Isekai Dinosaur

Isekai Dinosaur
Bertemu dengan Marie dan Kekacauan Gerbang Iblis


__ADS_3

"Jadi kau pria yang bernama Julian?" tanya Marie sambil melihat pria tampan di depannya.


Sebelumnya, Karina dengan cepat langsung menjelaskan mengapa Julian ada di kamarnya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman apalagi Marie adalah ibu Karina dan menginginkan kalau putrinya menikah.


Meskipun pada awalnya Marie tidak percaya dengan kata-kata Karina, tapi Julian juga membantu Karina menjelaskan yang membuat Marie akhirnya percaya.


Sekarang mereka bertiga sedang duduk, Julian dan Karina duduk bersebelahan sedangkan Maria duduk di seberang mereka sambil melihat Julian.


"Ya, Nyonya," angguk Julian sambil tersenyum sopan.


Marie mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata, "Bagus-bagus, kau persis seperti yang dikatakan oleh Karina."


"Ngomong-ngomong, kapan kau akan melamar Karina? Dia sudah semakin tua dan aku takut kalau tidak ada pria yang mencintainya," tambahnya sambil menghembuskan napas panjang.


Karina yang mendengar ucapan Marie langsung memerah dan berteriak, "Ibu! Apa yang Ibu katakan!?"


Marie menoleh ke arah Karina, "Apa salahnya? Bukankah kau selalu bercerita mengenai Julian?"


"Ta-tapi bukan berarti kami akan menikah!" teriak Karina dengan sedikit terbata-bata karena ia gugup sekaligus malu.


Maria memutar matanya dan mengabaikan Karina, "Bagaimana? Apa pendapatmu tentang Karina? Jangan berbohong, katakan saja yang sebenarnya."


Julian yang ditanyai oleh Marie tidak tahu harus berbuat apa karena ia seperti seorang pria yang datang ke rumah wanita untuk melamarnya.


Julian menyentuh dagunya, "Um, yah, Karin adalah wanita yang cantik, dia juga berbeda dengan wanita yang lain karena sangat jarang bagi wanita untuk tertarik dengan kekuatan dan sihir."


"Karin juga bukan wanita yang lemah yang hanya bisa mengandalkan statusnya atau status suaminya. Ia adalah wanita kuat yang bisa melindungi diri sendiri."


"Lalu yang paling aku sukai adalah dia sama seperti diriku ini yang menyukai kebebasan dan sangat tidak menyukai sesuatu yang mengekang."


Marie dan Karina mendengarkan ucapan Julian dengan rasa ingin tahu, terutama Karina yang sangat malu karena Julian memuji-muji dirinya dihadapan ibunya sendiri.


Marie menghela napas lega dan berkata, "Syukurlah, aku kira tidak akan ada pria yang mencintai Karina karena dia memang berbeda dengan wanita lain."


Marie sedikit terkejut karena Julian memuji Karina tanpa ragu-ragu dan ia bisa tahu kalau Julian mengatakan sesuai dengan pikirannya, bukan ucapan omong kosong hanya untuk sopan santun.


Ia juga bisa melihat kalau Julian ada pria yang tidak ingin dikekang, tapi bukan alam artian yang buruk. Julian hanya menyukai kebebasan di mana ia bisa bergerak dengan bebas sesuai dengan pikirannya.


"Bagus, aku suka dengan jawabanmu. Kalau begitu aku pergi dulu, aku tidak ingin mengganggu para anak muda yang saling mencintai, fufufu." Marie berdiri dan meninggalkan kamar Karina.


"Ngomong-ngomong, jangan lupa untuk menggunakan pengaman," ucapnya sebelum menutup pintu yang membuat wajah Karina memerah dan Julian yang terdiam.


"Ibu!!" teriak Karina dengan wajah yang merah karena sangat malu karena ia paham dengan ucapan ibunya.

__ADS_1


Setelah terdiam sebentar dan merasa suasana sudah lebih baik, Julian mulai berbicara dengan Karina. Mereka berdua berbincang-bincang mengenai banyak hal sambil bercanda ria.


Namun, sepertinya pertemuan mereka terganggu. Karena saat ini, bola kristal yang ada di atas meja bersinar dan terdengar suara berat dari bola kristal tersebut.


"Karina, datanglah ke Hutan Crosa di bagian barat. Ada kekacauan yang terjadi di sini. Bawa orang-orangmu juga."


Julian berpikir kalau bola kristal ini adalah benda sihir buatan yang digunakan untuk berkomunikasi meskipun ia tidak tahu apakah hanya bisa berkomunikasi dengan suara atau bisa menampilkan wajah.


"Itu suara ayahku, Hadden Largus. Dilihat dari nada bicaranya, sepertinya ada kekacauan yang besar di Hutan Crosa bagian barat," ucap Karina.


"Hutan Crosa ya, sepertinya aku memang melihat ada hutan rimbun di dekat kota saat aku datang," ucap Julian sambil menyentuh dagunya.


"Apakah kau ingin ikut? Kekacauan yang dimaksud oleh ayahku pasti sebuah serangan entah itu monster atau manusia," ajak Karina.


Julian berpikir sebentar lalu menjawab, "Baiklah, aku ikut. Aku juga tidak memiliki hal lain untuk dikerjakan."


Karina mengangguk dan berkata, "Bagus, ayo segera ke sana. Aku akan memanggil orang-orangku terlebih dahulu."


Julian mengikuti Karina menuju area tempat berlatih para prajurit milik Duke Largus. Kemudian Karina mengatakan kepada orang-orang untuk segera pergi menuju Hutan Crosa bagian barat.


Mereka segera menghentikan latihan mereka dan segera memakai perlengkapan seperti baju zirah, pedang, tombak, busur, dan masih banyak lagi.


