Isekai Dinosaur

Isekai Dinosaur
Penangkapan Roman dan Keluarganya


__ADS_3

Keesokan harinya, Mansion Keluarga Malone saat ini sedang sangat sibuk. Para prajurit dan pelayan berlarian kesana-kemari sambil membawa barang.


Prajurit dan pelayan menaruh barang yang mereka bawa kedalam kereta kuda yang jumlahnya ada banyak dihalaman depan mansion.


"Cepat! Kita harus pergi dari sini!" Roman keluar dari mansion dan berteriak kepada seluruh orang.


"Sial, jika aku tahu kalau bukti rencana kita dan cairan iblis diambil, aku akan langsung pergi dari kota ini dua hari yang lalu!" Roman mengumpat dengan marah.


Benar, alasan mengapa Mansion Keluarga Malone saat ini sedang sangat sibuk adalah karena Roman akan pergi dari Kota Coramon.


Meskipun tidak terlalu yakin, tapi Roman berasumsi kalau yang mengambil bukti rencana pemberontakan dan cairan iblis adalah Karina.


Roman tahu dengan sangat jelas tentang identitas Karina, ia yakin kalau Karina akan memberikan kedua barang tersebut kepada Raja Rolant.


Dan saat ini ia yakin kalau Karina sudah memberitahu Alan karena kemarin ia mendengar informasi kalau Alan sudah kembali ke Kota Coramon.


"Ayah! Semua barang sudah diangkut keatas kereta kuda!" Bruno datang menghampiri Roman bersama dengan seroang wanita. Wanita itu adalah ibu Bruno, istri Roman.


"Bagus! Ayo naik! Kita akan langsung berangkat sebelum Pasukan Kota mendatangi kita!" Roman mengangguk.


Mereka bertiga segera masuk kedalam kereta kuda yang mewah milik mereka. Kemudian Roman memerintahkan semua orang untuk berangkat.


Rencananya mereka akan pergi ke kota terdekat terlebih dahulu, Roman tidak terlalu peduli kemana mereka pergi asalkan bisa keluar dari Kota Coramon.


Selama keluarganya bisa keluar dari Kota Coramon, Roman berpikir kalau ia bisa membangkitkan status keluarganya dengan seluruh harta yang ada.


Namun, saat semua kereta kuda akan keluar dari Mansion Keluarga Malone, terdengar langkah kaki yang sangat banyak namun sangat teratur.


"Suara langkah kaki? Jangan-jangan..." Roman merasakan firasat buruk dan segera membuka jendela kereta kuda.


Dan benar saja, didepan Mansion Keluarga Malone saat ini sudah ada banyak sekali orang yang memakai armor dengan corak warna biru dan memegang senjata.


"Sialan, padahal hanya tinggal keluar dari mansion ini, tapi mereka sudah datang!" Roman melebarkan matanya.


"Suamiku, ada apa?" Istrinya bertanya saat melihat Roman seperti itu.


"Benar Ayah, ada apa?" Bruno juga bingung mengapa Roman berteriak.


"Kita sudah tamat, Pasukan Kota sudah mengepung kita." Roman duduk dengan lemah dan memberitahu Istrinya dan Bruno.


Benar, orang-orang dengan armor berwarna biru dan memegang senjata didepan Mansion Keluarga Malone adalah Pasukan Kota Coramon.


Dan Pasukan Kota saat ini membuka sebuah jalan ditengah, kemudian seorang pria yang memakai armor dan jubah muncul.


Pria itu adalah Alan, meskipun ia adalah pemimpin kota, ia biasanya juga bergabung dengan Pasukan Kota untuk melawan musuh.

__ADS_1


Apalagi sekarang adalah masalah yang serius yang ada kaitannya dengan Raja Iblis Boldax yang menghasut Sika untuk melakukan pemberontakan.


"Keluarga Malone, apakah kalian akan turun dari sana dan mengaku salah, atau kami yang akan menurunkan kalian dari sana, pilih salah satu." Alan berkata dengan nada dingin.


"...." Roman menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan.


"Ayah...." Bruno berkata dengan nada gemetaran.


"Ayo keluar dan mengaku salah, setidaknya kita tidak akan mati." Roman membuka pintu kereta kuda dan turun dari sana.


Bruno dan ibunya saling memandang, mereka berdua juga tahu kalau lebih baik hidup di penjara dibandingkan dengan mati disini.


Mereka berdua mengangguk dan turun dari kereta kuda mengikuti Roman. Mereka bertiga berjalan menghampiri Alan.


"Pemimpin kota..." Roman menundukkan kepalanya.


"Kau cukup pintar. Tapi, sayang sekali kalau yang memutuskan hukuman kalian bukankah aku, melainkan Raja Rolant itu sendiri." Alan memandang Roman dengan tatapan suram.


