
Pagi harinya, setelah sarapan bersama, mereka semua melanjutkan perjalanan karena sebentar lagi mereka akan keluar dari Wilayah Coramon.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan senjata baru kalian yang dibuat dari Sea Serpent?" Julian bertanya kepada Claire dan kedua demi-human.
"Staff sihir milikku sungguh nyaman dipakai. Dengan desain yang sederhana dan gagangnya yang pendek membuatku bisa memegangnya dengan satu tangan."
"Lalu untuk batu sihirnya juga merupakan batu sihir cahaya dan api yang bisa membuatku lebih mudah menggunakannya." Claire berkata dengan nada gembira.
"Aku! Pisau ku sungguh tajam! Aku juga lebih nyaman saat memegangnya karena bahan pegangannya yang lembut namun juga keras." Nimi mengeluarkan pisau miliknya dan memegang-megang nya.
"Dengan pisau baru ini, kami memiliki peluang yang lebih besar saat melawan musuh yang kuat!" Mine juga menambahkan.
"Hahaha, bagus sekali. Aku senang kalau kalian menyukai senjata barunya." Julian tertawa.
Mereka berempat berbincang-bincang dengan riang. Claire juga mengajari Nimi dan Mine cara membaca yang baik dan benar.
Nimi dan Mine hanya bisa membaca kata-kata yang sederhana saja karena katanya mereka berasal dari desa terpencil dan tidak diajari pengetahuan tambahan.
Mereka berdua juga hanya bisa menulis beberapa kalimat, bahkan menulis nama mereka sendiri juga tidak bisa karena kurangnya pengetahuan.
Oleh karena itu, saat di Kota Coramon, Julian membeli banyak alat untuk belajar agar Nimi dan Mine bisa menggunakannya.
Saat ini, Claire mengajari mereka berdua dengan menebak gambar binatang yang diukir di kayu, kemudian meminta mereka untuk menuliskan nama binatangnya.
Cara ini biasa digunakan untuk mengajari anak kecil, tetapi mau bagaimana lagi, pengetahuan Nimi dan Mine memang hanya sebatas itu.
"Claire! Bagaimana dengan ini?" Nimi menyerahkan buku miliknya yang digunakan untuk belajar menulis.
"Sebentar, hm, bagus, pengejaannya sudah benar, hanya kurang rapi saja." Claire memeriksa lalu ia tersenyum.
"Aku juga!" Mine menyerahkan buku miliknya kepada Claire.
"Bagus, kau juga sama, Mine." Claire mengangguk dan tersenyum.
"Hore!" Nimi dan Mine melakukan tos dan berteriak dengan gembira.
"Baguslah mereka mau belajar, kadang ada beberapa orang yang tidak mau belajar meskipun tahu kalau diri mereka memiliki kurang," batin Julian.
Julian tentu saja senang dengan perkembangan Nimi dan Mine yang sudah bisa menulis ejaan nama-nama binatang dengan tepat.
...----------------...
Setelah beberapa saat, tiba-tiba kereta kuda didepan berhenti. Julian yang melihat hal itu juga menghentikan kereta kudanya dan turun untuk melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
Julian berjalan ke depan namun tidak melihat adanya masalah. Lalu, ia melihat pintu kereta kuda milik Karina terbuka dan Karina turun dari sana.
"Julian, sudah saatnya kita berpisah." Karina menghampiri Julian.
"Ah, aku lupa. Pantas saja aku tidak mengerti mengapa kereta depan berhenti meskipun tidak ada yang terjadi." Julian menepuk dahinya.
"Fufufu, kau ini ya." Karina terkekeh.
"Lalu, semoga perjalananmu aman dan lancar. Dan semoga selamat sampai tujuan, Karin." Julian tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Terima kasih Julian. Kau juga, semoga kau selamat sampai ke tujuan." Karina tersenyum namun ia tidak mengulurkan tangannya.
Karina maju ke depan dan menepis tangan Julian. Saat Julian bingung apa yang sedang Karina lakukan, tiba-tiba dirinya dipeluk.
"Aku akan merindukanmu." Karina membenamkan wajahnya di dada Julian.
"Ya, aku juga akan merindukanmu." Julian tersenyum dan memeluk Karina.
Setelah beberapa saat, mereka melepaskan pelukan dan setelah saling menganggukkan kepala, mereka kembali ke kereta kuda masing-masing.
Kapten pasukan yang melihat Karina sudah masuk ke dalam kereta kuda, ia langsung melanjutkan perjalanan kembali.
