Isekai Dinosaur

Isekai Dinosaur
Bertemu Gydhea sang Dewi Perang dan Tugas darinya


__ADS_3

Julian membuka matanya, ia melihat kalau sekarang dirinya sedang berada di sebuah ruangan datar yang luas dan ada banyak sekali rak yang menyimpan berbagai macam jenis senjata dan perisai.


"Hm? Sepertinya ini adalah ruang latihan jika melihat ada banyak senjata di sini," pikir Julian setelah melihat kalau tidak ada apapun selain senjata.


"Kau sudah datang, terima kasih karena tidak membunuh malaikat itu," ucap seorang wanita yang sedang berdiri di tengah-tengah ruangan dan sedang memegang pedang panjang.


"Appraisal," batin Julian menggunakan appraisal ke arah wanita itu.


[ Gydhea


HP : 100%


MP : 100%


level kekuatan : ??


level mana : ?? ]


"Tidak bisa menggunakan appraisal, sepertinya wanita ini sangatlah kuat," pikir Julian.


"Bukankah tidak sopan untuk memeriksa privasi orang lain saat pertama kali bertemu?" ucap Gydhea.


"Oh kau tahu kalau aku memeriksamu? Yah, tidak sopan juga bagi seseorang yang berniat untuk membunuh orang lain saat pertama kali bertemu." Yang Julian maksud adalah Ramiel yang berniat untuk membunuhnya meskipun mereka tidak pernah berhubungan.


"...Maafkan aku," ucap Gydhea dengan nada menyesal.


"Yah, lupakan. Sekarang, bisakah kau memperkenalkan dirimu? Aku yakin kalau kau sudah mengetahui identitasku, jadi aku tidak perlu memperkenalkan diriku sendiri bukan?" ucap Julian sambil melambaikan tangannya.


"Tentu. Aku Gydhea, Dewi Perang yang melambangkan keberanian dan peperangan." Gydhea memperkenalkan dirinya sebagai Dewi Perang.


Gydhea adalah seorang wanita berambut pendek berwarna merah gelap. Warna matanya juga berwarna merah dengan wajah tegasnya yang membuat dirinya terlihat seperti orang yang berani dan gagah.


Ia mengenakan pakaian yang berupa celana pendek dan pakaian longgang yang memperlihatkan sedikit lekuk tubuhnya yang indah.


Warna merah juga melambangkan keberanian dan penampilan Gydhea sangatlah cocok dengan gelarnya yaitu Dewi Perang.


"Tunggu sebentar, kau Dewi Perang? Lalu orang bersayap ayam tadi siapa?" tanya Julian sambil memegangi kepalanya.


"Sayap ayam? Yah, terserah. Ramiel adalah anak buahku, memangnya ada apa?" Gydhea sedikit kesal karena Julian menyebut seorang malaikat dengan sebutan orang bersayap ayam.


Julian berteriak dengan tidak percaya, "Dia anak buahmu!? Apakah kau bercanda!? Malaikat yang sangat lemah itu adalah bawahan dari sang Dewi Perang!? Apakah dunia ini mau kiamat!?"

__ADS_1


Gydhea terdiam dengan reaksi Julian, "Reaksimu terlalu berlebihan. Tapi Ramiel memang bawahanku."


"Buang saja dia, Dewi Perang adalah orang yang membela kedamaian bukan? Bagaimana mungkin Ramiel yang lemah bisa melakukan hal itu," ucap Julian dengan kesal karena ia masih ingin membunuh Ramiel.


Gydhea mengerutkan keningnya dan berkata, "Membela kebenaran tidak harus menggunakan kekuatan yang besar. Selama kau berbuat baik dan menghentikan orang yang berbuat jahat, itu termasuk membela kebenaran."


Julian menghembuskan napas panjang, "Baiklah kau benar. Tapi bukankah kau sudah melihat sifatnya Ramiel tadi? Dia sangat tidak cocok dengan hal tersebut karena hanya akan membuat orang-orang marah."


"...Kau benar, aku akan menindaklanjuti itu nanti. Sekarang, mari kita bahas mengapa aku mengundangmu ke sini," ucap Gydhea.


Julian menepuk dahinya dan berkata, "Oh kau benar. Aku lupa karena membahas sayap ayam."


Gydhea menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya, ia sedikit kesal karena Julian masih menyebut seorang malaikat dengan sebutan sayap ayam karena itu termasuk penghinaan.


Tapi Gydhea tahu kalau tidak ada gunanya berdebat dengan Julian karena ia bisa merasakan bagaimana perasaan Julian yang diganggu oleh orang tidak dikenal yang berusaha untuk membunuhnya.


"Jadi, alasan mengapa aku mengundangmu selain untuk meminta agar Ramiel tidak dibunuh adalah karena aku ingin kau melakukan sesuatu untukku," ucap Gydhea yang mengatakan alasan mengapa ia mengundang Julian.


Julian menyentuh dagunya dan berkata, "Hm? Oh, jadi ini seperti tugas dari seorang dewi, ya?"


Gydhea menjentikkan jarinya dan tiba-tiba mereka berdua berpindah ke ruangan lain yang ada kursi empuk dan meja seperti ruang santai.


"Begitulah," ucap Gydhea sebelum duduk.


"Kembali ke Kota Coramon. Di tengah lautan terdapat sebuah pulau tidak berpenghuni dan di sana terdapat sebuah labirin yang baru dibentuk."


