
Julian menumbuhkan sayap Jeholornis di punggungnya yang membuat kedua orang tersebut terkejut dan serangan mereka meleset.
Julian menarik kembali sayapnya kemudian ia memukul orang yang ada di kanannya dengan cepat sampai orang itu harus mundur beberapa langkah.
Kemudian ia memegang dan menarik tombak yang dipegang oleh orang disebelah kiri dan memukul perut orang itu.
"Berhenti jika kau tidak ingin temanmu mati." Julian mencengkram leher orang tadi dan mengancam orang satunya.
"...cih." Orang yang berada di depan Julian mendecakkan lidahnya dan membuang tombak yang ia pegang.
"Bagus." Julian mengangguk.
Claire dan kedua demi-human datang ke arah Julian karena mereka sudah lama menunggu Julian namun ia tidak kunjung kembali.
Oleh karena itu mereka bertiga memutuskan untuk mencari Julian dan saat mereka mendengar suara, mereka langsung ke arah sini.
"Waktu yang tepat. Nimi, Mine, tahan orang di depanku. Claire, buat pencahayaan." Julian memberi mereka perintah.
"Siap!" Nimi dan Mine bergerak dan memegang lengan orang di depan Julian dengan kencang.
Lalu Claire mengeluarkan staff sihir miliknya dan membuat sebuah bola cahaya yang menerangi tempat mereka berdiri.
"!!" Claire dan kedua demi-human melebarkan mata mereka saat mengetahui siapa kedua orang itu.
"Sudah kuduga." Julian tersenyum
Kedua orang itu memanglah demi-human. Mereka adalah dua orang pria yang bertelanjang dada dengan ekor besar berwarna hijau dibelakang mereka.
Kemudian, di beberapa bagian tubuh mereka seperti tangan, leher, dan kaki terdapat sisik-sisik berwarna hijau yang sama dengan ekor mereka.
"Demi-human kadal," ucap Julian.
Ia tahu karena ekor mereka berdua yang besar seperti kadal yang pernah ia lihat di bumi sedangkan ekor ular cenderung lebih kecil namun lebih panjang.
"...Benar." Kedua demi-human itu mengangguk.
"Mengapa kalian menyerang ku?" Julian bertanya dengan nada dingin.
"Maafkan kami, kami sedang dalam kesulitan." Salah satu demi-human menundukkan kepalanya.
Julian bisa merasakan kalau demi-human didepannya tidak berbohong, ia kemudian melepas demi-human yang ia pegang dan meminta Nimi dan Mine untuk melepaskan satunya juga.
"Namaku Gael, aku adalah kapten penjaga suku kami. Aku bersama dengan bawahanku pergi keluar hutan untuk mencari makanan."
__ADS_1
"Tempat dimana suku kami tinggal sudah kekurangan makanan sedangkan anggota suku kami ada sangat banyak."
"Oleh karena itu meskipun tidak mau, kami memutuskan untuk menyerang mu agar bisa mendapatkan makanan." Demi-human yang bernama Gael berkata alasan mengapa mereka berdua menyerang Julian.
"Apa aku bisa percaya kata-katamu?" Julian menyipitkan matanya dan mengeluarkan aura yang berbahaya untuk menekan mereka berdua.
"!!" Gael dan bawahannya langsung berlutut di tanah setelah merasakan aura berbahaya yang Julian keluarkan.
Meraka adalah demi-human apalagi mereka sudah tinggal di dalam hutan sangat lama, oleh karena itu mereka sangat sensitif dengan aura bahkan jika itu kecil.
"Aku bersumpah atas namaku, jika aku berbohong maka kau bisa membunuhku." Gael berkata dengan serius sambil menahan diri agar tidak pingsan.
"Aku akan pegang kata-katamu." Julian mengangguk dan menarik kembali aura berbahayanya.
Gael dan bawahannya masih menundukkan kepala mereka dan menunggu Julian mengatakan sesuatu. Sedangkan Julian, ia sedang menyentuh dagunya dan berpikir apakah ia akan membantu Gael atau tidak.
"Claire, Nimi, Mine, apakah kalian pernah melihat demi-human kadal?" tanya Julian.
"Aku belum pernah." Claire menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Meskipun kami demi-human, kamu juga belum pernah melihat demi-human lain selain kucing dan anjing." Nimi dan Mine juga menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Lalu, apakah tidak apa-apa jika perjalanan kita menuju Kota Cronna tertunda sebentar?" Julian bertanya lagi.
"Baiklah." Julian mengangguk lalu ia menoleh ke arah Gael dan bawahannya.
