Isekai Dinosaur

Isekai Dinosaur
Menyelamatkan Robben dan Melawan Monster lain


__ADS_3

"Appraisal." Julian menggunakan appraisal ke arah pria yang sedang diikat itu.


[ Robben


HP : 100%


MP : 100%


level kekuatan : 6


level mana : 5 ]


Robben saat ini sedang diikat dengan rantai disebuah pilar batu yang menjulang tinggi sampai ke langit-langit ruangan. Dia menutup matanya yang sepertinya sedang tidak sadarkan diri.


Namun Julian melihat kalau Robben membuka matanya dan mendongak, dia bertanya, "Siapa?"


"Kau Robben bukan? Aku di sini atas perintah Gydhea," ucap Julian langsung tanpa berbasa-basi.


"Dewi Perang?" Robben membelalakkan matanya saat mendengar kalau Julian ada di sini atas perintah dewi yang ia anut.


"Ya, jangan banyak berbicara. Bagaimana caranya melepaskanmu? Apakah aku hanya perlu menghancurkan pilar batu ini?" tanya Julian sambil mengetuk-ngetuk pilar batu.


Robben mengangguk dengan semangat dan berkata, "Ya, tolong."


Julian mengangguk, ia mengepalkan tangan kanannya lalu memukul pilar batu yang menahan Robben dengan sekuat tenaga sampai hancur bahkan seisi ruangan sampai bergetar.


"Kekuatan yang luar biasa! Apakah ini alsanha Dewi Perang memerintahkannya?" pikir Robben yang terkejut dengan kekuatan Julian.


Pilar batu telah hancur berkeping-keping, Julian segera membawa Robben menjauh karena puing-puing pilar yang berjatuhan sedikit berbahaya.


Julian menarik rantai yang mengikat Robben dan berkata, "Claire, putuskan rantai ini."


"Um." Claire mengangguk lalu menggunakan pistolnya untuk menembak rantai itu sampai putus.


"Terima kasih banyak," ucap Robben sambil menggerak-gerakkan tubuhnya yang kaku karena terlalu lama dirantai.


"Ya, sama-" Julian melebarkan matanya karena merasakan sesuatu yang berbahaya.


"Mana Shield." Julian menciptakan sebuah perisai mana yang menyelimuti mereka berlima.


Claire dan kedua demi-human juga merasakan sesuatu yang salah, mereka segera waspada dan langsung mengeluarkan senjata mereka.


"Ada apa?" tanya Robben yang tidak mengerti situasinya.


Mungkin karen Robben sudah dikurung di sini terlalu lama jadi inderanya menjadi sedikit tumpul. Namun, setelah Robben bertanya, ia juga merasakan sesuatu yang berbahaya.


Ruangan bergetar hebat, mereka berlima melihat ke sekitar karena tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Namun Julian mengutuk di dalam hatinya karena ia lupa kalau biasanya akan ada monster yang akan keluar jika sandera dibebaskan.


Julian merasakan sesuatu dan berteriak, "Bawah! Ada sesuatu yang muncul dari bawah!"

__ADS_1


Bersamaan dengan teriakan Julian, getaran menjadi lebih besar dan muncul monster dari bawah tanah. Mereka berlima segera melihat wujud dari monster yang muncul itu.


Itu adalah cacing pasir yang memiliki ukuran yang sangat besar dengan mulutnya yang dipenuhi oleh gigi yang jumlahnya tidak masuk akal.


"Appraisal!" Julian langsung menggunakan appraisal.


[ Monster Cacing Pasir


HP : 100%


MP : 100%


level kekuatan : 8


level mana : 4 ]


Julian menghela napas lega setelah melihat hasil appraisal, ia berpikir kalau monster yang keluar akan sangat kuat namun ternyata masih bisa ia kalahkan seorang diri apalagi saat ini ia sedang bersama rekan-rekannya.


"Cacing pasir itu masih dalam kisaran yang bisa kita kalahkan. Jadi jangan terlalu tegang dan ayo bunuh dia," ucap Julian.


"Baik!" Claire dan kedua demi-human mengangguk namun Robben menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak! Kita tidak bisa mengalahkannya! Apakah kalian tidak melihat kalau ukuran cacing pasir itu sangatlah besar!?" teriaknya sambil menunjuk ke arah cacing pasir.


Ekspresi Julian menjadi suram, ia sangat ingin membunuh Robben saat ini. Ia marah karena Robben adalah penganut Dewi Perang namun sangat pengecut dihadapan monster cacing pasir ini.


"Tunggu sebentar, rantai yang mengikatnya tadi juga hanya rantai biasa, bagaimana bisa seorang penganut Dewi Perang tidak bisa membebaskan diri?"


Julian memegang kerah pakaian Robben lalu melemparkannya ke arah belakang dengan kencang. Ia tidak peduli apakah Robben bisa mendarat dengan mulus atau tidak.


"Cacing pasir tidak memiliki mata, tapi dia menggunakan getaran tanah dan suara untuk menemukan musunnya. Jadi, kita akan mengalahkannya setelah mungkin," ucap Julian.


"Baik, Master!" mereka bertiga mengangguk dengan serius.


"Kiekkk!!!" Cacing pasir berteriak dengan suaranya yang melengking dan ia menuju ke arah Julian dan yang lainnya


"Aku akan mencoba menyerang untuk melihat kekuatannya, kalian amati terlebih dahulu." Julian berlari dengan sangat cepat ke arah cacing pasir.