"Karin, kau pergi denganku saja agar lebih cepat," ucap Julian yang menawarkan diri.


Julian mengangguk kemudian ia menumbuhkan sepasang sayap di punggungnya. Ia tidak bertransformasi menjadi dinosaurus karena warga kota akan panik melihat monster aneh yang terbang di udara.


Sebelum pergi, Karina menyuruh orang-orang untuk segera pergi ke Hutan Crosa bagian barat sedangkan dirinya akan pergi terlebih dahulu.


Julian langsung memeluk pinggang Karina dan terbang menuju Hutan Crosa bagian barat sesuai dengan arahan dari Karina karena Julian tidak tahu di mana lokasi akuratnya.


Kemudian mereka melihat ada banyak sekali orang di depan mereka. Julian segera mendarat dan melepaskan pelukannya.


"Ayah!" teriak Karina yang menghampiri seorang pria paruh baya dengan rambut berwarna hitam dan kumis tipis.


Pria paruh baya tersebut memiliki badan yang kekar dan ia sedang mengenakan baju zirah dengan jubah di belakangnya ditambah dengan pedang besar yang ia tancapkan di tanah.


"Karina? Kau kemari sangat cepat," ucap Hadden dengan nada terkejut karena ia baru menghubungi Karina beberapa menit yang lalu.


"Aku bersama dengan Julian. Ayah sudah tahu siapa Julian bukan?" Karina menarik lengan Julian dan memperkenalkannya kepada Hadden.


Hadden mengangkat alisnya dan ingin mengajukan banyak pertanyaan. Namun ia tahu kalau situasi saat ini tidak cocok, jadi ia hanya bisa menahannya.


"Julian bukan? Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan, namun untuk sekarang, kita harus fokus kepada sesuatu di depan sana." Hadden menunjuk ke arah dalam hutan.

__ADS_1


Julian mengangguk paham dan mengikuti arah yang ditunjuk oleh Hadden. Ia melihat kalau ada sesuatu yang mirip dengan gerbang teleportasi bedanya gerbang ini berwarna hitam.


"Apa itu? Aku merasakan sesuatu yang buruk dari saja," ucap Julian sambil mengerutkan keningnya.


"Gerbang Iblis," jawab Hadden yang kemudian ia menjelaskannya.


Gerbang Iblis adalah sebuah gerbang yang konsepnya memang sama seperti gerbang teleportasi yang digunakan untuk memindahkan sesuatu atau makhluk hidup.


Namun, Gerbang Iblis adalah sebuah gerbang yang menghubungkan satu tempat dengan tempat di mana iblis tinggal.


Itu artinya, akan ada banyak sekali iblis yang keluar dari Gerbang Iblis karena Gerbang Iblis adalah gerbang yang dibuat oleh iblis untuk menyerang suatu wilayah secara tiba-tiba.


Namun tentu saja Kerajaan Cruya memiliki sebuah cara untuk mendeteksi Gerbang Iblis. Oleh karena itu sudah ada banyak prajurit di sini sebelum pada iblis keluar dari Gerbang Iblis.


"Jadi begitu. Apakah diperbolehkan untuk membunuh semua iblis? Atau harus menyisakan beberapa untuk diinterogasi?" tanya Julian yang paham dengan penjelasan Hadden mengenai Gerbang Iblis.


Hadden menjawab tanpa ragu-ragu, "Bunuh semuanya. Tidak akan ada gunanya menyisakan beberapa karena mereka akan langsung bunuh diri sebelum kita bertanya."


Julian mengangguk dan mengajukan pertanyaan lain, "Baik. Jadi, bolehkah aku mengamuk di sini? Tubuhku sedikit kaku karena aku habis sekarat."


"Tentu saja boleh. Tapi jangan menghancurkan banyak tempat," angguk Hadden yang mengizinkan Julian untuk mengamuk.


Ada alasan lain mengapa Hadden mengizinkan Julian, itu karena ia juga penasaran dengan kekuatan Julian yang mampu membuat putrinya terpesona.


"Tunggu sebentar!? Kau sekarat!? Mengapa!?" Karina menangkap kata-kata yang membuatnya khawatir.


Julian menepuk dahinya dan berkata, "Ah, aku lupa memberitahumu. Tapi aku akan memberitahu nanti, kita perlu melakukan sesuatu untuk Gerbang Iblis itu."


Karina mengangguk karena tahu Gerbang Iblis akan segera diaktifkan, "Baiklah, tapi kau harus janji untuk memberitahu segalanya."


"Tentu saja," angguk Julian sambil tersenyum.


Kemudian setelah beberapa menit, Gerbang Iblis mengeluarkan fluktuasi udara dan mengeluarkan asap tebal berwarna hitam yang menghalangi pandangan.


Lalu, terdengar suara aneh dari Gerbang Iblis dan terdengar juga suara langkah kaki yang berantakan. Ternyata suara tersebut adalah karena para iblis sudah keluar dari Gerbang Iblis.


"Semuanya bersiap untuk bertempur!" teriak Hadden sambil menarik pedang besarnya.


Karina juga sudah mempersiapkan sihirnya dan para prajurit sekitar juga sudah bersiaga dengan perisai dan senjata mereka.


Untuk mengalahkan iblis tidak sesulit mengalahkan Undead. Jika Undead hanya bisa dikalahkan dengan sihir api atau cahaya, maka iblis bisa dikalahkan dengan apapun bahkan tanpa sihir juga bisa.


Julian menarik napas dalam-dalam dan mulai menggunakan kekuatannya. Ia bertransformasi menjadi Giganotosaurus karena dinosaurus ini memiliki output sedangan yang sangat kuat.

__ADS_1


"Roar!!!" Julian meraung keras sebagai tanda dimulainya pertempuran.


__ADS_2