Isekai Dinosaur

Isekai Dinosaur
Hewan Berbulu Tebal di Padang Pasir yang Panas


__ADS_3

Mereka berempat pergi menuju kota padang pasir, Kota Cronna yang berjarak sekitar tiga sampai empat hari hari Kota Coramon.


Sepanjang perjalanan, mereka melewati hutan yang gelap, suasana yang mencekam, bahkan suara-suara burung berkicau terdengar menyeramkan.


Namun mereka sama sekali tidak takut, bahkan saat melewati jalan yang menyeramkan, mereka bernyanyi bersama.


Lalu mereka bertemu dengan beberapa karavan kereta kuda milik pedagang yang sedang menuju Kota Coramon untuk berdagang.


Julian bertanya kepada mereka situasi di Kota Cronna, betapa terkejutnya dia saat mengetahui kalau Kota Cronna sedang dalam krisis.


Claire tampak khawatir dan bertanya kepada Julian, "Master, apakah kita tetap akan pergi ke Kota Cronna?"


"Tentu saja, apa ada sesuatu yang membuatmu khawatir?" tanya Julian tanpa menoleh karena ia sedang mengemudi.


Claire menjawab, "Itu karena Kota Cronna sedang dalam krisis, aku takut kita akan terkena masalah jika pergi ke sana."


Nimi yang sedang makan camilan berkata, "Bukankah itu bagus? Akan membosankan jika hanya berkunjung ke suatu tempat tanpa melakukan apa pun."


"Nimi benar, aku juga ingin melakukan pertarungan! Tubuhku sudah kaku karena sudah dua hari tidak bertarung," tambah Mine.


Claire memegangi kepalanya dan berkata, "Kalian ini ya, hanya memikirkan tentang pertarungan."


"Haha, tidak apa-apa, Claire. Selain berkunjung ke berbagai tempat, aku juga ingin menyebar namaku sebagai orang yang baik."


"Di masa depan nanti, orang-orang akan menyambut kita dengan tangan terbuka yang menyelesaikan berbagai macam masalah yang tidak perlu."


"Juga, bukankah menyenangkan membantu sesama?" Julian tersenyum cerah.


Claire menghembuskan napas pasrah dan tersenyum, "Baiklah, jika itu keinginan Master. Aku juga senang membantu yang membutuhkan."


"Bagus," angguk Julian.


Mereka melanjutkan perjalanan, kemudian satu hari kemudian jalan yang mereka lalui berganti dari pohon hijau ke pohon kering.


Tanah yang subur dan berwarna coklat gelap juga berganti menjadi pasir yang berwarna kuning dengan suhu yang hangat.


"Kita sampai di Wilayah Cronna, mungkin kita akan sampai di Kota Cronna saat malam hari, sekitar setengah hari lagi," ucap Julian.


"Lingkungannya gersang ya." Nimi melihat ke sekeliling.


"Sejauh mata memandang, hanya ada pasir kuning," tambah Mine.


Memang, hanya ada pasir kuning disekitar mereka. Lalu ada beberapa pohon kering yang terlihat akan mati sebentar lagi.


Bahkan kedua kuda memperlambat langkah mereka karena jalannya ditutupi dengan pasir tebal yang membuat mereka sulit untuk melangkah.


"Hm, kalian berdua tetaplah berlari, aku akan menggunakan sihir elemen angin untuk mengusir pasir-pasir yang menghalangi itu." Julian berdiri dan Claire menggantikannya mengemudi.


Julian naik ke atap kereta kuda, ia mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah depan dan segera menggunakan sihir angin dengan meniru konsep kipas angin yang ada di bumi.


Julian menarik angin di sekitar dan membuatnya berkumpul di depan telapak tangannya. Lalu ia membayangkan cara kerja kipas angin di bumi.

__ADS_1


Ia membuat angin bertiup dengan cara memutarnya sama seperti kipas angin dengan kecepatan yang sedang agar pasir tidak terbang secara tidak beraturan.


"Pengetahuan di bumi ditambah sihir di Unionia, dua hal yang jika digabungkan akan membuat efek yang sempurna," batin Julian.


"Nieghh!!" Kedua kuda bersuara melihat pasir yang menghalangi langkah mereka sudah tidak ada.


Namun tiba-tiba saja Julian menyuruh kedua kuda untuk berhenti dan mereka menghentikan langkah mereka dengan mendadak.


"Master! Apakah ada sesuatu!?" Claire dan kedua demi-human mengeluarkan senjata mereka karena mengira kereta kuda berhenti karena ada serangan.


"Master?" Claire bertanya lagi karena Julian tidak menjawab.


Mereka bertiga penasaran mengapa Julian tidak menjawab, mereka mengikuti tatapan Julian dan tertegun melihat pemandangan di depan mereka.


"Tunggu sebentar." Claire mengusap-usap matanya karena tidak mempercayai apa yang ia lihat.


Mereka berempat tertegun karena di depan mereka ada kawanan bison yang sedang beristirahat, benar, bison yang biasa hidup di padang rumput.


Mungkin penampilan mereka lebih ke hewan Yak, hewan besar dan berbulu tebal yang hidup di dataran bersalju seperti Tibet yang ada di bumi.


"Mengapa bisa ada hewan berbulu tebal di padang pasir!!!" Julian berteriak dengan nada tidak percaya.


Julian menoleh ke arah Claire dan kedua demi-human kemudian ia bertanya, "Kalian bertiga, apakah kalian tahu mengapa?"


