
Orion menyipitkan matanya dan berkata, "Salah satu dari tiga jenderal iblis, Orobas Ohrne."
"Kukuku, sepertinya pahlawan pedang mengenali diriku?" Orobas tertawa kecil.
"Mengapa kau disini?" Orion mengabaikan ucapan Orobas.
"Mengapa? Sudah jelas bukan? Kalian menghancurkan salah satu tempat bawahanku berada. Lalu, aku juga ingin merasakan bagaimana bertarung melawan pahlawan," jawab Orobas dengan nada penuh semangat.
Orobas nampaknya tidak terlalu peduli kalau apa yang ia hadapi saat ini adalah pahlawan dan jumlahnya juga ada lima. Ia bersikap sangat santai dan malah melakukan candaan.
"Meskipun aku bersemangat karena akan bertarung melawan pahlawan, tetapi saat ini aku sedang marah karena kalian membunuh para bawahanku," ucap Orobas dengan nada muram.
"Bukan salah kami, karena mereka adalah orang-orang yang sesat," ucap Orion.
"Sesat? Mengapa kau bisa mengatakan kalau para bawahanku ini sesat?" tanya Orobas dengan dingin.
Orion mengerutkan keningnya dan berkata, "Tentu saja karena mereka menyembah Raja Iblis Boldax."
Orobas tertawa, "Hahaha! Maksudnya karena mereka menyembah Raja Iblis, mereka menjadi orang yang sesat katamu?"
"Bukankah kalian para manusia menyembah banyak sekali dewa dan dewi? Mengapa ada banyak dewa dan dewi? Apakah mereka tidak bisa memimpin dunia?"
"Dewa dan dewi juga sudah membunuh banyak sekali iblis, namun kalian menganggap kalau tindakan mereka adalah benar!?"
"Sedangkan tindakan kami yang membunuh para manusia adalah salah!? Apakah kau mau memaksakan ideologi mu kepadaku!? Hah!?"
Orion dan keempat pahlawan yang lain tidak bisa berkata apa-apa karena akan yang Orobas katakan adalah kenyataan.
Menurut legenda, iblis bukanlah makhluk yang jahat, para dewa dan dewi meminta iblis untuk menyembah mereka secara paksa dan ditolak oleh iblis.
Sebenarnya alasan mengapa iblis menolak adalah karena cara yang digunakan oleh dewa dan dewi adalah cara yang memaksa makhluk-makhluk untuk menyembah mereka.
Namun dewa dan dewi berpikir kalau iblis menolak adalah karena mereka mencoba untuk memberontak dan menentang para dewa dan dewi.
Lalu terjadilah peperangan antara dewa dan dewi dengan iblis yang berakhir kekalahan iblis karena mereka tidak memiliki pendukung.
...----------------...
"Inilah mengapa aku menyukai penjahat. Mereka selalu memiliki pandangan yang nyata akan kehidupan, bersikap realistis, dan tidak naif," batin Julian setelah mendengar ucapan Orobas.
Julian dan yang lain tidak bergabung dalam pertempuran karena ingin melihat bagaimana kelima pahlawan akan menghadapi situasi itu.
...----------------...
"...Kurasa kita tidak perlu berbicara lagi," ucap Orion sambil mengarahkan pedangnya.
"Begitulah, aku akan membunuh kalian di sini!" Orobas mengeluarkan haus darahnya yang membuat kelima pahlawan merinding.
"Sial, mengapa kami mengalami situasi yang sama dua kali!" pikir Orion yang teringat haus darah milik Julian.
Orion mengeluarkan lebih banyak mana agar tidak terpengaruh oleh haus darah Orobas. Sanaa juga menggunakan sihirnya untuk menangkal haus darah Orobas kepada semua orang termasuk dirinya.
__ADS_1
Orion menerjang ke depan sambil mengayunkan pedangnya berkali-kali. Darion mengikuti di belakang Orion bersiap untuk menemukan celah.
Aron bergerak dengan cepat dan menyerang secara diam-diam untuk mengganggu konsentrasi Orobas yang fokus pada Orion.
Olivia menyiapkan sihirnya dan menunggu waktu yang tepat untuk melancarkannya. Lalu Sanaa juga bersiap untuk melakukan buff.
"Mari kita lihat, seberapa kuat kalian, para pahlawan!" Orobas mulai melawan mereka.
Ia menumbuhkan kuku yang sangat tajam di sepuluh jari di kedua tangannya. Kemudian ia mulai beradu dengan Orion dan Darion.
Orobas mengangkat tangan kanannya dan mengayunkannya ke arah Orion dan ditangkis oleh pedangnya dengan mudah.
Melihat Orobas ditahan oleh Orion, Darion segera mengayunkan kapak besarnya ke arah leher Orobas berniat untuk memenggal kepalanya.
Orobas menahan kapak Darion menggunakan tangan kirinya dengan mudah. Ia nampaknya tidak kesulitan untuk melawan dua pahlawan.
Kapaknya ditahan, Darion menggunakan perisainya untuk menyerang dengan cara menabrakkannya.
Namun Orobas memegang pedang Orion dan menariknya yang membuat tubuh Orion mendekat ke arah Orobas dan menjadi target tabrakan perisai Darion.
"Sial! Sudah terlambat!" pikir Darion.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Orion.
