
"Ngomong-ngomong, apa yang kalian bawa tadi? Kelihatannya kalian membawa banyak barang," tanya Julian kepada pengasuh lain.
"Ah, kami membawa beberapa bahan untuk dimasak nanti. Kami juga membawa beberapa barang bekas untuk yang masih layak digunakan," ucap salah satu pengasuh.
Julian mengerutkan keningnya setelah mendengar jawaban pengasuh itu, lalu ia bertanya, "Sebenarnya dari tadi aku penasaran, bisakah aku mengajukan pertanyaan?"
"Tentu saja, silakan," angguk Lenna.
"Biasanya panti asuhan akan mendapatkan dana dari pemerintah kota, apakah kalian mendapatkannya?" tanya Julian.
"Ah benar. Kami mendapatkan dana dari pemerintah kota, tapi entah mengapa setengah tahun yang lalu kami tidak mendapatkan dana lagi," ucap Lenna sambil menghembuskan napas sedih.
"Hah? Apakah kalian bertanya mengapa?" Julian berpikir kalau orang yang mengelola kota ini sungguh buruk.
Lenna mengangguk dan berkata, "Kami sudah mengunjungi kantor kota tapi kami hanya mendapatkan jawaban kalau pemerintah tidak memiliki uang untuk kami."
"Mereka juga mengatakan kalau pemerintah akan menggusur panti asuhan ini dalam beberapa bulan kedepan namun tidak mengatakan alasannya," tambahnya.
Julian yakin kalau pemerintah memiliki uang tambahan, tidak mungkin tidak memilikinya. Itu berarti ada elf yang menggelapkan dana milik panti asuhan atau memang mereka saja yang tidak mau memberikannya.
"Lalu, bagaimana cara kalian bertahan hidup jika tidak ada dana?" tanya Julian.
"Para pengasuh bekerja di beberapa toko, kami juga terkadang meminta makanan sisa dari restoran, dan mengambil barang bekas untuk digunakan atau dijual kembali," jawab Lenna.
"Bahkan saat mereka dalam keadaan yang paling sulit, mereka tidak mengemis dan mengandalkan diri mereka sendiri untuk mendapatkan uang atau makanan," pikir Julian.
Julian kemudian memanggil Claire yang sedang berbicara dengan pengasuh lain. Claire yang mendengar Julian memanggilnya segera datang.
"Ada apa, Master?" tanya Claire.
"Berikan stok daging kami kepada mereka," ucap Julian.
Karena Claire memiliki cincin penyimpanan, sekarang stok daging, sayur, bumbu-bumbu, bahan makanan lain serta peralatan masak akan disimpan olehnya.
"Siap!" Claire segera mengeluarkan banyak daging dari cincin penyimpanannya di atas meja.
__ADS_1
Julian mengatakan untuk memberikan stok daging jadi Claire mengeluarkan semua daging ia ia simpan. Daging-daging tersebut bahkan sampai membuat gunung kecil di atas meja.
"Yang berwarna merah gelap ini adalah daging beruang, lalu ada daging ayam, sapi, kambing, dan beberapa daging lain aku lupa karena ada terlalu banyak," ucap Claire sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
"Ini..!?" Lenna dan pengasuh lain membelalakkan mata mereka melihat tumpukan daging yang menjulang tinggi di atas meja.
"Claire, berikan sayur juga kepada mereka. Hanya kau dan Karin yang memakan sayur jadi tidak apa-apa bukan?" ucap Julian.
"Fufu, tentu saja tidak apa-apa. Aku juga tahu kalau Master tidak menyukai sayuran." Claire mengeluarkan sayur-sayuran dari cincin penyimpanannya.
Julian menyentuh dagunya dan berkata, "Yah, aku tidak tahu semua daging ini untuk berapa lama tapi untuk kami semua daging ini untuk lima hari, jadi untuk kalian mungkin bisa lebih lama lagi."
"Lima hari!?" Lenna dan pengasuh lain terkejut.
Mereka tidak menyangka kalau daging yang menjulang tinggi di depan mereka hanya untuk lima hari saja bagi Julian dan yang lain.
Tidak bisa disalahkan, Claire dan Karina memiliki porsi maka normal namun Julian, Nimi, dan Mine memiliki porsi makan yang tidak normal bahkan bisa sampai tiga kali lipat dari orang biasa.
