
Setengah jam kemudian, orang-orang yang sedang beraktivitas melihat ada burung besar di atas langit, mereka menjadi panik karena mengira itu adalah serangan monster.
Tapi segera mereka membuang pemikiran itu karena melihat burung besar itu tidak menyerang, bahkan pergi ke kediaman pemimpin kota mereka.
Orang-orang berpikir pasti itu adalah hewan peliharaan orang kuat yang datang karena masalah yang Kota Cronna hadapi beberapa hari sebelumnya.
Dan tentu saja burung besar yang mereka maksud adalah Julian dalam wujud Pterosaurus. Ia langsung menuju ke kediaman Raff setelah ia sampai.
Elita turun dari punggung Julian kemudian Julian bertransformasi menjadi manusia kembali.
Julian segera mengikuti Elita menuju area latihan prajurit karena biasanya tempat itu adalah tempat yang ramai karena prajurit selaku berlatih di sana.
Namun mereka melihat kalau ada Raff dan Lex di sana yang sedang berbicara dengan prajurit lain.
"Suamiku!!" teriak Elita.
Ia menghampiri Raff dan langsung memberitahu mengenai diskusi dengan Julian dan lokasi sumber air yang mereka temukan.
Raff melebarkan matanya dan bertanya, "Apakah itu benar!?"
Julian menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak terdeteksi adanya air. Tapi aku yakin kalau di sana pasti ada air karena ada gua bawah tanah yang terbentuk."
"Bagus! Lex, tolong segera kumpulan para prajurit dan orang-orang ahl," perintah Raff.
"Baik!" Lex mengangguk dengan penuh semangat karena ia juga menantikan sumber air baru ini.
Tidak perlu banyak waktu, hanya dalam setengah jam, Lex sudah mengumpulkan banyak prajurit dan orang-orang ahli yang terkait. Lex juga sudah membawa alat-alat untuk menggali gua bawah tanah.
"Tuan Julian, apakah sudah menurutmu semuanya sudah cukup?" tanya Raff kepada Julian.
Julian mengangguk, "Seharusnya sudah cukup."
"Bagus. Semuanya! Masuk ke dalam kereta kuda! Kita akan berangkat menuju lokasi sumber air yang baru!!!" teriak Raff.
"Ohh!!" orang-orang menjadi bersemangat.
Mereka segera memasuki kereta kuda masing-masing. Raff juga masuk ke dalam kereta kuda miliknya bersama dengan Elita.
Sedangkan Julian, ia bertransformasi kembali menjadi Pterosaurus. Ia terbang di langit karena lebih mudah untuk melihat dari jarak jauh. Rombongan kereta kuda juga mengikuti arah perginya Julian.
"Bagaimana caranya kalian bisa menemukan sumber air baru secepat itu?" tanya Raff kepada istrinya.
"Tidak ada yang perlu dikatakan selain keberuntungan. Kami sudah mencari sekitar dua sampai tiga jam namun tidak kunjung menemukannya."
"Lalu saat kami sedang beristirahat, kami justru menemukan area di mana ada banyak tumbuhan yang tumbuh dengan baik."
__ADS_1
"Oleh karena itu kami langsung memeriksanya," jawab Elita.
"Keberuntungan ya, itu cukup bagus," ucap Raff.
...----------------...
Perjalanan sudah berlalu sekitar dua jam. Julian tiba-tiba berhenti yang membuat kereta kuda di bawahnya bingung mengapa dirinya berhenti.
Lalu orang-orang yang di bawah melihat Julian menghadap ke atas dan membuka mulutnya. Ternyata ia menembakkan bola api yang cukup besar dari mulutnya ke atas langit.
Bola api tersebut meledak di atas langit, ledakannya cukup dahsyat karena Julian menggunakan banyak mana agar Claire bisa melihatnya.
Setelah menunggu selama beberapa detik, sebuah bola api ditembakkan dari jarak yang cukup jauh dan meledak di langit sama seperti cara yang Julian lakukan.
"Semuanya! Lokasi kita sudah dekat, ayo ikuti aku!" teriak Julian.
Ia kemudian terbang menuju sumber ledakan bola api tadi yang pasti itu ditembakkan oleh Claire setelah melihat ledakan bola api milik Julian.
...----------------...
"Aku kira Master dan yang lain akan datang lebih lama," ucap Nimi.
Mine mengangguk, "Sama, jika Master belum datang, maka aku akan tidur sebentar."
"Kalian ini, ayo, sebentar lagi Master akan datang. Kita akan melakukan pekerjaan yang lumayan melelahkan," ucap Claire.
