
Keesokan harinya, Julian merasa kalau dirinya sudah pulih sepenuhnya. Entah apa yang terjadi tapi ia berpikir kalau Dewa Tertinggi melakukan sesuatu.
Karena mereka ke Kota Chesa hanya untuk singgah, mereka memutuskan untuk langsung pergi ke Kota Crosa, Ibukota Kerajaan Cruya.
Julian pergi ke kantor kota dan bertemu dengan Lucian, kemudian ia mengutarakan niatnya kalau dirinya dan yang lain akan pergi ke Kota Crosa.
"Apakah kau yakin? Tubuhmu sudah pulih?" tanya Lucian.
"Santai saja, aku ini kuat," jawab Julian sambil memamerkan otot lengannya.
Lucian terkekeh dan berkata, "Baiklah, kau dan yang lain tunggu saja di penginapan, aku akan ke sana setelah berbicara dengan Ulva."
"Tentu," angguk Julian kemudian ia kembali ke penginapan.
Lucian pergi ke kantor milik Ulva dan berbicara mengenai beberapa hal terkait dirinya yang akan pergi ke Kota Crosa bersama dengan Julian dan yang lain.
"Baiklah, hati-hati. Meskipun aku tahu kalau kau ini kuat, tapi tetap saja, kau harus berhati-hati," ucap Ulva dengan nada khawatir.
Lucian memutar matanya, "Kau ini bukan ibuku. Tapi terima kasih, aku akan berhati-hati karena memang, Kota Crosa adalah tempat berkumpulnya orang-orang kuat."
Ulva menghela napas lega, "Baguslah kalau begitu, hati-hati."
"Ya, sampai jumpa!" Lucian melambai-lambaikan tangannya sebelum ia pergi ke penginapan.
...----------------...
"Claire, apakah semuanya sudah dibereskan?" tanya Julian.
"Sudah, Master." Claire mengangguk sambil menepuk-nepuk tangannya karena sedikit kotor.
Julian dan Claire sudah membahas mengenai cincin penyimpanan milik Orobas yang sekarang digunakan oleh Claire.
Pada awalnya Claire sedikit takut, namun ia segera menghela napas lega karena Julian tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Bahkan Julian juga mengatakan kalau Claire mengambil keputusan yang bagus dengan mengambil cincin penyimpanan Orobas dan menyimpan mayat Orobas di dalamnya.
Karena mayat Orobas memang penting untuk bukti dan karena identitasnya yang tidak biasa membuat kematian Orobas tidak akan dipercaya oleh orang-orang jika tidak menunjukkan buktinya.
"Bagus. Nimi, Mine, bagaimana dengan sihir baru kalian?" Julian menoleh ke arah Nimi dan Mine yang sedang beristirahat setelah berlatih.
"Ada perkembangan, Master!" ucap Nimi dengan gembira.
Mine menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Kalau aku masih belum tahu, karena aku membutuhkan lawan latihan, Master."
__ADS_1
"Bagus, Nimi, kau sudah berkembang. Untuk Mine, kita akan berlatih bersama saat sudah sampai di Kota Crosa," ucap Julian sambil menganggukkan kepalanya.
"Baik!" ucap Nimi dan Mine.
Saat mereka berbincang-bincang, Lucian datang menghampiri mereka dan bertanya apakah mereka sudah siap untuk berangkat.
"Ya, kami siap. Tapi apakah tidak apa-apa bagimu untuk berangkat sendirian?" tanya Julian karena melihat Lucian pergi sendiri.
"Tidak apa-apa, lagipula kita akan langsung sampai ke Kota Crosa dalam sekejap mata," angguk Lucian.
Julian mengangkat alisnya karena tidak paham, "Dalam sekejam mata? Apa maksudmu?"
Lucian tidak menjawab pertanyaan Julian karena lebih baik untuk membuktikannya saja. Lucian menggambar sebuah lingkaran di udara dengan mana kemudian muncul sebuah lingkaran mana yang berputar-putar.
Lingkaran mana tersebut bergerak membesar sampai ukurannya dua kali lipat dari tinggi Julian.
"Apa ini?" tanya Julian dengan rasa penasaran.
"Gerbang teleportasi," jawab Lucian.
"Teleportasi? Bukankah itu hanya bisa digunakan oleh seseorang dengan elemen ruang?" tanya Julian yang sedikit terkejut.
Elemen waktu dan elemen ruang adalah elemen yang sangat langka. Orang yang memiliki elemen tersebut sekitar satu banding satu juta.
Lucian menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kurang tepat. Teleportasi memang hanya bisa digunakan dengan elemen ruang, tapi kalau gerbang teleportasi bisa digunakan oleh siapapun selama orang itu bisa menguasainya."
Teleportasi yang hanya bisa digunakan dengan elemen waktu akan memindahkan objek yang diinginkan dalam sekejap mata.