Jika sebuah tatapan mata bisa membunuh seseorang, mungkin Roman saat ini sudah terbunuh berkali-kali karena tatapan Alan sangat suram.


Alan mengangkat tangannya sedikit, kemudian beberapa prajurit mendekati Roman dan keluarganya dan memborgol mereka.


Prosesnya sangat lancar karena Roman dan keluarganya mau bekerja sama dengan baik tanpa melawan.


Lalu ada beberapa prajurit dan pelayan yang ditangkap juga karena mereka mengetahui rencana Keluarga Malone yang akan melakukan pemberontakan.


Kemudian Pasukan Kota membawa mereka dengan kereta kuda milik Keluarga Malone karena mereka juga memerlukan barang-barangnya untuk bukti.


Sepanjang perjalanan menuju penjara Kota Coramon, Warga Kota Coramon melihat kalau ada masalah besar karena Alan turun tangan.


Mereka berpikir masalah apa yang terjadi sampai mereka melihat ada lambang Keluarga Malone dibeberapa kereta kuda.


Kemudian mereka berpikir kalau masalah ini pasti ada hubungannya dengan kerusakan di Mansion Keluarga Malone dan Mansion Marquiss Alan.


Warga Kota Coramon saling membahas dan mereka berasumsi kalau Keluarga Malone menyerang Mansion Marquiss Alan.


Meskipun asumsi mereka tidak benar, tapi tidak bisa dikatakan salah juga. Karena rusaknya Mansion Keluarga Malone dan Mansion Marquiss Alan ada hubungannya.


...----------------...


Di Mansion Keluarga Mollon.


"Hm, baiklah, kau boleh pergi." Damian mengangguk lalu bawahannya keluar dari ruangan.


"Ada apa, Suamiku?" tanya Inka.

__ADS_1


"Berita baik, Keluarga Malone sudah ditangkap oleh Pasukan Kota dan Marquiss Alan." Damian tersenyum cerah.


"Marquiss Alan turun tangan?" Inka sedikit terkejut karena Alan turun tangan mengatasi masalah ini.


"Bagus, dengan ini, kita hanya tinggal membawa mereka kehadapan Raja Rolant dan menjelaskan semuanya." Karina mengangguk dengan puas.


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan lukisan gunung iblis? Apakah Marquiss Alan menyimpannya?" tanya Julian.


"Ah ya, maafkan aku karena terlalu bersemangat dengan berita penangkapan Keluarga Malone. Marquiss Alan memutuskan untuk membakarnya dengan sihir api suci," ucap Damian.


"Api suci? Baguslah kalau begitu," angguk Julian.


"Dan kalian juga harus senang karena saingan kalian sudah tidak ada." Karina tersenyum kepada Damian dan Inka.


"Benar, tapi kami juga harus lebih waspada karena pasti ada banyak yang mengincar posisi yang ditinggalkan oleh Keluarga Malone." Inka mengangguk dengan serius.


"Inka benar, tapi yah, kami memang bahagia karena Keluarga Mollon akan lebih sukses." Damian tersenyum.


Mereka berbincang-bincang dengan gembira karena Keluarga Malone sudah ditangkap dan kali ini semua masalah sudah selesai.


Hanya tinggal menunggu Keluarga Malone diberangkatkan menuju Ibukota dan bertemu dengan Raja Rolant yang akan memutuskan hukuman untuk mereka.


"Ayah! Ibu!" Pintu terbuka dan muncul Ethan dan Ella sambil berlarian tanpa alas kaki.


"Tuan Muda, Nona Muda!" Pengasuh mengejar Ethan dan Ella seperti biasanya.


"Ethan, Ella, jangan selalu merepotkan pengasuh kalian." Inka menggendong Ethan dan Ella keatas sofa.


"Baik!" Ethan dan Ella menjawab secara bersamaan.


"Mengapa mereka tidak memakai alas kaki?" Damian bertanya kepada pengasuh Ethan dan Ella.


"Tuan Muda dan Nona Muda baru saja mandi, namun setelah mereka berpakaian, mereka langsung berlarian kesini." Pengasuh menjawab dengan nada tidak berdaya.


"Kalian ini ya.." Damian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ethan! Ella! Tangkap!" Julian melemparkan sesuatu kepada mereka berdua.


Ethan dan Ella mengangkat kedua tangan kecil mereka untuk menangkap sesuatu yang dilempar oleh Julian.


Mereka melihat kalau sesuatu yang ditangan mereka adalah kemasan makanan ringan dengan rasa yang mereka suka yaitu rasa asin.


"Terima kasih, Paman!" Ethan dan Ella meneteskan air liur setelah mengetahui kalau Julian memberikan mereka makanan ringan yang mereka suka.


"Julian!" Inka berteriak kepada Julian.

__ADS_1


"Hey, hey, santai saja~" Julian tertawa terbahak-bahak.


__ADS_2