
Kembali ke waktu saat Julian masih tidak sadarkan diri.
"...Di mana aku?" Julian melihat ke sekitar dan terkejut karena dirinya pernah berada di tempat ini sebelumnya.
"Hoho, kita bertemu lagi." Terdengar suara yang sama.
"Kakek?" tanya Julian dengan ragu-ragu.
"Benar, ini aku." Pria tua yang memiliki rambut dan janggut panjang berwarna putih muncul dan pria tua itu adalah Dewa Tertinggi.
"Hoho, bagaimana kabarmu, Julian?" tanya Dewa Tertinggi.
Julian tersenyum dan menjawab dengan candaan, "Yah, aku baik. Meskipun di dunia aku sedang sekarat."
Dewa Tertinggi mengelus-elus janggutnya dan berkata, "Hoho, sepertinya kau tidak terlalu khawatir ya."
"Tidak, aku tidak khawatir karena ada rekan-rekan yang aku percayai. Selain itu, kakek tidak akan memanggilku ke sini hanya untuk menanyakan kabarku bukan?" ucap Julian.
"Ya. Bagaimana mengatakannya, aku berterima kasih karena kau telah membunuh Orobas," ucap Dewa Tertinggi.
Julian mengangkat alisnya dan berkata, "Mengapa kakek berterima kasih? Maksudku, bukannya Orobas tidak ada hubungannya dengan kakek? Karena kakek adalah dewa tertinggi."
Dewa Tertinggi mengangguk, "Memang seperti itu. Tapi aku berterima kasih karena situasi di alam dewa saat ini sedang bahagia."
Dewa Tertinggi menjelaskan situasi yang ada di alam dewa kalau sekarang di alam dewa sana sedang bahagia setelah Julian membunuh Orobas.
Memang benar kalau dewa dan dewi di zaman dahulu memaksa iblis untuk menyembah mereka dan iblis menolak yang berakhir peperangan yang dimenangkan oleh dewa dan dewi.
Namun Dewa Tertinggi sudah mengatasi hal itu dan sekarang tidak ada dewa dan dewi yang memaksa siapapun lagi untuk menyembah mereka.
Namun kebencian iblis tidak akan pernah bisa padam bahkan setelah dewa dan dewi melakukan sesuatu sebagai bentuk permintaan maaf.
Oleh karena itu para dewa dan dewi bingung bagaimana bisa menyelesaikan masalah antara mereka dengan para iblis.
Dan alasan mengapa mereka bahagia sekarang adalah karena mereka berpikir kalau iblis menjadi jera karena saat mereka melawan manusia, salah satu iblis terkuat mereka mati.
Para dewa dan dewi juga berpikir untuk menyelesaikan masalah antara mereka dengan pada iblis dengan menggunakan manusia sebagai perantara.
Meskipun mereka tahu kalau hanya ada dua cara untuk menyelesaikannya. Pertama adalah membujuk para iblis untuk kembali seperti zaman dahulu dan kedua adalah memusnahkan iblis.
__ADS_1
Julian menganggukkan kepalanya paham, "Aku paham sekarang. Benar juga ya, kakek adalah Dewa Tertinggi jadi tidak bisa ikut campur kecuali masalahnya sudah sangat besar."
"Aku senang kau paham. Benar, jika aku bergerak maka keseimbangan dunia akan runtuh dan aku yang tertinggi harus bersikap netral," angguk Dewa Tertinggi
"Hahaha, sama-sama. Meskipun aku tidak menyangka dengan membunuh Orobas akan berdampak pada alam dewa," ucap Julian sambil tertawa.
"Aku memang tidak bisa berbuat apa-apa, tapi aku akan memberikanmu sesuatu." Dewa Tertinggi mengarahkan jari telunjuknya ke dahi Julian.
Kemudian muncul cahaya emas yang terang dari jari telunjuk Dewa Tertinggi yang masuk ke dalam dahi Julian yang membuatnya menutup mata.
Julian merasakan ada sesuatu yang berubah di dalam tubuhnya tapi saat ia mencari apa yang berubah, ia tidak bisa menemukannya.
"Selesai," ucap Dewa Tertinggi.
"Apa yang kakek berikan?" tanya Julian sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya karena bingung.
"Hoho, aku memberikanmu sebuah kekuatan baru. Biasanya, kau bisa menyembunyikan mana agar orang lain sulit untuk mengetahui kekuatanmu."
"Namun yang namanya menyembunyikan pasti memiliki celah dan orang yang memiliki insting yang tajam akan langsung mengetahuinya."
"Lalu, bagaimana jika menghilangkannya?" jelas Dewa Tertinggi sambil mengelus-elus janggutnya.
