
"Sialan, aku tidak menyangka ada variabel lain yang sanggup untuk membuatku terpojok."
Terdengar suara Alastor dari dalam lubang yang dihasilkan dari dampak jatuh meteor. Itu berarti Alastor masih hidup bahkan setelah menerima serangan dua arah.
Julian dan Oleus melebarkan mata mereka karena tidak menyangka kalau Alastor masih hidup. Namun, mereka berpikir kalau Alastor menggunakan benda sihir atau semacamnya karena tidak mungkin tubuh iblis bisa bertahan dari dua serangan hebat itu.
Asap menghilang, dan terlihatlah Alastor dengan penampilan yang berbeda. Kulit yang sebelumnya gelap sekarang menjadi sedikit terang dan ada sebuah tato yang mirip seperti pola sihir.
"Itu..." Oleus menyipitkan matanya.
"Apakah anda tahu tato apa itu, Tuan Oleus?" tanya Julian yang berpikir sepertinya Oleus mengetahui tato tersebut.
"Ya. Itu adalah kekuatan yang diberikan oleh Raja Iblis Boldax kepada iblis. Pengguna yang mengaktifkan tato itu akan mendapatkan kekuatan dan daya tahan dua kali lipat dari miliknya namun hanya bisa bertahan selama lima menit," ucap Oleus dengan nada serius.
Julian mengerutkan keningnya dan bertanya, "Lalu mengapa Orobas tidak mengaktifkannya? Bukankah dia adalah jenderal iblis?"
"Hm, itu karena Raja Iblis hanya memberikan tato kepada iblis yang membuatnya tertarik. Mau itu iblis rendahan atau iblis kuat, selama iblis tersebut membuat Raja Iblis tertarik, maka iblis tersebut akan diberikan tato," jelas Oleus.
"Kau! Bagaimana bisa kau memiliki kekuatan fisik dan sihir yang luar biasa!? Kau masih muda dan tidak mungkin kau memiliki itu hanya bermodalkan bakat atau kerja keras!" teriak Alastor sambil menunjuk ke arah Julian.
Julian menunjuk ke arah dirinya sendiri dan berkata, "Aku? Yah, aku memang tidak bekerja keras, tapi aku kerja cerdas."
Alastor yang mendengar ucapan Julian mengerutkan keningnya, "Kerja cerdas? Apa maksudmu?"
Julian mengangkat bahunya, "Yah, singkatnya, aku menganalisis kekuatan musuh dan mencari celah untuk melawannya, lalu menggunakan mantra sihir yang cocok untuk menyerang."
Saat Julian dan Alastor sedang berbicara satu sama lain, Oleus sudah mempersiapkan mantra sihir baru. Julian memang sengaja menjawab pertanyaan Alastor untuk mengulur waktu bagi Oleus.
"Lightning God Hand!!" teriak Oleus menggunakan mantra sihir elemen petir skala besar yang menggunakan banyak sekali mana.
Muncul lingkaran sihir berwarna emas yang amat sangat besar di atas mereka. Lalu ada banyak sekali bola-bola petir yang berkumpul ke tengah-tengah lingkaran sihir dan bergabung satu sama lain.
__ADS_1
"Sialan!?" teriak Alastor dengan nada panik.
Alastor panik karena dirinya adalah penyihir yang memiliki kekuatan sihir yang kuat namun lemah dalam hal fisik. Itulah mengapa tadi dia kalah saat serangan meteor dan magma karena kedua sihir itu menyerang tubuhnya.
Lingkaran sihir di atas mengeluarkan gemuruh yang besar, kemudian bola-bola petir yang bergabung tadi membentuk sebuah tangan yang sangat besar yang berwarna emas.
Alastor mulai menggunakan semua mantra sihir pertahanan yang ia punya untuk memblokir tangan petir besar itu. Ia tidak bisa menghindar karena sihir yang digunakan oleh Oleus adalah sihir berskala besar sekaligus sihir area.
Semua jenis mantra sihir kecuali waktu digunakan oleh Alastor. Dia bahkan menggunakan seluruh mananya untuk membuat pertahanan yang kokoh.
"Gravity Pressure." Julian menggunakan tekanan gravitasi ke area tempat Alastor berpijak agar serangan Oleus bisa jatuh ke bawah lebih cepat dan agar Alastor merasakan beratnya gravitasi.
"Sialan!!! Dari sekian banyaknya penyihir mengapa aku harus melawan dua penyihir yang bisa menggunakan semua elemen!!"
"Apalagi anak muda yang membunuh Orobas memiliki mantra sihir yang unik dan belum pernah aku lihat sebelumnya!!"
