Isekai Dinosaur

Isekai Dinosaur
Tangan kanan Gero, kapten pasukan pengintai, Kody


__ADS_3

"Hey, bangun." Julian menampar pipi Kody dengan ringan untuk membuatnya bangun dari pingsannya.


Setelah kembali ke rumah Zain, ia langsung membawa Kody ke dalam kamar dan sekarang ia berniat untuk menginterogasi Kody.


"Uh.." Karena tamparan Julian, perlahan-lahan Kody mulai bangun.


"Sial!" Kody langsung berteriak saat ia melihat wajah Julian di depannya. Lalu membuka mulutnya lebar-lebar dan berencana untuk menggigit racun yang terselip di antara giginya.


"Tidak akan kubiarkan kau mati dengan mudah." Julian menahan mulut Kody dan mengambil racun yang ada di dalamnya.


"Bunuh saja aku! Aku tidak akan memberitahu informasi apapun kepada kalian semua!" teriak Kody dengan putus asa karena ia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.


Karina yang dari tadi diam mau tidak mau sedikit kesal dengan Kody. Ia mendekati Kody dan bersiap untuk memukulnya, namun ia dihentikan oleh Julian.


"Karin, tenanglah. Pukulan tidak akan bisa membuatnya mengatakan informasi. Aku tahu cara yang lebih baik agar dia mau berbicara," ucap Julian sambil menunjukkan seringai jahat di wajahnya.


Karina yang mendengar hal itu menjadi tertarik, "Katakan padaku! Aku akan memastikan kalau dia akan memberitahu semua informasi yang dia punya."


Julian tertawa, ia segera berkata, "Mudah saja. Kau mahir menggunakan elemen petir bukan? Alirkan petir dalam skala kecil ke dalam otaknya. Kau pasti tahu kalau otak dan jantung adalah organ yang rentan."


Mata Karina berbinar-binar setelah mendengar ucapan Julian. Ia menatap Kody sambil tertawa jahat, lalu ia memegang kepala Kody dengan kedua tangannya dan mengalirkan aliran petir ke dalam otaknya.


"Tidak! Jangan men- Argh!!!" Kody tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena Karina sudah mengirimkan aliran petir ke otaknya.


Zain yang melihat hal itu tercengang, "Julian, jika Karina berteman denganmu mungkin saja dia akan menjadi orang yang jahat."


Tentu saja apa yang diucapkan oleh Zain adalah candaan, ia hanya berpikir kalau dirinya belum pernah melihat Karina bersikap sebebas itu sebelum bertemu Julian.


Setelah beberapa detik, Karina menghentikan tindakannya karena akan membahayakan nyawa Kody jika itu terus berlanjut.


Dan penampilan Kody yang tadinya berambut pendek yang tebal kini sudah menjadi botak karena aliran petir Karina yang menyebabkan hal itu terjadi.


"Apakah kau akan berbicara sekarang?" tanya Julian dengan nada dingin.


"Jangan harap!" teriak Kody yang masih bersikeras untuk tidak berbicara apapun.


"Hm." Julian menumbuhkan cakar tajam lalu ia menggores kulit Kody sampai mengeluarkan banyak darah.

__ADS_1


Lalu di bawah mata terkejut Karina dan yang lain, Julian mengeluarkan sekantung garam dari inventory dan menaburkan garam tersebut ke atas luka-luka di tubuh Kody.


Larutan garam memungkinkan untuk menyembuhkan luka kulit tapi tidak dengan garam langsung. Garam akan membuat luka terasa sangat perih dan panas seperti terbakar.


Garam juga dapat merangsang ujung-ujung saraf di kulit yang terluka. Ketika garam terkena luka, ia dapat memicu respon nyeri karena ujung-ujung saraf sensitif di kulit mengirimkan sinyal ke otak bahwa ada kerusakan atau iritasi pada jaringan tersebut.


"Sialan!!" gerakan Kody dengan ngeri karena luka di tubuhnya sangat banyak dan bisa dibayangkan betapa sakitnya jika semua luka ditaburi garam.


Mengabaikan teriakan Kody, Julian mengambil segenggam garam lalu menaburi garam tersebut di atas luka-luka di tubuh Kody.


"Arghh!!!" Kody berteriak sangat keras karena seluruh tubuhnya merasakan rasa sakit yang luar biasa.


Lalu Julian menggunakan sihir air untuk membersihkan garam di luka-luka Kody yang membuat Kody berhenti berteriak.


Tapi, bukan berarti Julian mengampuni Kody. Ia menaburkan garam ke atas luka-luka Kody lagi dan setelah beberapa saat, ia menggunakan sihir air untuk membersihkannya.


Ia melakukan hal tersebut selama beberapa saat yang membuat Karina dan yang lain memandang Julian seperti sedang melihat iblis kejam.


