
"Kau, orang yang mengalahkan Orobas," ucap Alastor sambil menyipitkan matanya karena ia baru ingat dengan tampang orang yang mengalahkan Orobas.
"Ya, itu aku." Julian kemudian bertransformasi menjadi mode hibrida yang berbeda.
Tumbuh sayap di punggungnya, tumbuh ekor Ankylosaurus dari tulang punggungnya, kedua kakinya menjadi kaki Velociraptor, tangannya tidak berubah namun kukunya menjadi lebih tajam, punggungnya tumbuh duri dari Giganotosaurus, dan giginya juga lebih tajam.
Julian saat ini adalah gabungan dari banyak dinosaurus yang membuat dirinya bisa melakukan apapun mau itu terbang, menyerang, atau bertahan.
"Tuan Oleus, Aku akan menyerangnya dari dekat dan mencoba untuk mencari celah. Jangan pedulikan aku dan sedang saja Alastor selama kita bisa membuatnya terluka," ucap Julian.
"Ya, serahkan padaku," angguk Oleus.
"Fire Breath." Julian menghembuskan napas api yang sangat panas ke arah Alastor.
"Earth Wall." Alastor membuat sebuah dinding tanah yang sangat tebal dan kuat karena dirinya menggunakan energi iblis.
Energi iblis bisa meningkatkan sebuah sihir atau kekuatan fisik menjadi berkali-kali lipat lebih tinggi dan inilah yang membuat banyak manusia tergoda untuk bergabung dengan iblis.
Napas api Julian tidak bisa menembus dinding tanah Alastor, namun Julian sudah mengantisipasi hal ini. Ia langsung berlari menuju Alastor dan mencoba untuk menyerangnya.
"Tidak ada gu-" Alastor tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena tubuhnya merasa berat.
"Gravity Pressure." Oleus menggunakan sihir gravitasi yang membuat tubuh Alastor berat.
Oleus adalah orang yang bisa menggunakan semua elemen yang membuat dirinya bisa menggunakan berbagai macam mantra sihir, itulah mengapa dia bisa menjadi seorang ahli sihir nomor satu di Kerajaan Cruya.
Julian menyerang pinggang kiri Alastor menggunakan tanga kanannya. Namun saat kuku tajamnya akan menyentuh kulit Alastor, dirinya terhempas jauh.
"Arrow of the God of Darkness." Alastor membuat satu anak panah ukuran normal dan melancarkannya ke arah Julian.
Julian yang sudah bangkit tidak berani meremehkan anak panah yang datang karena ia bisa merasakan kalau dirinya akan sekarat atau bahkan mati jika terkena anak panah itu.
Ia langsung mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi namun ia tidak menyangka kalau anak panah itu akan mengejar dirinya tidak peduli ia terbang dengan cepat atau lambat.
Namun ternyata anak panah itu tidak mengejarnya secara otomatis tetapi karena dikendalikan oleh Alastor dari jarak jauh.
__ADS_1
Julian segera menoleh ke arah Oleus dan mengangguk karena Oleus juga menyadarinya. Ia terus terbang dengan cepat untuk mengulur waktu bagi Oleus.
"Gravity Bullet Shot." Oleus menciptakan banyak sekali bola dari gravitasi yang memiliki gaya tarikan yang berat. Kemudian ia melancarkannya ke arah Alastor.
"Turn Space." Alastor menggerakkan jari telunjuknya ke arah lain dan membuat bola gravitasi yang dilancarkan oleh Oleus berbelok.
"Ice Field." Julian berada di dekat Alastor dan membuat tanah di bawah menjadi beku yang membekukan setengah tubuh Alastor.
"Ice Thorns." Kemudian Julian membuat banyak sekali duri es yang sangat tajam yang akan menusuk Alastor.
"Cih, merepotkan sekali. Space Gate." Alastor membuat sebuah gerbang yang mirip dengan gerbang teleportasi yang membuat duri es Julian berpindah ke tempat lain.
Oleus dan Julian terus-menerus menyerang Alastor tapi dengan sihir ruangnya, Alastor mampu memindahkan semua serangan yang dilancarkan oleh mereka berdua yang membuat mereka berdua sedikit frustasi.
Oleus memang bisa menggunakan sihir ruang namun tidak semudah yang dilakukan oleh Alastor. Sepertinya, Alastor memang berbakat dalam sihir ruang atau dia sudah mempelajari konsep ruang.
"Tuan Oleus, apakah anda tahu apa itu luar angkasa?" tanya Julian yang sedang berada di dekat Oleus setelah menyingkirkan anak panah tadi.
