
Mereka bertiga bertarung melawan Scorpiones sampai malam hari. Mereka berhenti saat suhu udara menjadi sangat dingin.
Di padang pasir, saat siang hari akan terasa sangat panas dan saat malam hari juga akan terasa sangat dingin.
Nimi dan Mine puas dengan pertarungan hari ini karena mereka bisa bergerak dengan bebas tanpa khawatir karena ada Claire yang akan menyembuhkan mereka saat terluka.
Mereka juga puas dengan hasil latihan yang sudah mereka lakukan selama berhari-hari yang bisa mengalahkan Scorpiones tanpa menggunakan mana.
Sesekali, Claire juga ikut dalam pertarungan dengan cara membantu mereka berdua dari jarak jauh dengan kedua pistol mananya.
Claire melihat bulan di langit dan berkata, "Ayo kembali, hari sudah malam. Master juga akan bertanya jika kita tidak kembali sekarang."
Nimi dan Mine mengangguk dan menjawab, "Baik, ayo kembali."
Saat mereka melihat tubuh Scorpiones, mereka berpikir untuk membawanya karena prajurit mengatakan kalau Scorpiones bisa dimakan.
Namun, satu Scorpiones saja memiliki ukuran tubuh yang besar. Mereka tidak bisa membawanya ke dalam kota apalagi sekarang sudah malam hari dan takut mengganggu yang lain.
Mereka memutuskan untuk kembali tanpa membawa tubuh Scorpiones dan memberitahu Julian untuk mengambilnya besok jika masih ada.
Namun tiba-tiba, saat mereka akan kembali ke dalam kota, mereka merasakan sesuatu yang buruk. Bahkan Claire yang biasanya tidak merasakan apapun bisa merasakannya saat ini.
"Nimi, Mine, meskipun kalian belum pernah bertemu dengan iblis. Tapi kalian pasti sudah pernah merasakan aura menjijikan dari mereka," ucap Claire.
Nimi mengangguk dan berkata, "Ya, kami pernah merasakannya saat di Kota Coramon sebelumnya."
Clare melihat ke sekeliling dan berkata, "Sekarang, apa yang sedang kita rasakan ini adalah sesuatu yang mirip dengan energi iblis namun lebih ringan."
"Tunggu, jika apa yang kita rasakan saat ini adalah sesuatu yang mirip dengan energi iblis, bukankah rumor mengenai Lich dan yang lain itu benar?" Mine mengerutkan keningnya.
"..." Mereka bertiga terdiam sejenak.
Claire merenung sejenak dan memutuskan, "Jangan bertindak gegabah, mari kita kembali ke sisi Master terlebih dahulu. Aku yakin Master akan menyelidiki hal ini."
"Baik, kami juga sudah tidak memiliki tenaga." Nimi dan Mine mengangguk.
Meskipun mereka bertiga penasaran, tapi mereka masih berpikir secara rasional. Mereka tidak akan memeriksa energi gelap itu dalam kondisi mereka yang sekarang.
__ADS_1
Mereka memasuki gerbang dengan menunjukkan kartu identitas mereka dan tidak memberitahu penjaga karena tidak ada bukti.
Bahkan jika ada, para penjaga jutsru akan menahan mereka bertiga agar tidak menyebarkan berita tersebut kepada masyarakat.
...----------------...
"Kalian kembali?" Julian yang sudah tidur membuka matanya dan melihat mereka bertiga kembali.
"Kami kembali, Master." Claire mengangguk dengan wajah serius.
Julian menyadari ada yang salah dan segera bertanya, "Ada apa? Katakan padaku apakah terjadi sesuatu dengan kalian bertiga."
Mereka bertiga duduk di atas ranjang, kemudian Claire memberitahu Julian mengenai energi gelap yang mereka rasakan tadi.
Claire juga memberi pendapatnya kalau ada kemungkinan besar rumor mengenai Lich dan yang lain itu memang benar adanya.
Julian menyipitkan matanya dan ekspresi wajahnya berubah menjadi serius setelah mendengar informasi dari Claire.
"Kerja bagus, kalian semua. Sekarang kalian bisa beristirahat, kalian pasti lelah bukan? Biarkan aku yang bergerak saat ini," ucap Julian.
