
"Um, aku tahu kalau kalian senang karena aku sudah sadar. Tapi, bisakah kalian melepaskan pelukan kalian? Tubuhku masih sakit," ucap Julian dengan nada tak berdaya.
"Ah!" Nimi dan Mine sadar kemudian mereka melepaskan pelukan mereka dengan malu-malu.
"Master, aku kira Master akan sadar tiga hari lagi," ucap Claire.
"Begitulah, ada beberapa alasan." Julian mengangkat bahunya dan melihat ada dua orang yang belum pernah ia lihat.
Ulva yang melihat tatapan Julian segera memperkenalkan dirinya dan juga memperkenalkan Lucian kepada Julian.
"Pemimpin kota? Maaf ya, sampai membuat kalian berdua menemui kami," ucap Julian sambil tersenyum.
Ulva melambaikan tangannya, "Eh? Tidak perlu meminta maaf, kami hanya penasaran mengapa kalian datang ke Kota Chesa ini."
Lucian memiringkan kepalanya dan berkata, "Permisi, Tuan Julian."
Julian menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tolong jangan panggil aku dengan sebutan formal, panggil saja aku Julian. Begitu juga denganmu, pemimpin kota."
"Baik, kalau begitu panggil aku dengan Ulva," angguk Ulva.
"Lucian," angguk Lucian.
"Bagus. Jadi, ada apa, Lucian?" tanya Julian yang ingin tahu apa yang ingin dikatakan oleh Lucian.
Lucian mengerutkan keningnya, "Bukan bermaksud menyinggung, tetapi aku merasakan sesuatu darimu yang mirip denganku."
Julian yang mendengar itu tersenyum tipis karena mengerti apa yang dimaksud dari ucapan Lucian. Kemudian ia berkata, "Secara penampilan, kekuatanku mirip dengan penampilanmu, Lucian."
"Hm? Memangnya kau tahu aku ini demi-human apa?" tanya Lucian sambil mengangkat alisnya.
Julian tersenyum, "Kau bukan demi-human, kau juga bukan manusia, kau ini adalah makhluk yang lain."
Lucian dan Ulva melebarkan mata mereka. Jantung Lucian juga berdetak dengan kencang setelah mendengar ucapan Julian.
"Apakah dia tahu apa wujudku yang sebenarnya? Seharusnya tidak bukan? Hanya Ulva dan Keluarga Kerajaan yang tahu," pikir Lucian.
"Tentu saja aku tahu. Salah satu makhluk yang paling kuat, makhluk yang paling kejam, makhluk yang menduduki puncak rantai makanan," ucap Julian.
"Kau adalah makhluk yang bisa membawa kedamaian dan bisa juga membawa kehancuran. Lucian, kau adalah seekor naga," tambahnya.
"!!" Ulva dan Lucian membelalakkan mata mereka karena apa yang Julian ucapkan benar.
Lucian memanglah seekor naga, dia bukanlah demi-human karena demi-human adalah setelah hewan dan setengah manusia.
Sedangkan Lucian adalah naga murni yang saat ini sedang dalam wujud manusia karena naga memang memiliki dua wujud.
"Dan Ulva, kau ini memanglah demi-human rusa, tapi bukan rusa biasa bukan? Kau adalah demi-human rusa sihir yang merupakan rusa legenda," ucap Julian.
Ulva dan Lucian bahkan lebih terkejut lagi setelah mendengar ucapan Julian. Tidak hanya mengetahui identitas Lucian, tapi juga mengetahui garis darah milik Ulva.
__ADS_1
Jika Julian hanya mengetahui identitas Lucian yang sebenarnya masih bisa dipikirkan secara logis karena penampilan Lucian memang seperti demi-human kadal dan dengan insting yang hebat, orang bisa merasakan ada yang berbeda.
Namun untuk mengetahui garis darah seseorang tentu saja tidaklah mungkin. Karena garis darah seseorang tidak bisa dilihat dan hanya bisa tahu jika diberitahu.
Ulva menarik napas dalam-dalam dan bertanya, "Bagaimana kau tahu?"
Mereka berdua berusaha untuk menenangkan diri karena mereka pikir kalau Julian adalah orang yang hebat karena bisa mengetahui identitas mereka berdua.
Ditambah kalau Julian ini sudah mengalahkan Orobas membuat mereka tidak bisa bertindak dengan gegabah seperti menyerang atau mengancamnya.
Bagaimana bisa Julian bisa tahu? Tentu saja karena dengan appraisal dan Mindy juga memberitahu beberapa informasi yang tidak ditampilkan.
[ Ulva Devania
HP : 100%
MP : 100%
level kekuatan : 5
level mana : 8 ]
[ Lucian Ouncy
HP : 100%
MP : 100%
level mana : 7 ]
"Tenang saja, aku bukanlah musuh kalian dan aku juga tidak mungkin akan melawan kalian dengan kondisiku yang sekarang," ucap Julian.
