
Lantai 20.
Mereka berempat saat ini sedang bersembunyi dibalik batu besar. Mengapa bersembunyi? Itu karena ada kadal besar di sisi lain batu yang memiliki kekuatan membuat sesuatu yang ditatapnya membatu.
Tidak masalah jika kadal itu berukuran kecil, Julian bisa langsung membunuhnya. Tapi kadal di sana berukuran sangat besar bahkan sedikit lebih besar dari beruang yang mereka lawan.
"Claire, buat banyak bola cahaya. Berapapun jumlahnya asalkan bisa membuat kadal itu silau. Nimi dan Mine akan menyerang dari samping sedangkan aku akan menyerang dari atas."
"Kita akan melakukan ini dengan sangat cepat karena kekuatan kadal itu sangatlah berbahaya dan aku tidak tahu bagaimana cara mengembalikan orang yang menjadi batu."
"Dan yang paling penting, serang lehernya. Jangan khawatir, karena kadal tidak memiliki kulit yang keras sehingga kita bisa langsung membunuhnya asalkan kita menyerangnya dengan sekuat tenaga."
Julian menjelaskan rencana yang telah ia buat untuk mengalahkan kadal yang bisa membuat orang menjadi batu kepada mereka bertiga.
"Kami tahu!" mereka bertiga mengangguk paham dengan rencana Julian.
"Bagus, ayo kita mulai," ucap Julian.
Claire mengeluarkan staff sihirnya lalu ia membuat banyak sekali bola-bola bercahaya dari elemen cahaya dan mengarahkannya ke sekitar kadal yang sedang tidur di sisi lain batu.
"??" Kadal itu bangun karena merasakan sesuatu, tapi ia tidak menyangka kalau ada banyak sekali sesuatu yang sangat menyilaukan.
Kadal itu segera memejamkan matanya karena cahaya yang dipancarkan oleh bola-bola bercahaya sangatlah terang dan menyilaukan.
"Sekarang!" teriak Julian sambil melompat tinggi.
Nimi dan Mine mengangguk, mereka segera berlari dengan kencang ke arah kadal sambil memegang kedua pisau mereka dengan erat.
Nimi tidak memiliki mantra sihir serangan, jadi ia hanya mengumpulkan mana yang sangat melimpah di kedua pisaunya agar serangannya lebih kencang dan kuat.
Sedangkan Mine, ia langsung menggunakan mantra sihir peningkatan untuk meningkatkan kekuatannya sampai maksimal ditambah ia juga mengumpulkan mana di kedua pisaunya sama seperti Nimi.
Julian yang berada di udara juga menumbuhkan kuku yang panjang sekaligus sangat tajam. Ia tidak menggunakan mana karena ia percaya diri dengan kekuatan dinosaurus nya yang bisa menembus kulit kadal.
Persiapan mereka hanya membutuhkan beberapa detik saja, mereka sudah berada di dekat kadal yang sedang memejamkan matanya karena silau hanya dalam waktu dua detik.
Nimi dan Mine mengangkat kedua tangan mereka lalu menancapkan pisau mereka ke arah leher kadal di bagian kiri dan kanannya.
Tidak cukup sampai disitu saja, saat pisau mereka menancap, mereka memukul ujung gagang pisau agar menancap lebih dalam lehernya.
__ADS_1
Di atas, Julian mengarahkan kesepuluh jari tangannya ke arah leher kadal dan menusuknya cukup dalam karena ujung kuku yang sangat tajam sehingga cukup mudah untuk menusuknya.
"Wargh!!!" kadal itu berteriak namun masih tidak membuka matanya karena matanya masih sakit karena terkena cahaya tadi.
"Claire!! Tembakkan sihir api yang bisa meledak ke dalam mulutnya!!" teriak Julian yang memerintahkan Claire.
Claire mengangguk, ia segera membuat bola api yang cukup besar lalu melancarkannya ke arah mulut kadal yang terbuka lebar-lebar. Kemudian bola api itu masuk ke dalam mulut kadal dan meledak di dalamnya.
Kadal berteriak lebih keras lagi, dan tidak membutuhkan waktu lama sebelum teriakannya semakin melemah dan pada akhirnya berhenti berteriak tanda bahwa ia telah mati.
"Kerja bagus!!" teriak mereka berempat secara bersamaan.
Julian tidak tahu apa kegunaan dari kadal ini, tapi ia tetap menyimpannya karena siapa tahu kalau kadal ini memiliki kegunaan yang bermanfaat bagi mereka.
Setelah membunuh kadal, mereka berjalan menuju lorong gua yang cukup panjang. Kemudian, saat mereka sudah sampai di ujung lorong, mereka melihat ada pintu yang sangat besar dengan ukiran-ukiran yang tidak mereka pahami.
Lalu, di sisi kiri dan kanan pintu itu terdapat patung yang tingginya sama seperti tinggi pintu. Patung tersebut memiliki bentuk yang sederhana seperti golem biasa dengan satu batu kristal di kepalanya yang sepertinya adalah mata.
