
"Kau akan pergi sekarang?" Conall berjabat tangan dengan Julian.
"Ya, begitulah. Tenang saja, aku akan mengunjungimu nanti." Julian tersenyum kepada Conall.
Mereka berdua saat ini sedang berada di penginapan, Conall dan Albert datang karena mendengar kabar kalau Julian akan pergi dari Kota Caver.
"Baguslah, aku akan menyambut mu," angguk Conall.
Julian naik ke kursi kusir kereta kuda bersama dengan Claire, lalu Julian mengemudikan kereta kudanya keluar kota.
...----------------...
"Angin yang sejuk..." Julian menutup matanya sebentar untuk merasakan angin yang berhembus.
Mereka saat ini sedang berhenti di sebuah tempat yang tidak diketahui karena memang tidak ada penanda jalan atau apapun disini.
Namun mereka tidak khawatir karena mereka sudah tahu lokasi mereka ada dimana berkat peta yang dibeli dari Guild Petualang.
"Master, apakah master ingin makan siang?" Claire mengambil meja kayu lipat yang ia beli karena praktis.
"Oh~ Boleh. Tolong ya..." Julian mengangguk.
"Baik! Serahkan saja padaku!' Claire menyingsingkan lengan baju nya.
Claire mengambil kotak kayu dari kereta kuda dan membukanya. Isi dari kotak kayu itu adalah alat-alat untuk memasak.
Ia mengambil wajan, mangkuk, piring, dan beberapa sendok. Lalu ia membuka kotak kayu lain yang berisi bumbu-bumbu makanan.
Julian memang sengaja tidak menyimpan semuanya kedalam inventory nya karena kereta kuda akan menjadi kosong dan tidak akan ada perasaan melakukan perjalanan.
"Taruh disini." Julian menaruh karpet diatas rumput dan disebelahnya ada batu datar yang besar.
Claire menaruh alat-alat masak dan bumbu-bumbu makanan diatas batu besar itu dan Julian mengumpulkan ranting-ranting kayu.
"Sparks." Julian menggunakan sihir elemen api yang mengeluarkan percikan api dan membakar ranting-ranting kayu.
Api unggun telah dibuat, Claire menaruh wajan diatas api unggun lalu memasukan mentega kedalam wajan dan menunggu panas.
"Master, bisakah master mempersiapkan telur nya?" Claire bertanya sambil mengambil sesuatu dari kereta kuda.
"Tentu." Julian mangkuk lalu memasukan empat butir telur kedalam mangkuk.
Ia memasukan garam secukupnya kedalam mangkuk juga lalu mengaduk-aduk nya sampai tercampur rata dan sambil menunggu Claire.
Claire datang dengan membawa roti tawar ditangannya. Ia mengambil dua roti tawar dan memasukannya keatas wajan.
Kedua roti tawar dihangatkan dengan mentega dan dibolak-balik agar hangatnya merata. Setelah selesai, Claire memasukan dua roti tawar lagi.
"Ini." Julian memberikan mangkuk yang berisi telur yang sudah dikocok.
"Terima kasih, Master." Claire memasukan telur setengah mangkuk keatas wajan.
Julian mengolesi saus keatas roti tawar lalu Claire menaruh telur dadar yang sudah digoreng keatas roti tawar yang sudah diolesi saus.
Lalu sekarang jadilah sandwich telur dengan saus. Julian mengeluarkan teh yang sudah dibuat sebelumnya dan menggunakan sihir es untuk mendinginkan teh itu.
"Wah, Master bisa menggunakan sihir es?" Claire terkejut melihatnya.
__ADS_1
"Hm? Ah, benar." Julian mengangguk dan menuangkan teh kedalam dua gelas.
"Selamat makan!" Julian dan Claire memakan sandwich telur dibawah langit biru yang cerah dengan hembusan angin yang sejuk.
"Siapa disana!?" Julian yang hampir menghabiskan sandwich nya menoleh ke arah semak-semak.
Claire juga menghentikan makan nya dan mengeluarkan dua pistol mana lalu mengarahkannya kearah semak-semak yang dilihat oleh Julian.
Julian menggunakan mata dinosaurus nya yang bisa mendeteksi energi panas dan melihat kalau di semak-semak sana terdapat dua manusia yang sedang bersembunyi.
"Claire, tetap waspada, aku akan memeriksanya." Julian berdiri lalu berjalan kearah semak-semak itu.
"Keluar. Jika tidak, kalian berdua akan kami serang." Julian berkata dengan nada mengancam.
"Ma-maafkan kami!!!" Terdengar suara wanita dari balik semak-semak.
Lalu muncul dua wanita dari balik semak-semak, tidak, mereka bukan manusia, mereka berdua memiliki telinga binatang diatas kepala mereka.
"Demi-human??" Julian terkejut kalau mereka bukankah manusia melainkan demi-human.
Demi-human adalah ras percampuran antara binatang dan juga hewan. Mereka memiliki ciri khas yaitu dengan tubuh manusia namun memiliki ciri khas binatang.
