Isekai Dinosaur

Isekai Dinosaur
Desa Gelap yang Menyembah Raja Iblis Boldax


__ADS_3

"Ugh!" Mine terhempas dan terguling-guling di atas pasir.


Nimi muncul di belakang Julian dan mengarahkan ujung pisaunya ke arah leher belakang Julian. Namun Julian menghindari serangan itu dengan gerakan seminimal mungkin.


Julian memegang tangan Nimi dan melempar tubuhnya ke arah Mine yang membuat Mine yang sudah berdiri terjatuh lagi.


"Kerja sama kalian sudah sangat bagus. Jangan khawatir, kalian hanya perlu berlatih lagi," ucap Julian.


Mereka bertiga saat ini sedang berlatih bersama. Nimi dan Mine menggunakan sihir batu yang mereka pelajari dengan menyerang Julian.


Julian juga meminta mereka untuk tidak menahan diri. Nimi dan Mine mengangguk karena tahu bahkan dengan kekuatan gabungan, mereka tidak bisa mengalahkan Julian.


Dan begitulah, Nimi memasuki bayangan Mine untuk menyerang secara tiba-tiba. Mine menyerang langsung secara biasa lalu menggunakan sihir barunya untuk membuat pertahanan di kulitnya.


"Baik, Master!" mereka berdua mengangguk dengan serius.


Seperti yang dikatakan oleh Julian, karena mereka berdua selalu hidup bersama, kerja sama mereka sudah sangat bagus seolah-olah mereka memiliki telepati karena pergerakan mereka sangat mulus.


Kemudian mereka melanjutkan latihannya. Nimi masuk ke dalam bayangan Mine dan Mine langsung maju ke arah Julian dengan cepat.


Mine melompat ke depan dan menggunakan kaki kanannya untuk menendang kepala Julian. Namun Julian menggunakan tangan kirinya untuk menangkis tendangan Mine.


Mine tidak berhenti sampai disitu, ia mendarat dan berjongkok. Ia menempelkan kedua telapak tangannya di atas pasir dan menggunakan kedua kakinya untuk menendang Julian.


Bersamaan dengan itu, Nimi yang berada di dalam bayangan Mine segera berpindah ke bayangan Julian dan keluar dari belakang punggungnya. Nimi melancarkan serangan pisau ganda ke arah punggung Julian.


"Bagus!" teriak Julian.


Julian membuat kulit di perut dan punggungnya menjadi kulit dinosaurus yang sangat keras agar tidak terkena dampak serangan.


"Berhenti. Kalian berdua sudah ada perkembangan, Mine bisa melakukan serangan lain saat serangan pertamanya ditangkis. Lalu Nimi bisa langsung menyerang setelah berpindah bayangan," ucap Julian.


"Terima kasih, Master!" ucap Nimi dan Mine dengan nada gembira.


Saat mereka akan berlatih lagi, mereka mendengar suara Claire yang menyuruh mereka untuk berhenti karena sudah waktunya makan siang.


Claire memasak hidangan berupa daging yang dipotong kecil-kecil. Mereka berempat kemudian makan siang bersama dengan lahap.


...----------------...


Mereka melanjutkan perjalanan setelah makan siang. Saat ini, hari sudah sore menjelang malam dan suhu udara sudah mulai mendingin.


Julian berpikir akan menghentikan kereta kuda di sini, tapi dengan mata dinosaurus nya, ia melihat kalau ada sebuah pemukiman di depan sana.


Ia pun segera bertanya kepada Claire, "Claire, apakah Count Raff pernah mengatakan ada pemukiman selain Kota Chesa di dekat sini?"

__ADS_1


Claire berpikir sejenak, "Hm, sepertinya tidak ada, Master. Hanya ada Kota Chesa di sekitar sini."


"Lalu, apa yang ada di sana?" Julian mengerutkan keningnya.


Claire dan kedua demi-human segera mengikuti pandangan Julian dan mereka juga bisa melihat kalau ada pemukiman di depan mereka.


Pemukiman tersebut mirip seperti sebuah desa karena dindingnya berupa kayu yang sepertinya dari pohon kering di sekitar sini.


"Master, apakah kita perlu memeriksanya? Entah mengapa aku merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan," tanya Claire.


Julian mengangguk, "Ya, kita akan memeriksanya bersama. Aku juga merasakan perasaan yang kurang menyenangkan dari arah desa itu."


"Persiapkan senjata kalian dan selaku waspada, mungkin saja ada sebuah serangan saat kita sampai di sana," tambahnya.


Claire dan kedua demi-human mengangguk, mereka segera memegang senjata mereka masing-masing dan bersembunyi di dalam kereta kuda.


Julian juga sudah mempertajam panca inderanya. Ia mengemudikan kereta kuda ke arah desa itu secara pelan-pelan.


Beberapa menit kemudian, Julian sudah dekat dengan desa tersebut. Di depan gerbang kayu, ada dua orang manusia botak yang memegang tombak di tangan masing-masing.


Sepertinya kedua orang botak tersebut adalah penjaga gerbang desa tersebut. Julian segera menghampiri mereka berdua.


