
Pahlawan, orang-orang dari dunia lain yang dipanggil dengan sebuah sihir kuno. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memanggil pahlawan.
Dan semakin kuat orang tersebut, maka akan semakin banyak pahlawan yang bisa dipanggil.
Kerajaan Cruya memanggil kelima pahlawan sekitar satu tahun yang lalu. Mereka memanggil pahlawan karena pada saat ini, Raja Iblis Boldax menginvasi salah satu wilayah.
Raja Rolant yang tidak memiliki cara lain lagi ingat kalau ada seseorang di kerajaannya yang bisa memanggil pahlawan dari dunia lain.
Dan segera orang tersebut memanggil pahlawan yang berjumlah lima orang dengan perannya masing-masing yang saling melengkapi.
Julian juga diberitahu oleh Dewa Tertinggi kalau kelima pahlawan yang dipanggil berasal dari dunia, planet, dan negara yang sama dengan dirinya.
Ia selalu ingin bertemu dengan para pahlawan, dan sekarang darah di dalam tubuhnya mendidih karena ingin mencoba bertarung dengan pahlawan.
Meskipun begitu, ia menahan dirinya agar tidak kehilangan kendali karena situasi sekarang sangat tidak memungkinkan untuk pertarungan persahabatan.
...----------------...
"Hm? Semuanya, berhenti." Pria berambut pirang yang berada di paling depan menyuruh yang lain untuk berhenti.
"Ada apa?" Wanita berdada besar di sampingnya bertanya.
"Ada empat orang asing di sana, mereka juga sedang melihat ke arah kita. Jika hanya orang biasa, aku akan mengabaikan mereka, namun mereka bukanlah orang biasa," ucap pria pirang.
"Jika kau yang mengatakan itu, berarti mereka memang bukan orang biasa. Apakah kita akan menghampiri mereka?" tanya wanita berdada besar.
"Ya, ayo kita ke sana." Pria pirang dan yang lain segera menghampiri Julian.
...----------------...
Julian menyipitkan matanya, "Mereka mendekati kita, jangan gugup."
Claire dan kedua demi-human menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Mereka menenangkan diri mereka karena tidak mau membuat Julian malu karena diri mereka yang gugup dihadapan pahlawan.
Julian berdiri dengan tegak di depan sambil menyilangkan kedua tangannya di belakang. Ia menunggu kedatangan para pahlawan dengan sabar.
Ia juga penasaran mengapa para pahlawan datang ke Wilayah Cronna meskipun ia memiliki asumsi kalau mereka datang karena desa gelap itu.
"Mereka datang," ucap Julian.
Kelima pahlawan menghentikan kuda mereka di depan Julian, kemudian mereka turun dari kuda mereka dan mendekati Julian.
"Bisakah aku bertanya siapa dirimu?" tanya pria pirang.
"Tidak sopan bertanya nama orang tetapi tidak memperkenalkan diri sendiri," Julian tersenyum.
"Kau! Jaga nada bicaramu!" pria kurus di samping pria pirang berteriak dengan nada tidak senang.
"Hm? Apa? Apakah kau tidak pernah diajari sopan santun oleh orang tuamu?" Julian tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Kau!" pria kurus itu maju namun dihentikan oleh pria pirang.
"Maafkan kami karena tidak sopan, kami adalah pahlawan yang dipanggil satu tahun lalu oleh Kerajaan Cruya," ucap pria pirang.
Pria pirang sebenarnya juga sama kesalnya dengan Julian, namun ia tetap rasional karena ia merasakan adanya aura predator dari Julian.
"Aku tahu, aku sudah melihat wajah kalian dari lukisan yang dibuat oleh orang," Julian terkekeh.
"..." kelima pahlawan terdiam.
"...Namaku adalah Orion Morse, seorang pendekar pedang," ucap pria pirang.
Orion adalah pria yang tampan dengan rambut pirangnya yang sepertinya asli. Ia memiliki warna mata biru yang menambah ketampanannya.
"Olivia Flynn, penyihir," ucap wanita berdada besar.
Olivia adalah wanita berdada besar dan berparas cantik. Ia memiliki rambut panjang berwarna ungu tua yang membuatnya lebih dewasa.
"Halo. Aku Sanaa Hahn, penyembuh dan pendeta," ucap wanita dengan pakaian biarawati.
Sanaa adalah wanita berambut putih dengan warna mata biru yang membuatnya terlihat suci dan polos yang cocok dengan perannya.
"Darion Norris, aku seroang guardian," ucap pria bertubuh besar seperti binaragawan.
Meskipun tubuhnya sangat besar dan terlihat garang, Darion adalah orang yang pendiam yang sama sekali bertentangan dengan tubuh dan penampilannya.
"Cih, Aron Hart, assassin," ucap si pria kurus.
"Julian Roley, pengembara. Clare, Nimi, dan Mine, mereka bertiga adalah rekanku." Julian memperkenalkan dirinya sendiri dan juga mereka bertiga.
"Hmph, dasar tidak tahu malu. Kau memiliki tiga orang budak wanita, pasti kau adalah orang yang suka bermain-main," ucap Aron.
Entah apa yang terjadi namun Julian merasa kalau Aron ini membenci, atau lebih tepatnya cemburu karena dia tidak dikelilingi oleh wanita.