Julian juga menjalankan kereta kudanya, lalu saat bertemu dua jalan yang berbeda, rombongan kereta kuda Karina dan Pasukan Kota Coramon pergi ke jalan sebelah kiri sedangkan kereta kuda Julian pergi ke jalan sebelah kanan.
"Sampai jumpa, Nona Karina!" Claire dan kedua demi-human melambai-lambaikan tangan mereka juga.
Lalu, kedua pihak pun berpisah di jalan bercabang tersebut.
...----------------...
"Master, kemana tujuan kita selanjutnya?" Claire bertanya kepada Julian yang sedang mengemudi.
"Kota padang pasir di Kerajaan Cruya, Kota Cronna," jawab Julian.
Julian sudah menetapkan tujuan mereka selanjutnya yaitu Kota Cronna, sebuah tempat dimana kebalikan dari Kota Coramon.
Jika Kota Coramon adalah kota dengan air yang melimpah, maka Kota Cronna adalah kebalikannya dimana air sangat terbatas.
Alasan Julian pergi ke Kota Cronna adalah karena ia belum pernah ke padang pasir saat berada di bumi dan ingin pergi ke sana.
Kebetulan sekali kalau jalan menuju Kota Cronna adalah jalan yang sama jika ingin pergi menuju Kota Crosa, Ibukota Kerajaan Cruya.
"Padang pasir? Kami belum pernah pergi ke sana!" ucap Nimi.
__ADS_1
"Benar, kami selalu hidup di hutan." Mine mengangguk.
"Sama denganku, kalau begitu, kita berempat akan melihat seberapa indah Kota Cronna itu." Julian tersenyum.
"Baik, Master!" Claire dan kedua demi-human berteriak dengan gembira.
Selama beberapa jam, mereka melewati jalan yang kanan kirinya adalah pepohonan yang tinggi dan juga rimbun yang membuat hanya sedikit cahaya yang masuk.
Lalu tiba-tiba saja Julian menghentikan kereta kuda secara paksa yang membuat Claire dan kedua demi-human hampir terjatuh.
"Ada apa, Master?" Claire langsung bertanya kepada Julian.
"Diam sebentar." Julian meminta mereka bertiga untuk diam dan ia menyipitkan matanya ke arah semak-semak di samping kanannya.
Baru saja Julian mendengar ranting kayu yang patah di semak-semak sana namun ia tidak mendeteksi energi panas dengan mata dinosaurus nya.
"Keluarlah." Julian berkata dengan nada dingin.
Namun, semak-semak tersebut sama sekali tidak bersuara lalu suasana menjadi sunyi.
"Apakah aku salah?" batin Julian.
Saat Julian akan melanjutkan perjalanan, tiba-tiba saja dirinya melihat ada sesuatu yang bergerak dari semak-semak sana.
"Sudah kuduga ada sesuatu disana!" Julian langsung melompat ke arah semak-semak tersebut.
Claire dan kedua demi-human juga mengeluarkan senjata mereka karena mereka bisa melihat keseriusan di wajah Julian.
Julian yang sudah masuk ke dalam semak-semak melihat ke arah kanan dan kiri karena ia masih tidak bisa mendeteksi energi panas.
Lalu ia mendengar suara dari kirinya, ia langsung berlari ke sana namun ia tidak menemukan apapun. Tapi, ia melihat ada ekor yang bergerak-gerak di antara semak-semak.
"Ekor? Pantas saja aku tidak bisa mendeteksi panas. Jika itu adalah ekor ular atau kadal, maka bisa dimengerti karena dua binatang tersebut berdarah dingin.
Julian menggeleng-gelengkan kepalanya karena terlalu banyak berpikir, tapi saat ia akan berjalan kembali menuju kereta kudanya, ia melihat ada jejak kaki di tanah di bawahnya.
"Jejak kaki ini adalah jejak kaki milik manusia! Lalu mengapa aku tidak bisa mendeteksi energi panas dari manusia?"
"Tunggu sebentar, ekor! Jika memiliki kaki seperti manusia namun memiliki ekor, mereka pasti demi-human kadal atau ular!" Julian melebarkan matanya.
Ia akhirnya mengerti mengapa ia tidak bisa mendeteksi energi panas, mengapa ekor yang ia lihat sedikit besar, dan mengapa jejak kaki tersebut adalah jejak kaki manusia.
Saat Julian sudah menyadarinya, tiba-tiba semak-semak di samping kiri dan kanan Julian bergerak, kemudian muncul dua sosok manusia sambil memegang senjata berupa tombak.
__ADS_1
"Akhirnya kalian keluar!" Julian menyeringai.