
Keesokan harinya, saat siang hari. Mereka sudah ada di depan gerbang Kota Chesa dan saat ini mereka sedang mengantre untuk masuk ke dalam.
Saat pagi harinya, Nimi dan Mine bangun dan bergantian dengan Claire yang telah mengemudikan kereta kuda semalaman.
Kemudian saat ini, mereka sedang menunggu karena di depan mereka kini ada banyak demi-human yang mengantre.
Kebanyakan dari mereka berjalan kaki sambil membawa tas besar atau dengan gerobak yang ditarik oleh keledai bukan kuda.
"Perlihatkan kartu identitas kalian," ucap prajurit demi-human yang sedang bertugas.
"Ini." Claire menyerahkan kartu identitas miliknya dan milik kedua demi-human.
"Hm? Kalian ini budak? Dimana tuan kalian?" tanya prajurit.
"Um, Master kami sedang tidak sadarkan diri setelah pertarungan tadi malam. Apakah aku perlu menunjukkan kartu identitas milik Master?" tanya Claire sambil membuka tirai kereta kuda.
Prajurit itu melihat ada pria tampan yang sedang berbaring di dalam, "Jika ada, kalian bisa menunjukkan kartu identitas milik tuan kalian. Tapi jika tidak ada, maka tidak perlu."
"Ah, ada." Nimi mengambil kartu identitas dari saku pakaian Julian setelah mencari sebentar.
"!!" Prajurit itu melebarkan matanya melihat kartu identitas Julian.
"Ah, maaf. Aku tahu kalau kau terkejut dengan kartu identitas milik Master. Tapi bisakah jangan memberitahu yang lain? Kami hanya ingin beristirahat," ucap Claire yang tidak ingin menimbulkan banyak masalah.
"...Maafkan saya. Tetapi saya harus melaporkan hal ini kepada pemimpin kota. Karena status tuan kalian lebih tinggi dibandingkan dengan pemimpin kota," ucap prajurit dengan nada meminta maaf.
Claire berpikir sejenak dan berkata, "Baiklah. Tapi tolong jangan menyebarkannya.
"Baik, terima kasih atas pengertiannya." Prajurit menundukkan kepalanya dan mengembalikan kartu identitas mereka.
Setelah itu Claire dan yang lain diperbolehkan untuk masuk dan prajurit tadi segera pergi ke kantor kota untuk melaporkan hal ini.
Claire segera bertanya kepada demi-human yang lewat dimana penginapan terdekat. Kemudian setelah berterima kasih, ia segera mengemudikan kereta kuda ke arah penginapan yang sudah diberitahu.
"Nona, kalian membawa tuan kalian ke kamar. Biarkan kami yang membawa kereta kuda ke tempat parkirnya," ucap salah satu pekerja.
Pekerja itu bisa melihat kalau Claire dan kedua demi-human sangat khawatir dengan Julian. Itu berarti Julian memperlakukan mereka dengan baik.
Oleh karena itu ia memutuskan untuk membantu mereka memarkirkan kereta kuda.
"Eh? Terima kasih." Claire mengangguk dan menyerahkan kereta kuda ke pekerja itu.
Claire dan Mine memapah Julian untuk pergi ke kamar yang sudah dipesan sedangkan Nimi membawa barang-barang lain mengikuti mereka.
"Mari kita istirahat, sepertinya pemimpin Kota Chesa akan mengunjungi kita besok," ucap Claire setelah membaringkan Julian di ranjang.
"Baik!" Nimi dan Mine mengangguk kemudian mereka membersihkan diri bersama.
Setelah mereka bertiga membersihkan diri, mereka segera berbaring di atas ranjang kemudian tertidur setelah berbincang-bincang sebentar.
...----------------...
__ADS_1
Di dalam kantor kota, di salah satu ruangan di lantai paling atas. Ada seorang demi-human wanita yang memiliki tanduk seperti ranting kayu dan memiliki rambut panjang berwarna biru muda.