Orion tidak bisa menghindari tabrakan perisai dan Darion sendiri juga tidak bisa memperlambat pergerakannya karena sudah terlambat.
"Ugh!!" Orion terjatuh karena terkena tabrakan perisai.
Namun Orobas berbalik dan dengan mudahnya ia menangkis pisau Aron.
"Apakah kau bodoh? Kau menyerang secara diam-diam namun malah bersuara," ucap Orobas.
Aron tertegun setelah mendengar ucapan Orobas dan berpikir kalau dirinya memang ceroboh karena berteriak yang membuat serangannya gagal.
Orobas menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku sedikit kecewa denganmu, pergilah."
Orobas mencekram leher Aron dan melemparkannya ke sembarang arah. Aron terlempar dan terguling-guling di atas pasir.
"Ice Spear." Olivia melancarkan banyak tombak es yang sudah ia buat ke arah Orobas.
Orobas menghindar dengan gerakan yang minimal dan ia juga memukul tombak es yang datang sampai hancur jika dirasa tidak bisa menghindar.
"!!" Olivia melebarkan matanya karena tidak menyangka kalau mantra sihirnya bisa ditangani dengan sangat mudah.
Kelima pahlawan kemudian berkumpul kembali dan membuat rencana baru untuk mengalahkan Orobas sambil meningkatkan kewaspadaan mereka.
"...Aku sungguh tidak bisa berkata-kata. Mengapa kalian berlima berhenti menyerang dan malah berdiskusi? Seharusnya ada diantara kalian yang mengulur waktu." Orobas bahkan menepuk dahinya.
Orobas sampai berpikir apakah yang ia lawan saat ini adalah pahlawan dari dunia lain atau hanya sekelompok anak-anak bodoh.
"Yah, apapun itu. Bisakah kau bergabung dalam pertempuran?" Orobas melihat ke arah tempat Julian dan yang lain berada.
__ADS_1
...----------------...
"Dia menyadari kita," ucap Claire dengan tenang.
Julian mengangkat bahunya, "Yah, dia sudah sadar dari tadi, hanya saja dia tidak terlalu peduli."
"Mungkin karena dia terlalu bersemangat karena akan bertarung melawan pahlawan," ucap Nimi.
"Meskipun pada akhirnya pertarungannya cukup mengecewakan, haha," Mine terkekeh.
Claire menoleh dan berkata, "Apakah kita akan bergabung, Master?"
Nimi dan Mine juga menoleh ke arah Julian dan menatapnya dengan mata penuh harap karena mereka berdua ingin melawan salah satu dari tiga jenderal iblis.
"Mari kita lihat situasinya terlebih dahulu, tapi untuk sekarang ayo kita ke sana." Julian berdiri dan berlari ke sana diikuti oleh yang lain.
"Sepertinya kau cukup kecewa," ucap Julian kepada Orobas.
Orobas mengangkat alisnya, "Ho? Kau tidak takut kepadaku, manusia?"
Julian mengangkat bahunya, "Jujur saja, aku dan ketiga rekanku tidak bisa mengalahkanmu sekarang. Tapi, takut juga tidak ada gunanya bukan?"
"Hahaha! Kau lebih menarik dibandingkan dengan para pahlawan. Katakan, siapa namamu!" teriak Orobas yang bersemangat.
"Julian Roley," ucap Julian sambil tersenyum tipis.
"Julian! Nama yang bagus, ayo kita bertarung. Teman-temanmu juga boleh ikut, tapi pada pahlawan tidak! Kalian jangan mengganggu pertarungan kami!" Orobas memelototi para pahlawan.
"...Tentu." Julian menghilang dari tempatnya dan muncul di samping Orobas.
Julian menendang kaki kanan Orobas kemudian memukul tangan kanannya dalam jarak waktu hanya sepersekian detik saja.
"Cepat!" pikir Orobas yang sedikit terkejut.
Orobas menoleh namun ia melihat kalau Julian sudah tidak ada. Lalu tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang dingin di leher belakangnya.
Ia segera menjaga jarak sambil melihat kalau ternyata ada demi-human kucing yang menatapnya dengan tatapan tenang sambil memegang pisau ganda.
"Bagaimana bisa dia ada di belakangku dengan cepat?" pikir Orobas.
Tentu saja Nimi menggunakan sihirnya yang baru dengan memasuki bayangan Julian kemudian berpindah ke bayangan Orobas.
"Jangan berpikir yang tidak perlu," Julian muncul di depan Orobas dan akan memukul wajahnya.
Orobas langsung tersadar, ia menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya untuk menangkis pukulan Julian.
Namun ia heran karena Julian tidak melanjutkan serangannya sampai ia merasa sakit di bagian pinggang kirinya.
Ia menoleh dan melihat kalau demi-human anjing memukul pinggang kirinya dengan sangat keras. Lalu ada rasa sakit yang membakar di kepalanya.
Ternyata Claire menembak Orobas dengan kedua pistol mananya menggunakan peluru api yang bisa meledak ke arah Orobas.
__ADS_1
"Secara komprehensif, kalian berempat lebih lemah dibandingkan dengan kelima pahlawan. Namun kalian memiliki sesuatu yang istimewa! Sepertinya pertarungan kali ini akan menjadi menarik," Orobas menyeringai.