Isekai Dinosaur

Isekai Dinosaur
Memasuki Mansion Milik Marquiss Alan


__ADS_3

Kembali ke beberapa waktu sebelumnya saat Julian dan Karina berpisah.


Julian dan Claire pergi kearah yang berlawanan dari Mansion Malone, tepatnya kearah mansion milik Marquiss Alan.


Karena mata-mata Damian mengatakan kalau Sika sedang berada di mansion bukan di kantornya yang terletak di pusat kota.


"Disana." Julian berhenti dan melihat kedalam.


Didepannya ada sebuah mansion megah yang memiliki desain kuno. Dengan halaman depan yang berupa taman bunga dan halaman belakang yang berupa lapangan dan kebun.


Kediaman milik Marquiss Alan lebih megah dibandingkan dengan kediaman milik Keluarga Mollon dan Keluarga Malone.


"Pakai topengmu, Claire." Julian memakai topengnya begitu juga dengan Claire.


Mereka kemudian melompati pagar dan menyelinap di semak-semak agar tidak ketahuan oleh penjaga mansion yang sedang berpatroli.


Karena Julian pernah dekat dengan Sika, ia sudah tahu menghapal bau Sika. Dan dengan mata dinosaurus nya, ia langsung tahu dimana Sika sekarang.


Sika saat ini sedang berada dilantai dua mansion, dan ruangan tempat Sika berada tepat disebelah tangga.


Karena pintu depan dan belakang dijaga oleh prajurit, Julian dan Claire memasuki mansion lewat jendela samping yang terbuka.


Namun, saat mereka sudah masuk, mereka mendengar langkah kaki yang semakin jelas tanda bahwa itu sedang mendekati mereka.


"Mereka pasti pelayan, biasanya prajurit tidak akan berpatroli didalam," bisik Julian.


"Apakah kita akan membunuh mereka?" tanya Claire.


"Jangan, mereka adalah orang yang tidak bersalah dan mereka itu milik Marquiss Alan. Buat mereka pingsan saja." Julian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Baik, Master." Claire mengangguk.


Mereka berdiri di dekat tembok dan bersiap-siap untuk membuat pelayan yang akan datang pingsan.


"Ada tiga orang, kau urus satu, aku sisanya." Julian menggunakan mata dinosaurus nya.


Suara langkah kaki semakin jelas, kemudian Julian langsung bergerak dengan cepat kebelakang seorang pelayan dan mengunci lehernya dengan lengan dan menutup mulutnya.


Claire juga melakukan hal yang sama seperti Julian. Karena kekuatan Julian terlalu kuat, pelayan itu langsung pingsan karena tidak bisa bernapas.


Kemudian, sebelum pelayan yang satu berteriak, Julian sudah membuat dirinya pingsan.


Mereka membawa ketiga pelayan ke sudut ruangan dan Julian mengeluarkan sebuah kain dari inventory nya untuk menutupi mereka.


"Ayo." Julian berlari diikuti oleh Claire.


Area mereka saat ini sedikit jauh dari tangga menuju lantai dua karena tangganya berada didekat pintu masuk sedangkan jendela yang digunakan oleh Julian dan Claire jauh dari pintu masuk.


"Tunggu sebentar." Julian tiba-tiba berhenti.


"Ada apa, Master?" Claire bertanya mengapa Julian tiba-tiba berhenti.


"Aku merasakan sesuatu yang samar disini." Julian mengerutkan keningnya dan melihat sekitar.


Ia saat ini sedang berada di lorong yang penuh dengan lukisan, selain lukisan, hanya ada beberapa meja dengan lilin atau lampu diatasnya.


"Oh, ini lukisan yang indah." Julian melihat sebuah lukisan berupa gunung dan hutan.


"Master, ini bukan saatnya untuk mengagumi sebuah lukisan." Claire menarik tangan Julian.

__ADS_1


"Ah benar. Tunggu!" Julian menyipitkan matanya.