Itu karena mereka bertiga bertarung dengan tubuh mereka yang membuat tenaga mereka habis dan pada akhirnya mereka mengisi tenaga dengan makan yang banyak.
Lenna dan pengasuh wanita segera mengangguk dan mulai mempersiapkan peralatan masak. Lalu pengasuh pria membantu untuk membawa daging dan memotong-motongnya.
...----------------...
Hidangan sudah dibuat, mereka memasak banyak sekali jenis masakan mulai dari yang digoreng, direbus, dikukus, dan sebagainya.
Pengasuh wanita pergi ke kamar anak-anak dan meminta mereka untuk datang ke ruang makan. Saat datang, anak-anak segera meneteskan air liur mereka dan menatap hidangan di atas meja makan dengan mata berbinar-binar.
"Semuanya diberikan oleh kakak-kakak ini, jadi berterima kasihlah terlebih dahulu sebelum makan," ucap Lenna sambil tersenyum bahagia.
"Terima kasih kakak!" anak-anak berterima kasih dengan keras.
"Ya, sama-sama. Nah, silakan dimakan," angguk Julian.
Anak-anak duduk di kursi mereka masing-masing dan langsung memakan hidangan di depan mata mereka. Bahkan ada beberapa anak yang berebut untuk mengambil daging yang sama.
__ADS_1
"Tuan Julian, terima kasih banyak. Aku sudah lama tidak melihat wajah anak-anak yang sangat bahagia," ucap Lenna sambil meneteskan air mata bahagia.
"Sama-sama, ayo kita makan juga," Julian bergabung dengan anak-anak untuk makan bersama.
Mereka semua makan sambil berbincang-bincang dengan canda tawa, wajah tersenyum anak-anak juga mewarnai suasana menjadi lebih harmonis lagi.
...----------------...
"Tuan, bagaimana jika kalian menginap di sini? Meskipun tidak besar, tapi masih ada kamar kosong untuk kalian tempati," ucap Lenna kepada Julian.
"Boleh juga, karena sudah larut malam dan mungkin beberapa penginapan sudah tutup," angguk Julian menerima tawaran Lenna.
Lenna tersenyum dan mengangguk, ia lalu menuntun mereka menuju kamar kosong di lantai dua yang memiliki ukuran yang cukup luas dengan beberapa ranjang yang terlihat sudah tua.
"Master, bukan berarti aku berpikir kasar tapi aku rasa bangunan ini sebentar lagi akan roboh," ucap Claire sambil mengamati kondisi ruangan.
Sudah ada banyak lubang di dinding, jendela kayu yang sudah banyak keropos, kaca jendela yang retak, dan lain sebagainya.
"Aku juga berpikir seperti itu, bangunan ini memiliki usia puluhan atau bahkan ratusan tahun dan tidak pernah direnovasi," angguk Julian.
"Bagaimana? Apakah kita akan membantu?" tanya Karina dengan nada penuh harap.
"Yah, kita akan membantu. Tapi mari tunggu sampai tuan kota memanggilku, aku akan berbicara dengannya terkait urusan panti asuhan ini," ucap Julian.
"Baik!" mereka mengangguk senang karena Julian memutuskan untuk membantu panti asuhan.
Tidak ada alasan khusus mengapa Julian memutuskan untuk membantu panti asuhan. Ia kasihan dengan kondisi yang menimpa panti asuhan ini ditambah ada anak-anak yang masih polos.
Julian tidak bisa membiarkan anak-anak itu kehilangan senyuman mereka dan ingin membantu mereka karena mereka juga yatim piatu.
Ia memiliki banyak uang dan ia juga mahir dalam hal mantra sihir, jadi tidak ada salahnya ia membantu panti asuhan ini.
Bahkan jika ia tidak memiliki uang atau kekuatan, ia juga akan membantu panti asuhan dengan segenap kemampuannya.
"Yah, melihat mereka seperti melihat diriku di masa lalu. Aku tidak akan membiarkan mereka mengalami kejadian yang sama dengan diriku. Aku juga bahagia melihat wajah bahagia anak-anak," pikir Julian sebelum ia tertidur pulas.
__ADS_1