
"Kakekmu belum diobati?" tanya Julian sambil mengerutkan keningnya.
"Ya," angguk Karina dengan sedih.
Jika ditotal, sudah empat hari lebih Julian pergi. Namun kakek Karina belum juga diobati karena mereka masih meneliti obatnya.
Jika terus seperti ini, mungkin Karina tidak akan mengikuti Julian berpetualang karena Karina pasti tidak akan tenang meninggalkan kakeknya yang sedang sakit sementara dirinya berpetualang.
Claire mengangkat tangannya dan bertanya, "Apakah masih membutuhkan waktu yang lama?"
Karina menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu pasti."
"Ayo ke tempat kakekmu, aku akan memeriksanya sendiri. Kemungkinannya kecil tapi siapa tahu aku bisa mengetahui penyakit yang diderita oleh kakekmu," ucap Julian.
Karine berpikir sebentar lalu mengangguk, "Baiklah, aku rasa itu adalah keputusan yang bagus."
Tempat kakek Karina berjarak dua hari dari Kota Crosa, tapi akan membuang-buang waktu jika mereka pergi ke sana dengan kereta kuda.
Jadi Karina berbicara dengan ayahnya dan Hadden menyuruh mereka untuk berbicara dengan Oleus karena Oleus bisa membukakan gerbang teleportasi ke tempat kakek Karina berada.
Julian bisa membuka gerbang teleportasi tapi ia tidak tahu tempatnya. Pengguna harus pergi ke tempat yang dituju terlebih dahulu sebelum menggunakan gerbang teleportasi.
Mereka segera pergi ke istana dan berbicara dengan Oleus. Oleus dengan senang hati membuka gerbang teleportasi dan mereka semua masuk ke dalamnya.
...----------------...
"Hm, sebuah desa yang sedikit terpencil ya," ucap Julian sambil melihat kalau di depannya ada desa dengan ukuran yang tergolong kecil.
"Ya, desa ini menerima bantuan dari keluargaku. Jadi kakek bisa ditempatkan di sini dengan aman dan lingkungan di sini juga baik untuk kesehatan," angguk Karina.
Julian dan yang lain segera berjalan menuju gerbang desa dan disambut dengan antusias oleh penjaga karena mereka mengenal Karina, putri satu-satunya Hadden dan Marie.
"Di mana kakek?" tanya Karina kepada salah satu penjaga.
"Tuan Zain saat ini sedang berada di rumahnya, Nona," jawab penjaga itu.
"Baiklah, terima kasih." Karina berjalan ke suatu arah diikuti oleh Julian dan yang lain.
Mereka tiba di sebuah rumah dua lantai yang terbuat dari kayu. Rumah ini sangat sederhana namun jika dilihat lebih dekat, rumah ini sangatlah kokoh karena menggunakan kayu yang berkualitas.
Karina masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu dan berjalan ke kamar di lantai satu. Kemudian Julian dan yang lain melihat kalau ada pria tua yang sedang berbaring di atas ranjang.
Pria tua itu adalah Zain, kakek Karina. Penampilannya seperti pria tua biasa dengan rambut pendek beruban, namun tubuhnya tidak seperti kakek-kakek karena tubuhnya penuh dengan otot.
Zain saat ini sedang menutup matanya, tapi saat mereka semua datang, dia membuka matanya dan terkejut karena melihat Karina di depannya.
Dia segera berkata, "Cucuku, mengapa kau ada di sini?"
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Zain berniat untuk duduk namun dihentikan oleh Karina.
"Jangan banyak bergerak, Kakek. Aku di sini membawa teman-temanku," ucap Karina lalu memperkenalkan Julian dan yang lain kepada Zain.
"Oh? Kau memiliki teman? Hohoho!" Zain tertawa dengan keras.
"Kakek!!" teriak Karina dengan malu-malu.
Zain tertawa, lalu ia melihat ke arah Julian yang berdiri di samping Karina, "Tapi, kau ini Julian yang memberikan Jantung Sea Serpent kepada Karina bukan?"
Julian mengangguk dan berkata dengan sopan, "Ya, itu aku, Tuan."
Zain mengerutkan keningnya sedikit dan berbicara dengan nada tidak puas, "Tuan apanya, panggil aku kakek. Kalian bertiga juga."
"Kakek!!" Claire, Nimi, dan Mine memanggil secara bersamaan yang membuat Zain tertawa dengan puas.
Julian tertegun karena mereka bertiga dengan mudahnya langsung memanggil Zain 'kakek'. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan memanggil 'kakek' juga.
"Bagus-bagus, aku puas dengan itu. Lalu, kalian pasti datang ke sini bukan hanya untuk mengapaku bukan?" ucap Zain sambil tersenyum.
"Kakek, begini..." Karina menjelaskan kedatangan Julian dan yang lain.
Zain mengangkat alisnya dan berkata, "Memeriksaku? Nak, kau terlalu percaya diri, tapi aku suka itu. Silakan, periksalah diriku ini."
"Permisi." Julian memegang tangan Zain dan memeriksa denyut nadinya sekaligus menggunakan appraisal.