"Haha, sepertinya temanmu itu memiliki mulut yang kasar ya. Yah, aku juga tidak peduli. Ngomong-ngomong, apakah kalian memiliki urusan dengan desa di sana?" tanya Julian yang mengabaikan Aron.
"Ya, kami mendapatkan laporan kalau ada sebuah desa sesat yang memukau Raja Iblis Boldax. Kami di sini untuk membasmi mereka," angguk Orion.
Julian menganggukkan kepalanya, "Kalau begitu silakan, kami tidak akan mengganggu kalian."
"Apakah kau mengusir kami!? Berani-beraninya kau dengan pahlawan!" Aron menyingsingkan lengan bajunya.
Orion ingin menghentikan Aron karena tidak baik untuk membuat masalah dengan orang yang baru ditemui tetapi ia dan ketiga temannya melihat sesuatu yang mengejutkan.
Claire mengambil kedua pistolnya dan menodongkannya ke arah Aron sambil menatap dengan tatapan tajam ditambah dengan niat membunuh.
Nimi dan Mine bergerak dengan cepat dan menaruh pisau mereka di leher dan dada kiri Aron seolah-olah akan membunuhnya.
Sedangkan Julian hanya tersenyum tipis dengan tindakan Aron karena ia tahu kalau para pahlawan tidak akan bertarung dengan dirinya.
__ADS_1
Aron keempat pahlawan tertegun karena tidak menyangka kalau akan menjadi seperti ini. Orion dan yang lain juga mengeluarkan senjata mereka.
Orion yang mengeluarkan pedangnya, Olivia yang menggunakan staff sihir setinggi tubuhnya, Sanaa yang menggunakan sebuah sihir, dan Darion yang menggunakan kapak besarnya.
Seketika karena ulah satu orang yang ceroboh membuat suasana diantara mereka menjadi sangat menegangkan.
Julian mengangkat alisnya dan berkata, "Oh? Apakah kalian, para pahlawan berniat untuk menyerang warga sipil?"
Darion yang pendiam mengerutkan keningnya, "Bukankah budakmu duluan yang mengarahkan senjata mereka ke arah rekan kami?"
"Apa? Apakah kalian semua buta dan tidak memiliki otak? Bukankah Aron yang bersikap buruk? Juga, jangan panggil rekanku budak," Julian membuang senyumnya dan berkata dengan nada dingin.
Kemudian ia mengeluarkan niat membunuh miliknya yang penuh haus darah. Karena Julian memiliki kekuatan dinosaurus, niat membunuhnya juga sangat memberikan seperti dirinya adalah predator puncak.
"!!" Kelima pahlawan merasakan tekanan di tubuh mereka yang membuat mereka merinding.
"...Semuanya, simpan kembali senjata kalian," ucap Orion.
Mereka mendengarkan ucapan Orion dan segera melakukannya. Julian yang melihat hal itu juga segera menarik niat membunuhnya.
Kelima pahlawan menghembuskan napas lega setelah Julian menarik niat membunuhnya.
Sebenarnya Orion juga merasakan sesuatu yang aneh dari Julian karena ia tidak bisa menebak kekuatan Julian dengan matanya.
Di matanya, Julian seperti orang yang misterius yang dikelilingi oleh asap tebal yang membuat orang tidak bisa melihat ke dalam dirinya.
Oleh karena itu ia tidak berani bertindak gegabah. Meskipun ia yakin kalau dirinya bersama yang lain bisa membunuh Julian dan rekannya, tapi ia tahu kalau pihaknya akan memiliki korban.
"Claire, Nimi, Mine, kembali ke posisi awal," ucap Julian.
Mereka bertiga mengangguk dan berdiri di belakang Julian sama seperti sebelumnya. Namun mereka masih tidak menyimpan kembali senjata mereka.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Julian." Orion mengambil Aron kemudian mereka pergi.
Setelah para pahlawan pergi, Julian menghembuskan napas panjang.
"Ada apa, Master?" tanya Claire.
"Hm? Yah, aku hanya kecewa dengan kekuatan para pahlawan," jawab Julian.
"Mengapa? Apakah mereka lemah?" Nimi dan Mine penasaran.
Julian menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak, mereka berlima bisa membunuh kita meskipun pihak mereka pasti juga berkurang dua atau tiga. Tapi tetap saja, untuk gelar pahlawan, kekuatan mereka tidaklah cukup."
"Lalu, Master bisa menghadapi berapa pahlawan sekaligus?" tanya Mine.
"Hm, pertanyaan yang sedikit rumit.Aku bisa menghadapi dua jika yang melawanku antara Orion, Olivia, atau Darion. Lalu aku bisa melawan tiga jika Sanaa dan Aron dimasukkan," ucap Julian.
"Aku ingin bertanya! Jika pertarungannya adalah hidup dan mati, Master bisa membunuh berapa?" Kali ini Nimi yang bertanya.
__ADS_1
Julian langsung menjawabnya, "Satu jika itu Orion, Olivia, atau Darion. Dua jika itu Sanaa dan Aron."
Mereka berempat kemudian membuat makan malam sambil menantikan bagaimana cara para pahlawan untuk menyelesaikan masalah desa gelap itu.