Ukuran pintu dan patung tersebut sama, tingginya sekitar 15 meter dan lebar pintunya sekitar 5 meter lebih yang membuatnya terlihat sangat besar.
"Patung yang sanga besar!!" teriak Nimi dan Mine yang kagum dengan ukuran kedua patung itu.
"Apakah benar seperti itu, Master?" tanya Claire yang terkejut.
Julian mengangguk dengan yakin, "Ya."
Bagaimana bisa Julian bisa yakin? Tentu saja itu karena cerita-cerita fantasi yang pernah ia baca. Pemandangan yang ia lihat sekarang sama seperti adegan klise di dalam cerita-cerita fantasi.
Di mana biasanya ada patung atau monster yang berdiam diri di sebelah pintu. Lalu karena ada orang yang menganggap kalau mereka hanya hiasan, orang itu mendekati pintu dengan rasa penasaran.
Namun ia tidak menyangka kalau patung atau monster yang ia anggap hiasan akan bergerak dan membunuh dirinya dengan sangat mudah.
Julian melihat ke sekeliling dan tidak melihat ada sesuatu yang aneh. Ia memastikannya dengan melihat aliran mana dan hanya pintu besar di depannya yang memancarkan aliran mana.
"Tidak ada sesuatu yang mencurigakan, ayo bersiap menghadapi dua patung besar," ucap Julian sambil bertransformasi menjadi Giganotosaurus.
"Baik!" angguk mereka bertiga.
"Roar!!" Julian meraung keras dan berlari mendekati patung yang ada di sebelah kanan.
__ADS_1
Dan sesuai dengan prediksi Julian, kristal di kepala kedua patung memancarkan cahaya merah. Lalu kedua patung tersebut menggerakkan tubuh mereka saat Julian mendekat.
"Wah! Mereka benar-benar bergerak! Seperti yang diharapkan dari Master!" mereka bertiga kagum karena ucapan Julian benar.
Patung di sisi kanan mengangkat kaki kanannya bersiap untuk menginjak Julian di bawahnya. Julian sudah mengantisipasi hal itu, ia bergerak ke kanan untuk menghindari serangan kaki patung.
Lalu saat kaki patung menginjak tanah yang membuat tanah hancur dan menciptakan lubang besar, Julian menyerangnya menggunakan sapuan ekor.
Giganotosaurus yang memiliki ekor kuat dan juga pajang tentu saja memiliki berat yang tidak bisa dibayangkan. Sapuan ekor Julian sampai menghancurkan setengah bagian kaki patung tersebut.
Dan karena setengahnya hancur, kaki patung tidak bisa menahan tubuhnya yang berat lalu kehilangan keseimbangannya sehingga terjatuh ke belakang.
Patung itu terjauh dan membuat suara yang sangat besar, Julian berlari dan naik ke kepala patung lalu ia menginjak kristal merah di kepalanya sampai hancur berkeping-keping dan saat kristal itu hancur, patung itu tidak bergerak lagi.
Julian bertransformasi menjadi manusia kembali dan berteriak, "Kalian bertiga! Hancurkan kristal yang ada di kepala patung!"
Mereka bertiga mengangguk, Nimi masuk ke dalam bayangan Mine. Lalu saat Claire mengalihkan perhatian patung dengan sihir cahaya, Mine melompat tinggi dan menggapai tubuh patung.
Mine memanjat ke atas dengan cepat dan samlai di bahu kiri patung. Saat sampai, Nimi langsung keluar dari bayangan Mine dan mereka berdua segera menyerang kristal di kepala patung.
Serangan mereka sangat kuat namun tidak menghancurkan kristal itu karena mereka menyerang dengan hati-hati karena pijakan mereka yang goyah. Namun tentu saja kristal itu juga retak karena serangan mereka berdua.
"Claire!! Tembak!!" teriak Mine.
Claire menciptakan bola api seukuran bola basket, lalu ia melancarkannya ke arah kristal patung. Bola api tersebut meledak yang menggantikan kristal tersebut.
Patung itu berhenti bergerak namun karena tubuhnya yang tidak seimbang, tubuhnya miring dan kehilangan keseimbangannya.
"Ups." Julian menumbuhkan sayap di punggungnya lalu terbang untuk menyelamatkan Nimi dan Mine.
"Pegang pinggangku dengan erat," ucap Julian sambil memeluk Nimi dan Mine.
Lalu ia terbang ke bawah dengan mulus dan menarik kembali sayapnya. Setelah kedua patung dikalahkan, mereka bersiap untuk membuka pintu.
Julian menyentuh pintu dengan telapak tangan kanannya, ia akan membuka dengan seluruh kekuatannya karena pintu batu yang besar pastilah sangat berat.
Tapi ia tidak menyangka kalau pintu tersebut akan terbuka secara otomatis saat ia menyentuh dengan telapak tangannya.
Lalu, mereka masuk ke dalam ruangan yang diterangi dengan kristal bercahaya. Dan mereka melihat kalau di tengah-tengah ruangan yang sangat luas terdapat seorang pria yang sedang diikat.
__ADS_1