Setengah jam kemudian, mereka melihat ada sesuatu di atas langit. Mereka menyipitkan mata mereka dan melihat kalau itu adalah Julian dalam wujud Pterosaurus.
"Master!!" teriak mereka bertiga.
Julian bertransformasi menjadi manusia kembali di udara dan mendarat di depan mereka.
"Maaf membuat kalian menunggu kama," ucapnya.
"Tidak apa-apa, Master. Ngomong-ngomong, mana yang lain?" tanya Claire.
Kebetulan sekali setelah Claire menanyakan hal itu, terlihat bayangan dari jauh. Bayangan itu adalah rombongan kereta kuda dari Kota Cronna.
"Apakah lokasinya berada di sini?" tanya Raff setelah ia turun dari kereta kuda.
"Ya, itu benar, Suamiku," jawab Elita.
"Tuan Julian, bagaimana dengan penggaliannya? Apakah kita hanya tinggal menggali ke bawah sampai menemukan gua bawah tanahnya?" tanya Raff kepada Julian.
Julian menggeleng-gelengkan kepalanya, "Hm? Tentu saja tidak. Itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Aku tidak ingin menggunakan waktu secara sia-sia."
__ADS_1
Kemudian Elita bertanya, "Lalu bagaimana caranya selain menggali ke bawah?"
Julian menyeringai dan menjawab, "Apa lagi? Tentu saja meledakannya!"
"Ledakan!?" semua orang terkejut dengan jawaban Julian.
"Ya! Bukankah itu adalah cara yang paling sederhana? Lagipula di sini tidak ada bangunan atau apapun yang lain." Julian mengangkat bahunya.
Mereka semua terdiam karena ucapan Julian memang benar adanya. Kemudian mereka menoleh ke arah Raff dan menunggu keputusannya.
"Ya!" Raff mengangguk tanpa ragu-ragu.
"Bagus. Kalian semua jaga jarak, aku akan meledakannya dengan bola api." Julian bertransformasi menjadi Pterosaurus lagi.
Ia terbang ke atas langit, setelah ia melihat kalau yang lain sudah menjauh, ia membuka mulutnya lebar-lebar dan menembakkan beberapa bola api.
Julian menggunakan mana yang lumayan banyak karena gua bawah tanahnya cukup dalam dan tidak akan cukup hanya dengan bola api biasa.
Ledakan demi ledakan terdengar, orang-orang menutup mata mereka karena banyak asap dan pasir yang berterbangan yang mengganggu pandangan.
Setelah asap menghilang, mereka melihat sebuah lubang besar dan juga dalam. Namun mereka belum melihat adanya gua bawah tanah.
"Tuan Julian! Gunakan mantra sihir yang sama satu kali lagi!" teriak Elita kepada Julian.
Ia sudah memeriksanya kalau tinggal sedikit lagi sebelum mencapai gua bawah tanah.
Julian yang mendengar teriakan Elita mengangguk, kemudian ia menembakan beberapa bola api lagi sama seperti sebelumnya.
Baru setelah itu, mereka menemukan ada gua bawah tanah di sana. Setelah keterkejutannya sebentar, Raff langsung mengoordinasikan orang-orang.
Raff membawa penyihir angin yang bisa terbang di udara, ia meminta pada penyihir angin untuk terbang ke dalam gua bawah tanah dengan membawa tali.
Tali itu nanti akan digunakan untuk membangun sebuah alat yang mirip seperti elevator jika di bumi, bedanya lift ini menggunakan kristal sihir untuk menggunakannya.
Para penyihir angin, termasuk Julian yang sudah menjadi mode hibrida, terbang ke dalam gua bawah tanah tanpa membuang waktu lagi.
...----------------...
"Gila, gua bawah tangan ini sangatlah luas," ucap Julian.
Para penyihir angin mengangguk, mereka kemudian mengikat tali ke batu yang ada di dalam gua bawah tanah dan terbang kembali ke atas sedangkan Julian tetap di dalam.
Setelah itu, orang-orang ahli mulai membuat sebuah lift dari kayu dan tali. Kemudian menggunakan benda sihir dan kristal sihir untuk membuat lift sihir itu bisa naik dan turun.
Proses pembuatan lift sihir akan memakan waktu yang cukup lama, jadi Julian memutuskan untuk membawa yang tersisa ke dalam gua bawah tanah agar pemeriksaan menjadi lebih cepat.
__ADS_1
Kemudian Julian dan Elita menggunakan metode mereka masing-masing untuk memeriksa sumber air di dalam sana.