
"Wargh!!!" Ivan berteriak dan berlari menuju Julian.
"Hm, kurasa aku akan meniru sihir Lich tadi," batin Julian.
"Fire Hand." Julian memunculkan banyak tangan api dari bawah pasir mirip seperti Dark Hand milik Lich.
Tangan-tangan api tersebut Julian kendalikan untuk menyerang Ivan dengan cara memegangi tubuhnya dan membiarkannya terbakar.
Ivan tersungkur ke tanah karena kedua kakinya dipegang oleh tangan-tangan api. Kemudian, tangan-tangan api yang lain mulai menyentuh tubuhnya.
"Kurasa eksperimen kali ini sedikit mengecewakan, dia tidak berguna jika dihadapkan oleh sihir seperti itu," batin Lich yang sedang mengamati.
Ivan berteriak kesakitan karena merasakan panas di tubuhnya. Namun ia mencoba untuk bangkit dengan cara memotong kedua kakinya yah telah diselimuti oleh api.
"!!" Julian melebarkan matanya.
"Mengapa dia memotong kedua kakinya? Apakah dia memiliki kecerdasan? Tidak, yang lebih penting, dia memiliki kemampuan regenerasi!" batin Julian.
"Ho? Sepertinya tidak terlalu mengecewakan. Yah, mari amati lebih lama lagi," batin Lich.
Kedua kaki Ivan terpotong dan dilahap oleh api. Lalu ia mulai menumbuhkan kaki baru dengan cara meregenerasinya.
Kedua kaki Ivan mulai tumbuh dengan kecepatan yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Tapi tentu saja Julian tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Ia mengendalikan tangan-tangan api untuk menyentuh tubuh Ivan lagi. Lalu ia juga membuat dua pedang api dan berlari menuju Ivan.
"Wargh!!!'" Ivan memukul-mukul pasir di sekitarnya untuk mengusir tangan-tangan api karena pasir bisa memadamkan api.
"Sudah bisa dipastikan, dia memiliki kecerdasan," batin Julian.
Julian melompat ke depan sambil mengangkat kedua pedangnya tinggi-tinggi. Kemudian, saat ia mendekati Ivan, ia mengayunkan kedua pedangnya.
Ivan yang melihat Julian datang menggerakkan tangan kirinya yang besar untuk memblokir sedangan Julian. Sebagai akibatnya, tangan kirinya terpotong meskipun dia selamat.
"Cih, mengorbankan tangan kiri lalu meregenerasinya lagi, kemampuan yang merepotkan." Julian mendecakkan lidahnya.
Julian menghilangkan kedua pedang api dan tangan-tangan apinya. Lalu ia menggunakan kekuatan dinosaurus untuk bertransformasi menjadi Ankylosaurus.
Kemudian, sama seperti sebelumnya, Julian menyelimuti ekornya dengan api. Lalu tanpa membuang waktu lagi, Julian menyerang Ivan dengan serangan ekor palu api.
Ivan belum meregenerasi tangan kirinya karena masih meregenerasi kedua kakinya. Oleh karena itu ia tidak bisa memblokir sedangan ekor Julian yang mengenai dada kirinya.
Ivan terhempas jauh sampai terguling-guling di atas yang panas. Tidak menunggu Ivan berdiri, Julian sudah berlari dan menyerang dadanya dengan ekornya lagi.
"Wargh!!" Ivan berteriak kesakitan karena selain dampak serangan, ada juga rasa sakit karena apinya.
Julian mengigit tangan kanan Ivan karena ia sedikit jijik dengan bahu yang dipenuhi dengan benjolan-benjolan menjijikan itu.
Saat ia menggigit, Julian sudah mengumpulkan banyak mana di tenggorokannya. Lalu ia menyemburkan napas api yang membuat tangan kanan Ivan terbakar dan putus.
Sekarang Ivan sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena kedua kaki dan tangannya sudah tidak ada, ia hanya bisa berteriak.
Julian bertumpu dengan kedua kaki belakangnya dan mengangkat kedua kaki depannya. Lalu ia menjatuhkan kaki depannya ke dada Ivan sambil menggunakan elemen api.
__ADS_1
Karena berat Ankylosaurus yang bisa mencapai delapan ton, ditambah dengan elemen api, dada Ivan hancur seketika.
Karena khawatir Ivan bisa meregenerasi tubuhnya lagi, Julian memutuskan untuk membakar semua bagian tubuh Ivan sampai menjadi abu.
Setelah ia bertransformasi menjadi manusia kembali, ia mendongak melihat ke arah Lich yang dari tadi hanya mengamati.
"Sangat buruk," ucap Julian.
Yang dimaksud sangat buruk oleh Julian adalah Ivan, hasil eksperimen Lich yang berbentuk menjijikan dan memiliki kemampuan regenerasi namun masih belum bisa mengalahkan dirinya.
"Aku tahu," Lich mengangguk dengan kecewa.
Ia tidak marah atau membantah ucapan Julian karena ia juga tahu kalau hasil eksperimennya sangat buruk bahkan tidak bisa mengenai tubuh Julian.
"Yah, aku sedikit khawatir dengan hasil eksperimenku yang lain. Kita bertarung saja seperti sebelumnya," ucap Lich.
"Dark Spike." Lich mengetuk staff sihirnya ke pasir lalu muncul banyak duri-duri kegelapan yang besar dari bawah pasir.
"Flame Spear." Julian menciptakan puluhan tombak api dan melancarkannya ke duri-duri kegelapan yang datang ke arahnya.
Kedua serangan saling bertemu dan menyebabkan ledekan besar sampai pasir-pasir berterbangan yang menghalangi pandangan.