Sedangkan gerbang teleportasi harus membuat gerbang terlebih dahulu dan besar kecilnya gerbang tergantung dengan kekuatan pengguna.
Selain itu, gerbang teleportasi memiliki kelemahan bahwa untuk mempertahankannya akan menguras banyak sekali mana.
Oleh karena itu meskipun bisa digunakan oleh siapapun, tetapi sangat jarang orang yang menggunakan ini karena menguras banyak mana.
"Ah, jadi begitu ya. Memang benar, aku bisa merasakan kalau gerbang teleportasi ini menggunakan banyak mana," ucap Julian.
Claire mengangkat tangannya dan bertanya, "Lalu apakah kau baik-baik saja?"
"Tidak apa-apa, karena aku ini naga," jawab Lucian dengan mudah.
Memang, naga adalah makhluk yang memiliki kekuatan fisik dan kapasitas mana yang tidak tidak masuk akal.
"Hm, mungkin aku akan mempelajari sihir ini nanti. Aku sangat percaya diri jika dalam hal mempelajari sesuatu dan kapasitas manaku sepertinya cukup," pikir Julian.
__ADS_1
"Ayo, kita pergi ke Kota Crosa, atau lebih tepatnya hanya melangkah, haha," canda Lucian.
Lucian melangkah masuk ke dalam gerbang teleportasi terlebih dahulu, kemudian setelah Claire dan kedua demi-human naik ke kereta kuda, Julian mengemudikannya mengikuti Lucian.
...----------------...
Setelah mereka melangkah memasuki gerbang teleportasi, mereka melihat kalau pemandangan di depan mata mereka sudah berubah.
"Jadi ini, Kota Crosa, Ibukota Kerajaan Cruya," ucap Julian.
Mereka saat ini sedang berada di atas bukit dan dari sana mereka bisa memandangi pemandangan padang rumput dan terdapat sebuah kota yang sangat besar.
Kota tersebut adalah Kota Crosa, sebuah kota yang luas dengan banyak bangunan tinggi dan dikelilingi oleh tembok yang tidak hanya tinggi dan besar, tetapi juga tebal.
Di luar tembok kota adalah pasang rumput dan beberapa area merupakan lahan pertanian dan perkebunan serta ada beberapa peternakan.
Lalu, di dalam Kota Crosa terdapat sebuah istana berwarna putih yang menjulang tinggi yang dibangun di atas bukit di dalam kota.
Daerah di sekitar istana itu terdapat banyak bangunan yang mewah yang sepertinya merupakan area milik bangsawan, orang berstatus tinggi, atau orang kaya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana caranya kita masuk? Bukankah katanya kau ingin bertemu dengan Raja Rolant?" tanya Julian kepada Lucian.
"Jangan khawatir, aku sudah menghubungi Raja Rolant. Kemungkinan besar sebentar lagi ada prajurit yang akan menjemput kita," jawab Lucian.
Dan benar saja, setelah beberapa menit Lucian mengatakan hal itu, ada banyak prajurit yang keluar dari gerbang kota dan melihat ke sekitar.
Kemudian salah satu prajurit melihat Lucian dan segera memberitahu yang lain. Setelah itu semua prajurit berjalan menuju Lucian.
"Permisi, apakah anda Nona Lucian Ouncy?" tanya prajurit tua kepada Lucian dengan sopan.
"Benar, itu aku. Kalian pasti diperintahkan oleh Raja Rolant bukan? Bisakah kita langsung pergi ke istana?" ucap Lucian.
"Tentu saja, Nona. Ngomong-ngomong, apakah mereka teman anda?" tanya prajurit itu sambil melihat ke arah Julian dan yang lain.
Ia tahu kalau tamu Raja Rolant di depannya ini memiliki aura yang kuat, namun ia merasa aneh karena tidak merasakan apapun dari dalam diri Julian.
Meskipun ia tahu kalau ada tiga orang lain di dalam kereta kuda, namun ia berpikir kalau mereka bertiga masih belum layak untuk bertemu dengan Raja Rolant.
"Ya, ayo." Lucian mengangguk kemudian ia masuk ke dalam kereta kuda yang dibawa oleh para prajurit.
Prajurit tua itu hanya bisa mengangkat bahunya dan tidak terlalu memikirkan mengenai yang lain. Ia segera memerintahkan para prajurit untuk pergi menuju istana dan Julian mengikuti mereka.
"Seperti yang diharapkan dari Dewa Tertinggi, kekuatan yang dia berikan sangatlah hebat dan sesuai dengan ucapannya," batin Julian.
__ADS_1
Saat ini Julian sudah menggunakan kekuatan barunya yang diberikan oleh Dewa Tertinggi yaitu untuk menghilangkan keberadaan mana di dalam tubuhnya sehingga orang-orang akan berpikir kalau dirinya hanyalah orang biasa.
"Istana Kerajaan Cruya, Conall, dan juga Karin," batin Julian yang mengingat dua kenalannya.