.
Kakek Karina memang belum disembuhkan karena orang-orang yang sudah diperintahkan oleh Hadden sedang membuat obat penyakitnya yang menggunakan Jantung Sea Serpent.
Karena penyakit kakek Karina yang tidak diketahui dengan pasti, mereka harus menelitinya terlebih dahulu agar Jantung Sea Serpent bisa dimanfaatkan dengan maksimal.
Kakek Karina juga tidak berada di Kota Crosa, ia sedang berada di wilayah yang sedikit jauh dari kota agar lebih dekat dengan alam dan diharapkan kondisinya tidak lebih buruk.
"Oh ya, bagaimana dengan kemajuan pembuatan obatnya?" tanya Julian.
"Hampir selesai. Mungkin sekitar 50% nya?" jawab Karina dengan sedikit ragu karena ia juga tidak begitu yakin.
Julian tersenyum dan berkata, "Yah, semoga cepat selesai dan semoga kakekmu lekas sembuh. Setelah kami kembali dari Kota Coramon, kakekmu pasti sudah sembuh."
Karina mengangguk dengan tegas, "Ya! Aku yakin kakek pasti akan sembuh! Aku juga ingin berpetualang dengan kalian semua!"
"Nona Karina, aku juga menantikan berpetualang dengan Nona Karina!" ucap Nimi sambil memeluk Karina.
"Aku juga!!" Mine juga memeluk Karina.
Claire tidak mengatakan apa-apa tapi dilihat dari ekspresinya, Claire juga menantikan berpetualang dengan Karina.
Karina membalas pelukan mereka berdua dan berkata, "Kalian bertiga, agak aneh kalau kalian tetap memanggilku 'nona'. Bagaimana jika kalian panggil dengan namaku saja?"
Claire menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak bisa. Kami adalah budak, kami memanggil nama orang jika mereka sama seperti kami atau jika orang itu adalah musuh kami."
Nimi dan Mine juga menggeleng-gelengkan kepala mereka dan setuju dengan ucapan Claire karena kurang pantas untuk memanggil nama langsung seorang bangsawan.
"Yah kalian bertiga memang benar, lalu bagaimana jika demikian. Saat santai seperti ini, kalian memanggil Karina dengan namanya langsung. Lalu saat ada acara atau apapun itu, kalian memanggil dengan 'nona'," saran Julian.
__ADS_1
"Nah! Begitu saja! Bagaimana?" ucap Karina yang senang dengan saran yang diberikan oleh Julian.
Mereka bertiga saling memandang, lalu Claire mengangguk dan setuju dengan saran Julian. Melihat Claire yang setuju, Nimi dan Mine juga setuju.
"Bagus. Ngomong-ngomong, ayo pergi. Kita akan kembali dengan cepat karena kita akan ke Kota Coramon dengan gerbang teleportasi," ucap Julian.
"Apakah kita akan tetap memakai kereta kuda? Atau langsung masuk ke dalam gerbang teleportasi?" tanya Claire yang sudah siap.
"Kita akan tetap memakai kereta kuda," jawab Julian.
Mereka berlima keluar dari mansion dan menuju ke tempat di mana kereta kuda milik Julian diparkirkan. Setelah memeriksa kondisi kereta kuda, Julian dan yang lain sudah siap untuk berangkat.
"Sampai jumpa, Karin. Kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat!" ucap Julian sambil melambai-lambaikan tangannya.
"Sampai jumpa Karina!!!" Claire, Nimi, Mine juga melambai-lambaikan tangan mereka.
"Ya!! Sampai jumpa lagi!" Karina melambai-lambaikan tangannya dan berteriak dengan keras.
Julian segera membuat gerbang teleportasi karena dia sudah mengingat lokasi Kota Coramon. Lalu, Julian mengemudikan kereta kuda masuk ke dalam gerbang teleportasi.
"Aku juga harus banyak berlatih. Bertarung bersama mereka sungguh menyenangkan karena kita bisa bekerja sama tanpa berkomunikasi seolah-olah kita sudah bekerja sama dari lama," pikir Karina.
...----------------...
