Isekai Dinosaur

Isekai Dinosaur
Melihat Matahari Terbenam Bersama Karina


__ADS_3

Keesokan harinya, Damian dan Inka sedang sibuk menyelesaikan urusan mereka karena Keluarga Malone ditangkap.


Sedangkan Claire dan kedua demi-human sedang bermain dengan Ethan dan Ella. Mereka sudah menjadi sangat akrab karena sering bermain bersama.


Untuk Julian, dia saat ini sedang berbaring dibawah pohon yang rimbun dihalaman depan mansion menikmati udara yang hangat dan angin yang sejuk.


"Julian, kau tidak ada kegiatan?" Karina menghampiri Julian dan duduk disebelahnya.


"Tidak, kau sendiri?" Julian bertanya tanpa membuka matanya.


"Baru saja selesai, sekarang aku sedang istirahat," jawab Karina.


Mereka berdua terdiam dan tidak berbicara satu sama lain karena suasananya memang sungguh enak untuk beristirahat.


"Mau berjalan-jalan?" Julian membuka matanya dan duduk.


"...Boleh." Karina menjawab setelah memikirkannya sebentar.


Mereka berdua berdiri dan berjalan bersama menuju gerbang mansion. Mereka berjalan tanpa tujuan sambil melihat-lihat sekitar.


...----------------...


"Oh, Karin, lihat itu." Julian menunjuk ke arah depannya.


Didepannya ada sebuah pertunjukan sederhana yang dilakukan oleh dua orang yang merupakan pertunjukan boneka yang dikendalikan dengan benang dan digerakkan dengan tangan.


"Oh, aku pernah melihat ini di ibukota sebelumnya." Karina menarik tangan Julian dan mendekati pertunjukan.


Singkat cerita ada dua boneka manusia yang jatuh cinta, namun cinta mereka terhalang oleh status karena boneka wanita merupakan anak dari keluarga bangsawan dan boneka pria merupakan orang biasa.


Meskipun pada akhirnya boneka pria berhasil menikahi boneka wanita karena ia bekerja keras untuk mendapatkan uang dan bisa membuka banyak toko.


"Kurasa dua boneka itu sama seperti kita, maksudku statusnya," ucap Julian.


"Tidak, bukankah kau adalah seorang bangsawan?" Karina melirik Julian.


"Aku adalah bangsawan yang telah jatuh, jadi tidak bisa dikatakan kalau aku adalah bangsawan sekarang." Julian mengangkat bahunya.


"Lalu jika kita berada dalam situasi yang sama seperti kedua boneka dipertunjukkan tadi, apakah kau akan melakukan hal yang sama seperti boneka pria?" tanya Karina.


"Tidak. Aku sudah memiliki banyak sekali uang." Julian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bukankah sudah aku katakan, jika kita berada dalam situasi yang sama!" Karina menyikut pinggang Julian.


"Ah, maaf. Hm, kurasa iya, tapi aku akan menikahi mu setelah aku memilih sebuah gelar. Jika hanya pedagang, maka itu tidak akan cukup untuk menikahi seorang bangsawan." Julian menyentuh dagunya dan menjawab.


"Baguslah kalau begitu. Aku kira kau akan menjawab tidak dengan alasan kalau kau akan menikahi diriku dan menggunakan kekerasan untuk mendapatkan persetujuan." Karina terkekeh.

__ADS_1


"Kau kira aku ini otak otot?" Julian memutar matanya.


Pertunjukan berakhir, Julian mengeluarkan beberapa koin perunggu dan memberikannya kepada orang yang melakukan pertunjukan.


"Terima kasih!" Kedua orang yang melakukan pertunjukan menundukkan kepala mereka karena Julian memberi banyak uang.


Julian membalas dengan anggukkan kepala, ia dan Karina lalu melanjutkan jalan-jalan mereka.


"Kau cukup baik, memberikan beberapa koin perunggu kepada dua orang tadi," ucap Karina.


"Terima kasih, yah, itu karena aku memiliki uang, jadi tidak ada salahnya memberikan kepada mereka." Julian tersenyum.


"Lalu jika kau tidak memiliki uang, apakah kau tidak akan memberi mereka uang?" tanya Karina.


"Aku akan memberi mereka, namun, tidak akan sebanyak tadi, mungkin saja hanya beberapa koin tembaga atau paling banyak satu koin perunggu." Julian menyentuh dagunya lalu menjawab.


Mereka berdua jalan-jalan sambil berbincang-bincang, mereka bahkan tidak menyadari kalau mereka saat ini sedang berada di dekat Pelabuhan Coramon.


"Ah, kita sudah sampai sini saja," ucap Julian.


"Haha, kebetulan sekali aku ingin makan sesuatu, mau pergi ke area sana?" Karina menunjuk ke suatu arah dimana area tersebut adalah area kuliner.


