
Keesokan harinya, Julian dan yang lain kini sedang berkeliling Kota Coramon. Selain melihat-lihat, ia juga sedang mencari Karina.
Julian tidak bertanya kepada Damian karena ia ingin bertanya langsung kepada Karina apakah rumor tersebut benar adanya.
"Master, ini apa?" Nimi bertanya kepada Julian saat melihat kios yang menjual aksesoris.
"Anting-anting, apakah kau mau?" Julian menjawabnya namun ia menyadari ada sesuatu yang salah dalam kata-katanya.
"Tunggu, apakah demi-human bisa menggunakan anting-anting??" batin Julian setelah mengucapkan hal itu.
"Tidak, aku tidak mau." Nimi menggeleng-gelengkan kepalanya begitu juga dengan Mine.
"Lalu apakah kau mau, Claire?" Julian menoleh kearah Claire.
"Aku juga tidak." Claire menolaknya.
"Baiklah kalau begitu." Julian mengangkat bahunya.
Mereka berempat kemudian melanjutkan jalan-jalannya dan saat berada di area yang luas dengan air mancur ditengahnya, Claire menghentikan Julian.
"Master, bukankah itu adalah Nona Karina?" Claire memegangi ujung pakaian Julian dan melihat ke suatu arah.
"Karin!? Dimana?" Julian segera menoleh.
Julian menyipitkan matanya saat melihat seorang wanita yang mirip dengan Karina dan dia sedang dikelilingi oleh prajurit.
"Bukan, dia bukan Karin," ucap Julian.
"Eh? Tapi bukankah itu..." Claire memiringkan kepalanya.
"Benar, dia memang Karin jika dilihat penampilannya. Namun aku sudah menghapal bau Karin dan wanita didepan sana bukanlah Karin." Julian menunjuk hidung nya.
"Kalau penampilannya sama dengan Nona Karina tapi dia bukanlah Nona Karina, apakah dia peniru?" Nimi mengangkat tangannya.
"Bisa jadi dia penipu!' Mine juga mengangkat tangannya.
"Bukan keduanya. Bisa jadi dia adalah seorang wanita yang disuruh berpenampilan seperti Karina untuk sebuah tujuan." Julian menggeleng-gelengkan kepalanya.
"!!" Saat Julian akan berbicara lagi, ia merasakan perasaan yang familiar yang sudah pernah ia rasakan sebelumnya.
Lalu Julian melihat kearah Nimi dan Mine. Mereka sudah tahu apa maksud dari tatapan Julian karena mereka juga merasakannya.
Nimi dan Mine menghilang dari tempat mereka dan muncul diatas sebuah bangunan yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka berdiri tadi.
"Menyerah." Nimi mengeluarkan pisau dan mengarahkannya ke leher orang berpakaian serba hitam yang sedang tiarap di atap.
"!!" Orang itu terkejut dengan kedatangan Nimi yang sama sekali tidak bersuara.
Dia memukul lengan Nimi yang memegang pisau namun sudah dihentikan lebih dulu oleh Mine. Mine mengangkat tubuh orang itu dan memukul perutnya.
"Ugh!" Orang itu memegangi perutnya yang kesakitan.
"Kita tidak boleh membunuhnya," ucap Nimi.
"Tapi bukan berarti kita tidak boleh melukainya." Mine berteriak dan bergegas kedepan.
Mine mengeluarkan pisau gandanya dan melempar pisau ditangan kanannya kearah depan.
Orang itu melihat kalau ada pisau yang datang kearah nya, ia bergerak kesamping untuk menghindar lemparan pisau Mine.
__ADS_1
Namun Nimi sudah berada dibelakangnya. Nimi menusuk lengan kiri orang itu dan menariknya dengan paksa yang membuat orang itu berteriak kesakitan.
"Argh!!!" Orang itu merasakan sakit yang parah di lengan kirinya.
Namun sepertinya orang itu tidak menyerah, ia menggunakan tangan kanannya untuk mengambil pisau disaku nya.
"Tidak akan aku biarkan." Mine melempar pisau di tangan kirinya dan melemparkannya sampai mengenai lengan kanan orang itu.
"Sialan!!!" Orang itu berteriak.
"Nimi, Master sudah berpindah tempat di gang sana, ayo bawa orang ini." Mine menunjuk ke suatu arah.
"Ya!" Nimi mengangguk dan mengeluarkan tali.
Mereka berdua mengikat orang itu dengan erat bahkan mulutnya juga dimasukan dengan robekan kain agar dia tidak bersuara.
Nimi dan Mine membawa orang itu gang yang sudah ditunjuk oleh Mine tadi. Disana, Julian dan Claire sedang menunggu.
"Master." Nimi dan Mine datang.
"Kerja bagus." Julian mengangguk.
"Appraisal," batin Julian.
[ Suru
HP : 60%
MP : 90%
level kekuatan : 3
"Katakan, mengapa kau memata-matai kami?" Julian menatap Suru dengan tatapan tajam sambil mengeluarkan kain dari mulut Suru.
"..." Suru tidak menjawab dan menatap balik Julian.
"Nimi, Mine, pegang lengannya," ucap Julian.