Semisal saja di depan Julian saat ini, satu wanita memiliki telinga dan ekor kucing berwarna biru, lalu ada satu wanita memiliki telinga dan ekor anjing berwarna abu-abu.
Jika ada demi-human yang dari binatang bersisik seperti kadal, maka di beberapa bagian tubuh mereka ada sisik kadal.
Julian mengetahui kalau wilayah demi-human ada di selatan wilayah manusia yang memiliki bentang alam yang hampir sama dengan wilayah manusia.
"Appraisal." Julian menggunakan appraisal kearah dia demi-human wanita didepannya.
[ kucing
MP : 60%
level kekuatan : 5
level mana : 5 ]
[ anjing
HP : 40%
MP : 70%
level kekuatan : 5
level mana : 5 ]
"Kekuatan dan mana nya seimbang, mereka termasuk orang yang memiliki kekuatan diatas rata-rata." Julian menyipitkan matanya.
"Katakan, mengapa kalian berada di semak-semak tadi?" Julian bertanya namun dengan nada serius, bukan mengancam.
"Ma-maafkan kami." Demi-human kucing meminta maaf.
"Hah... Aku tidak membutuhkan permintaan maaf, jawab saja pertanyaanku tadi." Julian menghela napas panjang.
"Ka-kami mendekat karena mencium aroma enak..." Demi-human anjing menjawab pertanyaan Julian dengan gugup.
__ADS_1
"....Claire, berikan roti tawar kepada mereka berdua." Julian berbalik dan duduk lagi ditempatnya melanjutkan makan.
"Baik." Claire menyimpan kembali pistol mana nya dan memberikan masing-masing dua roti tawar kepada kedua demi-human.
"Te-terimakasih!!!" Kedua demi-human membungkukkan badan mereka sebagai ucapan terima kasih.
Mereka berdua langsung duduk diatas rumput dan makan roti tawar yang diberikan oleh Claire dengan terburu-buru dan berantakan.
"Makan dengan tenang, tidak akan ada yang merebut roti kalian." Claire berbicara lalu melanjutkan makannya.
Kedua demi-human itu mendengarkan ucapan Claire dan mereka makan dengan tenang dan makan secara perlahan-lahan.
"Kalian bukan budak, mengapa penampilan kalian begitu lusuh?" Julian yang sudah menyelesaikan makannya, bertanya kepada kedua demi-human.
"Bukan." Demi-human kucing menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kami ini budak." Demi-human anjing menjawab.
"Kalian budak? Lalu mengapa tidak ada kalung budak?" Julian mengerutkan keningnya.
"Master, mungkin saja kalung budak mereka sudah diubah menjadi sebuah tanda" ucap Claire.
"Hm? Apa maksudmu, Clare?" Julian tidak paham dengan ucapan Claire.
"Benar, kami memiliki sebuah tanda budak di punggung kami." Demi-human kucing menjawab pertanyaan Julian.
"Um, budak dengan kalung adalah budak yang bisa berpindah pemilik. Namun budak dengan tanda budak adalah budak yang memiliki satu pemilik."
"Pemilik budak dengan tanda budak tidak akan berganti kecuali dia telah mati. Jadi, jika dia tidak mati, maka budak tersebut akan selamanya milik dia."
Claire menjelaskan kepada Julian kalau ada dua jenis budak di dunia ini yang bisa dibedakan dengan cara mengikat budaknya.
"Oh! Jadi begitu, terima kasih, aku paham sekarang." Julian mengangguk paham.
"Sama-sama, Master!" Claire bahagia karena ia bisa berguna.
"Lalu, dimana pemilik, pemilik kurang tepat, dimana tuan mu?" Julian bertanya kepada kedua demi-human.
"Mati karena diserang bandit." Kedua demi-human menjawab secara bersamaan.
"Bandit ya - !!" Julian berdiri lagi karena merasakan ada banyak orang yang mendekat.
"Claire! Bersiap untuk bertarung!" Julian menyeringai dan darah didalam tubuhnya menginginkan pertarungan.
"Ya!" Claire juga menjadi bersemangat saat melihat Julian bersemangat.
"Ini aroma para bandit!" Demi-human anjing mencium aroma yang membuatnya ketakutan.
"Benar juga. Kedua demi-human! Jika kalian ikut bertarung bersama kami melawan para bandit, kalian akan mendapatkan makanan yang lezat!" Julian tidak ingin kedua demi-human diam saja.
"Makanan lezat!?" Kedua demi-human langsung berdiri dan mata mereka menjadi berbinar-binar.
"Ya! Kalian akan mendapatkan daging juga!" teriak Julian.
"Daging!" Kedua demi-human langsung melakukan kuda-kuda bersiap untuk menyerang.
"Mereka datang!" Julian berteriak dan bersiap untuk bertransformasi.
__ADS_1
Suara langkah kaki kuda yang berantakan terdengar, dan perlahan-lahan suara nya menjadi semakin jelas tanda bahwa mereka sudah mendekat.
Lalu terlihatlah puluhan bandit yang menaiki kuda. Mereka semua memegang senjata berupa parang dan pisau dengan tampilan yang garang.