HP : 20%
MP : 30%
level kekuatan : 3 (8)
level mana : 3 (9) ]
"Hm, yang ada di dalam tanda kurung menandakan tubuh Kakek Zain yang sehat. Menakjubkan, tubuhnya masih sangat kuat bahkan jika Kakek Zain sudah tua," pikir Julian yang sedikit terkejut dengan hasil appraisal.
"Kakek, Karina sudah mengatakan kalau tubuh Kakek sangat rapuh," ucap Julian.
Zain menghembuskan napas panjang, "Begitulah. Jika diibaratkan, tubuhku saat ini seperti gelas kaca yang sudah retak. Hanya menungg waktu untuk pecah."
Di sampingnya, Karina berdiri dengan diam sambil mengusap air matanya karena ia sangat sedih dengan kondisi Zain. Bahkan Claire, Nimi, dan Mine yang baru bertemu dengan Zain merasa sedih.
"Apakah kakek tahu bagian mana yang paling sakit? atau yang paling rapuh?" tanya Julian.
Saat Claire memberikan data medis Zain, Julian mengerutkan keningnya karena tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di dalam data medis hanya disebutkan kalau Zain memiliki tubuh yang sangat rapuh.
Tanpa berpikir panjang, Zain langsung menjawab, "Jantung. Meskipun tidak merasakan sakit, aku tahu kalau area ini yang paling rapuh."
__ADS_1
Zain berbicara sambil memegangi dada kirinya dengan ekspresi wajah yang kuyu dan menghembuskan napas panjang.
"Appraisal bagian jantung," batin Julian.
Lalu saat hasil appraisal muncul, betapa terkejutnya Julian saat membacanya. Karina yang melihat ada yang salah dengan ekspresi Julian segera bertanya.
"Ada apa? Apakah ada sesuatu?" tanya Karina.
"Kurasa aku tahu mengapa para ahli tidak menemukan sumber penyakitnya," ucap Julian dengan serius yang membuat Zain terkejut.
"Apa!? Apakah kau mengetahui sesuatu!? Katakan itu!?" teriak Zain dengan penuh semangat.
"Kakek, tenang!" Karina menenangkan Zain yang terlalu bersemangat.
Zain terengah-engah dan mencoba untuk tenang. Lalu setelah beberapa menit menarik napas dalam-dalam, ia akhirnya tenang.
"Aku masih tidak tahu apa penyakit yang diderita oleh Kakek Zain, tapi aku tahu mengapa para ahli tidak bisa menemukan sumber penyakitnya."
"Sumber penyakitnya berasal dari jantung, namun entah bagaimana jantung Kakek Zain memiliki suatu penghalang yang membuat sebuah ilusi seolah-olah jantungnya baik-baik saja padahal kondisinya sangatlah parah."
"Jantung Kakek Zain saat ini seperti terkena racun korosif yang menggerogoti seluruh jantung. Karena hal itu, aliran darah yang dipompa oleh jantung juga ikut terkena masalah."
Julian menjelaskan kondisi jantung Zain kepada mereka sesuai dengan hasil appraisal. Itulah mengapa Julian sangat terkejut tadi karena jantung Zain ada penghalangnya.
Zain mengerutkan keningnya, ia mencoba mencari penyakit yang sesuai dengan deskripsi Julian di otaknya namun ia tidak kunjung menemukannya.
"Jantung parasit," ucap Claire tiba-tiba.
Karina melebarkan matanya dan segera bertanya, "Claire, apakah kau tahu penyakit ini!?"
"Aku mengetahuinya dengan jelas di otakku. Penyakit ini adalah penyakit yang menggerogoti nyawa pada budak di tempatku berasal," angguk Claire dengan serius.
"Sepertinya kita masih memiliki harapan. Apakah kau tahu bagaimana cara menyembuhkannya?" tanya Julian dengan tenang.
Claire mengangguk, "Ya. Kita bisa menggunakan manfaat Jantung Sea Serpent. Kita akan melarutkan Jantung Sea Serpent sampai menjadi cairan, lalu memasukkan cairan tersebut ke dalam jantung Kakek Zain."
Lalu ia menambahkan, "Tapi para budak yang menderita jantung parasit di tempatku tidak memiliki sebuah penghalang di jantung mereka."
"Itu artinya kita bagus memecahkan masalah penghalang ini ya. Tapi pertama-tama, mari kita ubah Jantung Sea Serpent menjadi cairan sesuai dengan ucapan Claire terlebih dahulu," ucap Julian.
"Aku takut jika kita memecahkan penghalang di jantung Kakek Zain, penyakitnya malah akan semakin parah," tambahnya.
Mereka semua mengangguk. Karina membawa Claire ke para ahli yang sedang membuat obat-obatan di sisi lain desa dan mengatakan tujuannya.
Para ahli yang mendengar hal itu langsung sadar, mereka juga tahu apa itu penyakit jantung parasit tapi mereka tidak mengetahuinya karena ada penghalang di jantung Zain.
Para ahli segera mengubah Jantung Sea Serpent menjadi cairan dan diperkirakan akan memakan waktu satu hari penuh untuk mengubahnya menjadi cairan.
__ADS_1