Wanita itu bernama Ulva Devania, seorang demi-human rusa yang merupakan pemimpin dari Kota Chesa dan saat ini ia sedang terkejut mendengar laporan bawahannya.
"Seorang pria yang setara dengan Marquis atau Duke datang ke kota kita?" ia berkata sambil melebarkan matanya.
Prajurit itu mengangguk, "Benar, Nyonya Ulva. Mereka saat ini sedang menginap di penginapan terdekat dari gerbang karena pria bangsawan itu sedang tidak sadarkan diri."
"Apakah kau tahu mengapa pria itu tidak sadarkan diri?" tanya Ulva.
Prajurit menggeleng-gelengkan kepalanya, "Maaf, Nyonya. Saya tidak menanyakan hal itu karena takut budaknya tersinggung dan malah menimbulkan masalah."
Ulva mengangguk dan berkata, "Tidak apa-apa, kau melakukan hal yang tepat. Kalau begitu, kita akan menemui mereka besok karena saat ini pasti mereka sedang beristirahat."
"Baik!' Prajurit itu mengangguk sebelum meninggalkan ruangan.
Ulva bersandar di kursinya dan menggosok pelipisnya. Ia terkejut karena tiba-tiba ada orang setingkat Marquis atau Duke datang ke Kota Chesa, kota demi-human yang biasanya diabaikan.
"Bagaimana menurutmu, Lucian?" Ulva bertanya kepada wanita lain di dalam ruangan.
Wanita itu memiliki paras yang cantik dengan rambut panjang berwarna abu-abu terang dengan warna yang sama seperti warna matanya.
Wanita itu memiliki sepasang tanduk di dahinya yang melengkung ke belakang dan gang paling mencolok adalah ada ekor di belakangnya.
Ekor itu seperti ekor kadal namun penampilannya lebih keren dengan sisik-sisiknya yang berwana hitam dan sedikit corak merah.
"Bagaimana lagi? Seperti yang kau katakan, kita harus menemui mereka. Aku juga tidak tahu apa tujuan mereka, meskipun aku lebih berpikir kalau mereka ke sini hanya untuk singgah," ucap wanita yang bernama Lucian.
"Yah, benar juga. Semoga saja mereka ke sini hanya untuk singgah. Aku tidak ingin berurusan dengan para bangsawan tinggi," ucap Ulva.
...----------------...
Keesokan harinya, saat siang hari. Ulva, Lucian, serta beberapa prajurit datang ke penginapan yang ditempati oleh Julian dan yang lain.
Setelah bertanya di mana kamar mereka kepada resepsionis, mereka segera ke sana dan mengetuk pintu kamarnya.
Pintu terbuka dan terlihat demi-human anjing yang itu adalah Mine. Mine mengangguk dan mempersilakan mereka untuk masuk tanpa bertanya karena ia sudah tahu siapa identitas mereka.
Ulva dan Lucian masuk ke dalam kamar sedangkan prajurit yang lain tidak masuk dan menunggu diluar untuk berjaga-jaga.
"Selamat datang, maafkan kami karena Master masih tidak sadarkan diri. Jika kalian tidak keberatan, aku yang akan menggantikan Master untuk berbicara," ucap Claire yang menyambut Ulva dan Lucian.
"Tidak apa-apa, kami juga memahami keadaannya," angguk Ulva yang tidak mempermasalahkan hal itu.
Mereka bertiga duduk di kursi dekat jendela sedangkan Nimi dan Mine tidak bergabung dalam pembicaraan karena mereka tidak mengerti dan memutuskan untuk mengasah pisau mereka saja.
"Namaku Claire, budak manusia yang dibeli oleh Masterku. Master bernama Julian Roley, dan mereka adalah Nimi dan Mine." Claire memperkenalkan dirinya dan yang lain.
Ulva mengangguk, "Namaku Ulva Devania, wanita di sebelahku adalah rekanku, Lucian."
