
Tepat pada pagi harinya, saat Julian baru saja membersihkan diri, ia dipanggil oleh Lenna yang sedang panik karena tuan kota datang ke panti asuhan.
Julian yang penasaran dengan tuan kota segera turun ke lantai satu. Di sana, ia melihat ada seorang elf pria yang mengenakan pakaian berkualitas dan aura yang dikeluarkannya menandakan kalau dirinya bukan orang biasa.
"Tuan kota?" ucap Julian dengan ragu-ragu.
"Tuan Julian, senang bertemu dengan anda. Saya adalah Rydel Zumlen Erhenora, anda bisa memanggil saya Rydel," ucap Rydel yang merupakan tuan kota dari Kota Elrei.
Rydel adalah elf yang cukup tinggi, rambutnya hanya panjang di bagian belakang yang diikat dengan ikat rambut, bagian depan dan samping cukup pendek sama seperti model rambut pria.
Matanya memiliki warna hijau dan ia memiliki perawakan yang cukup atletis tidak kurus dan tidak gembuk yang membuatnya sangat tampan.
"Erhenora!? Bukankah itu adalah nama kerajaan elf!? Itu artinya elf di depanku ini adalah anggota keluarga kerajaan!?" batin Julian yang terkejut dengan identitas Rydel.
"Senang berkenalan dengan anda, Tuan Rydel. Nama saya Julian Roley, anda bisa memanggil saya Julian." Kemudian Julian berjabat tangan dengan Rydel.
Lenna yang melihat kalau mereka berdua sudah berkenalan membungkukkan badannya sedikit lalu meninggalkan mereka di dalam ruang tamu.
"Tuan Julian, saya sudah mendapatkan kabar dari kapten penjaga. Saya berterima kasih atas nama Tuan Kota Elrei kepada anda." Rydel menundukkan kepalanya untuk mengucapkan terima kasih kepada Julian.
Julian sedikit terkejut, lalu ia berkata, "Tolong angkat kepala anda. Saya juga senang karena anak-anak berhasil diselamatkan dengan cepat."
"Saya baru bisa datang ke panti asuhan ini karena kemarin saya ada pertemuan yang mengharuskan saya untuk hadir di sana," ucap Rydel dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa, anda datang saja saya sudah berterima kasih," ucap Julian sambil tersenyum.
Setelah basa-basi sebentar, mereka lalu mulai membicarakan topik utama. Rydel menanyakan kejadian lengkap mengenai penculikan anak-anak panti asuhan dan Julian menjelaskannya dengan sangat detail tanpa menyembunyikan apapun.
Rydel mendengarkannya dengan sangat serius dan ia terlihat sangat marah saat mendengar kalau anak-anak panti asuhan diculik oleh pedagang budak.
"Kurasa aku harus memperketat pengawasan agar kejadian ini tidak terulang kembali." Rydel menghembuskan napas panjang.
Julian juga menghembuskan napas panjang, lalu ia berkata, "Ngomong-ngomong, Tuan kota, bisakah aku mengajukan satu pertanyaan?"
__ADS_1
"Hm? Tentu saja, silakan." Rydel mengangguk dan mempersilakan Julian untuk bertanya.
Julian membuang senyumnya dan bertanya dengan wajah serius, "Mengapa pemerintah kota tidak memberikan dana kepada Panti Asuhan Elrei ini?"
Rydel mengerutkan keningnya dan berkata, "Apa? Tidak, aku sudah memberikan dana sekitar 5 sampai 10 perak untuk panti asuhan setiap bulan. Bagaimana bisa pemerintah melakukan hal sekejam itu?"
Julian mendesah dan berkata, "Jika itu benar maka kondisi panti asuhan tidak seperti sekarang. Tolong lihat sekeliling, lihat bangunan panti asuhan ini, lihat juga pakaian yang mereka kenakan."
Rydel menoleh dan melihat sekeliling sesuai dengan ucapan Julian. Ia melihat kondisi bangunan yang sudah rapuh, dinding dan atap yang penuh dengan lubang, pakaian yang hampir tidak layak pakai, dan sebagainya.
"Tuan kota, aku yakin anda tidak berbohong. Itu artinya ada pejabat yang menggelapkan dana untuk panti asuhan ini dan itu sudah berlangsung selama enam bulan lebih," ucap Julian dengan serius.
"Aku akan menyelidikinya," angguk Rydel.
Setelah berbincang-bincang sebentar, Rydel menyapa yang lain kemudian ia kembali ke kantor kota untuk menyelidiki masalah terkait dana untuk panti asuhan.
Setelah Rydel pergi, Karina dan para wanita menghampiri Julian dan bertanya apa yang mereka berdua bicarakan. Julian memberitahu apa yang ia dan Rydel bicarakan kepada mereka.
"Melihat tempramen Tuan kota, kurasa tidak mungkin dia menggelapkan dana," ucap Karina setelah mengingat penampilan Rydel dan aura yang dikeluarkannya.
"Yah, kalau begitu ada pejabat lain yang menggelapkan dana ini. Mari kita tunggu hasil penyelidikannya," ucap Julian.
