
"Hm..." Julian menyentuh dagunya dan menatap kedua demi-human didepannya.
Ia saat ini sedang bingung karena ia mengetahui kalau kedua demi-human didepannya tidak memiliki afinitas dengan elemen apapun.
"Mereka tidak memiliki afinitas dengan elemen apapun namun memiliki level mana 5, apakah itu mungkin?" batin Julian.
[ Mungkin. Mereka menjadi seperti ini mungkin karena mereka hidup dilingkungan yang berbahaya yang mengharuskan mereka selalu waspada dan mengeluarkan potensi mereka ]
Mindy menjawab pikiran Julian dan menjelaskannya dengan singkat dan jelas.
"Masuk akal, terima kasih, Mindy." Julian mengangguk.
"Kalian, apakah kalian ingin pergi denganku?" Julian tersenyum dan menawarkan tawaran kepada kedua demi-human.
"Apakah kita akan menjadi budakmu?" Demi-human anjing memiringkan kepalanya dan bertanya.
"Hm, ya. Tapi aku janji tidak akan memperlakukan kalian seperti pemilik sebelumnya. Lihat saja Claire, dia memakai pakaian yang bagus, makan makanan yang enak, bahkan memiliki senjata." Julian menunjuk kearah Claire.
"Hai." Claire melambaikan tangannya.
Kedua demi-human saling memandang dan berdiskusi sebentar dengan berbisik-bisik, meskipun Julian bisa mendengar apa yang mereka diskusikan.
"Kami menyetujuinya. Kami sudah tidak memiliki pilihan lain, jika kami memasuki kota pun akan ditolak oleh penjaga disana." Demi-human anjing mengangguk setuju dengan tawaran Julian.
"Ya, apalagi kami juga bisa melihat Claire disana yang sepertinya bahagia," tambah demi-human kucing.
"Bagus!" Julian mengangguk.
Kedua demi-human mengulurkan tangan kanan mereka dan Julian menaruh kedua telapak tangannya diatas tangan kedua demi-human.
Julian kemudian menggunakan mantra sihir perbudakan yang sudah ia ingat saat melihat Doyle menggunakan mantra ini sebelumnya saat ia membeli Claire.
"Uhm.." Kedua demi-human mengerang karena merasakan panas dipunggung mereka.
Setelah beberapa saat, rasa panas dipunggung mereka berdua hilang dan digantikan oleh rasa dingin yang menyejukkan.
"Selesai." Julian menarik kembali kedua tangannya.
"Master..." Kedua demi-human memanggil Julian dengan panggilan master menirukan Claire.
"Ya. Lalu, sekarang aku akan memberi kalian nama." Julian menyentuh dagunya memikirkan nama yang cocok untuk kedua demi-human.
"Baik!" Kedua demi-human menatap Julian dengan mata berbinar-binar menantikan nama baru mereka.
"Demi-human kucing, kau akan aku beri nama Nimi, yang memiliki arti mata berbinar. Itu karena matamu memiliki warna yang indah." Julian menunjuk demi-human kucing.
Demi-human kucing memiliki mata berwarna ungu dan ada bintik-bintik putih yang membuat matanya seperti langit malam yang memiliki banyak bintang.
"Lalu demi-human anjing, kau akan aku beri nama Mine, yang memiliki arti puncak. Itu karena kau memiliki kekuatan yang kuat dan aku ingin kau mencapai puncak." Julian menunjuk demi-human anjing.
__ADS_1
"Terima kasih, Master!" Nimi dan Mine akan melakukan sujud untuk berterima kasih kepada Julian namun dihentikan oleh Julian karena ia tidak ingin mereka bersujud.
"Claire, tolong masakkan sandwich telur ditambah dengan potongan daging untuk mereka berdua." Julian meminta Claire untuk memasak sandwich telur untuk Nimi dan Mine.
"Tentu, Master." Claire mengangguk lalu mulai memasak sandwich telur.
Nimi dan Mine yang mendengar kalau mereka akan diberi makanan yang lezat segera menghampiri Claire dan melihatnya membuat sandwich telur dengan mata berbinar-binar.
"Oh ya." Julian berjalan menuju kereta kudanya.
Ia mengambil kotak kayu yang berisi pakaian dan mengambil dua pakaian wanita untuk dipakai oleh Nimi dan Mine karena mereka masih memakai pakaian yang lusuh.
"Nimi! Mine! Bersihkan tubuh kalian lalu pakai pakaian ini!" Julian memberikan pakaian kepada Nimi dan Mine.
Lalu ia membuat sebuah lubang menggunakan cakar dinosaurus nya dan mengisi lubangnya dengan air menggunakan mantra sihir elemen air.
"Wah! Kita bisa membersihkan diri kita!" Nimi dan Mine bersorak bergembira.