"Kita sampai," ucap Julian.
Mereka saat ini berada di dekat tembok kota. Lalu, mereka segera mengantre di gerbang kota karena di sana sedang ramai banyak orang yang mengantre karena sekarang masih pagi.
Setelah menunjukkan kartu identitas mereka dan diberi anggukan oleh penjaga yang terkejut, mereka memasuki Kota Coramon.
"Permisi, apakah kami bisa menyewa tempat untuk kerja kuda kami tanpa menginap? Kami sedang ada urusan di tempat lain," ucap Julian kepada resepsionis penginapan.
"Jika kalian menyewa, tentu saja bisa. Tidak bisanya jika kalian hanya meminjam tempat," jawab resepsionis dengan candaan.
Julian tertawa dengan candaan resepsionis, ia lalu bertanya harganya dan setelah itu ia memberikan beberapa koin sebagai bayaran.
Lalu, ada orang yang akan memarkirkan kereta kuda Julian di tempat parkir penginapan. Sedangkan mereka pergi keluar kota dan sampai di tempat yang tersembunyi.
"Kalian siap bukan?" tanya Julian.
__ADS_1
Julian sudah mengatakan kalau mereka akan pergi ke sebuah labirin di dekat Kota Coramon dan mengatakan kalau jangan memberitahu yang lain terlebih dahulu.
"Kami siap, Master!" mereka bertiga mengangguk dan menjawab dengan tegas.
"Bagus, ayo kita ke lokasi." Julian langsung bertransformasi menjadi Pterosaurus karena mereka akan terbang di atas laut.
Claire, Nimi, dan Mine segera naik ke atas punggung Julian. Lalu Julian mengepakkan sayapnya dan mulai mencari pulau tak berpenghuni yang dimaksud oleh Gydhea.
Julian juga menggunakan mata yang bisa mendeteksi mana. Karena labirin memang mengeluarkan sejumlah mana dan akan mudah mencarinya jika menggunakan mata ini.
Dan benar saja, satu jam kemudian mereka menemukan sebuah pulau kecil yang hanya diisi dengan pohon-pohon, tumbuhan, dan hewan-hewan kecil.
Setelah mendarat dan bertransformasi menjadi manusia, Julian dan yang lain pergi ke tengah-tengah pulau tempat di mana labirin itu berada.
"Itu dia," ucap Julian.
Pintu masuk labirin itu adalah sebuah gua yang terbentuk di tebing bukit yang ditutupi oleh tumbuhan-tumbuhan merambat sehingga tidak mudah untuk ditemukan.
Namun Julian bisa menemukannya dengan mudah karena ia bisa mendeteksi aliran mana dengan matanya. Setelah itu, mereka berempat masuk ke dalam labirin.
Julian tidak tahu ini labirin apa dan berisi monster apa saja karena Gydhea juga tidak memberitahunya dan Julian juga lupa untuk bertanya.
Labirin ini seperti gua pada umumnya kecuali mana di dalamnya yang melimpah. Tidak ada pencahayaan di dalam labirin dan Claire harus membuat bola cahaya untuk penerangan.
"Master, aku mencium bau monster!" ucap Mine.
"Aku juga mendengar suara langkah kaki!" ucap Nimi.
"Ya, kerja bagus, kalian berdua," ucap Julian sambil menepuk-nepuk kepala mereka.
Julian sudah tahu kalau ada yang datang karena inderanya sangat tajam. Namun biasanya ia tidak akan bergerak karena itu adalah tugas Nimi dan Mine.
Jika Julian selalu bergerak di setiap situasi, Nimi dan Mine tidak akan bisa mengasah indera dan kemampuan mereka dan berakhir menjadi beban.
Oleh karena itu, kecuali jika ada sesuatu yang berbahaya, Julian tidak akan bergerak dan membiarkan Nimi dan Mine yang melakukannya.
"Kalian bersiap!" ucap Julian yang menumbuhkan kuku tajam.
Mereka bertiga mengangguk dan segera mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Lalu, beberapa detik kemudian, muncul seekor monster serigala yang berdiri dengan dua kaki.
__ADS_1