Nimi dan Mine mengangguk, mereka berdua memegangi lengan kanan dan kiri Suru dengan erat.
Kemudian Julian mengepakkan tangan kanannya dan menggunakan kekuatan dinosaurus, lalu ia meninju perut Suru dengan keras dan kencang.
"Ugh!!!!" Suru merasakan rasa sakit terparah sepanjang hidupnya.
Saking keras dan kencangnya pukulan Julian, Nimi dan Mine bahkan hampir melepaskan pegangan mereka dari lengan Suru.
"A-aku akan mengatakannya.... Tolong jangan... Pukul aku..." Suru akhirnya berbicara meskipun sekarang ia terbata-bata karena masih merasakan rasa sakit.
"Kenapa tidak dari tadi saja..." Julian berjongkok didepan Suru.
Ternyata sama seperti kejadian tadi malam, Keluarga Malone lah yang mengirim Suru untuk mengawasi Julian dan yang lainnya.
Karena menurut ucapan Suru, Julian adalah orang yang penting karena diperbolehkan untuk memasuki mansion milik Keluarga Mollon.
Oleh karena itu, Suru diperintahkan untuk mengawasi Julian dan yang lain. Jika terdapat sesuatu yang mencurigakan, Suru bisa langsung melakukan pembunuhan.
"Padahal kita baru sampai di Kota Coramon, tapi sudah menjadi target pembunuhan," ucap Claire yang mendengar penjelasan Suru.
"Benar..." Nimi dan Mine mengangguk.
__ADS_1
"Hm, Claire, bunuh dia." Julian berdiri.
"Tidak! Jangan bunuh aku!" Suru langsung berteriak dan meronta-ronta mencoba untuk melepaskan diri.
Claire mengambil pistol mana dan mengarahkannya ke dahi Suru. Kemudian ia menarik pelatuknya dan muncul sebuah lubang di kepala Suru.
Nimi dan Mine melepaskan pegangan mereka lalu Suru terjatuh ke tanah dan ia mati dengan mata ketakutan.
Julian kemudian memasukan tubuh Suru kedalam inventory nya dan mereka meninggalkan gang dan melanjutkan jalan-jalan mereka.
...----------------...
Tengah malam, Julian sedang berjalan-jalan sendirian. Ia menemukan sebuah restoran yang masih terang dan masuk kedalam.
"Selamat datang, apa yang bisa ku berikan padamu, Tuan?" Seorang wanita cantik menyambut Julian.
"Apakah disini menjual alkohol? Jika tidak, bawakan aku yang lain," ucap Julian.
"Kami memiliki alkohol disini. Apakah tuan ingin yang ringan atau yang kuat?" tanya si wanita cantik.
"Tentu saja yang kuat," jawab Julian.
Julian menemukan tempat duduk dan wanita cantik tadi datang sambil membawa satu gelas alkohol dan daging rebus sebagai pendamping.
"Lumayan, ini cocok untuk dimakan saat tengah malam," batin Julian saat ia mencoba alkohol dan daging rebus nya.
"Tapi, apa yang kurang ya." Julian menyentuh dagunya dan berpikir.
"Ah! Tentu saja itu karena aku minum sendiri! Aku harus bergaul dengan orang lokal dan minum bersama!" Julian berdiri dan mengambil alkohol nya.
"Semuanya! Pesan alkohol lagi karena aku akan membayar semuanya!" Julian berteriak.
Orang-orang terdiam sebentar, lalu mereka berteriak lebih kencang dibandingkan dengan Julian dan mulai memesan alkohol dan hidangan lain satu persatu.
Mereka tidak saling mengenal satu sama lain namun mereka tidak mempedulikannya. Mereka minum dan berbincang-bincang seolah-olah mereka semua adalah teman akrab.
Julian juga mendapatkan banyak informasi meskipun semuanya adalah informasi sederhana dan berita mengenai Sea Serpent memang benar adanya.
Namun tidak diketahui kapan waktu tepatnya Sea Serpent akan muncul. Lalu juga tidak ada rumor mengenai pertunangan Karina.
"Baiklah, sudah waktunya aku pergi." Julian berdiri dan akan berpamitan dengan yang lain.
Namun tiba-tiba wanita cantik yang melayani Julian tadi memeluk lengan kanan Julian sehingga Julian bisa merasakan sesuatu yang lembut.
Wanita cantik itu membawa Julian ke lantai atas dengan senyum indahnya.
"Ah, jadi ada layanan seperti ini," batin Julian.
...----------------...
Pagi harinya, Julian bangun dan berpakaian.
"Ini sebagai ucapan terima kasih." Julian menaruh kantung kecil yang berisi beberapa koin perak disamping wanita cantik yang masih tertidur.
Setelah keluar dari restoran, ia kembali ke Mansion Mollon dan membersihkan diri. Kebetulan sekali setelah ia membersihkan diri, pelayan memanggilnya karena sudah waktunya untuk sarapan.
Julian keluar dari kamar dimana Claire dan kedua demi-human sudah menunggu. Mereka berempat kemudian turun dan berjalan ke ruang makan.
Lalu Damian dan Inka serta kedua anaknya juga datang dan para pelayan mulai menyanyikan makanan dan minuman yang lezat.
__ADS_1