Setelah membersihkan diri, mereka bertiga langsung tertidur dengan pulas karena sudah mengeluarkan banyak tenaga untuk bertarung melawan Scorpiones tadi.
Julian mengeluarkan jubah berwarna hitam gelap dari inventory dan mengenakannya. Kemudian, ia membuka jendela penginapan dan melompat dari kamarnya yang berada di lantai 5.
Ia tidak mendarat di tanah, melainkan melompat-lompat di antara atap bangunan untuk menghindari para prajurit yang sedang berpatroli.
Tujuannya adalah tembok kota sisi timur dimana Claire dan kedua demi-human merasakan energi gelap.
Julian berada di atas tembok kota dengan sembunyi-sembunyi. Kemudian ia mencari tempat yang aman di sana.
Setelah itu, ia memejamkan matanya dan menajamkan seluruh panca inderanya untuk merasakan energi gelap di sana.
Tidak butuh waktu lama, Julian membuka matanya dan kali ini ada sedikit kegembiraan di dalam matanya.
"Apa yang Claire ucapkan benar. Ada energi gelap di sini, dan yang menariknya, energi gelap itu berasal dari tembok kota," batin Julian.
Julian mengira kalau jika energi gelap memang ada di sana, maka itu berasal dari padang pasir yang sedikit jauh dari tembok kota.
__ADS_1
Karena tidak mungkin Lich akan membangkitkan Undead di dekat tembok kota karena para penjaga pasti akan menyadarinya.
Namun ia tidak menyangka kalau energi gelap tersebut bersalah dari dalam tembok kota, lebih tepatnya ada di tembok kota bagian bawah.
"Ayo kita periksa apa yang disembunyikan di dalam tembok kota ini." Julian berdiri dan melihat ke sekeliling untuk memeriksa apakah ada penjaga atau tidak.
Setelah dirasa aman, ia melompat dari tembok kota dan mendarat di bawah dengan mulus tanpa menimbulkan suara karena ia menggunakan mana untuk memperlambat dirinya saat jatuh ke bawah.
Julian menajamkan panca inderanya lagi untuk mencari lokasi tepatnya energi gelap tersebut kemudian ia berjalan sesuai arah.
"Ini kah?" Julian melihat ke depannya.
Di depannya ada sebuah bangunan yang mirip seperti barak prajurit dan ia bisa melihat kalau ada beberapa prajurit yang sedang berpatroli.
"Ini akan sedikit merepotkan, tapi bukan berarti aku tidak bisa masuk ke dalam sana," batin Julian.
Julian memakai tudung jubah dan memakai topeng yang berwarna hitam gelap juga untuk berjaga-jaga jika dirinya terlihat oleh prajurit.
"Silence." Julian menggunakan sihir di seluruh tubuhnya agar tidak bersuara.
Meskipun pergerakannya tidak akan menimbulkan suara, tetapi Julian masih mengendap-endap dan tidak mengendurkan kewaspadaannya.
Ia tahu jika ia santai sedikit saja, mungkin ada sesuatu yang tidak terduga dan dia tidak akan merespon dengan baik nantinya.
Julian berhasil masuk ke dalam barak dengan mulus. Di dalam juga sama seperti barak pada umumnya yang berisi prajurit-prajurit.
Julian berjalan sesuai arah yang ia rasakan dengan panca inderanya menuju sumber dari energi gelap yang ia rasakan.
Ternyata, sumbernya ada di bawah tanah saat ia melihat ada tangga melingkar menuju bawah tanah dibalik pintu yang tersembunyi di gudang penyimpanan.
Julian semakin meningkatkan kewaspadaannya, ia turun ke bawah tanah dengan tangga melingkar itu dengan langkah yang hati-hati.
Saat sudah sampai di ujung tangga, ada sebuah pintu kayu yang sudah usang. Dibukalah pintu kayu tersebut secara perlahan-lahan dan terlihatlah beberapa orang yang sedang membicarakan sesuatu.
Julian akan mendengarkan pembicaraan mereka, namun ia melihat orang yang pernah ia lihat di buku yang ditunjukkan oleh pedagang yang ia temui.
Orang yang dimaksud adalah pemimpin Kota Cronna saat ini, Count Raff Hardi. Dan betapa terkejutnya Julian saat mendengar apa yang Count Raff bicarakan dengan yang lain.
__ADS_1