
"!! - Karin, ayo keluar terlebih dahulu. Aku merasakan ada banyak orang yang mendekat keruangan ini dengan niat buruk." Julian mengerutkan keningnya.
"Baik, itu pasti orang-orang yang tidak terima kalau aku bisa mendapatkan Jantung Sea Serpent." Karina mengangguk.
Mereka berdua langsung keluar dari ruangan dan pergi menuju belakang panggung tempat dimana Damian dan Inka berada.
"Julian? Mengapa kau membawa wanita?" Damian bertanya saat melihat Karina.
Sepertinya Damian tidak mengenal Karina, meskipun Karina berasal dari keluarga bangsawan yang berpengaruh, tapi itu wajar karena ibukota dan Kota Coramon sangat jauh.
"Yo. Ini Karina, bangsawan dari ibukota." Julian memperkenalkan identitas Karina secara singkat karena ia memang tidak tahu Keluarga Largus menduduki jabatan apa.
"Ibukota!? Halo Nona Karina, mohon maaf atas kelancanganku tadi." Julian membungkukkan badannya.
"Haha, tidak apa-apa. Panggil dengan namaku saja, kau adalah Damian bukan? Julian sudah menceritakannya tadi." Karina tersenyum.
"Ah, ya. Aku adalah Damian Mollon dan ini adalah istriku Inka Mollon." Damian memperkenalkan dirinya dan juga Inka.
"Halo." Inka mengangguk.
"Sudahi basa-basi nya. Inka adalah orang yang memenangkan Jantung Sea Serpent, dia disini karena ada banyak orang yang sedang mengejarnya," ucap Julian.
"Hm, pasti mereka adalah orang-orang yang iri ya. Baiklah, tunggu disini sebentar, aku akan membawa Jantung Sea Serpent nya." Julian menyerahkan dokumen yang ia pegang kepada Inka dan ia pergi.
"Ngomong-ngomong, dimana yang lain?" Julian melihat ke sekeliling.
"Tidak ada disini, mereka sedang berjalan-jalan," jawab Inka.
"Oh..." Julian menemukan kursi untuk duduk.
Karina dan Inka kemudian berbincang-bincang sebentar mengenai hal-hal yang biasa dibicarakan oleh para wanita yang Julian tidak mengerti.
Kemudian, setelah beberapa menit, Damian datang dan dibelakangnya ada beberapa pria yang sedang mendorong sebuah troli besar.
"Nona Karina, ini adalah Jantung Sea Serpent," ucap Damian.
"Bukankah sudah kukatakan untuk memanggilku dengan nama saja," balas Karina.
"Aku masih belum berani." Damian menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
"Yah, apapun itu. Ini uangnya, 200 koin platinum." Karina menyerahkan kantung kain yang berisi 20 koin platinum.
"Terima kasih, tolong tanda tangani dokumen penyerahan ini." Damian menerima uangnya dan meminta Karina untuk tanda tangan di dokumen yang ia pegang.
"Disini? Baiklah..." Karina menandatangani dokumen itu.
Kemudian Karina memasukan Jantung Sea Serpent kedalam cincin penyimpanan nya dan menghela napas lega karena ia berhasil mendapatkan Jantung Sea Serpent.
"Sudah selesai kah?" Julian berjalan menghampiri mereka.
"Ya, sudah." Karina mengangguk.
"Bagus, kalau begitu ayo kita pergi." Julian berbalik dan berjalan.
__ADS_1
"Ah Julian! Tolong temukan Ethan dan Ella dan suruh mereka untuk pulang!" Inka berteriak kepada Julian.
"Ya!" Julian menjawab dan melambaikan tangannya.
Karina mengangguk kepada Damian dan Inka kemudian ia berjalan mengikuti Julian keluar dari bangunan Toko Mollon ini.
"Pertama, temukan mereka terlebih dahulu. Kemudian, kau harus menjelaskan semuanya," ucap Julian.
"Tentu. Tapi ngomong-ngomong, siapa Ethan dan Ella?" Karina bertanya kepada Julian.
"Mereka berdua adalah anak Damian dan Inka." Julian melepas bajunya.
"Oh mereka - tunggu! Mengapa kau melepas bajumu!?" Karina menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hm? Ah ini, karena aku tidak ingin pakaianku rusak." Julian menumbuhkan sayap Jeholornis dibelakang punggungnya.
"Apa maksudmu? Kyaa!!" Karina berteriak karena ia merasakan sebuah tangan yang memeluk pinggangnya.
"Pegangan yang erat." Julian langsung terbang dengan kencang.
"Ahh!!" Karina terkejut saat Julian tiba-tiba terbang.
"Kenapa kau tidak memberitahuku dulu!" Karina memprotes Julian.
"Malas." Julian menjawabnya dengan singkat.
"Terserahlah, ngomong-ngomong bagaimana kau bisa menemukan mereka?" Karina memutar matanya dan bertanya kepada Julian.
