
Mereka masuk ke dalam Kota Crosa dengan lancar karena ada lambang Kerajaan Cruya yang merupakan kepala naga dengan warna emas.
Bahkan sepanjang perjalanan menuju istana, orang-orang yang melihat lambang kerajaan segera menundukkan kepala mereka.
Meskipun mereka bingung mengapa ada kereta kuda biasa tanpa lambang apapun yang mengikuti kereta kuda kerajaan di belakangnya.
Lalu sebelum mereka masuk ke dalam istana, mereka diperiksa oleh prajurit terlebih dahulu. Apapun statusnya, orang yang memasuki istana harus diperiksa.
Setelah itu, ada salah seorang prajurit yang menawarkan diri untuk memarkirkan kereta kuda milik Julian di area parkir kereta kuda istana.
"Ayo keluar," ucap Julian sambil menyerahkan kereta kudanya ke prajurit itu.
Julian dan yang lain turun dari kereta kuda, mereka memandangi istana yang menjulang tinggi sampai menyentuh awan.
"Silakan ikuti saya," ucap prajurit tua.
Lucian, Julian, dan yang lain mengangguk lalu berjalan mengikuti prajurit tua itu salah satu ruangan dengan pintu yang sangat besar.
Ada dua prajurit yang berdiri di depan pintu, saat melihat prajurit tua datang dengan yang lain, kedua prajurit itu segera membukakan pintu.
"Raja Rolant yang agung, saya membawa tamu anda," teriak prajurit tua dengan nada hormat.
"Bawa mereka masuk," terdengar suara yang berat dari dalam ruangan.
"Ya!" prajurit itu mengangguk ke arah Lucian dan yang lain kemudian ia masuk ke dalam ruangan.
Ruangan yang mereka masuki sangatlah besar dan luas dengan banyak pilar-pilar besar di kedua sisi dan ditengahnya terdapat karpet merah yang mewah.
Ruangan ini dihiasi dengan banyak sekali ornamen-ornamen mewah dan indah seperti lampu gantung, lukisan, perabotan seni, dan yang lain.
Kemudian di area yang berseberangan dengan pintu, area tersebut memiliki lantai yang lebih tinggi, dan diatasnya terdapat dua kursi besar dan mewah dan tiga kursi yang sedikit lebih kecil di sampingnya.
Ada dua orang yang duduk di dua kursi besar dan mewah tersebut yaitu seorang pria dan wanita dewasa yang mengenakan pakaian mewah dan mengeluarkan aura besar.
Lalu ada juga beberapa orang yang sepertinya merupakan bangsawan di sisi kanan dan kiri. Mereka sedang duduk dengan banyak dokumen di depan mereka. Sepertinya mereka sedang membahas sesuatu sebelum Lucian, Julian, dan yang lain datang.
"Salam hormat kepada Raja Rolant dan Ratu Regina," ucap prajurit tua itu yang segera berlutut dengan satu kaki.
Lucian membungkukkan badannya dan berkata, "Salam hormat."
__ADS_1
Namun Julian hanya menganggukkan kepalanya. Claire dan kedua demi-human juga mengikuti Julian karena di manapun mereka berada, Julian adalah orang yang harus mereka ikuti dan patuhi.
"Berani-beraninya kau tidak bersikap dengan hormat di depan Raja dan Ratu!?" seorang bangsawan botak berteriak dengan marah melihat tindakan Julian dan yang lain.
Seseorang harus berlutut jika berhadapan dengan raja dan ratu, jika orang tersebut memiliki status tinggi, maka mereka akan membungkukkan badan mereka.
Untuk Lucian, sebelumnya mereka sudah pernah melihatnya saat ada sebuah acara di kerajaan dan mereka melihat kalau dia akrab dengan keluarga kerajaan.
Namun saat ini, mereka melihat kalau ada empat orang yang tidak diketahui identitas mereka tidak membungkukkan badan mereka dan hanya menganggukkan kepala.
Julian tetap tenang dan berkata, "Aku hanya akan membungkukkan badanku jika bertemu dengan orang tuaku, atau saat aku membutuhkan bantuan dari seseorang."
"Lalu aku hanya akan bersujud kepada seseorang yang sangat aku hormati dan statusnya lebih tinggi dibandingkan dengan semua orang yang ada di sini," tambahnya.
Setelah mendengar ucapan Julian, semua bangsawan dan prajurit yang ada di dalam segera mengeluarkan senjata mereka masing-masing.
Julian mengangkat alisnya dan berkata, "Apa? Kalian semua ingin bertarung?"