"Ada apa sekarang??" Claire bingung mengapa Julian tertarik dengan lukisan itu.


"Lukisan ini mengeluarkan aura yang samar!" Julian menunjuk lukisan gunung dan hutan itu.


"Sesuatu yang samar? Tapi aku tidak bisa merasakan hal itu." Claire memiringkan kepalanya.


"Tentu saja, aku bisa merasakannya karena indera ku yang sensitif. Tapi, kita akan bahas itu nanti, sekarang, aku akan menyimpan ini." Julian menyimpan lukisan gunung dan hutan kedalam inventory nya.


"Master! Lukisan ini milik Marquiss Alan! Kita tidak boleh mencurinya!" Claire berteriak dengan panik.


"Santai, kita katakan saja kalau Sika yang mencurinya." Julian tersenyum licik.


"Master, sekarang Master terlihat seperti pihak yang jahat," ucap Claire.


"Sudahlah, ayo lanjutkan!" Julian berlari diikuti oleh Claire.


Mereka berdua berlari dan akhirnya mereka melihat tangga menuju lantai dua. Mereka melambat dan naik kelantai dua dengan diam-diam karena Sika masih berada ditempatnya.


"Tunggu sebentar, hm, bagus, tidak ada orang disekitar sini. Kita bisa masuk dengan tenang." Julian melihat sekitar dengan mata dinosaurus nya.


Julian memegang kenop pintu dan merasakan kalau pintunya tidak dikunci. Ia kemudian membuka pintu dengan pelan-pelan agar tidak bersuara.


"Hm?" Julian yang akan masuk kedalam ruangan seketika berhenti karena mendengar suara Sika.


"Claire, gunakan ini." Julian menyerahkan benda sihir berbentuk mutiara untuk merekam situasi didepan.


"Baik!" Claire menyalurkan mana kedalam benda sihir itu dan mengarahkannya kedalam ruangan.


...----------------...


"Raja Iblis yang agung, kita tidak bisa mendapatkan Sea Serpent itu. Apakah anda sudah memiliki rencana yang baru?" Sika berbicara dengan udara.


Karena tidak ada pantulan Sika meskipun Sika berada didepan cermin. Yang ada didalam cermin adalah sebuah kursi yang tunggu namun kosong, tidak ada yang menduduki kursi tersebut.


"Tidak ada pilihan lain karena Sea Serpent diambil. Kita juga tidak bisa mengambil Sea Serpent dengan paksa karena akan berbahaya."


"Lanjutkan saja rencana yang sudah disepakati. Namun, aku akan memberikan bantuan berupa pasukan iblis untuk membantumu."


Terdengar suara pria yang berat dan memancarkan aura yang agung dari dalam cermin perunggu tersebut. Dan pemilik dari suara tersebut adalah Raja Iblis Boldax.


"Pasukan iblis!? Terima kasih Raja Iblis! Aku akan menggunakan pasukan iblis ini dengan baik agar rencana kita berjalan dengan lancar!" Sika berkata dengan gembira.


"Bagus, kalau begitu, aku serahkan sisanya kepadamu. Beritahu aku jika ada kejadian tak terduga seperti sebelumnya," ucap Boldax.


Kemudian muncul riak di cermin tersebut dan gambar kursi kosong sudah tidak ada lagi digantikan oleh pantulan Sika.


"Meskipun aku tidak tahu bagaimana bisa Keluarga Mollon menyewa orang yang sangat kuat, tapi aku tidak peduli akan hal itu."


"Karena yang akan mengatasi Keluarga Mollon adalah Keluarga Malone. Tugasku hanyalah melakukan rencana yang sudah dibuat, hahaha!" Sika tertawa terbahak-bahak.


...----------------...


"Claire, kau merekam semuanya bukan?" tanya Julian.


"Tentu saja, Master." Claire mengangguk.


