
Dua hari kemudian, tepatnya pada saat pagi hari. Damian sudah memerintahkan pasukannya untuk berjaga-jaga disekitar laut.
Dan disana, mereka melihat kalau pasukan Malone juga sudah datang lebih awal dan dipimpin oleh Bruno Malone, putra tertua Malone.
"Bagaimana bisa mereka mempersiapkan pasukan disaat-saat seperti ini? Apakah beritanya bocor? Tidak, itu tidak mungkin." Bruno mengerutkan keningnya.
...----------------...
Damian dan Julian sedang berada diatas bangunan di pelabuhan. Karena Damian sendiri bukanlah orang dengan spesialis bertarung, ia akan mengamati pertarungan.
Julian juga sedang bersiap untuk bertarung melawan Sea Serpent. Ia menunggu dengan bosan bahkan memiliki keinginan untuk memancing Sea Serpent agar cepat datang.
"Ngomong-ngomong, mengapa Sea Serpent sangat berharga?" Julian bertanya karena ia penasaran dan juga untuk memecah keheningan.
"Sisiknya yang keras bisa dijadikan armor atau perisai, giginya yang tajam bisa dijadikan senjata, siripnya yang lentur bisa dijadikan armor ringan."
"Bola mata dan organ-organ nya bisa diolah untuk membuat ramuan, dan yang paling penting adalah jantung nya yang bisa memperkuat batas tubuh seseorang."
"Penjelasanku mungkin tampak sederhana, tapi kegunaan tubuh Sea Serpent sangatlah berpengaruh." Damian menjelaskan alasan mengapa Sea Serpent sangat berharga.
"Namun tidak semua bagian tubuh Sea Serpent bisa dimanfaatkan setelah mereka membunuhnya," ucap Inka.
"Eh? Mengapa?" Julian menoleh kearah Inka.
"Karena untuk membunuh Sea Serpent, dibutuhkan serangan yang kuat. Jadi, serangan itu membuat bagian tubuh Sea Serpent rusak dan menjadi tidak bisa dimanfaatkan."
"Lalu Sea Serpent memiliki kemampuan yang unik, yaitu dia bisa memindahkan posisi jantungnya dimanapun di bagian tubuhnya."
"Tidak pernah ada Sea Serpent yang mati secara utuh." Inka menjelaskannya.
"Ah, jadi begitu, masuk akal." Julian mengangguk.
"Hm? Hey, Damian, mau mendengarkan ide gila yang baru aku pikirkan?" Julian membuat seringai licik.
"...Aku merasakan firasat yang tidak enak, namun apa ide mu?" Damian bertanya apa ide gila Julian meskipun ia ragu-ragu.
"Biarkan aku dan rekan-rekanku yang bertarung dengan Sea Serpent, kau suruh pasukanmu untuk menahan pasukan Malone." Julian menyeringai.
"Benar-benar gila..." Damian menutupi wajahnya karena tidak tahan dengan ide gila Julian.
"Jika kau menerima ide ini, maka aku jamin kalau tubuh Sea Serpent hanya akan mengalami kerusakan maksimal 10 persen saja," ucap Julian dengan nada yakin.
"10 persen katamu? Bahkan kerusakan terkecil dalam sejarah adalah 59 persen keatas!" Damian berteriak tidak percaya.
"Woah tenang dulu. Kau sudah melihat kekuatanku yabg yang bisa berubah menjadi monster bukan? Aku akan berubah menjadi monster besar dan melawan Sea Serpent." Julian menenangkan Damian.
__ADS_1
"Tapi Sea Serpent memiliki panjang puluhan meter dengan diameter tubuhnya mencapai 5 sampai 10 meter! Apakah kau yakin bisa mengalahkannya!?" Damian masih ragu-ragu dengan ide gila Julian.
Itu wajar saja, kekuatan Julian memang tidak masuk akal dan dinosaurus adalah hal yang asing bagi penduduk dunia fantasi Unionia.
Selain itu, Damian juga sudah tahu kengerian Sea Serpent yang harus mengerahkan seluruh pasukan kota untuk bisa mengalahkannya.
Itu juga harus mengorbankan banyak sekali prajurit dan pada akhirnya keuntungan yang didapatkan tidak sepadan dengan kerugiannya.
"Heh~ Tenang saja, aku yakin dengan kekuatanku. Percayalah padaku, bahkan jika aku gagal, kau juga tidak akan rugi apapun." Julian merangkul pundak Damian dan berkata dengan nada santai.
"Suamiku, mengapa kita tidak percaya pada Julian saja? Seperti yang ia bilang, kita tidak akan rugi apapun jika Julian tidak bisa mengalahkan Sea Serpent."
"Dan jika Julian bisa menang, justru kita akan mendapatkan banyak sekali keuntungan darinya." Inka setuju dengan ide gila Julian dan mulai membujuk Damian.
"Inka, meskipun aku tahu hal itu, tapi tetap saja masih beresiko tinggi." Damian menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku setuju dengan Inka. Baiklah, tidak perlu membahas ini lagi karena aku sudah merasakan sesuatu yang mendekat." Julian menyipitkan matanya.
...----------------...
Seperti yang dikatakan oleh Julian, Sea Serpent saat ini sudah memasuki area Kota Coramon dan sedang berenang menuju permukaan.
