
"Meskipun aku mendengar dari Karina kalau kau ini adalah pria yang masih muda, tapi aku tidak menyangka akan semuda ini," ucap Rolant sambil tertawa.
Rolant, Regina, Lucian, Julian, Claire, Nimi, dan Mine sedang berada di ruangan pribadi milik Rolant karena mereka akan berbincang-bincang.
Rolant langsung meminta Julian untuk mengikutinya ke sini setelah mengonfirmasi identitas Julian karena ia penasaran dengan Julian yang dilaporkan oleh Karina dan juga oleh kelima pahlawan.
Rolant adalah seorang pria dewasa yang memiliki perawakan tubuh yang besar, wajahnya terlihat garang saat diam namun lembut saat tersenyum.
Ia memiliki rambut berwarna cokelat pendek dengan kumis dan janggut yang tebal yang warna juga sama, berwarna cokelat.
Ia mengenakan pakaian yang mewah dan juga elegan dengan jubah yang berwarna emas yang meningkatkan aura seorang raja.
Saat ini ia sedang tidak memakai mahkota, namun tadi ia sempat memakai mahkota yang dihiasi dengan banyak berlian.
Sedangkan regina, ia adalah wanita dewasa yang memiliki paras cantik dengan lekuk tubuhnya yang sangat proporsional.
Ia memiliki rambut panjang berwarna pirang dengan bola mata berwarna biru muda seperti kecantikan wilayah barat di bumi.
Julian tersenyum dan berkata dengan rendah hati, "Terima kasih atas pujiannya, Raja."
"Hm, aku bertanya untuk memastikan. Apakah pahlawan melakukan hal yang ceroboh?" tanya Rolant dengan ekspresi sangat serius.
Karena ia juga tidak menyangka kalau kelima pahlawan tidak berkutik dihadapan Orobas bahkan melakukan tindakan ceroboh yang hampir merenggut dua nyawa.
"Begitulah. Mereka berlima bisa mengalahkan Orobas jika bekerja sama. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi, kerja sama mereka terasa canggung," angguk Julian sambil menjelaskan apa yang membuat ia bingung.
"Soal itu, biarkan regina yang menjelaskannya karena dia yang pertama tahu," ucap Rolant sambil menatap istrinya.
Regina mengangguk dan mulai menjelaskan, "Matamu memang sangat jeli, ada yang salah dengan kerja sama kelima pahlawan yang terasa canggung."
"Dulu, mereka tidak seperti itu. Namun ada sebuah kejadian yang membuat hubungan mereka canggung dan mereka belum memperbaiki kecanggungan itu."
Ternyata, ada tiga pahlawan yang terlibat dalam kejadian ini. Pahlawan Pedang, Orion. Pahlawan Sihir, Olivia. Pahlawan Pisau, Aron.
Aron dan Olivia adalah teman masa kecil saat di bumi, dan tentu saja antara pria dan wanita tidak mungkin tidak timbul cinta.
Mereka berdua saling mencintai, tapi setelah mereka dipanggil untuk menjadi pahlawan, hubungan mereka mulai renggang karena banyak kesibukan sebagai seorang pahlawan.
Hubungan di antara kelima pahlawan sangat baik karena mereka sering melakukan sesuatu bersama-sama. Bisa dikatakan kalau mereka sudah bersahabat, bukan berteman lagi.
__ADS_1
Namun, ternyata Olivia dan Orion saling mencintai karena mereka berdua selalu berada dalam garda depan dan sekali menghadapi musuh bersama. Aron yang melihat hal itu hanya bisa pasrah karena ia juga tidak bisa melakukan apapun.
Tapi, Aron sangat marah saat itu karena ia melihat kalau Orion dan Olivia berhubungan badan saat mereka berlima melakukan perjalanan untuk pergi ke suatu tempat dan sedang menginap di sebuah penginapan.
Aron masih bisa mentolerir kalau Olivia mencintai Orion karena perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Namun ia menjadi sangat marah karena Olivia berhubungan badan dengan Orion karena di dalam hatinya, ia masih mencintai Olivia.
Pria mana yang rela melihat wanita yang dicintai berhubungan badan dengan pria lain, dan Aron saat itu langsung mendobrak pintu dan berdebat dengan Aron.
"Jadi begitu, pria yang malang. Apakah itu sebabnya Aron bersikap sembrono padahal dirinya seorang pahlawan?" tanya Julian yang merasa kasihan dengan Aron.
Bahkan Lucian juga merasa kasihan dengan Aron. Ia berpikir mungkin dirinya akan melakukan hal yang sama seperti Aron jika melihat pria yang dicintainya berhubungan dengan wanita lain.
Regina menggeleng-gelengkan kepalanya, "Sayang sekali tidak. Sifat Aron memang seperti itu."
"...Ah, kurasa aku paham mengapa Olivia meninggalkan Aron." Julian langsung menarik kembali rasa kasihannya.
