Isekai Dinosaur

Isekai Dinosaur
Mengunjungi Keluarga Mollon di Kota Coramon


__ADS_3

Butuh tiga hari bagi Julian dan yang lain untuk menyelamatkan Robben di lantai terdalam labirin. Bukan karena mereka tidak bisa mengatasi monster-monsternya, tapi karena jalan untuk ke lantai selanjutnya sedikit rumit.


Meskipun Julian sudah menggunakan deteksi aliran mana, tapi jalan yang dilalui cukup panjang. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jika Julian tidak menggunakan deteksi aliran mana.


...----------------...


"Master, apakah tidak apa-apa membiarkan Robben sendirian?" tanya Claire kepada Julian yang sedang berbaring.


Saat mereka sampai di Kota Coramon, hari sudah malam. Mereka sebenarnya akan mengunjungi Keluarga Mollon, tapi karena takut mengganggu, mereka memutuskan untuk menginap di penginapan selama satu malam.


"Tidak apa-apa, tugas kita hanyalah menyelamatkannya. Apa yang dia lakukan selanjutnya tidak ada kaitannya dengan kita," ucap Julian dengan santai.


Setelah sampai di Kota Coramon, Robben mengatakan kalau dirinya akan mengurus sisanya sendiri. Kemudian ia pergi entah ke mana meninggalkan Julian dan yang lain.


Julian tidak bertanya atau bahkan mengejarnya. Ia tidak peduli Robben akan pergi ke mana dan tugas yang diberikan oleh Gydhea hanyalah untuk menyelamatkan Robben.


"Baiklah," angguk Clare yang tidak lagi bertanya mengenai Robben.


Nimi yang berbaring di sebelah Julian bertanya, "Master!! Setelah dari Kota Crosa, kita akan pergi ke mana?"


"Oh aku juga lupa menanyakan hal itu, kita akan ke mana, Master?" tanya Mine yang penasaran juga.


"Benar, aku belum memikirkan tujuan kita selanjutnya. Apakah kalian memiliki saran?" tanya Julian yang meminta pendapat mereka bertiga.


Nimi dan Mine berpikir dengan sangat keras. Mereka berdua tidak pernah membaca atau berkeliling sehingga mereka tidak tahu kota apa saja yang ada di sekitar Kota Cronna.


"Master, aku memiliki dua saran, apakah Master ingin mendengarnya?" ucap Claire yang duduk di atas ranjang.


Julian duduk dan berkata, "Tentu saja, katakan."


Claire mengangguk dan berkata, "Daripada pergi ke kota lain, mengapa tidak pergi ke wilayah lain? Di dekat wilayah manusia ada wilayah elf dan wilayah demi-human."


Ada banyak ras di dunia ini, Julian bahkan tidak tahu berapa jumlah pastinya. Namun ada lima ras yang memiliki wilayah yang paling luas. Kelima ras tersebut adalah manusia, elf, demi-human, dwarf, dan iblis.


Wilayah manusia berbatasan dengan wilayah elf dan wilayah demi-human. Yang berada di dekat Kota Crosa adalah wilayah elf dan wilayah demi-human sedikit lebih jauh lagi.


"Wilayah ras lain ya, boleh juga. Kalian bertiga ingin ke mana?" tanya Julian.


"Wilayah elf!" mereka bertiga memiliki jawaban yang sama.


"Elf? Boleh juga. Tapi aku tidak paham mengapa kalian berdua tidak ingin pergi ke wilayah demi-human?" tanya Julian kepada Nimi dan Mine.


Nimi dan Mine saling memandang dan menjawab, "Kami bosan."

__ADS_1


Julian tertegun sebentar lalu ia tertawa, "Hahaha, bosan ya. Baiklah, tujuan kita selanjutnya adalah wilayah elf!"


"Hore!!" mereka bertiga berteriak dengan gembira.


Lalu setelah berbincang-bincang sebentar, mereka berempat kemudian tidur karena waktu sudah tengah malam dan mereka sudah kelelahan.


...----------------...


"Labirin? Ada labirin di dekat Kota Coramon?" tanya Damian.


Pagi harinya, Julian dan yang lain pergi mengunjungi Keluarga Mollon. Kebetulan sekali Damian dan Inka ada di mansion dan mereka sedang bersantai.


Julian hanya mengatakan kalau dirinya bersama yang lain pergi memasuki labirin sebelumnya dan memutuskan untuk mengunjungi Keluarga Mollon.


"Ya, tapi sekarang labirin itu sudah hilang," angguk Julian sambil meminum teh yang sudah disediakan.


Damian juga meminum tehnya, lalu ia bertanya, "Apakah kau sudah menyelesaikan labirinnya? Mengapa?"


Julian mengangkat bahunya dan berkata dengan santai, "Tidak ada alasan khusus, hanya saja labirin itu terlalu mudah dan tidak memiliki banyak keuntungan karena lokasinya yang terpencil."


"Begitu. Lalu, apakah setelah ini kau akan pergi lagi?" tanya Damian.


"Ya, setelah ini aku akan pergi ke wilayah elf. Untuk itulah aku di sini, aku ingin menanyakan beberapa informasi terkait wilayah elf," ucap Julian.