Karena melihat ada pasukan dari dua keluarga pedagang berpengaruh, orang-orang yang penasaran pun mendekati area pinggir laut.
Kemudian mereka berpikir kalau Sea Serpent akan datang karena sudah ada dua pasukan yang bersiaga di pinggir laut.
Setelah beberapa menit menunggu, air didepan mereka naik sedikit demi sedikit. Lalu muncul sesuatu berwarna hijau lumut yang ternyata itu adalah sisik.
Air yang menutupi sisik-sisik tersebut mulia turun perlahan-lahan dan terlihatlah wujud sebenarnya dari pemilik sisik-sisik tersebut.
Sea Serpent memiliki ukuran yang sangat besar dengan tampilan yang mengintimidasi orang-orang yang melihatnya.
Selain itu, nampaknya Sea Serpent ini memiliki kecerdasan sederhana jika dilihat dari matanya yang memiliki emosi seperti manusia.
"Sea Serpent muncul!!!!" teriak salah satu orang.
Semua orang yang memegang senjata segera bersiap untuk melancarkan serangan bahkan para penyihir juga sudah mempersiapkan mantra sihir.
Pasukan dari kedua keluarga dan pasukan kota juga tinggal menunggu komando pemimpin mereka saja untuk menyerang Sea Serpent.
"Pasukan Mollon! Apapun yang terjadi, jangan biarkan orang-orang mendekati Sea Serpent!!" Damian memberi perintah.
Namun, ia tidak memberikan untuk menyerang Sea Serpent melainkan perintah untuk jangan membiarkan orang-orang mendekati Sea Serpent.
__ADS_1
Pasukan Mollon tidak mengetahui mengapa Damian mengubah perintah, namun, mereka tetap menuruti perintah Damian dan segera menjalankannya.
Mereka membentuk sebuah barisan manusia di tepi laut yang menghalangi orang-orang agar tidak mendekati Sea Serpent apapun yang terjadi.
"Mengapa Pasukan Mollon menghalangi kita!!" Orang-orang berteriak protes terhadap tindakan Pasukan Mollon.
Namun mereka tidak menjawabnya, bukan karena tidak bisa atau tidak mau, melainkan karena mereka memang tidak tahu.
"Sialan! Apa yang kalian lakukan! Pasukan Malone! Terobos mereka dan bawa mayat Sea Serpent kehadapan ku!!!" Bruno berteriak marah.
Ia tidak menyangka kalau Pasukan Mollon akan bertindak diluar perkiraan. Ia kira akan bersaing dengan mereka untuk memperebutkan Sea Serpent.
Namun ia tidak menyangka kalau Damian tidak bermain sesuai perkiraan yang membuat Bruno tidak tahu harus bagaimana selain menerobos maju.
...----------------...
"Hahaha!! Keputusan yang bagus, Damian!" Julian berteriak dan tertawa dengan keras.
"Jika kau gagal-" Damian tidak menyelesaikan ucapannya.
"Santai, aku adalah seorang pria yang akan menepati janji!" Julian menepuk dadanya dengan percaya diri.
"Claire, kau tetap disini dan serang dari jarak jauh seperti biasa. Nimi dan Mine, lepas alas kaki kalian karena kalian akan bertarung diatas sisik Sea Serpent yang licin."
"Seperti yang Inka katakan tadi, Sea Serpent bisa mengubah posisi jantungnya sesuka hati. Oleh karena itu, kalian sedang kelemahannya!"
"Yang kita ketahui saat ini hanyalah mata, oleh karena itu, kalian cari kelemahan lain namun tetap waspada dan berhati-hati! Apakah kalian mengerti!?"
Julian memberikan Claire dan kedua demi-human instruksi untuk menyerang Sea Serpent dan menyuruh mereka untuk berhati-hati.
"Kami mengerti, Master!" Claire dan kedua demi-human berteriak secara serempak.
"Bagus, ayo kita mulai." Julian berjongkok kemudian ia menginjak atap bangunan dan melompat tinggi.
Nimi dan Mine melepas alas kaki mereka dan mengeluarkan cakar di kaki mereka agar tidak jatuh karena pijakan mereka selanjutnya adalah sisik Sea Serpent yang licin.
Mereka berdua berbeda dengan Julian, mereka tidak langsung kesana dengan satu lompatan melainkan dengan cara melompati beberapa bangunan.
Claire juga sudah mempersiapkan kedua pistol namanya. Ia sudah mempelajari bagaimana cara mengendalikan kecepatan dan kekuatan peluru api dengan mantap.
Apalagi, Claire juga sudah berlatih membidik dengan Julian agar ia bisa langsung mengenai target sesuai dengan keinginan.
"Berhati-hatilah!!" Damian dan Inka berteriak meskipun mereka tahu kalau Julian dan kedua demi-human tidak bisa mendengarnya karena jarak.
"Tuan Damian, Nyonya Inka, tolong pikirkan strategi untuk menghalangi mereka yang akan mendekat, karena kita tidak bisa terus-terusan membuat tembok manusia," ucap Claire kepada Damian dan Inka.
__ADS_1
"Ya, serahkan masalah itu pada kami." Damian dan Inka mengangguk.
Kemudian, pertarungan melawan Sea Serpent yang sudah ditunggu-tunggu pun dimulai.