"Aku sudah memutuskan, aku akan membantumu, tidak, sukumu. Sekarang, pimpin jalan agar kereta kuda milik kami bisa masuk ke dalam tempat dimana sukumu tinggal." Julian berhala dengan nada serius.
Julian memang kasihan kepada mereka berdua, namun yang membuatnya memutuskan untuk membantu mereka adalah karena dirinya juga penasaran dengan demi-human kadal.
Karena di dalam cerita atau komik fantasi di bumi, sangat jarang demi-human kadal yang berpenampilan manusia. Kebanyakan adalah kadal yang berdiri dengan dua kaki dan bicara bahasa manusia.
Oleh karena itu Julian menyisakan untuk membantu mereka, lagipula, tidak ada ruginya membantu seseorang yang sedang kesulitan.
"Te-terima kasih, Tuan!" Gael dan bawahannya melebarkan mata mereka dan segera berterima kasih kepada Julian.
"Ya," angguk Julian.
Julian dan yang lain lalu kembali ke kereta kuda mereka dan Gael dan bawahannya langsung menuntun mereka menuju jalan yang benar.
Ternyata ada jalan tersembunyi di dekat sana, Gael dan bawahannya memindahkan beberapa batang pohon untuk membuka jalan.
Gael mengangguk tanda bahwa itu adalah jalan menuju tempat dimana sukunya tinggal. Julian memberi anggukan juga lalu mengemudikan kereta kudanya melalui jalan itu.
__ADS_1
Setelah itu, Gael dan bawahannya kembali menutup jalan dengan batang pohon yang tadi dengan beberapa tumbuhan liar agar sama dengan lingkungan sekitar.
Setelah beberapa saat berkendara, mereka tiba disebuah area yang terbuka yang sangat luas. Dimana area tersebut merupakan padang rumput dan rawa.
"Selamat datang di desa tempat suku kami tinggal, Tuan." Gael menyambut mereka.
"Jadi ini," ucap Julian.
Julian memarkirkan kereta kudanya di dekat pintu masuk desa kemudian ia bersama Claire dan kedua demi-human berjalan mengikuti Gael.
Gael akan membawa mereka ke rumah kepala desa dan di sepanjang perjalanan, demi-human kadal yang lain melihat mereka berempat dengan tatapan penasaran.
"Ini adalah rumah kepala desa." Gael mengetuk pintu rumah dan setelah sebuah suara dari dalam mempersilakan masuk, Gael membuka pintu.
Mereka berlima masuk kedalam rumah kepala desa dan di dalam ada seorang pria berotot yang sebagian besar tubuhnya ditutupi oleh sisik.
Lalu ada yang berbeda dengan demi-human kadal yang lain, pria di depan mereka memiliki tanduk kecil seukuran jari kelingking di dahi bagian kanannya.
"Gael? Siapa mereka?" Pria berotot itu menyipitkan matanya.
"Kepala desa, mereka berempat adalah orang-orang yang aku temui di dekat jalan masuk. Setelah mendengar situasi kita, mereka datang untuk membantu." Gael menjelaskan kedatangan Julian dan yang lain.
"Benarkah!? Terima kasih semua! Namaku adalah Dace, aku adalah kepala desa." Dace mengulurkan tangannya.
"Aku Julian, dia Claire, Nimi, dan Mine." Julian berjabat tangan dengan Dace lalu memperkenalkan dirinya dan juga Claire dan kedua demi-human.
"Halo Tuan Julian, apakah kalian sungguh akan membantu desa kami?" Dace bertanya dengan nada penuh harap.
"Ya, kebetulan sekali kami tidak pernah melihat demi-human kadal dan penasaran dengan kalian." Julian mengangguk dan tersenyum.
"Terima kasih banyak!" Dace membungkukkan badannya.
"Simpan rasa terima kasihmu nanti. Sekarang, tolong jelaskan kesulitan apa yang sedang kalian alami." Julian berkata dengan serius.
"Baik! Pertama-tama, tolong duduk terlebih dahulu." Dace mempersilakan Julian dan yang lain duduk lalu mengedipkan matanya ke arah Gael.
Gael langsung memahaminya, ia pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk Julian dan yang lain.
Julian mengangguk dan duduk di kursi ruang tamu sementara Claire dan kedua demi-human tetap berdiri di belakang Julian.
Awalnya Dace sedikit bingung mengapa mereka bertiga berdiri namun ia paham setelah melihat kalung yang dipakai oleh Claire adalah kalung budak.
Dace mengesampingkan masalah itu, ia duduk di kursi seberang Julian dan mulai membicarakan kesulitan yang sedang mereka alami sekarang.
__ADS_1