"Sialan, jika tidak ada anak muda itu, aku bisa membunuh Oleus dan mengambil kembali tubuh Orobas!!" batin Alastor yang merasa sangat marah namun tidak berdaya.
Oleus dan Julian yakin kalau Alastor akan mati dengan serangan tangan petir, tapi, mereka berdua tidak menyangka kalau ada variabel lain yang mengganggu mereka.
Variabel itu adalah seorang wanita yang memakai topeng tengkorak dengan rambut panjangnya yang berwarna hitam dan kulitnya yang gelap sama seperti Alastor.
Wanita itu adalah Quella, jenderal iblis ketiga yang merupakan jenderal iblis terlemah. Tapi, dia adalah iblis yang ahli dalam membuat benda sihir dan dia juga adalah iblis yang paling dipercaya oleh Raja Iblis Boldax.
Quella diberi perintah oleh Raja Iblis Boldax untuk memeriksa situasi Alastor karena seharusnya untuk mengambil tubuh Orobas tidak akan memakan banyak waktu.
Quella langsung terbang ke arah istana namun ia hanya melihat iblis-iblis rendahan bertarung dengan pasukan dan tidak melihat adanya Alastor.
Pada saat itu, ia merasakan reaksi sihir yang sangat mengerikan. Kemudian ia terbang ke sumber reaksi sihir dan melihat Alastor yang hampir mati karena melawan satu pria tua dan satu manusia aneh.
Quella segera menggeluarkan benda sihir dari cincin penyimpanannya dan melemparkannya ke arah tangan petir yang akan membunuh Alastor.
__ADS_1
Benda sihir itu adalah sebuah benda sihir yang memiliki kekuatan penghancur yang bisa melenyapkan satu kota. Benda sihir itu digunakan oleh Quella untuk melenyapkan tangan petir itu..
"Quella!!" teriak Alastor yang melihat kalau rekannya datang.
"Alastor, kau akan dihukum oleh Raja Iblis saat kita kembali," ucap Quella dengan suara tanpa emosi.
"Aku tahu, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka berdua bisa menggunakan semua elemen dan mereka menggunakan mantra sihir dengan sangat efisien," ucap Alastor dengan nada frustasi.
"Tidak peduli apa, ayo kembali. Lupakan tentang tubuh Orobas, dia dikalahkan oleh manusia dan sudah tidak berguna bagi Raja Iblis." Quella mengeluarkan mengayunkan tangannya dan membuat sebuah gerbang teleportasi.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam gerbang teleportasi. Namun sebelum masuk, Alastor menatap Oleus dan Julian dengan tatapan tajam.
"Sialan!!" teriak Julian yang akan menggunakan mantra sihir untuk menghancurkan gerbang teleportasi agar mereka tidak kabur.
Namun, bahunya ditepuk oleh Oleus. Ia menoleh dan melihat Oleus menggeleng-gelengkan kepalanya.
Oleus berkata dengan lemah, "Tidak ada gunanya, Nak. Justru kita akan dirugikan jika melawan dua jenderal iblis sekaligus. Quella adalah jenderal iblis terlemah, namun juga paling berbahaya karena benda sihir yang dimilikinya sangatlah banyak."
Julian menghembuskan napas panjang dan mengangguk. Ia hanya kesal karena tidak bisa membunuh Alastor padahal dia sudah sekarat tadi dan hanya membutuhkan satu serangan untuk membunuhnya.
Beberapa menit setelah Alastor dan Quella pergi, para penyihir kerajaan datang. Namun sudah tidak ada gunanya karena musuh sudah pergi dan kedatangan mereka juga sia-sia.
Para penyihir tiba sangat terlambat karena tidak ada di antara mereka yang bisa menggunakan elemen ruang. Karena elemen ruang memanglah sangat langka dan itu adalah elemen terlangka kedua setelah elemen waktu.
Oleus kemudian menggunakan gerbang teleportasi dan memindahkan mereka ke Kota Crosa. Tepat sekali karena iblis-iblis sudah dikalahkan dan banyak dari mereka yang kembali atas perintah Quella.
Meskipun kelima pahlawan mencoba untuk mengejar mereka, tapi itu sia-sia karena sepertinya Quella menggunakan benda sihirnya untuk membuat gerbang teleportasi.
Lalu, Rolant segera memerintahkan orang yang masih bisa bergerak untuk membantu mereka yang sedang terluka dan membawanya ke area medis.
Kota Crosa yang tadinya sedang bahagia karena berita kehamilan Doria, mengalami sebuah insiden penyerangan dan melakukan pertempuran yang sia-sia karena tidak ada hasil dari pertempuran tersebut.
__ADS_1