"Berhenti!" Pria botak berjanggut berteriak.


Julian mengerutkan keningnya karena bisa merasakan nada yang tidak bersahabat dari pria botak berjanggut tersebut, namun ia tetap menghentikan kereta kudanya.


Julian memperlihatkan senyum alami dan berkata, "Aku adalah pedagang dari Kota Cronna yang baru saja pergi dari sana."


"Aku sebenarnya ingin pergi ke Kota Chesa namun sepertinya Aku tersesat. Aku melihat desa ini karena siapa tahu kalian memperbolehkanku untuk menginap," tambahnya.


"Pedagang? Yah, terserah. Kau bisa mengubah di sini dengan satu syarat," ucap pria botak berjanggut.


Julian mengangkat alisnya dan bertanya, "Syarat? Kalau boleh tahu, apa syaratnya?"


"Kau harus memberikan sesuatu sebagai pengorbanan kepada Dewa Boldax!" jawab pria botak berjanggut.


"Dewa Boldax!? Apakah yang mereka maksud adalah Raja Iblis sialan itu?" batin Julian.


"Ah, maafkan aku, aku tidak memiliki banyak harta benda karena semua barang di kereta kudaku sudah dipesan," ucap Julian berpura-pura menyesal.


"Hm? Kalau begitu tangkap hewan atau apapun yang lain dan berikan kepada Dewa Boldax saat kau sudah mendapatkannya,' ucap pria botak berjanggut..


"Baik, aku akan segera kembali." Julian mengangguk kemudian mengemudikan kereta kudanya menjauh dari desa.


Julian tidak pergi terlalu jauh, dan karena khawatir mereka melihatnya, Julian menggunakan sihir bumi untuk membuat gundukan pasir yang lebih tinggi sampai menutupi kereta kuda.

__ADS_1


"Master, apakah Dewa Boldax itu..." Claire tidak menyelesaikan ucapannya karena tidak perlu.


Julian mengangguk, "Seperti mereka menyembah Raja Iblis sialan itu dan menganggap bahwa dia adalah dewa mereka."


"Apa? Lalu bukankah mereka ini orang-orang yang sesat?" ucap Nimi.


"Aku tidak menyangka bahwa mereka menyembah Raja Iblis Boldax secara terang-terangan di sini," ucap Mine.


"Kita semua terkejut dengan itu, aku juga sudah mengetahui ada energi gelap yang samar-samar dari dalam desa, ah karena tidak tahu nama desanya, mari kita sebut saja desa gelap," ucap Julian.


Claire menyentuh dagunya dan berkata, "Kalau Master bisa merasakan ada energi gelap dari sana, berarti bisa dipastikan kalau mereka menyembah Raja Iblis Boldax."


"Apakah kita perlu membunuh mereka semua?" Mine menyarankan sesuatu yang sedikit gila.


"Aku setuju dengan Mine!" Nimi malah mendukung saran Mine.


Julian menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak, kita tidak bisa bertindak sembrono. Meskipun mereka orang sesat, tapi kita tidak bisa membunuh mereka secara membabi buta."


"Jika pihak kerajaan tahu mengenai ini, bisa jadi kita akan diberi pertanggungjawaban atas perbuatan kita meskipun jika dipikir secara logika perbuatan kita tidaklah salah."


"Tapi yah, semua hal pasti memiliki peraturannya sendiri bukan? Tindakan kita tidak salah secara moral namun salah secara hukum."


Nimi dan Mine segera menyadari hal itu, mereka mengangguk dan meminta maaf karena menyarankan sesuatu yang beresiko.


"Tidak apa-apa. Lalu selanjutnya, apakah kita akan pergi, atau ada yang memiliki saran?" tanya Julian.


Mereka terdiam sejenak, karena memang tidak ada yang bisa dilakukan mengenai desa gelap itu. Mereka ingin melaporkannya tapi mereka tidak memiliki cara.


Bahkan mereka tidak memiliki alat seperti benda sihir yang dimiliki oleh Damian untuk merekam peristiwa atau adegan yang bisa digunakan untuk merekam bukti.


"!!" Julian keluar dari kereta kuda dan melihat ke suatu arah.


"Ada apa, Master?" Claire merasa ada sesuatu yang serius.


"Aku merasakan ada beberapa orang kuat yang mendekati kita, tidak, mendekati desa itu," ucap Julian.


Karena panca inderanya sudah ditajamkan, ia bisa merasakan sesuatu yang aneh dari jarak yang sangat jauh dari tempat ia berdiri.


Dan barusan ia merasakan ada beberapa orang yang mengeluarkan mana milik mereka dan Julian bisa merasakan kalau mereka itu kuat.


Mereka berempat menunggu sebentar sampai terlihat ada lima orang yang muncul dan masing-masing dari mereka menunggangi kuda.


"!!" Julian melebarkan matanya.


"Kalian mungkin tidak akan percaya, tapi lima orang di sana adalah pahlawan," ucap Julian.

__ADS_1


"Pahlawan!?" Claire dan kedua demi-human berteriak karena terkejut.


__ADS_2