Isekai Dinosaur

Isekai Dinosaur
Kembali ke Mansion Keluarga Mollon


__ADS_3

Claire menyimpan alat perekam, ia melompat dari lantai dua dan berlari menghampiri Julian.


"Master!" Claire berteriak dengan gembira.


"Yo!" Julian tersenyum.


"Master! Tadi Master sungguh keren! Apalagi saat Master melakukan serangan terakhir untuk membunuh Sika dengan sekali serang!" Claire menatap Julian dengan mata kagum.


"Hahaha! Tentu saja!" Julian tertawa dengan bangga.


"Tuan Julian!" Para prajurit menghampiri Julian.


Mereka semua adalah prajurit yang masih bisa bergerak dengan bebas, sedangkan yang tidak bisa bergerak masih tidak sadarkan diri.


"Ah, halo. Maafkan aku karena tidak memperkenalkan diri secara baik. Namaku Julian Roley, aku kesini atas perintah dari Raja Rolant."


"Juga, maafkan aku karena masuk kedalam mansion secara diam-diam. Itu karena kami tidak membawa bukti bahwa Sika adalah iblis."


"Sekarang, semua masalah telah selesai, tinggal menunggu Marquiss Alan untuk datang dan membahas masalah ini," ucap Julian.


"Tidak apa-apa Tuan, kami bisa memahami keseriusan masalah ini karena berhubungan dengan Raja Iblis Boldax." Salah satu prajurit mengangguk dengan serius.


Para prajurit mendengar Sika mengatakan kalau kekuatannya berasal dari pemberian Raja Iblis Boldax saat Sika bertarung dengan Julian tadi.


"Terima kasih atas pengertiannya, oh ya, karena kalian ini Pasukan Kota, apakah kalian bisa memeriksa Mansion milik Marquiss Alan ini?" Julian mengangguk dan bertanya kepada para prajurit.


"Kami bisa tapi itu juga harus dengan izin Marquiss Alan, Tuan. Tapi, karena Tuan diutus oleh Raja Rolant, maka kamu tidak memerlukan izin Marquiss Alan." ucap salah satu prajurit.


"Terima kasih kalau begitu, tolong cari apapun yang berhubungan dengan Raja Iblis Boldax." Julian mengangguk.


Julian berbincang-bincang dengan para prajurit sebentar untuk membahas beberapa hal, kemudian ia menghampiri tubuh Sika yang sudah menjadi dua bagian.


Ia menaruh tubuh dan kepala Sika kedalam sebuah kantung mayat kemudian ia menyimpannya kedalam inventory. Setelah itu, ia dan Claire pergi dari Mansion Marquiss Alan dan kembali ke Mansion Mollon.


...----------------...


Di sebuah bangunan tinggi milik Keluarga Malone.


"Apa kau bilang!?" Roman memukul meja dengan sangat keras sampai mejanya hancur dan kertas-kertas berterbangan.


Roman sangat marah karena barusan ia mendengar laporan genting dari bawahannya kalau mansion milik Keluarga Malone nya diserang oleh sekelompok orang aneh.


"Bagaimana dengan penjaga!? Apakah mereka tidak bisa menghentikan kelompok itu!?" Roman bertanya dengan nada marah.


"Mereka mencoba untuk menghentikan kelompok itu, namun, sangat disayangkan kalau setengah dari penjaga kami mati dan di pihak kelompok itu, tidak ada yang mati." Bawahan Roman menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Roman.


"Sialan, lalu apa yang kelompok itu lakukan? Mengapa mereka menyerang kita!?" Roman menggertakkan giginya karena marah.


"Kita tidak kehilangan barang berharga apapun, namun, pengawal dan pelayan milik Nona Karina tidak ada diruangan mereka."

__ADS_1


"Ditemukan tali yang rusak dilantai kamar kemudian senjata-senjata mereka juga tidak ada dikamar sebelahnya," ucap bawahan Roman.


"...Baiklah, kau boleh pergi." Roman melambaikan tangan kanannya.


"Baik." Bawahan Roman membungkukkan badannya dan keluar dari ruangan.


"Apakah ini perbuatannya Karina? Tapi pengawal dan pelayannya berada di Mansion Malone, darimana dia menemukan rekan lain?"


"Menyewa? Itu tidak mungkin karena Karina sudah menghabiskan uangnya untuk mendapatkan Jantung Sea Serpent di pelelangan beberapa hari yang lalu."


"Koneksi? Setahuku, Keluarga Largus tidak memiliki koneksi di Kota Coramon ini." Roman menutup matanya dan memikirkan banyak kemungkinan.


...----------------...


Di kota lain.


"Jadi begitu..." Seroang pria berotot dan berjanggut sedang membaca sebuah surat yang dikirimkan oleh bawahannya.


Pria berotot dan berjanggut itu tidak lain adalah Marquiss Alan, dia saat ini sedang berada disebuah kamar di mansion milik tuan kota.