"Luar angkasa? Maksudmu ruang diluar planet?" tanya Oleus.
"Ya, itu. Tarik sebuah benda luar angkasa menggunakan sihir gravitasi. Benda luar angkasa biasanya memiliki ukuran yang besar dan saat jatuh ke sini, benda tersebut akan jatuh dengan sangat cepat," ucap Julian.
"Bagus, aku akan mengulur waktu untuk anda." Julian terbang ke arah Alastor sambil menyerangnya untuk mengulur waktu.
...----------------...
Sementara itu di Kota Crosa.
Orang-orang yang berada di dalam istana sudah dievakuasi dan tidak ada korban jiwa. Pada warga juga sudah dievakuasi ke tempat yang aman oleh para prajurit atas perintah Rolant.
Lalu situasi di luar tembok kota saat ini sangatlah intens karena ada banyak sekali iblis yang menyerang kota sehingga membuat mereka sedikit kerepotan.
Bahkan Rolant juga harus turun tangan karena para iblis itu memiliki kerja sama yang bagus yang membuat para prajurit kesulitan untuk membunuh mereka.
Untuk para penyihir, setengah dari mereka sedang menuju ke lokasi pertarungan Oleus dan setengahnya lagi sedang membantu di tembok kota dengan melancarkan sihir area.
__ADS_1
Karena tidak ada gunanya menggunakan sihir penyerangan yang biasa karena jumlah iblis ada sangat banyak dan lebih efisien dengan menggunakan sihir area.
"Lightning Bomb!" Karina menembakkan banyak sekali bola petir yang bisa meledak ke arah para iblis di depannya.
Nimi dan Mine juga bekerja sama karena mereka tidak memiliki serangan jarak jauh. Apalagi Nimi yang tidak cocok dengan pertempuran saat ini karena dia adalah seorang pembunuh dan pembunuh memang tidak cocok di medan perang.
Untuk Claire, ia menggunakan kedua pistol mananya untuk menembaki para iblis menggunakan peluru iblis dan dia sudah membunuh banyak sekali iblis dengan itu.
...----------------...
Kembali ke lokasi pertarungan antara Oleus dan Julian melawan Alastor.
"Julian!!!" teriak Oleus yang menandakan kalau dia sudah menarik benda luar angkasa menggunakan sihir gravitasinya.
"Magma Howl." Julian menggerakkan tangannya kemudian muncul cahaya merah menyala dari dalam tanah dan cahaya itu adalah magma yang sangat panas.
Julian sudah tahu kelemahan Alastor, yaitu dia tidak bisa membuat sebuah gerbang ruang yang besar yang berarti dia tidak bisa memindahkan sebuah serangan area atau serangan dengan skala besar.
"Sialan!!!" teriak Alastor yang tahu kalau Julian sudah mengetahui kelemahannya.
"Fly!!." Alastor menggunakan elemen angin untuk membuat dirinya melayang dan terbang ke atas. Namun tiba-tiba ada bayangan besar yang menutupi dirinya beserta area sekitar.
Alastor mendongak ke atas dan ia langsung mengumpat dengan panik melihat ada sebuah meteor yang jatuh dari atas langit ke arah dirinya.
"Space Wall!!!" teriak Alastor sambil mengangkat tangannya ke atas dan membuat dinding ruang karena ia tahu kalau tidak bisa menghindari meteor itu.
Dia juga tidak bisa menggunakan teleportasi karena mantra sihir itu memakan waktu beberapa detik dan dia yakin kalau Oleus dan Julian akan mengganggunya.
Alastor benar-benar terpojok sekarang, di atasnya ada meteor yang sedang jatuh dengan kecepatan tinggi dan di bawahnya ada magma yang sangat panas.
Lalu, meteor itu jatuh dan mengenai dinding ruang Alastor. Alastor mencoba untuk menahannya selama mungkin dengan mengandalkan mana miliknya untuk mempertahankan dinding ruang agar tidak hancur.
Tapi, tentu saja dirinya tidak akan bisa terus-menerus mempertahankan dinding ruang menggunakan mana yang terbatas di dalam tubuhnya.
Dinding ruang mulai retak, kemudian itu pecah. Lalu, meteor itu jatuh menghantam Alastor dan tenggelam di magma cair yang sangat panas di bawah.
__ADS_1
Karena meteornya sempat terhenti karena ditahan dengan dinding ruang, ledakannya tidak begitu besar saat menyentuh tanah.
Tapi tetap saja, Oleus dan Julian berpikir kalau Alastor sudah mati karena serangan dari dua arah tidak memungkinkan tubuhnya bisa bertahan.