"Wilayah elf ya? Itu keputusan yang bagus. Aku akan memberitahumu beberapa informasi agar kau tidak terkena masalah," ucap Damian.


Ras elf dibagi menjadi dua, elf dan dark elf. Tidak ada perbedaan khusus di antara keduanya kecuali penampilan mereka yang berbeda.


Daun telinga keduanya sama sama panjang. Elf memiliki kulit putih dengan rambut pirang sedangkan dark elf memiliki kulit gelap dengan rambut putih.


Kedua ras menggunakan senjata yang sama yaitu busur dan anak panah serta pisau. Lalu elf biasanya menggunakan sihir tumbuhan atau sihir cahaya sedangkan dark elf menggunakan sihir kegelapan.


Dua ras tersebut akur satu sama lain namun ada beberapa kasus seperti pertengkaran kecil karena masih ada beberapa elf dan dark elf yang saling membenci.


"Baiklah, aku paham. Lalu aku ingin bertanya, apakah elf tidak memakan daging?" tanya Julian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya paham dengan penjelasan Damian.


Damian mengangguk dan menjawab, "Elf tidak memakan daging tapi dark elf bisa memakan daging. Itulah mengapa kadang-kadang ada beberapa elf dan dark elf yang bertengkar."


Setelah mengajukan beberapa pertanyaan lagi, Julian mengonfirmasi kalau elf di sini mirip dengan elf yang ada di cerita-cerita fantasi di bumi.


Julian menghela napas lega karena ia bisa menggunakan pengetahuan yang ia miliki saat berada di wilayah elf. Ia sedikit khawatir jika ada beberapa informasi yang tidak ia ketahui.


Setelah berbincang-bincang, mereka berdua memutuskan untuk berjalan-jalan dengan yang lain termasuk dengan Ethan dan Ella yang bersemangat karena Julian dan yang lain datang.

__ADS_1


...----------------...


"Masih sama seperti sebelumnya," ucap Julian.


Damian tersenyum dan berkata, "Begitulah, tidak banyak yang berubah setelah kau pergi."


Mereka semua berbincang-bincang, membeli makanan dan minuman, melihat pemandangan, dan lain-lain. Lalu saat mereka akan kembali, muncul seorang pria yang menghampiri Julian.


"Tuan, bisakah anda mengikutiku? Seseorang ingin bertemu dengan anda," ucap pria itu.


Julian tentu saja mengenali pria yang datang, dia adalah Robben dengan pakaian berwarna putih dengan corak emas yang mirip seperti pakaian gereja.


"Kau mengenalnya?" tanya Damian.


"Ya, aku mengenalnya," angguk Julian.


"Kalian kembali terlebih dahulu, termasuk kalian bertiga," tambahnya.


"Baiklah," angguk Damian kemudian ia berjalan kembali ke mansion.


"Berhati-hatilah, Master," bisik Claire khawatir.


Julian menepuk-nepuk kepala Claire dan berkata, "Haha, jangan khawatir."


Julian mengikuti Robben ke sebuah bangunan yang ternyata adalah penginapan biasa. Robben mengantarkan Julian ke sebuah kamar dengan patung Gydhea di atas meja.


"Dewi Gydhea ingin bertemu dengan anda," ucap Robben.


"Ah, jadi alasanmu untuk mengurus sisanya sendiri adalah membangun sebuah kuil sementara ya," ucap Julian sambil melihat patung Gydhea yang tidak sempurna.


"Ya, maafkan saya karena tidak bisa mempersiapkannya dengan sempurna," ucap Robben dengan nada menyesal.


Julian mengangkat alisnya dengan heran dan bertanya, "Mengapa kau meminta maaf kepadaku?"


"Itu karena Tuan Julian adalah tamu terhormat Dewi Gydhea. Saya tidak bisa mengabaikan anda apalagi membuat anda tidak nyaman," ucap Robben dengan sopan.


"Yah, terima kasih kurasa? Baiklah, kau bisa pergi. Akan aku panggil jika aku membutuhkan sesuatu," ucap Julian sambil melambaikan tangannya.


Robben membungkukkan badannya sedikit dan berbicara sebelum meninggalkan ruangan, "Silakan berbicara dengan nyaman."


Julian duduk di kursi yang sudah disediakan, saat ia bertanya-tanya bagaimana caranya ia akan berbicara dengan Gydhea, tiba-tiba saja sekitarnya berubah.


Julian tidak panik karena ia mengenali tempat ini. Ini adalah ruangan latihan yang digunakan oleh Gydhea dan Julian masih ingat kalau ruangan ini adalah tempat dia pertama kali dipindahkan.

__ADS_1


Gydhea muncul dengan pakaian yang sama seperti sebelumnya, ia berkata, "Kerja bagus, ayo kita pindah ruangan."


Sama seperti sebelumnya, Gydhea menjentikkan jarinya dan mereka berpindah ruangan ke ruang tamu atau ruang lain. Julian tidak tahu ruangan apa ini tapi bisa dianggap sebagai ruangan tamu karena ada sofa dan meja pendek.


__ADS_2