"Bagus, sembunyikan alat perekam itu di pakaianmu namun pastikan agar alat perekam tetap bisa merekam situasi dan jangan tertutupi oleh pakaianmu, kita akan masuk dan memeras informasi dari Sika." Julian menyeringai.

__ADS_1


"Baik, Master!" Claire menaruh alat perekam itu balik kerah pakaiannya.


Setelah melihat Claire menaruh alat perekamnya dibalik kerah pakaiannya, Julian mengangguk dan tanpa ragu-ragu, ia menendang pintu ruangan dengan keras.


"Hah!?" Sika yang masih tertawa terbahak-bahak langsung berhenti dan melihat kedepan.


"Siapa kalian!?" Sika langsung berdiri saat melihat dua orang mencurigakan didepannya.


"Orang lewat." Julian menjawabnya dengan asal-asalan.


"Sialan!" Sika berteriak dengan marah.


Ia membuka laci meja dibawanya yang berisi banyak sekali pisau kecil. Ia mengambil beberapa dan langsung melemparkannya kearah Julian dan Claire.


Julian berdiri didepan Claire dan menggunakan kekuatan dinosaurus nya untuk menghadang semua pisau yang Sika lempar.


"Hahaha! Apakah kau bodoh!? Menghadang banyak pisau dengan tubuhmu!?" Sika tertawa terbahak-bahak melihat tindakan Julian.


Namun, Sika membelalakkan matanya saat melihat pisau-pisau yang ia lempar tidak bisa menembus kulit Julian, bahkan tidak meninggalkan goresan.


"Bagaimana mungkin!? Pisau itu sangat tajam karena dibuat untuk membunuh manusia!" Sika berteriak dengan nada tidak percaya.


"Tentu saja mungkin. Pisau ini dibuat untuk membunuh manusia kan? Lalu bagaimana jika target tersebut bukanlah manusia?" Julian menyeringai.


"Apa!? Apakah kalian bukan manusia!?" Sika tambah tidak percaya.


"Hm, kami manusia," jawab Julian.


"Lalu mengapa kau mengatakan sesuatu seolah-olah kau bukan manusia, sialan!" Sika melempar beberapa pisau lagi karena ia sudah terlalu marah dengan ucapan Julian.


"Benar juga ya, mengapa aku mengatakan hal itu. Meskipun aku memiliki kekuatan dinosaurus, aku ini tetap seorang manusia," batin Julian.


Julian menghadang pisau-pisau yang Sika lempar dengan mudah sama seperti sebelumnya dan raut wajah Sika saat ini sudah menjadi sangat suram.


"Sepertinya kau bukan manusia biasa ya. Kalau begitu tidak ada pilihan lain." Sika mengeluarkan kotak kayu dari laci meja lain.


Ia membuka kotak kayu tersebut dan mengambil isi dari kotak kayu tersebut yang merupakan sebuah benda aneh dengan bentuk abstrak.


Benda tersebut berwarna merah darah dan terlihat sangat menjijikkan karena benda tersebut bergerak-gerak seperti parasit.


"Raja Iblis Boldax memberikanku ini jika terjadi sesuatu yang tidak terduga yang tidak bisa aku atasi." Sika membuka mulutnya dan memasukan benda itu kedalam mulutnya dan menelannya.


"Claire, mundur." Julian menyuruh Claire untuk mundur.


Karena ia melihat dengan mata dinosaurus nya kalau energi panas ditubuh Sika bertambah banyak seakan-akan itu akan meledak.


"Hahaha!" Sika tertawa dengan keras.


Terjadi sebuah perubahan ditubuh Sika. Tubuhnya berubah warna menjadi merah, tingginya juga menjadi sekitar 3 meter.


Kemudian, tubuhnya juga lebih berotot tidak seperti sebelumnya yang merupakan tubuh kurus kering tanpa otot.


"Itu...Iblis." Julian mengerutkan keningnya.


[ Sika Cerko


HP : 100%


MP : 100%

__ADS_1


level kekuatan : 6


level mana : 5 ]


__ADS_2