"Yah, begitulah alasan mengapa para pahlawan dalam hubungan yang canggung," ucap Regina dengan nada tak berdaya karena ia juga setuju dengan ucapan Julian.
"Cukup tentang pahlawan. Aku mewakili seluruh Kerajaan Cruya berterima kasih kepada kalian karena telah membunuh Orobas," Rolant menundukkan kepalanya begitu juga dengan Regina.
"Sama-sama, meskipun aku bertarung karena dialah yang menantangku, tapi aku paham dengan pengaruhnya," ucap Julian yang juga menundukkan kepalanya diikuti oleh Claire dan kedua demi-human.
"Ngomong-ngomong, mengapa kau ke Kota Crosa?" tanya Rolant karena ia tahu kalau Julian adalah pengembara.
"Tidak ada alasan khusus kurasa? Aku hanya ingin menemui Karin, haha," ucap Julian sambil tertawa.
"Karina ya, bagaimana dengan putriku?" ucap Regina yang membuat Julian tidak bisa berkata-kata.
"Hey, mereka belum pernah melihat satu sama lain, bukankah seharusnya mereka bertemu terlebih dahulu?" ucap Rolant sambil mendesah.
"Oh benar. Bagaimana? Apakah kau ingin bertemu dengan putriku, Mellina?" tanya Regina dengan senyum di wajahnya.
"Apakah itu adalah hal yang perlu dibahas sekarang?" tanya Julian yang tidak bisa berkata-kata apakah dirinya dijodohkan dengan putri kerajaan.
Rolant dan Regina menganggukkan kepalanya, "Benar, kalian memerlukan waktu. Tidak bisa jika bertemu secara paksa, biarkan waktu yang menjawab."
"Lalu, apakah kau ingin sesuatu sebagai imbalan karena telah membunuh Orobas?" tanya Rolant.
Julian menyentuh dagunya dan berpikir sebentar, "Imbalan?"
__ADS_1
Julian berpikir keras karena ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia butuhkan. Ia juga bertanya kepada Claire dan kedua demi-human dan mereka sama seperti Julian yang tidak tahu harus meminta apa.
Kebetulan saat ini Julian menoleh ke arah jendela yang menampilkan pemandangan kota dengan banyak bangunan tinggi dan mewah di sekitar istana.
"Bangunan? Rumah!" Julian tahu apa yang ia butuhkan.
"Raja, jika diperbolehkan, bisakah aku meminta agar aku bisa membeli rumah di daerah bangsawan?" tanya Julian.
Ia berniat untuk membeli sebuah rumah di area bangsawan agar rumahnya tenang dan dia pikir kediaman Duke Largus juga di dekat sini yang membuat ia bisa mengunjungi Karina.
"Hm? Tidak perlu, aku akan memberikanmu sebuah rumah langsung. Mengapa meminta sesuatu yang merepotkan?" ucap Rolant yang tanpa ragu-ragu memberikan Julian sebuah rumah.
"...Baik. Terima kasih," ucap Julian yang sedikit terkejut.
"Terima kasih!" Claire dan kedua demi-human juga berterima kasih dengan gembira.
"Untuk malam ini, kau dan rekan-rekanmu itu menginap saja di istana. Aku akan memberikanmu rumah besok karena hari ini sudah sore," ucap Rolant sambil melihat langit diluar jendela.
"Baiklah," angguk Julian.
Setelah berbincang-bincang sebentar, Rolant dan Lucian meninggalkan ruangan karena mereka berdua akan membahas mengenai dampak dari kematian Orobas yang kemungkinan besar iblis akan menyerang.
Lalu Regina memanggil pelayan untuk menuntun mereka menuju kamar kosong untuk ditempati oleh Julian dan yang lain.
"Ini kamar kalian, apakah satu kamar cukup?" tanya Regina.
"Cukup!" jawab keempatnya secara bersamaan.
"Baiklah, aku pergi terlebih dahulu." Regina bersama pelayan pergi.
Julian dan yang lain saling memandang dan mengangguk, kemudian mereka membuka pintu dan masuk ke dalam kamar yang sangat luas.
Kamar itu didekorasi dengan banyak sekali ornamen yang mewah. Ada kamar mandi di dalam kamar ini yang cukup luas juga.
Lalu ada ranjang besar di tengah ruangan yang bisa menampung untuk lima orang. Ada juga sofa dan kursi untuk menerima tamu jika ada seseorang yang datang ke kamar.
Mereka membersihkan diri, atau lebih tepatnya sekarang mereka mandi. Karena biasanya mereka hanya menggunakan sihir air untuk membasuh atau dengan cara mengusap tubuh mereka dengan kain basah.
Setelah itu mereka beristirahat sebentar karena cukup lelah dan karena tidak ada hal yang perlu dilakukan. Mereka bangun saat pelayan mengetuk pintu dan meminta mereka untuk pergi ke ruang makan untuk makan malam bersama keluarga kerajaan.
__ADS_1