"Tidak mungkin. Tapi aku bisa membuatnya menjadi mungkin, hohoho." Dewa Tertinggi tertawa kecil.
Jadi dengan kekuatan yang diberikan oleh Dewa Tertinggi membuat Julian bisa menghilangkan mana yang ada di dalam dirinya.
Kata menghilangkan mungkin kurang tepat karena mananya masih ada, tidak menghilang. Jadi kata yang tepat mungkin membuatnya tidak terlihat dan tidak terasa.
Jika Julian melakukan hal itu, maka orang-orang tidak akan bisa merasakan mana dari tubuh Julian dan akan menganggap kalau Julian hanyalah orang biasa.
Tapi bukan berarti orang dengan insting tajam tidak bisa mengetahui kekuatan Julian. Mereka bisa, tapi tidak sepenuhnya akurat.
Karena meskipun Julian tidak memiliki mana, aura yang dikeluarkan olehnya tidak bisa dimiliki oleh orang biasa karena ia sudah mengalami banyak hal.
Sama seperti orang dengan jabatan yang tinggi, orang biasa akan merasa terintimidasi saat berhadapan dengan mereka karena mereka memiliki jabatan tinggi.
"Terima kasih, Kakek!" Julian bahkan bersujud karena ia sangat menghormati Dewa Tertinggi.
Mungkin orang yang bisa membuat Julian bersujud hanyalah Dewa Tertinggi karena di bumi ia bahkan tidak pernah bersujud kepada orang tuanya.
__ADS_1
Bukan karena Julian tidak menghormati kedua orang tuanya, tetapi ada alasan tersendiri yang membuat Julian tidak melakukan hal itu.
"Syukurlah kalau kau suka, hohoho," ucap Dewa Tertinggi sambil tertawa kecil.
"Tentu saja aku suka, bagaimana bisa aku tidak suka? Kekuatan ini bisa membuatku untuk mengelabui musuh dan menyerang mereka secara diam-diam."
"Karena di Dunia Unionia, kekuatan adalah hal yang paling dihormati. Kebanyakan orang akan melihat seseorang berdasarkan kekuatan yang mereka keluarkan."
"Jadi mereka biasanya akan mengabaikan orang yang memiliki kekuatan namun disembunyikan yang membuat mereka tidak mengetahuinya," jelas Julian.
Mereka berdua kemudian berbincang-bincang karena sudah lama mereka tidak berbincang-bincang. Julian yang ada dihadapan Dewa Tertinggi saat ini adalah jiwanya, bukan tubuhnya.
Oleh karena itu tubuh Julian masih ada di ranjang penginapan namun yang ada di ranjang penginapan adalah tubuh tanpa jiwa.
Jika Claire dan yang lain merasakannya lebih jelas, mereka akan menemukan kalau Julian yang ada di ranjang penginapan tidak bernapas.
Namun beruntung karena mereka sedang berbicara dengan Ulva dan Lucian yang membuat mereka tidak sadar dengan tubuh Julian.
Jika Ulva dan Lucian tidak datang, maka bisa dipastikan kalau Claire dan kedua demi-human akan panik dan berteriak-teriak dengan histeris.
Dan yang pasti Julian akan sulit untuk menenangkan mereka meskipun ia menjelaskannya dengan jujur.
...----------------...
Kembali ke waktu yang sekarang, mereka berenam sedang berbincang-bincang karena Julian juga membutuhkan beberapa informasi.
Julian juga mengetahui kalau hanya keluarga kerajaan dan Ulva yang mengetahui identitas Lucian yang merupakan seekor naga meskipun sekarang Julian dan yang lain juga tahu.
Dan untuk Ulva, hanya Lucian saja yang mengetahuinya karena untuk garis darah yang spesial biasanya akan diburu dan diteliti atau dijadikan budak.
Namun tidak dengan naga karena semua orang tahu betapa menakutkan dan kejamnya naga yang bisa menghancurkan satu negara.
Karena tidak ada yang bisa disembunyikan lagi, Lucian juga mengatakan kalau dirinya adalah naga malam yang mengendalikan kekuatan kegelapan dan bayangan.
Meskipun Julian ingin melihat wujud naga Lucian karena dari dulu ia ingin melihat naga karena naga adalah makhluk yang sangat keren.
Namun ia tahu kalau situasi saat ini tidak memungkinkan dirinya untuk melihat nada karena identitas Lucian sangat tersembunyi.
Warga Kota Chesa hanya tahu kalau Lucian adalah teman Ulva dan menjabat sebagai jenderal pasukan karena kekuatan dirinya yang menakjubkan.
__ADS_1
Setelah satu jam berbincang-bincang, Ulva dan Lucian pamit undur diri. Julian juga beristirahat kembali karena tubuhnya masuk sakit meskipun dirinya sudah sadar.