
Julian dan yang lain menginap di rumah milik Zain. Mereka menempati kamar kosong di lantai dua yang tidak digunakan.
Hari ini cukup baik karena bisa mengetahui penyakit yang diderita oleh Zain dan bahkan menemukan penyusup serta mendapatkan informasi yang berguna.
...----------------...
Keesokan harinya, kamar milik Zain kini sangat ramai karena kemarin, Karina menghubungi keluarganya kalau penyakit yang diderita oleh Zain sudah diketahui bahkan obatnya juga sudah disiapkan.
Julian yang masuk ke dalam kamar tidak bisa berkata-kata melihat kamar yang penuh dengan orang, bahkan dia yang akan menghilangkan penghalang di jantung Zain tidak memiliki tempat untuk berdiri.
"Semuanya, maaf jika aku lancang. Aku tahu kalau kalian ingin melihat Kakek Zain sembuh, tapi bisakah kalian keluar terlebih dahulu? Kalian menghambat proses pengobatan," ucap Julian dengan nada tak berdaya.
Hadden mengerutkan keningnya karena ia juga tahu kesalahannya dan yang lain, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, "Tidak bisakah kami menonton?"
"Yah, kalau kalian ingin menonton maka tidak apa-apa. Lalu mari kita pindahkan Kakek Zain ke tempat yang lebih luas," ucap Julian setelah berpikir sebentar.
Hadden mengangguk lalu memerintahkan bawahannya untuk membawa Zain ke bangunan lain yang memiliki ruangan yang cukup luas.
Lalu setelah semua persiapan sudah diatur, Julian menarik napas dalam-dalam karena ia akan melakukan sesuatu yang penting yaitu memecahkan penghalang di jantung Zain.
Di sebelahnya ada Karina yang sedang memegangi tangan Zain dengan khawatir lalu di seberangnya ada pria tua berjanggut yang merupakan tabib veteran yang akan memasukan larutan Jantung Sea Serpent.
"Aku mulai," ucap Julian yang mulai memasukan mana miliknya ke dalam tubuh Zain.
Julian memejamkan matanya agar ia bisa lebih fokus. Ia bisa merasakan kalau mana yang sedang ia kendalikan sedang bergerak menuju jantung Zain.
Setelah ia berhasil mengendalikan mana ke jantung, ia mulai memecahkan penghalang dengan cara yang sudah diberitahu oleh Mindy lewat appraisal.
Hadden, Marie, dan anggota keluarga yang lain melihatnya dengan gugup sekaligus khawatir. Mereka juga berharap kalau Zain dapat segera sembuh dari penyakitnya.
Setelah beberapa menit, Julian membuka matanya dan berteriak, "Sekarang!"
Sebuah suara yang mirip seperti kaca yang pecah terdengar, itu berarti penghalangnya sudah dihancurkan oleh Julian. Tabib yang mendengar hal itu langsung memasukan larutan Jantung Sea Serpent ke dalam jantung Zain dengan caranya sendiri.
Zain melebarkan matanya karena merasakan rasa sakit yang parah di bagian jantungnya. Karina yang melihat hal itu berusaha untuk menenangkannya.
"Kakek, bertahanlah. Sebentar lagi kakek akan sembuh!" ucap Karina dengan nada gugup.
"Hm? Ada penolakan mana," ucap Julian yang membuat yang lain tambah gugup.
__ADS_1
Hadden melangkah maju dan berkata, "Apakah ada sesuatu yang bisa kami bantu?"
Julian tidak menjawabnya, ia memeriksa jantung Zain terlebih dahulu agar tidak salah penanganan.
Lalu ia berkata kepada Hadden, "Tuan Hadden, Kakek Zain memiliki elemen petir juga bukan?"
"Ya, keluarga Largus menggunakan elemen petir," jawab Hadden sambil menganggukkan kepalanya.
"Bagus. Tolong masukkan elemen petir ke dalam jantung Kakek Zain. Kontrol agar petirnya tidak melukai jantungnya," ucap Julian.
"Ya." Hadden mendekatkan telapak tangannya di atas jantung Zain lalu ia mulai memasukan elemen petir ke dalamnya.
"Claire, tolong gunakan mantra sihir penyembuh yang bisa menyembuhkan mental. Kakek Zain saat ini sedang merasakan sakit yang parah, kita membutuhkan pikirannya tetap jernih," ucap Julian meminta tolong kepada Claire.
"Baik, Master." Claire mengangguk dan melakukan sesuatu perintah Julian.