"Dark Ball." Muncul banyak bola-bola kegelapan dari balik asap.
"Sangat cepat! Apakah dia sudah memprediksi bahwa hal ini akan terjadi!?" batin Julian.
"Sand Wall." Julian menggunakan elemen bumi untuk membuat dinding pasir yang tebal karena bisa meredam bola-bola kegelapan yang datang.
Julian berlari dengan sangat kencang menuju Lich dengan arah memutar karena asap belum menghilang yang membuat dirinya sulit untuk melihat karena Lich juga tidak memiliki energi panas di tubuhnya.
"Sand Wall." Julian membuat dinding pasir lagi.
Tapi yang tidak ia duga adalah scythe itu bisa melewati dinding pasir atau lebih tepatnya adalah menembusnya seperti hantu.
"Light Dome." Julian membuat kubah cahaya mirip seperti milik Claire karena cahaya pasti bisa melawan scythe itu.
Dan benar saja, scythe tidak bisa menembus kubah cahaya yang ia buat. Scythe itu menjadi hancur karena bertabrakan dengan elemen cahaya.
Setelah itu Julian kembali berlari menuju Lich dengan kecepatan yang lebih cepat dibandingkan dengan sebelumnya.
Kali ini Lich tidak menyerang menggunakan mantra sihir kegelapan lagi. Ia justru mundur untuk menjaga jarak dari Julian.
"Hahaha! Mengapa kau mundur!? Apakah kau takut!?" Julian mencoba untuk memprovokasi Lich.
Namun Lich tetap diam dan terus menjaga jarak darinya yang membuat dirinya mengerutkan kening karena kebingungan.
"Mindy, apakah kau tahu apa yang terjadi?" Julian memutuskan untuk bergaya kepada Mindy.
[ Kemungkinan besar Lich sedang kehabisan mana karena ia terus-menerus memanggil Undead ]
"Hm? Benar juga. Appraisal." Julian menggunakan appraisal ke arah Lich.
[ Lich
HP : 60%
__ADS_1
MP : 30%
level kekuatan : 4
level mana : 8 ]
"Hm, apa yang kau katakan benar, Mindy." Julian menoleh ke arah para prajurit yang sedang melawan Undead.
Ia melihat kalau pada Undead masih dalam jumlah yang besar. Tapi ia tidak berpikir bahwa mereka tidak bisa mengalahkan Undead karena ia melihat ada banyak abu yang berterbangan.
Itu artinya mereka juga sudah membunuh banyak Undead dan alasan mengapa Undead masih banyak adalah karena Lich memanggilnya secara terus-menerus.
Julian menyeringai, ia berlari dengan lebih cepat namun kali ini ia mengarahkan Lich ke arah pada Undead di sana karena ia berniat untuk menghabisi mereka sekaligus.
Lich yang tidak mengetahui rencana Julian hanya bisa terus menjaga jarak sambil memulihkan mana.
Setelah beberapa saat bermain kejar-kejaran, lokasi Lich saat ini sangat dekat dengan para Undead.
Julian tiba-tiba berhenti yang membuat Lich bingung, tapi dia juga berhenti karena bisa lebih fokus untuk memulihkan mana.
Julian bertransformasi menjadi Giganotosaurus dengan cepat. Ia mengumpulkan banyak mana di tenggorokannya bersiap untuk menggunakan mantra sihir yang besar.
Lalu ia membuka mulutnya lebar-lebar dan mulai mempersiapkan serangannya.
Sebuah bola mana terbentuk di mulut Julian, bola mana tersebut berputar-putar dan mulai berubah warna menjadi merah gelap.
Lalu tanpa ragu-ragu, Julian menembakan bola api tersebut ke arah Lich yang masih memulihkan mana dan belum sadar apa yang Julian lakukan.
"Fire Dragon's roar," ucap Julian.
Bola api tersebut terbang ke arah Lich dengan kecepatan yang sangat tinggi. Bahkan pasir yang dilalui meleleh karena terlalu panas.
Lich menyadari ada sesuatu yang datang dan itu sangat berbahaya. Ia mendongak dan melihat ada bola api yang sangat besar sedang terbang ke arah dirinya.
"Sialan..." Lich tahu bahwa dirinya harus menghindar tapi ia tidak bisa karena bola api tersebut sangat dekat dan dalam sekejap mata sudah berada di depannya dan melahap dirinya.
"Sialan kau manusia!!!" itu adalah teriakan Lich yang terakhir sebelum dirinya mati.
Bola api tersebut tidak berhenti dan terus terbang membunuh banyak Undead yang dilaluinya.
Para prajurit sudah pergi ke area aman karena bola api tersebut sangat mencolok saat berada di mulut Julian dan mereka tahu kalau Julian akan menggunakan mantra sihir yang sangat kuat.
Tetapi mereka tidak menyangka kalau mantra sihir tersebut sangatlah kuat karena butuh beberapa menit sebelum pada akhirnya bola api tersebut meledak.
Julian bertransformasi menjadi manusia kembali, saat ia akan mengambil langkah, ia merasakan rasa sakit di kepalanya kemudian ia jatuh pingsan.
"Master!!!" Claire dan kedua demi-human berteriak dengan khawatir saat melihat Julian pingsan.
Raff segera memberi perintah, "Bawa Tuan Julian kembali! Prajurit yang masih bisa bergerak tolong bantu yang sedang terluka!"
"Pertempuran melawan Lich dan pasukan Undead, dimenangkan oleh kita!!!"
"Ohh!!!!" Pada prajurit bersorak dengan semangat.
Dengan itu, masalah yang terus menghantui Kota Cronna karena banyak warga yang hilang saat malam hari telah selesai.
__ADS_1