
Saat mereka semua sedang berbahagia karena sudah mengalahkan Unath, ruangan tiba-tiba bergetar lalu terbukalah sebuah lubang di atap-atap ruangan.
Cahaya bulan masuk ke dalam ruangan dan menyinari seluruhnya. Hari sudah malam karena mereka masuk ke dalam labirin ini pada saat siang hari.
Namun ada suatu masalah kecil, tidak ada orang yang bisa menggunakan mantra sihir untuk terbang keluar dari ruangan ini.
Memang ada beberapa orang yang menggunakan sihir dengan elemen angin, namun mereka tidak bisa menggunakan angin untuk terbang.
Pada akhirnya, beberapa orang melihat ke arah Julian. Julian mengedipkan matanya karena tahu hanya dia yang bisa mengeluarkan semua orang dari labirin.
Jika tidak, mungkin akan menunggu sampai pagi sampai bala bantuan datang dan mengeluarkan mereka semua dari dalam labirin dengan tali atau sesuatu.
"Baiklah..." Julian menghela napas panjang.
Ia bertransaksi menjadi Pterosaurus dan membawa semua orang keluar dari labirin beberapa kali karena ada banyak sekali orang.
Kemudian, saat semua orang sudah keluar, lubang tadi tiba-tiba tertutup seolah-olah tidak ada lubang disana sebelumnya.
"Semuanya! Tolong beristirahat lah disini terlebih dahulu, prajurit lain akan segera datang sambil membawa persediaan untuk kita!" Fran memberikan instruksi segera setelah mereka keluar.
Sesuai dengan ucapan Fran, beberapa menit kemudian terdengar suara langkah kaki kuda yang sangat banyak dan terlihatlah para prajurit.
"Pangeran!!" Albert muncul dengan menunggangi kuda.
"Oh! Albert!" Conall menyambut Albert.
"Marquiss Fran, saya merasakan ada getaran dari sini tadi. Sudah kuduga kalau anda akhirnya keluar dari dalam sana..." seorang pria datang menghampiri Fran.
Pria itu mengenakan setelan pelayan namun tidak sama seperti Albert. Sepertinya pria itu merupakan bawahan atau ajudan Fran.
"Bagus, tolong minta para prajurit untuk mendirikan tenda sementara karena kita tidak muncul di dalam kota melainkan jauh dari kota." Fran mengangguk lalu ia langsung memberikan perintah.
"Baik!" Ajudan Fran mengangguk lalu ia pergi.
Prajurit yang baru datang segera mendirikan banyak tenda untuk orang-orang yang beru keluar dari labirin bisa beristirahat dengan baik.
Lalu ada juga beberapa warga yang dibayar oleh Fran untuk memasak hidangan untuk makan malam orang-orang yang keluar dari labirin.
"Mengapa di dunia ini makanan nya enak semua?" Julian meminum sup hangat yang baru ia ambil.
"Master, apakah kau suka makan?" Claire yang berada di sebelah Julian bertanya.
"Hm? Yah, aku suka apapun yang berhubungan dengan kedamaian. Makan juga termasuk apalagi saat makan di alam terbuka sambil menikmati pemandangan." Julian tersenyum.
"La-lalu, bolehkah aku belajar memasak!?" Claire bertanya dengan nada gugup.
"Oh? Jika kau menginginkan nya, maka aku izinkan. Kau nantinya bisa membuatkan hidangan yang lezat dan kita akan makan bersama!" Julian langsung mengizinkan nya.
"Baik! Terimakasih, Master!" Claire memasang wajah tersenyum yang bahagia.
"Hm? Sepertinya aku menemukan tujuan baru..." Julian kepikiran sebuah ide yang samar.
__ADS_1
"Hey, Claire." Julian memanggil Claire.
"Ya, Master?" Claire menanggapi panggilan Julian.
"Aku kepikiran untuk berpetualang dan mengunjungi banyak tempat di dunia ini, apakah kau tertarik dengan hal itu?" Julian tampak serius dilihat dari matanya yang menunjukkan sikap tegas.
"Ah! Tentu saja aku tertarik, Master! Karena aku hidup dalam kondisi yang menyedihkan, sudah jelas aku ingin mengunjungi banyak tempat!" Claire mengangguk dengan penuh semangat.
"Bagus! Lalu sudah diputuskan kalau kita akan mengunjungi banyak tempat!" Julian menentukan tujuan baru.
"Baik!" Claire tampak tidak sabar dengan hal itu.
"Permisi, Tuan Julian." Tiba-tiba ajudan Fran datang menghampiri mereka berdua.
"Ya? Apakah kau membutuhkan sesuatu dariku?" Julian mendongak.
"Kami kekurangan tenaga medis sekarang, bisakah budak anda membantu kami?" Meskipun ajudan Fran meminta dengan sopan, namun ia melihat ke arah Claire dengan tatapan jijik.
"Hm... tidak." Julian menyentuh dagunya dan berpikir sebentar lalu menolak nya.
