
"Bagaimana? Apakah kau takut padaku sekarang?" Sika menyeringai dan berkata dengan nada meremehkan.
"Ya, aku takut karena wujudmu mengerikan." Julian memasang ekspresi wajah jijik.
"Apa!? Sialan!" Sika berteriak.
Sika menendang meja didepannya dengan keras sampai terpental kearah Julian. Julian masih melakukan hal yang sama yaitu menggunakan tangannya untuk menghadang meja.
Meja tersebut patah menjadi dua bagian karena tendangan keras Sika membuat meja terpental dengan kecepatan tinggi dan saat mengenai tangan Julian, itu patah menjadi dua bagian.
Julian menginjak lantai sampai lantainya membentuk telapak kaki Julian dan menendang perut Sika dengan keras.
"Ugh!" Sika terhempas sampai menghancurkan tembok dibelakangnya dan terbang keluar dari mansion.
"!!" Para prajurit yang sedang berpatroli melihat kearah sumber suara.
Mereka melihat kalau ada makhluk humanoid yang berpenampilan seperti iblis. Mereka mengira kalau dia adalah penyusup dan segera berkumpul.
"Claire, kau rekam saja kejadian selanjutnya, biar aku yang menghadapi Sika," ucap Julian.
"Tapi Master, Sika saat ini bisa menggunakan kekuatan iblis!" Claire khawatir dengan Julian.
"Santai saja, justru ini yang aku inginkan. Aku ingin melawan orang yang kuat, bukan monster." Julian melompat dari lantai dua.
Claire menghela napas karena tahu ia tidak bisa menghentikan Julian. Ia tetap dilantai dua karena tugasnya adalah merekam.
"Siapa kau!?" Salah satu prajurit berteriak saat melihat Julian datang.
"Namaku Julian, aku disini atas nama Raja Cruya untuk mengatasi dia." Julian membuka topengnya dan menunjukkan wajahnya.
"Apakah anda serius? Prajurit tadi bertanya dengan lebih sopan.
"Ya. Dan, kalian pasti tidak menyangka kalau iblis didepan kalian adalah orang yang kalian kenal." Julian mengangguk dan tersenyum.
"Orang yang kami kenal?" Para prajurit saling memandang dan bertanya-tanya siapa yang Julian maksud.
Salah satu prajurit melihat ruangan yang hancur, ruangan itu adalah ruang kerja milik Sika dan ia menduga kalau iblis itu adalah Sika.
"Apakah... Iblis itu adalah Tuan Sika!?" Prajurit itu berteriak dengan nada tidak percaya.
"Apa!? Tuan Sika!?" Prajurit yang lain juga tidak percaya.
"Ada buktinya, tapi tidak sekarang. Kalian semua menjauh lah, aku akan mengalahkan iblis itu." Julian bersiap untuk menyerang.
"Ya!" Para prajurit tahu keseriusan masalah ini, mereka segera menjauhi Julian.
__ADS_1
"Kau tampak bersemangat," Ucap Sika.
"Tentu saja, aku ini pria, tentu saja aku menyukai sesuatu yang berbahaya." Julian menyeringai.
"Kalau begitu, ayo kita lihat siapa yang akan berlutut dan memohon ampun!" ucap Sika.
Sika mengarahkan kedua tangannya kearah Julian dan muncul cahaya merah dari kedua telapak tangannya.
Kemudian muncul banyak sekali bola api dari kedua telapak tangan Sika dan semua bola api terbang kearah Julian dengan kecepatan tinggi.
"Wow, ini seperti aku sedang ditembaki senapan mesin dengan ukuran pelurunya seperti bola meriam," batin Julian.
Julian sudah menggunakan kekuatan dinosaurus nya, ia ingin melawan Sika dengan wujud manusia karena lebih menyenangkan.
Ia berlari kesamping dengan arah melengkung untuk menghindari serangan bola api Sika.
Tidak ada satupun bola api yang mengenai Julian karena ia tidak hanya berlari dengan cepat namun juga menghindar dengan gerakan seminimal mungkin.
"Jangan menghindar seperti pengecut!" Sika berteriak dengan kesal.
"Haha, lebih baik bertindak seperti pengecut dibandingkan dengan mati tanpa melakukan apapun!" Julian tertawa.
Tentu saja ia tidak akan terpancing provokasi Sika. Julian sudah kebal dengan kata-kata yang mengandung provokasi.
Sika yang marah melakukan sebuah gerakan lagi, ia berjongkok dan menempelkan kedua telapak tangannya ditanah.
Jika kalian menyadari, Sika menggunakan gerakan yang sama dengan Karina saat Karina menyerang para penjaga di Mansion Malone.
"!!" Julian melebarkan matanya karena listrik biru itu bergerak dengan sangat cepat menuju dirinya.