"Di lantai terdalam labirin, pengikutku dikurung di dalam sana dan labirin itu dijaga oleh banyak sekali monster. Bisa dikatakan jika monster keluar dari labirin, maka Kota Coramon akan tamat."


"Namun, tugasmu hanyalah menyelamatkan pengikutku yang bernama Robben. Setelah itu, kau hanya perlu menghancurkan inti labirin yang berupa kristal besar di lantai terdalam."


"Dan kau harus menyelamatkannya dengan cepat karena dia bukan hanya dikurung melainkan kehidupannya sedang diserap."


Gydhea mengatakan mengenai tugas yang akan dilakukan oleh Julian dengan serius dan Julian mendengarkannya dengan seksama karena ini adalah tugas dari Dewi Perang.


Julian mendesah dan berkata, "Yah, meskipun tugasnya memang sederhana. Tapi untuk memasuki lantai terdalam harus menghadapi banyak sekali monster bukan?"


Julian tidak bertanya siapa Robben dan dia juga tidak peduli. Dia hanya bertanya bagaimana penampilan Robben dan Gydhea menjawab kalau Robben adalah pria dewasa dengan rambut pendek berwarna hitam.


"Benar, oleh karena itu aku akan memberimu sebuah senjata yang akan membantumu agar bisa melewati banyak monster," ucap Gydhea.


Julian menyentuh dagunya dan berkata, "Senjata ya? Aku tidak membutuhkan senjata apapun karena gaya bertarungku yang berbeda. Kau pasti tahu bukan bagaimana aku bertarung."

__ADS_1


Gydhea tersadar, "Aku lupa! Lalu apakah kau memerlukan sesuatu agar bisa mencapai lantai terdalam labirin?"


Julian tidak menjawab, ia memejamkan matanya dan berpikir apakah ia memerlukan sesuatu agar bisa mencapai lantai terdalam labirin dengan cepat.


Gydhea yang melihat Julian berpikir juga tidak mengganggunya, ia menjentikkan jarinya lagi lalu muncul teko dan teh di atas meja. Lalu, ia menuangkan teh dari teko ke dalam cangkir.


Setelah beberapa menit, Julian membuka matanya. Ia kemudian berkata, "Aku tidak memerlukan apapun. Tapi bisakah kau memberiku sebuah peta? Aku malas mencari."


"Peta? Itu terlalu sederhana. Aku akan memberikanmu sesuatu yang lebih efisien." Gydhea mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah Julian.


Lalu, muncul cahaya berwarna merah redup dari telapak tangannya dan cahaya itu terbang ke arah Julian dan menyelimuti tubuhnya.


Julian merasakan kehangatan di kedua matanya. Ia memejamkan matanya dan merasakan perubahan yang terjadi karena ia tahu kalau ini adalah perbuatan Gydhea.


"Bagaimana?" tanya Gydhea.


Julian menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak merasakan perubahan apapun di kedua mataku. Bisakah kau memberitahuku?"


Gydhea mengangguk, "Sederhananya, matamu bisa mendeteksi aliran mana. Karena kau pasti tahu kalau semakin dalam lantai labirin, maka semakin kuat mana di dalamnya."


"Mendeteksi aliran mana memang bisa dilakukan dengan menyebarkan mana milik kita ke sekitar, namun itu akan memerlukan waktu dan dengan mata ini, kau hanya butuh satu detik untuk mendeteksi aliran mana," tambahnya.


"Oh! Benar-benar kekuatan yang berguna. Dengan ini aku tidak hanya bisa menemukan pintu untuk ke bawah, tetapi aku juga bisa mendeteksi ruang rahasia."


"Ya, seperti itu. Lalu, karena sudah tidak ada hal yang perlu dikatakan, pergilah." Gydhea bersiap untuk membuat gerbang teleportasi namun dihentikan oleh Julian.


"Tunggu dulu. Aku ingin bertanya, mengapa aku? Dan mengapa tidak menyuruh pengikutmu yang lain?" tanya Julian dengan ekspresi wajah serius.


"Mudah saja, karena kau dipercayai oleh Dewa Tertinggi. Aku tidak tahu apa hubunganmu dengannya, tapi karena Dewa Tertinggi mempercayaimu, maka aku akan mempercayaimu," jawab Gydhea dengan lancar.


"Dan mengapa bukan pengikutku yang lain, itu karena aku tertarik denganmu yang memiliki kekuatan unik dan gaya bertarung yang berbeda dengan yang lain," tambahnya.


Julian mengangkat bahunya dan berkata, "Yah, aku tidak bisa menolaknya."


Gydhea tersenyum, lalu ia membuat gerbang teleportasi dan kali ini tidak dihentikan oleh Julian. Setelah gerbang teleportasi dibuat, Julian mengucapkan 'sampai jumpa' kepada Gydhea sebelum masuk ke dalam gerbang teleportasi.


"Hm, dia anak yang baik," ucap Gydhea sebelum ia melanjutkan latihannya di ruang latihan tadi.


...----------------...


"Kembali ke tempat awal, kah." Julian melihat ke tempat di mana dia melawan Ramiel sebelum dipindahkan oleh Gydhea.

__ADS_1


"Yah, karena aku tidak memiliki sesuatu yang dilakukan di Kota Crosa, kuras aku akan langsung pergi ke Kota Coramon dan mencari pulau tak berpenghuni itu." Julian bertransformasi menjadi Pterosaurus dan terbang menuju Kota Crosa karena ia ingin menikmati angin sebentar.


__ADS_2