Nimi dan Mine kemudian membersihkan diri mereka dengan bahagia dan mengenakan pakaian yang tadi diberikan oleh Julian.
Kebetulan sekali setelah mereka selesai membersihkan diri, Claire selesai memasak sandwich telur dengan potongan daging.
Lalu Nimi dan Mine memakan sandwich telur dengan potongan daging dengan lahap karena lebih enak dari daging kering tadi.
"Ngomong-ngomong, senjata apa yang kalian gunakan?" Julian bertanya kepada Nimi dan Mine.
"Pisau ganda." Nimi dan Mine mengangkat tangannya dan menjawab secara bersamaan.
"Nimi, belajarlah sihir mengenai kecepatan yang tidak bersuara karena kau cocok untuk menjadi pembunuh yang menyerang secara diam-diam."
"Lalu Mine, belajarlah sihir penguatan kekuatan dan kecepatan karena kau sama sepertiku yang langsung menyerang dengan kekuatan."
"Aku akan membelikan kalian buku sihirnya nanti setelah kita sampai di kota tujuan kita." Julian memberikan instruksi kepada Nimi dan Mine.
"Baik, Master!" Nimi dan Mine mengangguk dengan serius.
"Niiegh!" Kedua kuda bersuara.
"Apa?" Julian berjalan menghampiri kedua kuda.
"Niiegh!" Salah satu kuda bersuara.
"Oh~" Julian mengangguk.
"Nimi! Mine! Berikan kedua kuda ini makan!" Julian meminta Nimi dan Mine untuk memberi makan kedua kuda.
"Baik!" Nimi dan Mine berdiri dan mengambil wadah makan untuk kuda.
"Um, Master. Bagaimana bisa master memahami ucapan kuda itu?" Claire menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya karena bingung.
__ADS_1
"Huh? Aku tidak memahami ucapan mereka. Aku memahami bagaimana cara mereka bereaksi saja." Julian menjawabnya.
"Ah, jadi begitu ya..." Claire mengangguk-angguk.
"Apa itu?" Julian melihat ada sesuatu yang datang dari arah hutan.
"Beruang!!?" Claire berteriak saat melihat kalau yang datang adalah beruang coklat bertubuh besar.
"Beruang?" Nimi dan Mine tertarik dengan beruang.
"Beruang ya, kurasa daging beruang itu enak." Julian menyentuh dagunya lalu ia berlari kearah beruang.
"Roar?" Beruang itu heran mengapa ada manusia yang malah berlari kearah dirinya.
"Beruang! Jadilah makanan ku!" Julian berteriak dengan keras.
Ia menginjak tanah dan melompat tinggi kedepan. Kemudian ia mengepalkan tangan kanannya dan meninju kepala beruang dengan keras sampai terguling-guling ketanah.
"Master sangat kuat!!" Nimi dan Mine kagum dengan kekuatan Julian.
"Haha, Master akan menjadi lebih kuat jika ia sudah menggunakan kekuatan nya." Claire tertawa kecil.
"Master memiliki kekuatan apa??" Nimi dan Mine menjadi penasaran.
"Hm, agak sulit untuk dipercaya jika aku menjelaskannya. Kalian lihat saja saat ada pertarungan dikesempatan selanjutnya," ucap Claire.
"Baiklah..." Nimi dan Mine mengangguk kecewa.
...----------------...
"Roar!!" Beruang bangkit dan berdiri terhuyung-huyung karena kepalanya sangat pusing.
"Seperti yang diharapkan dari beruang, tidak di bumi atau disini, beruang adalah spesies yang keras!" Julian menyeringai.
Ia tadi memukul kepala beruang dengan kekuatan murninya, tidak menggunakan kekuatan dinosaurus karena ia ingin menguji kekuatan murninya.
"Ayo lagi!" Julian menghilang dari tempatnya dan sudah berada di samping beruang.
Kemudian Julian memukul kepala beruang lagi namun kali ini pukulannya berkali-kali lipat lebih kuat dibandingkan dengan yang sebelumnya.
"Roar!!!" Beruang meraung keras karena ia merasa kalau kepalanya akan hancur.
Melihat beruang yang masih sadar setelah menerima pukulan barusan, Julian memukul kepala beruang lagi dengan kekuatan yang sama.
Lalu, setelah meraung keras lagi, beruang itu terjatuh dan tidak bergerak ataupun bersuara tanda bahwa ia sudah mati.
Julian memegang salah satu kaki beruang dan menarik tubuhnya dengan mudah. Ia membawa tubuh beruang ke dekat kereta kudanya.
"Claire, tolong potong daging beruang ini. Lalu Nimi dan Mine bantu Claire memotong!" Julian meminta mereka bertiga untuk memotong tubuh beruang dan mengambil dagingnya.
__ADS_1
"Baik, Master!" Mereka bertiga mengangguk dan mulai memotong beruang.