Cahaya keemasan yang redup muncul dari staff sihir milik Claire, lalu cahaya tersebut terbang ke arah Zain dan menyelimuti kepalanya.
Zain yang tadinya tidak bisa menjaga pikirannya tetap jernih karena rasa sakit yang parah menghela napas lega karena sekarang pikirannya mulai membaik.
Mereka terus bekerja keras selama setengah jam agar larutan Jantung Sea Serpent menyatu dengan jantung Zain dan agar tidak terjadi kesalahan.
"Ayah, bagaimana perasaanmu?" tanya Hadden.
"Kurasa, aku bertambah kuat," ucap Zain dengan nada lemah sambil tersenyum.
"Syukurlah," Hadden dan yang lain menghela napas lega.
"Maafkan aku karena menyela. Tapi kita harus membiarkan Kakek Zain beristirahat terlebih dahulu," ucap Julian.
Hadden mengangguk dan berkata, "Kau benar. Semuanya, ayo keluar."
Semuanya mengangguk dan keluar kecuali tabib yang akan merawat Zain. Saat mereka keluar, Karina tiba-tiba memeluk Julian dengan sangat erat yang membuat mereka terkejut.
"Terima kasih," ucap Karina dengan lirih.
Julian tidak tahu harus berbuat apa karena anggota Keluarga Largus yang lain sedang melihat ke arahnya dengan tatapan ambigu.
"Hahaha, kalian semua, mari kita beri ruang untuk anak muda," ucap Hadden sambil tertawa dengan sangat bahagia.
__ADS_1
Di sebelahnya, Marie juga ikut tertawa bahagia melihat Julian dan Karina. Anggota keluarga yang lain juga mengangguk dengan paham, lalu mereka pergi termasuk Claire dan kedua demi-human.
Julian menghela napas lega karena ia tidak dibanjiri pertanyaan. Ia membalas pelukan Karina dan menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.
"Ya, jangan khawatir," ucap Julian dengan lembut yang membuat Karina sedikit lebih tenang.
...----------------...
"Julian, kami berterima kasih kepadamu karena telah menemukan sumber penyakit yang diderita oleh ayahku," ucap Hadden dengan penuh syukur.
"Sama-sama, aku juga senang karena bisa membantu Karin," ucap Julian sambil tersenyum cerah.
Hadden juga tersenyum, "Tentu saja. Tapi kami tidak bisa menerima bantuanmu dengan cuma-cuma. Apakah kau menginginkan sesuatu? Aku akan mencoba untuk mendapatkannya."
"Tidak.." Julian tidak menyelesaikan ucapannya karena ia teringat sesuatu setelah ia melirik Karina.
"Kalau boleh, aku ingin meminta izin untuk membawa Karin untuk pergi berpetualang denganku dan yang lain," ucap Julian yang mengatakan keinginannya.
Hadden dan Marie terkejut, mereka kira Julian akan meminta sesuatu yang berharga seperti uang atau benda sihir. Tapi mereka tidak menyangka kalau Julian hanya meminta sebuah izin.
Hadden dan Marie saling memandang, lalu Hadden berkata, "Sebelum aku memutuskan, bolehkah aku tahu ke mana tujuan kalian selanjutnya?"
Julian mengangguk dan menjawab, "Wilayah elf. Aku berencana untuk pergi ke wilayah lain dan target pertama adalah wilayah elf."
"Wilayah elf ya, itu bagus. Baiklah, aku mengizinkan Karina untuk pergi bersama kalian. Aku juga tahu kalau Karina bahagia bersama kalian," ucap Hadden yang memberi izin.
Sebelum Julian berterima kasih, Karina sudah berterima kasih terlebih dahulu dengan penuh semangat karena ia diizinkan untuk pergi bersama Julian dan yang lain.
"Terima kasih ayah, aku cinta ayah!" teriak Karina dengan manis.
Hadden tertegun mendengar ucapan Karina, "Terakhir kali kau berkata seperti itu adalah saat kau kecil."
"Hahaha." Karina tertawa terbahak-bahak lalu ia berkumpul dengan Claire dan kedua demi-human.
"Julian," panggil Marie.
"Ah, ya?" Julian menoleh ke arah Marie.
"Apakah kau mencintai Karina?" tanya Marie yang membuat Hadden di sebelahnya juga penasaran dengan jawaban Julian.
__ADS_1
Julian sedikit terkejut, ia tersenyum cerah dan berkata, "Ya, aku mencintainya."