Mereka mengangguk, lalu Karina dan Claire memberitahu Julian ide yang mereka pikirkan untuk membantu panti asuhan mendapatkan uang tambahan.
Julian mendengarkannya dengan serius, ide-ide yang dipikirkan mereka cukup bagus untuk diterapkan karena hanya membutuhkan modal sedikit dan cocok untuk panti asuhan.
Pertama, peternakan kecil. Karina memikirkan untuk membuat peternakan ayam atau unggas lain karena hewan unggas cukup mudah untuk dirawat dan bisa dijual telur atau dagingnya.
Kedua, membuat pakaian. Claire melihat ada tumpukan kain bekas di gudang panti asuhan. Ia mengusulkan agar panti asuhan membuat pakaian sederhana yang bisa dijual dengan harga murah.
Ketiga, jasa cuci pakaian. Claire juga mengusulkan agar panti asuhan menerima jasa cuci pakaian, namun karena hanya ada anak-anak jadi untuk sementara usulan ini akan dikesampingkan.
"Ide kalian menarik, terutama ide pertama dan kedua. Karena hanya membutuhkan modal yang sedikit dan anak-anak panti asuhan juga bisa membantu," angguk Julian.
__ADS_1
"Tapi Julian, aku sudah bertanya kepada Nyonya Lenna kalau tidak ada ayam di sekitar sini dan dijual oleh pedagang adalah ayam dari daerah lain. Jadi kurasa ideku kurang cocok," ucap Karina dengan ekspresi menyesal.
"Kalau begitu kita terapkan ide untuk beternak kecil. Mari kita cari tahu hewan apa yang ada di sekitar ini dan bisa diternakkan dengan mudah," ucap Julian.
"Lalu Claire, kau bicarakan idemu kepada Nyonya Lenna. Jika tidak bisa membuat pakaian, buat saja aksesoris dari kain karena itu lebih mudah," lanjutnya.
"Baik, Master!" Claire mengangguk lalu pergi mencari Lenna.
Sementara itu Julian dan Karina keluar dari panti asuhan dan mencari informasi mengenai hewan yang bisa diternakkan dan bisa dirawat dengan mudah.
Dan setelah beberapa jam mencari informasi sekaligus berdiskusi, mereka akhirnya mencapai keputusan untuk beternak kelinci karena itu cukup mudah.
Ada kelinci di sekitar sini dan Julian juga sudah melihatnya. Kelinci di sini memiliki ukuran yang sama seperti kelinci di bumi namun penampilannya sedikit berbeda.
Kelinci di sini memiliki ekor yang tidak pendek dan juga berbulu. Penampilan ekornya mirip seperti ekor kucing. Lalu kelinci di sini memiliki tanduk kecil di dahi mereka yang hanya seukuran kuku saja.
Julian membeli banyak sekali kelinci dari pedagang hewan, harganya juga cukup murah. Ia membeli 20 kelinci dengan total harga satu koin perak saja yang berarti harga masing-masing kelinci adalah 50 koin tembaga.
Julian dan Karina membawa kotak yang berisi kelinci di dalamnya. Mereka tidak bisa menyimpannya di cincin penyimpanan atau inventory karena kedua hal tersebut tidak bisa menyimpan makhluk hidup.
Jadi mereka membawa dua kotak yang cukup besar dan berjalan menuju panti asuhan. Saat sampai di sana, Julian segera memberitahu ide Karina kepada Lenna dan Lenna cukup terkejut dengan ide tersebut karena ia tidak pernah memikirkannya.
"Kurasa aku memang sudah tua, bagaimana bisa aku tidak memikirkan hal itu," ucap Lenna sambil menghela napas panjang.
"Haha, jangan seperti itu Nyonya. Meskipun mudah tapi dengan situasi panti asuhan sekarang cukup sulit untuk membeli kelinci," ucap Julian.
Lenna mengangguk dan berkata, "Benar juga, kami bahkan kekurangan uang untuk membeli makanan. Bagaimana bisa kami kepikiran untuk membeli kelinci."
"Kalau begitu Nyonya, tolong taruh kelinci ini di suatu tempat terlebih dahulu dan beri mereka makan dengan sayuran sisa. Kita belum memiliki kandang untuk menaruh mereka," ucap Julian.
"Ya." Lenna mengangguk kemudian ia menyuruh pengasuh pria untuk membawa dua kotak berisi kelinci itu di dalam bangunan.
Dan saat Julian akan beristirahat, tiba-tiba saja ada kereta kuda yang cukup mewah datang. Julian tentu saja tahu siapa yang datang karena ia tahu siapa pemilik kereta kuda ini.
__ADS_1
Pintu kereta kuda dibuka dan turunlah Rydel. Ia berjalan menghampiri Julian dan mengatakan kalau ia sudah tahu ke mana dana panti asuhan itu.
"Sangat cepat? Ayo masuk. Mari kita bicarakan di dalam, Tuan kota." Julian sedikit terkejut lalu ia mempersilakan Rydel masuk.