"Ugh!"Julian terkena petir biru Sika dan ia merasakan rasa sakit di seluruh otot-otot tubuhnya.
Karena listrik dan petir itu sebuah elemen yang menyerang bagian dalam tubuh, bukan bagian luar.
"Hahaha! Kau sudah mengerti sekarang!? Ini adalah kekuatan yang diberikan oleh Raja Iblis Boldax!" Sika tertawa terbahak-bahak melihat Julian yang terkena serangan petir nya.
Sika berlari menuju Julian yang tidak bisa bergerak karena otot-otot tubuhnya yang kaku karena serangan listrik barusan.
Sika mengepalkan tangan kanannya dan menggunakan banyak mana ditangan kanannya. Kemudian, ia memukul perut Julian dengan sangat keras.
Julian terhempas jauh kebelakang Samapi terguling-guling ditanah. Ia bahkan menabrak pagar tembok dibelakangnya sampai hancur.
Banyak sekali asap yang muncul karena pagar temboknya hancur. Saat Sika masih tertawa terbahak-bahak, muncul bayangan yang bergerak didalam asap.
Bayangan itu tentu saja Julian yang sudah bangkit. Julian menginjak tanah dan bergerak menuju Sika yang tidak menyadari kedatangannya.
__ADS_1
"Ugh!!" Sika membelalakkan matanya merasakan rasa sakit yang sangat parah diperutnya.
Itu karena Julian memukul perut Sika dengan kecepatan yang tinggi dan kekuatan dinosaurus nya yang sangat kuat sampai membuat Sika merasakan kalau organ dalamnya akan hancur.
Berbeda dengan Julian yang terhempas jauh, setelah terkena tendangan, Sika berlutut ditanah sambil memegangi perutnya.
"Bagaimana? Apakah sakit? Tentu saja aku tidak akan membiarkanmu mendominasi pertarungan." Julian menyeringai.
Julian memegang kepala Sika dengan kedua tangannya kemudian melancarkan serangan lutut kearah wajah Sika dengan keras.
Ia menyerang Sika berkali-kali dan berhenti ketika Sika menggunakan sihir api untuk menyerang Julian.
"Ngomong-ngomong, kau ini sampah ya. Rela membuang kemanusiaan mu demi sebuah kekuatan bahkan itu dari Ras Iblis." Julian berkata kepada Sika dengan nada mengejek.
"Hah? Apa yang kau tahu!?" Sika berteriak dan menatap Julian dengan tajam.
"Tentu saja aku tidak tahu, bodoh!" Julian memukul wajah Sika.
"Aku selalu hidup dalam bayang-bayang Marquiss Alan. Bagaimana bisa kau mengetahui rasa sakit karena selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain!" Sika berteriak dengan keras.
"Kalau begitu berusaha lebih keras," ucap Julian.
"Apa menurutmu dengan kerja keras, bisa membuatku bertambah kuat!?" Sika berteriak lalu berdiri.
"Tentu saja, dengan kerja keras, kau pasti akan bertambah kuat. Namun, sepertinya yang kau inginkan adalah kekuatan secara instan. Pantas saja kau tidak bisa bertambah kuat." Julian menatap Sika dengan tatapan kasihan.
"Diam! Memangnya mengapa kalau aku menginginkan sesuatu yang instan!" Sika menggertakkan giginya.
"Apakah kau lahir dari keluarga kaya? keluarga berpengaruh? keluarga kuat? Hanya anak dari kekuatan seperti itu yang bisa menginginkan sesuatu secara instan."
"Orang-orang yang lahir di keluarga biasa atau bahkan keluarga miskin, tidak berhak menginginkan sesuatu yang instan."
"Mereka harus bekerja dengan sangat keras agar satu keinginannya tercapai." Julian menyipitkan matanya.
"Sialan! Memangnya aku tidak tahu hal itu!? Dunia ini tidak adil!" teriak Sika.
"Dunia ini memang tidak adil, kaya dan miskin, kuat dan lemah, sehat dan sakit, lalu apa!? Apakah kau akan menyerah hanya karena itu!?"
"Apakah kau akan lari dari kenyataan!? Lari dari masalah!? Menundukkan kepalamu saat berjalan!? Tidak membalas saat diperlakukan jahat!?"
"Jika iya, maka, kau adalah orang lemah. Lemah dalam hal kekuatan dan juga mental." Julian menatap Sika dengan tatapan merendahkan.
"Jangan menceramahi ku, sialan!!" Sika berteriak dengan sangat keras.
Ia mengangkat kedua tangannya keatas dan memunculkan sebuah bola api yang besar dengan warna merah gelap seperti api dari neraka.
__ADS_1
"Bagus!" Julian sangat bersemangat.
Bukannya takut, Julian justru menantikan sekuat apa serangan Sika kali ini, apalagi dia sedang marah dan jika orang marah, maka kekuatannya akan meningkat.