"Apa!? Mengapa anda menolak nya!?" Ajudan Fran tampak tidak percaya dengan jawaban Julian.
"Apa salahnya? Kau meminta bantuan ku dan aku berhak untuk menolak." Julian melanjutkan memakan hidangan yang hampir dingin.
[ Arno
HP : 95%
MP : 80%
level mana : 3 ]
"Ini merupakan perintah langsung dari Marquiss Fran!" Arno mengerutkan kening nya.
"Lalu apa?" Julian tidak terlalu peduli akan hal itu.
"Apa!? Apakah kau berani menolak perintah Sang Marquiss!?" Arno berteriak dengan keras.
Teriakan Arno menyebabkan orang-orang disekitar melihat ke arah mereka dan berbisik-bisik mengenai apa yang sedang terjadi.
"Claire." Julian memanggil Claire.
"..." Claire tidak menjawab.
Ia menaruh nampan yang diatasnya ada makanan dan minuman lalu berdiri dan menodongkan pistol mana ke kepala Arno.
"Tolong jangan mengganggu kami. Jika tidak, akan ada sebuah lubang di kepala mu." Claire berkata dengan nada dingin.
Sifat ini baru saja diketahui oleh Claire setelah mereka keluar dari labirin. Sepertinya sifat Claire akan berubah menjadi sangat dingin jika ada yang mengganggu mereka.
Julian tidak tahu mengapa bisa terjadi namun ia menduga kalau ini karena saat ia menghadang serangan Unath dan saat itu ia mendengar teriakan Claire.
__ADS_1
Namun, ia berpikir kalau perubahan ini bagus. Karena Claire tidak akan takut lagi kepada orang asing dan bisa mengatasi beberapa masalah kecil seperti sekarang.
"Ada apa ini?" Karina menerobos kerumunan.
"Yo!" Julian menyapa Karina.
"Julian? Tunggu, apa yang sedang kau lakukan, Claire?" Karina terkejut saat melihat apa yang sedang Claire lakukan.
"Tenang saja..." Julian tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Bagaimana bisa aku tenang saat budak mu menodongkan senjata nya ke kepala Arno!?" Karina berteriak.
"Eh~ Itu karena dia yang mengganggu kami duluan. Dia meminta bantuan kami namun dengan cara yang memaksa, tentu saja kami menolak nya."
"Setinggi apapun status kalian, bukankah saat kalian meminta bantuan itu artinya kalian yang sedang membutuhkan?"
"Apa hak kalian meminta bantuan kepada orang lain dengan cara memaksa?" Julian mengangkat bahu nya.
Kerumunan lalu berbisik-bisik lagi dan beberapa orang juga bersaksi mendukung Julian kalau Arno tadi memaksa mereka berdua.
"Kau dengar itu?" Julian tersenyum.
"Sepertinya kau benar, aku minta maaf." Karina menundukkan kepala nya.
"Eh? Bukan kau yang seharusnya meminta maaf apalagi kau tidak berbuat kesalahan apapun. Yang seharusnya meminta maaf adalah pria ini." Julian menunjuk ke arah Arno yang sudah gemetar ketakutan.
Arno bisa tahu kalau Claire tidak akan ragu-ragu menembak kepala nya jika Julian memerintahkan nya untuk menembak.
Ia sangat takut sampai tubuh nya gemetar saat ini karena ia belum pernah berhadapan dengan kematian langsung selama seumur hidup nya.
"Arno, minta maaf kepada Julian dan Claire jika ingin nyawamu selamat." Karina juga bersikap dingin kepada Arno.
"..." Namun Arno tidak membalas nya.
"Hahaha, dia sudah ketakutan. Apakah dia itu benar-benar ajudan Marquiss Fran? Mengapa dia sudah gemetar ketakutan!?" Julian tertawa terbahak-bahak.
"Enyahlah." Julian menatap tajam Arno.
"Hiikk!" Arno ketakutan lalu ia berlari terbirit-birit.
Claire menyimpan pistol mana lalu duduk di sebelah Julian dan mengambil kembali nampan yang masih ada makanan dan minuman nya.
"Karin! Ayo makan bersama!" Julian mengajak Karina makan bersama.
"Karin?" Karina sepertinya belum pernah dipanggil seperti itu.
"Ya! Nama mu Karina bukan? Aku akan memanggil mu Karin!" Julian mengangguk.
"Yah, kurasa itu tidak buruk juga." Karina menyentuh dagunya lalu ia mengangguk dan tidak mempermasalahkan panggilan Julian.
Ia mengambil makanan dan minuman nya kemudian duduk di sebelah Julian. Mereka bertiga lalu makan bersama sambil berbincang-bincang.
__ADS_1
Julian merasa kalau Karina ini adalah orang yang berpikiran terbuka. Buktinya ia bisa berbincang-bincang dengan Claire tanpa hambatan.
Maksudnya, Karina seperti orang yang tidak terlalu mempedulikan status seseorang jika ia sudah merasa kalau orang tersebut baik.