"Bahkan dengan kondisi prima, aku masih sedikit kesulitan untuk melawan kalian berdua sekaligus," tambahnya.
Ulva menyipitkan matanya dan berkata, "Bisakah kami mempercayaimu?"
Julian hanya mengangkat bahu, "Tentu saja bisa. Tapi itu tergantung pada kalian apakah mau mempercayaiku atau tidak."
Ulva dan Lucian saling memandang, mereka juga tidak merasakan permusuhan dari Julian. Mereka bukanlah manusia dan lebih sensitif jika tenang spiritual.
"Baiklah, kami akan mempercayaimu. Lalu, apakah kalian datang ke sini hanya untuk singgah saja?" tanya Ulva.
"Benar, kami hanya singgah sambil membeli beberapa barang yang sudah habis," angguk Julian.
"Mengapa kalian ingin datang ke Kota Crosa?" tanya Lucian kali ini.
Julian menjawab, "Hm? Tidak ada alasan khusus sebenarnya. Selain karena aku ini adalah pengembara yang mengunjungi banyak tempat, aku juga ingin bertemu seseorang."
Lucian berpikir sejenak dan berkata, "...Jika tidak keberatan, kalian bisa pergi denganku menuju ke Kota Crosa. Dengan sihirku, kita bisa pergi ke sana dalam sekejap mata."
__ADS_1
"Tawaran yang bagus. Tetapi bolehkah aku tahu mengapa?" tanya Julian yang tidak langsung memutuskan.
Lucian menjawab, "Ini mengenai Orobas yang sudah kau bunuh. Meskipun tidak memiliki dendam, tapi aku juga memiliki kebencian terhadap Orobas."
"Karena aku ini adalah naga, aku juga dekat dengan keluarga kerajaan. Aku ingin melaporkan hal ini kepada Raja Rolant karena bisa jadi Raja Iblis akan menyerang wilayah manusia."
"Tapi jika kau keberatan maka tidak perlu. Aku akan pergi ke Kota Crosa dengan terbang saja."
Julian tidak segera menjawabnya, ia menoleh ke arah Claire dan bertanya bagaimana dengan kelima pahlawan setelah dirinya tidak sadarkan diri.
Claire kemudian menjelaskan semuanya dan menyampaikan kata-kata yang diucapkan oleh Orion sebelum pergi.
Ulva dan Lucian terkejut lagi karena Julian sudah bertemu dengan kelima pahlawan bahkan bertarung bersama mereka meskipun secara teknis mereka tidak bertarung bersama.
Julian mengangguk paham dan berkata kepada Lucian, "Kalau begitu tidak apa-apa, kau bisa mengikuti kami. Aku tidak terlalu percaya dengan para pahlawan."
"Eh? Apakah ada sesuatu yang terjadi di antara kalian dengan para pahlawan?" tanya Lucian karena bisa merasakan kekesalan di nada bicara Julian.
Julian menghembuskan napas panjang, "Bukan apa-apa, mereka hanya cukup mengganggu dan mereka juga tidak terlalu berguna dalam pertarungan."
"Master, katakan saja yang sebenarnya. Kelima pahlawan itu sudah melakukan hal yang ceroboh yang membuat Nimi dan Mine terluka!" teriak Claire dengan nada marah.
Julian mengangkat bahunya, "Kalian dengar itu? Itulah yang dilakukan oleh kelima pahlawan yang tidak bisa menghadapi Orobas dan malah mengganggu kami."
"..." Ulva dan Lucian tidak tahu harus berkata apa.
Karena mereka berdua sudah pernah melihat pahlawan saat berada di Kota Crosa dan kesan mereka terhadap pahlawan cukup baik karena kelima pahlawan memancarkan aura positif.
Mereka ingin membantah karena berpikir kalau para pahlawan tidak mungkin melakukan hal yang ceroboh yang bisa membahayakan nyawa orang lain.
Tapi setelah melihat ekspresi wajah Julian yang tenang, mereka memutuskan untuk tutup mulut dan tidak mengatakan apapun mengenai hal ini.
Cukup berbicara tentang pahlawan, mereka kemudian berbicara mengenai luka yang diterima oleh Julian dan bertanya mengapa dia bisa sadar dengan cepat.
Julian hanya tertawa dan tidak mengatakan alasannya. Tapi alasan yang sebenarnya adalah karena sesuatu yang berhubungan dengan Dewa Tertinggi.
...----------------...
Kembali ke waktu saat Julian masih tidak sadarkan diri.
"...Di mana aku?" Julian melihat ke sekitar dan terkejut karena dirinya pernah berada di tempat ini sebelumnya.
"Hoho, kita bertemu lagi." Terdengar suara yang sama.
"Kakek?" tanya Julian dengan ragu-ragu.
"Benar, ini aku." Pria tua yang memiliki rambut dan janggut panjang berwarna putih muncul.
Pria tua itu adalah Dewa Tertinggi.
__ADS_1