"Indera penciuman ku sangat tajam, aku bisa mencium baru mereka dari jarak yang jauh. Oh ya, aku ingin bertanya mengapa bau mu berbeda? Apakah kau memakai sesuatu?" tanya Julian.
"Ah itu, memang, aku menggunakan sesuatu. Itu adalah sebuah barang sihir yang membuatku tidak terdeteksi, aku akan menjelaskan detailnya nanti." Karina mengangguk dan menjawab.
"Baiklah." Julian juga tahu kalau sekarang bukanlah waktu yang tepat.
Julian terbang sambil membawa Karina dengan cepat, kemudian, ia mencium bau milik Claire karena ia paling hapal dengan bau Claire, Nimi, dan Mine karena mereka selalu didekatnya.
Julian memperlambat terbangnya dan mendarat diarea kosong. Kemudian ia melepaskan pelukannya dan segera memakai baju.
"Oh, apakah kau sudah menemukan mereka?" tanya Karina.
"Ya, mereka ada disana." Julian menunjuk kearah depan yang ternyata adalah sebuah pasar.
"Pasti mereka sedang membeli makanan," batin Julian.
Julian berjalan mengikuti indera penciumannya dan Karina mengikuti dibelakang Julian sambil melihat-lihat kios-kios yang menjual barang dagangannya.
"Ketemu," ucap Julian.
"Claire!" Julian berteriak memanggil Claire.
"Master?" Claire menoleh saat ia mendengar namanya dipanggil.
"Eh, Nona Karina!?" Claire langsung menghampiri Karina.
__ADS_1
"Halo, Claire." Karina tersenyum.
"Mana Nona Karina?" Nimi dan Mine muncul.
"Karin, perkenalkan, mereka berdua adalah Nimi dan Mine." Julian memperkenalkan Nimi dan Mine kepada Karina.
"Oh! Demi-human yang lucu!" Karina menyentuh telinga Nimi dan Mine.
"Ehehe." Nimi dan Mine bahagia karena dipuji.
"Paman!!!" Ethan dan Ella berteriak dan langsung memeluk kaki Julian.
"Kalian berdua, perkenalkan diri kalian kepada nona muda ini." Julian menggendong mereka berdua.
"Halo kakak, namaku adalah Ethan Mollon!" Ethan memperkenalkan dirinya kepada Karina.
"Halo kakak! Aku adalah adik Ethan, Ella Mollon!" Ella juga memperkenalkan dirinya kepada Karina.
"Halo, kalian anak kembar yang lucu! Aku Karina! Senang berkenalan dengan kalian!" Karina mencubit pipi Ethan dan Ella.
"Kalian ini, memanggilku paman sedangkan Karin adalah kakak." Julian memutar matanya.
"Ngomong-ngomong, kalian disuruh pulang oleh Ibu kalian, " ucap Julian.
"Ehh, tapi kami masih ingin bermain." Ella menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Benar! Kami mohon, Paman..." Ethan menolak untuk pulang.
"Boleh saja, jika kalian tidak ingin kena marah oleh Ibu kalian." Julian tersenyum licik.
"..Kami akan pulang, Paman." Ethan dan Ella langsung menjadi patuh saat mereka membayangkan Inka yang sedang marah dan mengomeli mereka.
"Anak baik." Julian menurunkan mereka berdua.
Ia mengatakan kepada Claire dan kedua demi-human untuk ikut pulang bersama Ethan dan Ella dan kebetulan sekali pengasuh dan pengawal datang.
Mereka kemudian memasuki kereta kuda mereka dan pergi menuju Mansion Mollon sedangkan Julian dan Karina tetap disana.
"Sudah waktunya makan malam, mau makan malam denganku, wanita cantik?" Julian tersenyum dengan percaya diri.
"Fufufu, aku menerima tawaranmu." Karina sedikit terkejut karena Julian bertingkah seperti itu, namun ia menyetujui tawaran Julian.
Julian mencari tempat untuk makan malam dan menemukan sebuah restoran yang menyediakan ruangan pribadi untuk para pelanggan.
"Selamat datang, apakah kalian ingin makan dilantai satu? Atau dilantai atas?" Seorang pelayan wanita menyambut kedatangan Julian dan Karina.
"Tolong bawa kami ke ruangan yang nyaman," ucap Julian.
"Baik, tolong ikuti saya ke lantai tiga. Disana adalah tempat yang sepi dan sunyi." Pelayan mengangguk dan menunjukan jalan kepada mereka berdua.
Setelah memasuki ruangan pribadi dilantai tiga, Julian dan Karina langsung memesan sesuatu untuk makan malam mereka.
"Baik, mohon ditunggu sebentar!" Pelayan mencatat pesanan mereka dan keluar dari ruangan.
__ADS_1
Julian dan Karina berbincang-bincang sederhana dan tidak membahas topik penting karena mereka memutuskan untuk membahas itu nanti saat makanan datang.