Mereka bertiga segera menggeleng-gelengkan kepala mereka karena mereka juga baru pernah melihat ada hewan berbulu tebal di padang pasir.


"Appraisal!" teriak Julian.


Hewan berbulu tebal yang hidup di padang pasir, hewan ini sama seperti Yak yang hidup di dataran tinggi bersalju di bumi ]


"Ahh.. Aku tidak bisa berkata-kata..." Julian memegangi kepalanya yang pusing.


"Lalu sekarang, Appraisal fungsi bulu tebal itu," ucap Julian.


[ Berkebalikan dengan Yak di bumi, bulu tebal Yak Pasir memiliki fungsi melindungi tubuh mereka agar tetap sejuk di daerah yang panas ini ]


"Penjelasan yang sangat sederhana, tapi tidak apa-apa, aku paham." Julian mengangguk dan memberitahu hasil appraisal nya kepada Claire dan kedua demi-human.


"Woah, aku baru pernah mendengar hal seperti ini." Claire kagum dan mau tidak mau ia melihat ke kawanan Yak Pasir lagi.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa bulu tebal itu membuat tubuh mereka tetap sejuk, harusnya mereka kepanasan bukan?" Mine memiringkan kepalanya.


"Mungkin saja ada organ dalam yang berbeda dari kebanyakan hewan lain," ucap Nimi.


"Yah, apa pun itu. Ayo kita lanjutkan perjalanan, kawanan Yak Pasir juga tidak menyerang kita." Julian menyuruh kedua kuda untuk jalan.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju Kota Cronna, dan yang tidak disangka-sangka, ada banyak kawanan Yak Pasir di sekitar mereka.


Kebanyakan kawanan Yak Pasir itu sedang beristirahat dan ada beberapa yang sedang makan.


Dan jika biasanya Yak di bumi memakan tumbuhan dan rumput, Yak Pasir di sini memakan hewan-hewan lain yang ada di pasir.

__ADS_1


Julian mengamati mereka dan menemukan kalau Yak Pasir memakan semut pasir dan semak liar yang memiliki duri-duri tajam di rantingnya.


"Uh, aku tidak bisa mengerti bagaimana caranya mereka memisahkan semut dengan pasir, lalu bagaimana bisa mereka makan semak berduri dengan aman." Julian menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keunikan Yak Pasir yang diluar akal sehat.


Mungkin Julian juga lupa kalau dirinya sedang berada di dunia fantasi dimana ada banyak sekali hal-hal yang diluar akal sehat.


...----------------...


Setengah hari berlalu dalam sekejap, saat malam harinya, mereka akhirnya melihat Kota Cronna karena tembok kotanya yang sangat tinggi sekitar 20 meter.


Karena sudah malam, tidak ada yang mengantre untuk masuk ke dalam Kota Cronna. Julian masuk dengan sangat lancar setelah menunjukkan kartu identitas dirinya yang bercorak emas.


Setelah bertanya kepada orang lewat dimana penginapan yang bisa menerima demi-human, Julian mengetahuinya kalau di Kota Cronna, demi-human tidak dibenci.


Julian berterima kasih kepada orang itu dan pergi menuju penginapan yang sudah diberitahu yang ternyata sangat dekat dari gerbang.


Julian turun dan bertanya kepada petugas pintu masuk penginapan, "Permisi, dimana aku bisa memarkirkan kereta kudaku?"


"Selamat malam, Tuan. Mari saya antar ke area parkir kereta kuda," ucap petugas itu dengan sopan.


"Terima kasih." Julian mengangguk.


Setelah memarkirkan kereta kuda, mereka turun dan memesan satu kamar besar ke resepsionis di lobi penginapan.


"Untuk kamar besar, harganya adalah 8 koin perunggu, Tuan! Mau menginap berapa hari?" tanya resepsionis.


"Tunggu sebentar, apakah kamar itu yang terbaik?" tanya Julian.


"Itu kamar biasa, Tuan. Jika Tuan ingin kamar terbaik, maka harganya menjadi 1 perak dan 2 perunggu," jawab resepsionis.


"Aku ambil yang terbaik, untuk sekarang, aku akan menginap selama 10 hari." Julian mengeluarkan kantung uangnya.


"Baik! Totalnya adalah 12 koin perak!" resepsionis berkata dengan nada gembira karena pelanggan di depannya sungguh murah hati.


Sangat jarang orang yang memesan kamar terbaik di penginapan mereka, biasanya bangsawan atau orang kaya lebih memilih penginapan yang ada di pusat kota yang lebih mewah.


"Ini." Julian menyerahkan 12 koin perak dan kartu identitasnya kepada resepsionis.


"Terima kasih, !!" Resepsionis melebarkan matanya setelah melihat kartu identitas Julian.


"Haha, jangan terlalu terkejut." Julian terkekeh melihat reaksi resepsionis.


"Ah! Maafkan saya, Tuan!" Resepsionis menyadari kesalahannya dan segera mencatat identitas Julian.


Resepsionis mengembalikan kartu identitas Julian dan berkata, "Terima kasih telah menginap di penginapan kami!"


"Sama-sama." Julian mengangguk.


Mereka kemudian diantar ke kamar mereka yang berada di lantai paling atas oleh pelayan yang dipanggil oleh resepsionis.


Setelah masuk ke dalam kamar, mereka langsung tertidur karena sangat lelah dan karena sudah lama tidak tidur di atas ranjang.

__ADS_1


__ADS_2