Claire dan kedua demi-human juga mengeluarkan senjata mereka dan hanya tinggal menunggu perintah dari Julian untuk melakukan sesuatu.
"...Kau menyembunyikan mana milikmu, tetapi aku tahu kalau kau bukanlah orang biasa," ucap Rolant yang dari tadi hanya diam mengamati.
Kemudian ia segera menunjukan mana miliknya sekaligus rasa haus darah yang membuat seisi ruangan mendapatkan tekanan besar kecuali Rolant dan Regina serta beberapa bangsawan tinggi.
"Julian! Apa yang kau lakukan!" teriak Lucian dengan marah.
Lucian tidak menyangka kalau Julian tidak menghormati raja dan ratu bahkan dia membuat masalah sampai mengeluarkan haus darahnya.
"Yah, cukup bermain-mainnya. Kalian bertiga tarik kembali senjata kalian," ucap Julian kepada Claire dan kedua demi-human lalu menarik kembali haus darahnya.
"Bukankah sudah aku katakan? Aku tidak akan membungkukkan badanku atau bersujud jika tidak ada sesuatu," ucap Julian sambil melihat ke para bangsawan.
Salah satu bangsawan mengerutkan keningnya dan bertanya, "Kualifikasi apa yang kau miliki untuk mengucapkan hal itu?"
Julian menyentuh dagunya dan berpikir, "Hm, bagaimana cara membuktikannya."
"Master, tunjukan saja kartu identitas Master," ucap Claire.
"Benar juga. Bagaimana bisa aku melupakan sesuatu yang penting," ucap Julian sambil mendesah karena dirinya lupa.
__ADS_1
Julian mengeluarkan kartu identitasnya dari inventory kemudian menggunakan mana untuk membuat kartu identitasnya melayang.
Lalu Julian menunjukkan kartu identitasnya kepada bangsawan yang bertanya tadi, "Bagaimana? Apakah sekarang aku memiliki kualifikasi?"
"...Ini!?' bangsawan itu terkejut melihat kartu identitas bercorak emas di depannya.
Bangsawan yang melihat ekspresi wajah terkejutnya menjadi penasaran dan mendekat untuk melihat kartu identitas milik Julian.
Kemudian mereka sama terkejutnya saat melihat kartu identitas Julian. Meskipun tidak setara dengan keluarga kerajaan, tetapi kartu bercorak emas setara dengan Marquis dan Duke.
Yang mana kedua status bangsawan tersebut sangatlah jarang yang membuat kedua status bangsawan itu sangat dihormati.
"Claire, keluarkan itu," ucap Julian kepada Claire setelah mengambil kembali kartu identitasnya.
Claire mengangguk paham apa yang dimaksud oleh Julian. Ia melambaikan tangannya lalu muncul sebuah tubuh yang tidak utuh di depannya.
"Lihatlah, kalian pasti akan terkejut dengan identitas tubuh ini," ucap Julian dengan nada tenang.
Para bangsawan mengerutkan kening mereka karena Julian mengeluarkan mayat di dalam aula utama istana yang terkesan tidak sopan.
Namun mereka juga penasaran dengan mayat tersebut karena Julian berkata kalau mereka akan terkejut setelah mengetahui identitas mayat tersebut.
"Tidak perlu, aku sudah tahu mayat siapa itu," ucap Rolant yang membuat para bangsawan terkejut.
"Anda mengetahuinya, Raja?" tanya salah satu bangsawan.
Rolant mengangguk, "Ya, aku mendapat sebuah laporan dari para pahlawan. Lalu, sepertinya kau adalah orang dimaksudkan oleh kelima pahlawan."
Julian mengerutkan keningnya dan berkata dengan nada tidak senang, "...Jangan menyebutkannya, aku memiliki kebencian terhadap mereka."
Rolant hanya bisa menghembuskan napas karena ia tahu apa yang terjadi di antara kelima pahlawan dan Julian dari laporan mereka.
"Kalian pasti bingung. Mayat itu adalah Orobas Ohrne, salah satu jenderal iblis dari tiga jenderal dan merupakan jenderal terkejam di antara yang lain," ucap Rolant.
Pada bangsawan membelalakkan mata mereka setelah mendengar ucapan Rolant. Tentu saja mereka akan sangat terkejut dengan identitas mayat tersebut.
"Jadi, kau adalah Julian Roley?" tanya Rolant dengan nada penasaran.
"Ya, aku adalah Julian Roley," angguk Julian sambil tersenyum.
__ADS_1