"Halo," ucap Lucian sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kami disini hanya untuk bertanya mengapa bangsawan tinggi seperti Tuan Julian datang ke Kota Chesa kami," ucap Ulva.
Claire tersenyum, "Biar aku koreksi, Masterku memang seorang bangsawan, tetapi dia adalah bangsawan yang jatuh."
"Bangsawan yang jatuh? Tapi mengapa kartu identitasnya masih berlaku?" Ulva mengerutkan keningnya.
Biasanya jika status seorang bangsawan dicabut, kartu identitasnya juga akan berganti sesuai dengan status baru mereka.
Namun kartu identitas Julian masih bisa berlaku yang berarti alasan Julian mengenai bangsawan yang jatuh sedikit mencurigakan.
Claire menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kami tidak tahu. Karena Master tidak membicarakan hal itu, kami juga tidak berhak untuk bertanya."
"Baiklah. Lalu mengapa kalian datang ke kota kami?" tanya Ulva.
"Kami dari Kota Cronna dan sedang menuju Kota Crosa. Kami di sini hanya untuk singgah selama satu atau dua hari saja," ucap Claire.
"Syukurlah," batin Ulva dan Lucian.
"Tapi, sepertinya kami akan singgah di Kota Chesa selama satu minggu," tambah Claire.
Ulva mengerutkan keningnya dan bertanya, "Satu minggu? Apakah ada sesuatu?"
"Apakah kalian mendengar ledakan dahsyat tadi malam?" tanya Claire yang tidak langsung menjelaskan alasannya.
"Tentu saja, kami mendengar ledakan itu." Kali ini Lucian yang berbicara karena dirinya adalah yang pertama kali mendengar ledakan itu.
"Ledakan itu dihasilkan dari pertarungan Master kami melawan iblis, dan kalian mungkin akan terkejut dengan identitas iblis ini," ucap Claire sambil tersenyum.
"Hm? Apakah Tuan Julian bertarung melawan iblis yang terkenal?" tanya Lucian.
Claire mengangguk, "Sangat terkenal. Iblis yang dilawan oleh Master kami adalah Orobas Ohrne, salah satu jenderal iblis dari tiga jenderal iblis."
"Apa!?" Ulva dan Lucian berdiri karena terkejut dengan identitas iblis yang dilawan oleh Julian.
"Mungkin kalian tidak percaya, tapi lihatlah ini." Claire mengeluarkan mayat Orobas dari cincin penyimpanannya.
Ulva dan Lucian segera melihat mayat itu dan mereka menyadari kalau itu memang Orobas karena mereka pernah melihat Orobas di poster bounty yang dikeluarkan oleh Kerajaan Cruya.
"Kalian percaya bukan?" tanya Claire yang memasukan mayat Orobas kembali.
"Ya, aku tidak menyangka kalau salah satu dari jenderal iblis akan mati." Ulva bersandar di kursi dan menghembuskan napas panjang.
Lucian juga duduk dengan lemas, pikirannya sangat rumit saat ini karena ia pernah bertemu dengan Orobas saat Orobas menyerang salah satu wilayah manusia.
Lucian bisa tahu kalau Orobas sangatlah kuat dengan merasakan aura yang dikeluarkan. Meskipun dirinya bisa membunuh Orobas, tetapi saat itu ia harus melindungi demi-human yang lain.
Saat mereka berbicara lagi, tiba-tiba terdengar suara yang membuat mereka terkejut, terutama Claire dan kedua demi-human.
"Wah!"
Ternyata yang berteriak adalah Julian, ia sudah sadarkan diri meskipun menurut Claire Julian akan sadar sekitar tiga hari kemudian.
__ADS_1
"Master!!" Nimi dan Mine melompat dan memeluk Julian.
Claire juga berdiri dan menghampiri Julian yang sedang memeluk Nimi dan Mine dan memandangi mereka sambil tersenyum.