Saat berlari, ia menumbuhkan kuku tajamnya seperti biasa. Lalu saat mereka berdua sudah saling dekat, Julian melompat tinggi dan mengayunkan kedua tangannya.


"Kiekkk!" Cacing pasir berteriak lagi.


Julian bisa melihat kalau serangannya meninggalkan luka yang cukup dalam di kulit cacing pasir. Namun luka tersebut beregenerasi dengan kecepatan yang bisa dilihat oke mata telanjang.


"Kalian bertiga tidak perlu bergerak! Cacing pasir ini ternyata lebih mudah untuk dikalahkan! Biarkan aku saja yang menghabisinya!" teriak Julian yang bertransformasi menjadi Pterosaurus.


"Baiklah." Mereka bertiga mengangguk tapi tidak memasukan kembali senjata mereka.


Mereka juga ingin melihat bagaimana Julian akan mengalahkan cacing pasir karena mereka jarang melihat Julian bergerak seorang diri.

__ADS_1


"Cacing pasir sialan! Kau mengejutkanku saat datang, aku kira kau adalah monster yang kuat!" teriak Julian sambil memakai cacing pasir.


Seolah-olah cacing pasir bisa memahami ucapan Julian, ia bergerak dengan sangat cepat sambil membuka mulutnya lebar-lebar bersiap untuk memakan Julian.


Julian terbang dengan lincah untuk menghindarinya, "Hei hei, mulutmu tidak cukup untuk memakanku dalam sekali lahap!"


Saat cacing pasir akan bersiap untuk menyerang, Julian sudah bergerak terlebih dahulu. Ia menggunakan cakar di kakinya untuk menyerang tubuh cacing pasir.


Julian tidak hanya menyerang di satu tempat, ia mencakar seluruh tubuh cacing pasir dengan sangat cepat. Kondisi cacing pasir saat ini juga sudah penuh dengan luka.


Kecepatan regenerasinya juga mulai melambat karena terlalu banyak luka yang diterima. Lalu, karena hal itulah kecepatan cacing pasir mulai melambat juga.


"Kesempatan." Julian mengumpulkan mana di kedua kakinya lalu ia mencakar tubuh cacing pasir di satu tempat.


Cakaran itu menyebabkan luka yang cukup dalam, namun Julian masih belum puas dengan hal ini. Ia kembali menyerang di tempat yang sama secara terus-menerus.


Julian terus menyerangnya selama beberapa saat, lalu tiba-tiba cacing pasir itu berhenti bergerak. Julian memeriksanya, ia terkejut karena cacing pasir telah mati.


"Apa? Mengapa sangat mudah sekali?" ucap Julian yang bertransformasi menjadi manusia kembali.


"Master, itu karena Master menyerang secara terus-menerus tanpa memberikan cacing pasir waktu untuk membalas," ucap Claire dengan nada tak berdaya.


"Hm, hm." Nimi dan Mine juga mengangguk-anggukkan kepala mereka.


Julian menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dan berkata dengan canggung, "Haha."


Ia melihat kalau Robben membelalakkan matanya dan tidak berbicara. Ia hanya mendesah karena berpikir kalau Robben ini sebenarnya apa bahkan sampai terkejut saat cacing pasir mati.


Ia berjalan menghampiri Robben dan berkata, "Oi, di mana kristal labirinnya?


Robben tersadar dan memandang Julian dengan hormat. Ia menjawab, "A-ada di ruangan sana."


Julian melihat kalau memang ada ruangan lain, ia berjalan ke sana dan melihat kalau ada kristal yang ukurannya cukup besar.


Ia mengaguminya sebentar, lalu mengepalkan tangan kanannya dan memukul kristal tersebut sampai hancur berkeping-keping.


Ruangan kembali bergetar dan getarannya bahkan lebih besar dibandingkan dengan sebelumnya. Saat Julian akan mengutuk lagi, muncul lingkaran sihir di bawah kakinya.


Tidak hanya di bawah kaki Julian, lingkaran sihir juga muncul di bawah kaki Claire dan yang lain. Mereka tidak tahu apa yang terjadi namun tiba-tiba saja pandangan mereka berubah yang sebelumnya ruangan dengan dinding batu kini menjadi pohon-pohon besar.


"Ah, ternyata begitu," ucap Julian yang sadar ternyata lingkaran sihir tadi berfungsi untuk memindahkan mereka keluar.


Julian melihat kalau pintu masuk labirin masih ada. Ia masuk ke dalam namun tidak mendeteksi adanya aliran mana dan tidak ada pintu ke lantai selanjutnya.


Ia menyentuh dagunya dan berpikir, "Hm, sepertinya menjadi gua biasa ya."


"Oi, ke mana kau akan diantar?" tanya Julian kepada Robben.


Julian malas bersikap sopan dengan Robben, ia sudah kecewa karena Robben bertindak pengecut tadi.

__ADS_1


"Ah, cukup ke kota terdekat saja. Sisanya akan diurus olehku," jawab Robben dengan senyum canggung karena bisa melihat kalau sikap Julian ke dirinya tidak baik.


"Baiklah." Julian bertransformasi menjadi Pterosaurus dan membawa mereka semua ke Kota Coramon.


__ADS_2