
Raff bertanya kepada pria di depannya, "Lex, bagaimana? Apakah kau sudah mengetahui mengapa dia berubah menjadi Undead?"
Orang yang bernama Lex menjawab, "Masih belum, Count. Namun, kami sudah mengetahui kalau perubahannya dimulai dari kulit."
Raff menyentuh dagunya dan berkata, "Kulit ya, itu berarti dalang dibalik ini menyentuh orang-orang satu per satu dan mengubahnya menjadi Undead."
"Benar, kemungkinan besar yang melakukan hal ini bukanlah Lich. Karena energi gelap yang dimiliki oleh Lich sangat besar dan langsung bisa dirasakan," angguk Lex.
Selain mereka berdua, ada beberapa orang yang berpakaian putih di dekat mereka yang sedang memeriksa pria yang sedang berbaring di ranjang.
Pria yang berbaring itu tidak terlihat seperti manusia lagi karena kulitnya berwarna cokelat gelap seperti hangus terbakar.
Lalu bola matanya yang berwarna putih tanpa pupil, rambut di kepalanya yang rontok, giginya yang tersisa sedikit namun tajam, serta kuku di tangan dan kakinya yang berubah menjadi tajam.
Pria yang berbaring itu sudah bukan manusia lagi, ia sudah berubah menjadi Undead karena sesuatu yang masih belum diketahui.
"Hm, aku kira sumber energi gelapnya berupa orang yang jahat, ternyata dari Undead yang sudah ditangkap dan sedang diteliti," batin Julian setelah mendengar pembicaraan mereka.
Julian mengira kalau ada penyusup di dalam barak ini yang memiliki energi gelap untuk membuat Undead yang akan menyerang kota.
Atau berasal dari Lich yang diam-diam sudah masuk ke dalam barak agar bisa berbuat kekacauan yang bisa menghasilkan banyak korban.
"Baik, aku bersama dengan yang lain akan terus menyelidiki hal- Siapa di sana!" Lex menoleh ke tempat Julian berada.
Namun karena pencahayaan yang redup ditambah Julian mengenakan jubah dan topeng berwarna hitam gelap membuat dirinya tidak terlihat.
Lex mengerutkan keningnya, ia mengeluarkan pedang dari sarungnya dan berjalan menuju pintu ruangan tempat Julian berada.
Raff yang melihat hal itu sedikit terkejut namun ia tidak menghentikan tindakan Lex karena ia tahu kalau Lex memiliki indera yang sangat tajam.
"Hm, tidak kusangka dia bisa merasakan hawa keberadaanku," batin Julian.
Namun ia tidak panik, justru ia memikirkan sebuah ide yang menarik. Yaitu dengan mengungkapkan niatnya untuk bergabung dengan penyelidikan.
__ADS_1
Julian berpikir tidak ada gunanya untuk menyelidiki masalah ini sendirian. Justru dirinya akan dianggap sebagai musuh jika ketahuan.
Oleh karena itu, ia berpikir untuk bergabung dengan Raff dan yang lain. Namun untuk berjaga-jaga, ia tidak membuka topeng dan jubahnya.
Julian membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. Lex dan Raff langsung menjadi waspada bahkan Raff juga mengeluarkan dua pedangnya saat ini.
"Siapa kau!?" Raff berteriak sambil mengarahkan kedua pedangnya ke arah Julian.
Lex juga sudah bersiap untuk menyerang jika Julian melakukan gerakan yang mencurigakan.
Namun, diluar ekspektasi mereka. Julian mengangkat kedua tangannya ke atas memperlihatkan kalau dirinya tidak berniat untuk bertarung.
"Aku juga ingin bergabung dengan penyelidikan, apakah kalian mempersilakanku untuk bergabung?" ucap Julian dengan nada tenang.
"Hah!? Apakah kau mengira kami ini anak kecil? Bagaimana mungkin kami memperbolehkanmu bergabung sementara kami tidak mengetahui identitasmu!" teriak Lex.
"Tentu saja tidak bisa. Lalu, tidak ada pilihan lain ya," batin Julian.
Ia menurunkan tangan kanannya dan mengambil kartu identitas dari dalam jubahnya. Kemudian ia melemparkannya ke arah Raff.
"Emas!?" Raff berteriak dengan nada tidak percaya.
"Ada apa, Count!?" Lex menghampiri Raff dan berteriak sama seperti Raff setelah melihat kartu identitas milik Julian yang bercorak emas.
