
Setelah berita itu menyebar, pada hari yang sama Julian juga sudah sadarkan diri. Ia kemudian diberitahu oleh Raff kalau ada berita menarik dari Kota Crosa.
"Heh.. Mereka sudah dieksekusi ya," batin Julian setelah mengetahui berita tersebut.
Julian juga senang bahwa namanya tidak disebutkan di dalam berita. Ia memang sudah memberitahu Karina untuk tidak menyebarkan namanya karena ia malas menjadi terkenal.
Tapi Julian tahu kalau Karina tidak akan berbohong kepada keluarganya dan raja. Meskipun begitu, selama namanya tidak dikenal oleh banyak hal, itu baik-baik saja.
Saat Julian sedang berbincang dengan Claire dan yang lain, pintu kamarnya diketuk. Nimi berdiri dan membukakan pintu kamarnya.
"Permisi, Tuan Julian. Aku di sini untuk menggantikan suamiku membahas krisis Kota Cronna," ucap seroang wanita yang masuk ke dalam kamar.
Wanita itu berusia sekitar 30an dengan wajah yang menawan, rambut panjang yang berwarna cokelat sampai ke punggungnya.
"Oh, Countess Eli, tidak apa-apa, aku tahu kalau Count Raff sedang sibuk dengan masalah Lich dan Undead itu," angguk Julian.
Benar, wanita itu adalah istri Raff yang bernama Elita Hardi. Orang-orang biasa memanggilnya Countess Eli dan Elita juga tidak keberatan.
Raff dan Elita memiliki seorang putra yang berumur 10 tahun. Dia sedang belajar di akademi militer di Kota Crosa karena cita-citanya yang ingin menjadi ksatria hebat.
"Terima kasih atas pengertiannya, Tuan," ucap Elita.
Julian dan Elita duduk berhadapan, Nimi dan Mine mengasah pisau mereka dan tidak mengganggu pembicaraan Julian.
Sedangkan Claire, ia sedang menyiapkan minuman untuk Julian dan Elita. Tentu saja, Claire menyiapkan air dari air yang disediakan dan direbus dengan sihir api miliknya.
"Karena sumber krisis adalah air bersih, maka kita akan membahas mengenai air bersih terlebih dahulu," ucap Julian.
Elita mengangguk, "Baik."
Kota Cronna mendapatkan air bersih dari sungai yang ada di pinggir kota dan juga dari hujan yang sewaktu-waktu muncul.
Namun belakangan ini, hujan tidak muncul yang membuat air di sungai sedikit mengering yang mengakibatkan krisis air bersih.
Seperti yang dikatakan oleh Raff sebelumnya, tidak mungkin untuk menyewa penyihir air karena Kota Cronna memiliki banyak warga dan harga sewanya yang pasti akan sangat mahal.
"Meskipun ini adalah dunia fantasi, tapi jika tentang pengetahuan, dunia modern di bumi jauh lebih maju," pikir Julian.
Julian sudah tahu solusi untuk mengatasi krisis air bersih ini dengan mudah. Meskipun ia tidak pernah pergi ke padang pasir, ia selalu menonton berita dan membaca buku.
"Jadi begitulah masalahnya, apakah Tuan memiliki cara untuk mengatasi krisis ini?" Elita bertanya dengan nada khawatir.
Elita bukanlah istri bangsawan yang hanya menikmati hidupnya, ia juga mendampingi Raff dan sesekali membantu pekerjaannya.
Oleh karena itu ia sangat khawatir dengan krisis air bersih yang dihadapi Kota Cronna dan berharap kalau Julian bisa membantu Kota Cronna.
Julian mengangguk dan berkata, "Ya, aku memiliki dua cara untuk krisis air bersih ini."
__ADS_1
Elita melebarkan matanya, "Benarkah!?"
"Ya. Biar aku jelaskan dua cara untuk mengatasi krisis air bersih yang dihadapi oleh Kota Cronna," ucap Julian.
Cara pertama yang Julian katakan adalah mencari orang yang ahli dengan sihir bumi, lalu suruh orang itu untuk menemukan air di bawah tanah.
Lalu buat sebuah saluran yang menghubungkan sumber air yang sudah ditemukan ke Kota Cronna agar tidak pergi bolak-balik.
Sedangkan cara kedua lebih mudah, yaitu gunakan saja sihir untuk menggali sebuah sumur hingga menemukan sungai bawah tanah.
Meskipun dua cara tersebut terlihat mudah, tapi juga memerlukan kesabaran yang tinggi karena harus mencari sungai bawah tanah yang jauh di bawah tanah.
Elita menganggukkan kepalanya dan bergumam, "Begitu, jadi ada air di bawah kita ya."
"Ya, begitu. Bagaimana? Apakah kau perlu berdiskusi dengan yang lain terlebih dahulu?" tanya Julian sambil meminum teh yang sudah dibuat.
Elita tidak langsung memutuskan, ia bertanya kepada Julian, "Tuan, apakah Tuan memiliki saran?"
Julian menjawab, "Hm, sebenarnya jika ingin cepat, maka buat sumur saja. Tapi jika ingin hasil yang memuaskan, kita cari sumber air baru."
"Lalu, jika kita beruntung, kita bisa menemukan semacam gua bawah tanah dan memanfaatkannya sebagai saluran air," tambahnya.