"A-ampuni aku, aku akan mengatakannya," ucap Kody dengan nada lemah karena sudah kehabisan tenaga untuk berbicara.


"Bagus-bagus, mengapa kau tidak melakukannya dari tadi? Claire, sembuhkan orang ini, sembuhkan beberapa luka saja, jangan semua," ucap Julian.


"Pertama, siapa namamu dan dari mana asalmu?" Julian mengajukan pertanyaan pertama kepada Kody.


Kody menghela napas lega karena ia disembuhkan, "Tangan kanan Tuan Gero, kapten pasukan pengintai, Kody. Aku adalah bawahan Tuan Gero yang saat ini menjabat sebagai bawahan jenderal iblis Quella."


Julian mengerutkan keningnya saat mendengar nama yang ia benci, "Quella? Wanita yang merepotkan itu?"


"Julian, apakah kau pernah bertemu dengan Quella?" tanya Zain dengan sangat serius karena ia juga tahu betapa kuatnya Quella dengan benda sihirnya.


Karina segera menjelaskannya, "Ah, kakek pasti tidak tahu karena Raja memang tidak menyebarkan berita ini. Julian telah bertemu dengan tiga jenderal iblis. Orobas sudah ia bunuh, Alastor hampir mati saat bertarung melawannya dan Tuan Oleus, namun diselamatkan oleh Quella."


"Apa!?" Zain membelalakkan matanya karena sangat terkejut dengan informasi itu.


Julian mengangguk lalu mengajukan pertanyaan kedua, "Pertanyaan kedua, mengapa kau ada di sini?"


"Aku diperintahkan oleh Tuan Gero untuk mengawasi Zain dan melaporkannya setiap satu minggu," jawab Kody sambil menutup matanya karena sudah pasrah.

__ADS_1


Julian menyentuh dagunya, "Bagaimana caranya kau memberikan laporan kepada Gero?"


"Beberapa kilometer dari sini, ada sebuah tempat kosong. Di sana ada sebuah rumah tua yang sebenarnya merupakan susunan lingkaran sihir untuk komunikasi," jawab Kody.


"Menarik. Pertanyaan ketiga, apakah Gero yang menciptakan penghalang di jantung Kakek Zain?" Julian mengajukan pertanyaan ketiga.


Kody mengangguk dan berkata, "Ya, itu benar. Kabut hitam itu dikendalikan oleh Tuan Gero untuk menciptakan penghalang di jantung Zain."


Zain yang mendengar kebenaran mengenai orang yang menciptakan penghalang di jantungnya adalah mantan sahabatnya hanya bisa terdiam.


Ia ingin marah namun tidak bisa karena ia masih mengingat hal-hal di masa lalu saat ia, istrinya, dan Gero masih muda dan masih bersahabat dengan harmonis.


"Pertanyaan terakhir, di mana lokasi Gero saat ini?" Julian mengajukan pertanyaan keempat yang merupakan pertanyaan terakhir.


Kody membuka mulutnya berniat untuk menjawab, namun tiba-tiba saja kepalanya mulai membengkak dan ia tidak tahu apa yang sedang terjadi.


"Ck, sial. Untung saja aku sudah menanyakan hal yang perlu ditanyakan." Julian mendecakkan lidahnya.


Ia memegangi pakaian Kody lalu melemparkannya ke luar rumah dengan sangat kencang lewat jendela kamar. Lalu setelah beberapa saat, mereka melihat kalau tubuh Kody membengkak sangat besar dan meledak.


"Padahal hanya tersisa satu pertanyaan lagi!" teriak Karina dengan marah.


"Yah, jangan khawatir. Claire, bisakah kau memasak sesuatu untuk kita? Sudah waktunya untuk makan siang," ucap Julian.


"Serahkan saja padaku! Master ingin makan apa?" tanya Claire.


"Sesuatu yang dibakar, cuaca hari ini sangat cocok untuk itu. Ah tapi tolong buat sup daging untuk Kakek Zain juga," ucap Julian sambil mengeluarkan daging beruang dari inventory.


"Siap!" Claire mengangguk sambil melakukan hormat militer.


"Kami akan membantu!" Nimi dan Mine membawa daging beruang ke dapur rumah.


"Kakek, kami pinjam dapurnya," ucap Claire sebelum ia pergi ke dapur mengikuti Nimi dan Mine.


"Aku juga akan membantu!!" Karina juga pergi ke dapur untuk membantu mereka.


Kamar menjadi sunyi karena hanya ada Zain dan Julian. Zain tidak berbicara karena emosinya sangat rumit saat ini mengetahui kalau Gero yang melakukan semua yang menimpa dirinya.

__ADS_1


Julian juga tidak berbicara karena ia tahu dengan kondisi pikiran Zain saat ini. Ia hanya mengeluarkan buku dari inventory dan membacanya dengan seksama.


__ADS_2