Ia sedang melakukan urusan bisnis disini, namun ia tidak menyangka kalau ada dua insiden besar di Kota Coramon yang ia pimpin.


Pertama adalah penyerangan Sea Serpent dan monster asing lain, kemudian yang kedua adalah penyerangan di Mansion Keluarga Malone dan Mansion miliknya.


Meskipun ia tidak mengetahui mengapa Mansion Keluarga Malone diserang, namun ia sudah membaca alasan mengapa Mansion miliknya diserang.


"Sika, aku tidak menyangka kalau orang yang paling dekat denganku selain keluargaku bisa melakukan hal menjijikan seperti itu." Alan menghela napas panjang.


Ia mencium kening istri dan anaknya, kemudian ia tidur disebelah anaknya.


...----------------...


Di Mansion Keluarga Mollon.


"Rencana selesai." Julian muncul di paviliun dihalaman belakang tempat dimana Damian dan yang lain sedang berkumpul.


"Wah! Kau mengagetkanku!" Damian berteriak karena terkejut dengan kemunculan Julian disebelahnya.


"Maaf." Julian meminta maaf namun wajahnya datar.


"...Jangan mengucapkan maaf jika kau tidak tulus." Damian mendengus.


"Lalu, bagaimana dengan buktinya?" Julian bertanya kepada Karina.


"Aman." Karina menunjuk kotak kayu yang sudah terbuka diatas meja.


Julian melihat isinya dan mengambil gulungan perkamen lalu ia membacanya dengan serius.


"Oh! Ternyata memang ada bukti tertulisnya. Tapi bagaimana bisa ada stempel Raja iblis disini?" Julian mengangkat alisnya.

__ADS_1


"Tidak tahu, kami juga tidak bisa mengetahui bagaimana bisa ada stempel Raja iblis di perkamen sedangkan Kota Coramon tidak mendeteksi adanya aura iblis." Damian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Pikirkan itu nanti. Julian, apakah kau mengetahui ini?" Inka menyerahkan botol yang berisi cairan berwarna merah kepada Julian.


"Appraisal," ucap Julian didalam hatinya.


[ Cairan Iblis


Sebuah cairan yang bisa membuat seseorang yang terkena satu tetes cairannya menjadi iblis ]


"Sebuah cairan yang sangat berbahaya." Julian meletakan botol itu diatas meja.


"Apa kau mengetahuinya!?" Damian berteriak.


"Ya, Begitulah. Orang yang terkena satu tetes cairan ini bisa berubah menjadi iblis." Julian memberitahu efek cairan merah tersebut kepada semua orang.


"Apa!? Berubah menjadi iblis!?" Damian mengerutkan keningnya.


"Apapun itu, dua barang ini akan diserahkan kepada Raja Rolant," ucap Julian.


"Apakah kita tidak perlu memberitahu hal ini kepada Marquiss Alan?" tanya Damian.


"Tunjukan saja bukti tertulis ini, tapi jangan yang tunjukan cairan merahnya karena cairan ini sangatlah berbahaya dan harus dirahasiakan," ucap Julian.


"Baiklah, kami akan mengikuti ucapanmu." Damian mengangguk.


Mereka semua kemudian membahas beberapa hal yang diperlukan. Lalu, para pelayan menyajikan makan malam untuk semuanya.


...----------------...


"Bagaimana pengawal dan pelayanmu?" Julian menghampiri Karina dan bertanya kepadanya.


"Ah ya, pengawal sedang membantu Pasukan Mollon berpatroli sedangkan pelayan juga membantu menyiapkan makan malam tadi," jawab Karina.


Mereka berdua tetap berada dihalaman belakang sambil mengagumi langit malam yang dihiasi oleh bintang-bintang yang bersinar terang.


"Kapan kau akan kembali?" tanya Julian.


"Entahlah, mungkin aku akan langsung kembali setelah Marquiss Alan datang karena selain harus menyerahkan dua bukti dan rekaman, aku juga harus segera menyembuhkan kakekku." Karina menatap langit dan menjawab.


"Ah, apakah kau akan ikut kembali bersamaku?" Karina menatap Julian dengan tatapan berharap.


"Aku tidak tahu, ibukota sangat jauh bukan? Sepertinya aku akan kesana tapi tidak langsung kesana. Maksudnya, aku akan singgah di kota-kota yang aku lewati." Julian menyentuh dagunya.


"Hah, jika kakekku tidak sakit, aku akan ikut denganmu." Karina menghela napas.


"Haha, kita akan pergi bersama saat aku sudah mengunjungi Ibukota dan akan melakukan perjalanan selanjutnya." Julian tertawa.


"Baiklah, janji?" Karina mengulurkan jari kelingkingnya.

__ADS_1


"Tentu, janji." Julian juga mengulurkan jari kelingkingnya.


__ADS_2