"Memang benar. Untuk pembuatan sumur memang cepat, tapi kebutuhan seluruh warga pasti tidak akan tercukupi. Kalau begitu, mari kita gunakan cara pertama," ucap Elita setelah berpikir sebentar.
Julian mengangkat alisnya, "Apakah tidak apa-apa jika tidak berdiskusi dengan yang lain?"
"Yah, kau benar," balas Julian.
Karena saat ini masih siang hari, Julian dan yang lain termasuk Elita memutuskan untuk mencari sumber airnya sekarang.
Tapi mereka tidak mengerahkan prajurit untuk membantu mencari sumber air. Sekarang mereka hanya memeriksa daerah sekitar.
...----------------...
Sekarang Julian bertransformasi menjadi Triceratops yang memiliki tinggi sekitar 3 meter dengan panjang sekitar 10 meter.
Lalu di punggungnya saat ini ada empat orang wanita yang sedang duduk. Mereka adalah Claire, Nimi, Mine, dan juga Elita.
Julian sengaja mencari sumber air seperti ini agar lebih cepat dan ditambah dengan panca indera dinosaurus nya.
Elita juga mengatakan kalau dirinya adalah penyihir bumi yang membuat pencarian sumber air ini menjadi lebih meyakinkan.
Setelah dua jam mencari, mereka tidak kunjung menemukan sumber air baru. Yah, memang wajar karena menemukan sumber air di padang pasir memang sangat sulit.
Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak, kemudian, entah mereka diberkati oleh dewa atau bagaimana, mereka melihat kalau di dekat tempat mereka berada ditumbuhi tumbuhan gurun.
Julian mengangkat alisnya dan samar-samar merasa kalau ada sumber air di sana. Ia dan yang lain kemudian memutuskan untuk mendekat.
__ADS_1
"Di sini ada banyak tumbuhan, itu berarti ada pasokan air di sini," ucap Julian.
Julian menempelkan telapak tangan kanannya di atas pasir kemudian menggunakan indera dinosaurus nya untuk memeriksa apakah ada sumber air di bawahnya.
"Aku tidak menemukannya, tapi bisa jadi sumber airnya lebih dalam lagi. Countess Eli, tolong," ucap Julian.
Elita mengangguk, ia membisikan kata-kata sihir, lalu ada cahaya berwarna hijau di telapak tangan kanannya. Elita kemudian memasukan cahaya hijau itu ke bawah.
Elita memejamkan matanya untuk merasakan apakah ada sumber air. Julian dan yang lain juga tidak mengganggu Elita dan menunggu hasilnya.
Setelah beberapa menit, Elita membuka matanya dengan sedikit kegembiraan namun juga ada keragu-raguan di matanya.
"Ada apa, Countess?" tanya Julian yang melihat keragu-raguan Elita.
"Aku menemukan gua bawah tanah seperti yang Tuan Julian katakan! Tapi aku tidak tahu apakah ada air di sana," jawab Elita.
"Gua bawah tanah!?" Julian dan yang lain berteriak karena terkejut.
Julian berpikir bahwa keberuntungan mereka sangat bagus karena bisa langsung menemukan sumber air meskipun ia tidak tahu apakah ada air di bawa sana, tapi ia yakin pasti ada.
Sebelumnya Julian memperkirakan bahwa setidaknya akan dibutuhkan waktu satu minggu atau lebih untuk menemukan sumber air baru dengan para prajurit.
Tapi ia tidak menyangka kalau mereka akan menemukan sumber air baru dalam waktu beberapa jam saja setelah berdiskusi tadi.
Bahkan jarak dari sini ke Kota Cronna juga tidak terlalu jauh, bisa dikira-kira bahwa jaraknya sekitar dua sampai tiga jam perjalanan jika menggunakan kuda.
"Claire, Nimi dan Mine akan tetap di sini, aku dan Countess Eli akan kembali ke kota untuk membawa prajurit beserta alat-alatnya."
"Claire, nanti aku akan menembakkan bola api ke atas langit. Jika kau melihatnya, kau juga bagus menembakan bola api ke atas langit sebagai sinyal."
"Jangan khawatir, kami akan kembali dengan cepat," ucap Julian.
"Baik, Master! Serahkan saja pada kami!" Claire dan kedua demi-human mengangguk.
Julian mengeluarkan tenda dan banyak perbekalan untuk mereka bertiga karena mereka akan di sini sekitar tiga jam lamanya.
Setelah itu, Julian bertransformasi menjadi Pterosaurus agar lebih efisien. Ia meminta Elita untuk naik ke atas punggungnya dan berpegangan dengan erat karena ia akan terbang dengan kecepatan maksimal.
Elita mengangguk, ia segera naik ke punggung Julian kemudian berpegangan sekaligus menggunakan mana agar dirinya tidak jatuh.
Julian juga bersiap untuk terbang, dan untuk pertama kalinya ia akan terbang dibantu dengan mana di kedua sayapnya.
"Kami berangkat," ucap Julian kemudian ia terbang dengan sangat cepat.
Elita berpegangan dengan erat sambil menutup matanya karena ia merasakan angin kencang dan ia juga sedikit takut.
Dengan kecepatan Julian saat ini, bisa diperkirakan kalau ia akan tiba di Kota Cronna hanya dalam kurun waktu setengah jam saja.
__ADS_1