"Bagaimana? Apakah sekarang aku dipersilakan untuk bergabung dengan penyelidikan?" tanya Julian yang sudah melepas topengnya.
"Tuan Julian, apakah Tuan adalah orang yang diutus oleh Raja Rolant?" Raff bertanya dengan nada ragu-ragu setelah mengembalikan kartu identitas Julian.
Julian mengambilnya kembali dan menjawab, "Bukan, aku mengunjungi kota ini kemarin dan pedagang yang aku temui mengatakan kalau Kota Cronna sedang dalam krisis."
Raff mengerutkan keningnya dan bertanya, "Lalu bisakah aku tahu mengapa Tuan memutuskan untuk membantu kami?"
Julian mengangkat bahunya dan menjawab, "Tidak ada alasan khusus. Aku ini sedang mengunjungi banyak tempat bersama dengan rekan-rekanku."
Lalu ia menambahkan, "Jika aku hanya berdiam diri sementara ada sesuatu yang menarik di sini, bukankah sia-sia untuk mengunjungi Kota Cronna?"
Setelah mendengarkan jawaban Julian, Raff tidak langsung memutuskan karena masalah ini terkait dengan keselamatan Kota Cronna.
__ADS_1
Kemudian ia dan Lex menjauh sedikit untuk berdiskusi. Mereka berbisik selama beberapa menit, meskipun Julian bisa mendengar apa yang mereka bisikkan.
"Pertanyaan terakhir Tuan. Imbalan apa yang Tuan inginkan setelah masalah ini selesai?" tanya Raff dengan ekspresi wajah yang serius.
Julian menyentuh dagunya dan berpikir. Ia sebenarnya tidak membutuhkan apa pun, tapi mereka pasti tidak akan menyetujuinya.
Karena di dunia ini, orang tidak akan membantu orang asing tanpa imbalan. Mereka akan berpikir orang tersebut merencanakan sesuatu jika tidak meminta imbalan.
Setelah berpikir sebentar, Julian teringat kalau ia belum memberikan sesuatu untuk Nimi dan Mine selain senjata sedangkan Claire sudah diberikan tumbuhan aneh yang meningkatkan sihir penyembuhannya.
Julian mengangkat dua jari dan berkata, "Dua hal. Pertama, sihir yang bisa meningkatkan kekuatan fisik. Kedua, sihir yang apa pun untuk seorang pembunuh."
Sihir peningkatan kekuatan fisik tentu saja untuk Mine sedangkan untuk Nimi, Julian tidak tahu harus memberikan apa. Oleh karena itu ia hanya mengatakan sihir untuk seorang pembunuh.
"Baik, kami bisa menyediakan dua hal itu. Lalu, selamat bergabung, Tuan Julian Roley." Raff mengulurkan tangan kanannya.
"Terima kasih, Count Raff." Julian mengangguk dan berjabat tangan dengan Raff.
Setelah berbicara sebentar, mereka memutuskan untuk bertemu besok siang karena saat ini waktunya tidak cocok untuk berbicara serius.
Raff mengatakan kepada Julian untuk datang ke kantor kota dan katakan kepada asistennya. Dia akan membawa Julian menuju kantornya tanpa menimbulkan masalah.
Julian mengangguk dan menyetujui hal itu, kemudian, ia pergi dari sana dengan sangat cepat sampai Raff dan Lex tidak bisa mengikuti kecepatannya.
...----------------...
Julian berada di atas tembok kota dan memandangi langit malam yang dihiasi oleh bulan dan bintang-bintang yang bersinar indah.
"Langit malam yang indah yang dihiasi oleh bulan dan bintang. Di bumi, aku tidak bisa melihat mereka arena polusi udara di kota."
"Untuk melihat bulan dan bintang, orang harus pergi ke pantai, laut, gunung atau dataran tinggi, dan desa yang tidak ada polusi."
"Tapi bagaimana bisa aku, yang seorang pekerja perusahaan hitam bisa mendapatkan kesempatan untuk pergi ke berbagai tempat?"
"Beruntung sekali aku dipindahkan ke Dunia Fantasi Unionia ini. Sekali lagi aku berterima kasih kepadamu, Kakek Dewa Tertinggi."
Kemudian, ia segera kembali ke penginapan melalui jendela yang sama seperti sebelumnya. Setelah membersihkan diri, ia kemudian tertidur dengan lelap.
__ADS_1