"Boleh juga, nanti kita makan didekat sini sambil melihat matahari terbenam." Julian mengangguk.


"Oh, ide bagus! Ayo kita beli banyak makanan dan minuman!" Karina tersenyum cerah.


Aroma harum langsung tercium bahkan saat baru masuk ke area kuliner. Berbagai macam aroma tercampur menjadi satu yang bisa membuat orang mabuk.


"Aku ingin beli ini!" Karina mengantre disalah satu kios.


Kios itu menjual minuman berupa susu panas dan dingin dengan berbagai macam rasa buah yang dicampur ditempat.


"Kau mau beli apa?" Karina bertanya kepada Julian.


"Tidak." Julian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak, kau harus beli. Permisi, tolong dua susu rasa pisang!" Karina memesan dua susu untuk dirinya dan juga Julian.


"...." Julian hanya bisa terdiam.


Penjual langsung menyiapkan dua gelas susu murni, kemudian ia memotong-motong beberapa buah pisang dan memasukan semuanya kedalam alat untuk mencampur seperti blender di bumi.


"Ini dia, Nona!" Penjual menyerahkan dua gelas susu rasa pisang.


"Terima kasih, berapa totalnya?" Karina mengambil dua gelas susunya.


"Totalnya 30 koin tembaga, Nona," ucap si penjual.

__ADS_1


"Aku yang akan membayarnya." Julian menghentikan Karina yang akan membayar dan dirinya sendiri yang membayar susunya.


Mereka berdua lanjut mencari makanan, lalu Karina menginginkan makanan yang digoreng dan Julian menemukan dia kios yang menjual makanan goreng.


"Jadi, potongan ayam goreng dengan tepung atau jamur goreng dengan tepung?" Julian bertanya Karina apa yang dia mau.


"Hanya anak-anak memilih salah satu, orang dewasa memilih semuanya!" Karina menyerahkan dua gelas susu kepada Julian kemudian ia mengantre kios ayam goreng.


Julian hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia kemudian mengantre di kios jamur goreng disebelah kios ayam goreng.


Karina memanggil Julian dan menyuruhnya untuk memesan porsi yang besar, jika tidak ada, maka pesan porsi kecil dalam jumlah banyak.


Julian hanya bisa mengangguk, ia kagum dengan nafsu makan Karina. Kemudian mereka berdua memesan yang porsi besar kepada penjual.


Lalu setelah beberapa saat, pesanan mereka jadi. Setelah membayarnya, mereka berdua berjalan mencari tempat yang nyaman dan tempat yang bisa melihat matahari terbenam.


"Ah, semua tempat duduknya penuh..." Karina mengeluh karena semua tempat yang disediakan sudah penuh.


"Mengapa kita tidak duduk disana saja?" Julian menunjuk ke suatu arah.


Karina mengikuti jari Julian dan melihat yang ditunjuk oleh Julian adalah pesisir pantai yang berupa pasir bersih namun tidak ada orang yang duduk disana.


"Boleh juga, tapi bukankah itu kotor?" Karina memiringkan kepalanya.


"Aku membawa kain didalam cincin penyimpanan ku, ayo kita kesana." Julian berjalan diikuti oleh Karina.


Julian mengeluarkan kain lebar dari inventory dan menaruhnya diatas pasir. Kemudian, mereka melepas alas kaki mereka dan duduk diatas kain.


"Sebenarnya, aku tidak pernah melakukan hal seperti ini." Karina berkata lalu berbaring.


"Hm? Apa maksudmu?" tanya Julian.


"Jalan-jalan tanpa pengawal, membeli kuliner jalanan, menonton pertunjukan jalanan, dan sekarang, duduk di pesisir pantai tanpa ada yang mengganggu. Karina memejamkan matanya.


"Bukankah kau bisa saja menyuruh pengawal mu sedikit menjauh? Lalu kau ini bangsawan kelas tinggi, mana mungkin ada yang melarang mu." Julian mengangkat alisnya.


"Memang benar kalau aku bisa melakukan hal itu. Tapi rasanya akan sangat berbeda dibandingkan dengan yang sekarang dimana kita bisa bergerak dengan bebas bukan karena sebuah pengaturan." Karina membuka matanya dan berkata.


"Heh~ Benar juga. Jadi bangsawan itu sangat merepotkan ya. Itulah mengapa aku memilih berpetualang ke berbagai tempat," ucap Julian.


Mereka berdua tidak mengatakan apapun lagi karena udaranya sangat sejuk yang membuat orang-orang merasa nyaman.


Lalu perlahan-lahan, matahari mulai turun dan langit berubah warna dari biru menjadi oranye tanda bahwa matahari akan terbenam.


Karina segera duduk, mereka berdua menyaksikan matahari yang sedang terbenam dengan pemandangan laut yang membuat matahari menjadi semakin jelas dan indah.


"Ini... adalah kedamaian," batin Julian.

__ADS_1


__ADS_2