Isekai Dinosaur

Isekai Dinosaur
Marie Largus dan Mantra Sihir Baru Karina


__ADS_3

Keesokan harinya, Julian masih tidak sadarkan diri. Saat ini dia sedang berada di kediaman Raff bersama dengan Claire dan kedua demi-human yang merawatnya.


Meskipun mereka khawatir, tapi mereka juga tahu kalau Julian tidak dalam bahaya. Ia hanya kelelahan karena menggunakan mana terlalu banyak.


Claire juga mengatakan kalau butuh sekitar 2-3 hari untuk Julian sadar. Itu termasuk cepat karena orang biasa membutuhkan waktu satu minggu.


 


Sementara itu, di Kota Crosa, ibukota Kerajaan Cruya.


Karina dan Pasukan Kota Coramon sudah tiba di Kota Crosa tadi malam. Mereka beristirahat terlebih dahulu di kediaman Duke Largus.


Sekarang, Pasukan Kota Coramon sedang membawa Roman dan keluarganya ke penjara dan menunggu keputusan dari Raja Rolant.


Sedangkan Karina, saat ini ia sedang berlatih di halaman belakang mansion tempat para prajurit atau penyihir milik Duke Largus berlatih.


"Hm, aku butuh mantra sihir baru agar bisa bergerak dengan cepat. Aku sudah melihat Julian bisa menggunakan sihir sesuai dengan imajinasinya, apakah aku perlu berimajinasi?"


"Selama ini aku hanya belajar mantra sihir dari guruku atau dari buku sihir. Aku belum pernah mencoba belajar dari imajinasi."


"Tapi Julian juga mengatakan kalau aku harus memahami konsep elemen milikku sebelum berimajinasi agar berhasil."


Karina saat ini sedang duduk bersila dan memejamkan matanya. Ia sudah memahami konsep dari elemen petir miliknya, sekarang ia hanya perlu berimajinasi untuk membuat mantra sihir baru.


Saat Karina sedang berimajinasi, muncul seorang wanita yang mirip seperti dirinya hanya saja wanita itu lebih dewasa.


Wanita itu memiliki rambut hitam yang panjang sampai pinggang. Ia memiliki tubuh yang lebih menarik dibandingkan dengan Karina.


Wanita itu juga memiliki aura dewasa yang lembut. Saat ia melihat Karina, orang-orang di sekitar bisa merasakan aura keibuan darinya.


Benar, wanita itu adalah ibu Karina, istri Duke Largus, Marie Largus. Marie sedang bosan dan kebetulan ia melihat Karina sedang duduk diam.


Meskipun ia penasaran, ia tidak mengganggu Karina. Ia bertanya kepada prajurit lain di sekitar tentang apa yang sedang dilakukan oleh Karina.


"Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak tahu apa yang Nona Karina lakukan, Nona tadi sedang berlatih mantra sihir, lalu tiba-tiba ia duduk diam sambil memejamkan matanya," jawab prajurit yang ditanyai oleh Marie.


"Hm.. Baiklah, kau bisa kembali," Marie mengangguk.


Tiba-tiba Karina membuka matanya dan berteriak dengan keras, "Aku tahu!"


"Apa yang kau tahu? Juga, tidak baik bagi seorang wanita untuk berteriak dengan sangat keras," tanya Marie.


"Ibu! Ibu membuatku terkejut." Karina menepuk-nepuk dadanya karena terkejut.


Marie terkekeh dan bertanya, "Fufufu. Lalu, apa yang kau tahu?"


"Oh benar. Ibu, tolong tunggu sebentar, aku akan menguji mantra sihir baru." Karina berdiri dan berlari ke tengah-tengah lapangan latihan.


"Mantra sihir baru?" Marie menjadi tertarik.

__ADS_1


Marie duduk dikursi kayu di sekitar lapangan di mana ada banyak sekali kursi seperti stadion jika di bumi sebelumnya.


Karina menyalurkan elemen petir di telapak kakinya, ia sedikit menekuk lututnya dan tubuhnya sedikit condong ke depan.


"Leap." Karina menghilang dari tempatnya.


Orang-orang penasaran dengan mantra sihir baru Karina. Mereka menghentikan latihan mereka dan menonton Karina mencoba mantra sihir barunya.


Kemudian mereka terkejut saat Karina menghilang dari tempatnya, saat mereka mencari-cari dimana Karina, terdengar suara keras dari tempat di mana senjata kayu ditaruh.


Mereka melihat kalau banyak senjata kayu yang patah ataupun hancur dan penyebabnya adalah Karina yang saat ini sedang memegangi kepalanya.


"Aku berhasil!!!" Karina berdiri dan berteriak dengan keras.


"Karina! Kau tidak apa-apa?" Marie menghampiri Karina dan bertanya dengan khawatir.


"Hanya sedikit pusing karena tabrakan, tapi tidak apa-apa! Yang lebih penting, aku berhasil, Bu!" Karina memeluk Marie dengan senang.


"Baiklah-baiklah, tapi kau juga harus bisa mengendalikannya." Marie menepuk-nepuk punggung Karina.


"Um!" Karina mengangguk.


"Ngomong-ngomong, dari mana kau mempelajari mantra sihir itu? Apakah gurumu yang mengajarkannya? Atau kau membeli buku sihir di perjalanan?" Marie bertanya karena penasaran.


Karina menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Bukan, aku menggunakan metode imajinasi seperti yang diajarkan Julian!"


Karina mengangguk, "Ya! Julian mengajarkan metode dimana aku bisa menggunakan sihir dengan berimajinasi. Tentu saja aku juga harus memahami konsep elemen petir."


Marie melihat Karina sedang berbicara tentang Julian dengan nada gembira. Ia memiringkan kepalanya dan memikirkan sesuatu yang menarik.


Ia tersenyum dan memutuskan untuk bertanya, "Karina, apakah kau menyukai pria yang bernama Julian itu?"


Karina yang sedang berbicara banyak hal langsung berhenti dan tertegun setelah mendengar pertanyaan yang diajukan oleh ibunya.


Kemudian wajahnya memerah dan berkata, "Ti-tidak! Aku tidak menyukai Julian! Ibu salah paham, aku bahagia karena dia mengajariku metode yang bagus!"


Semakin banyak Karina menjelaskan bahwa dirinya tidak menyukai Julian, semakin lebar senyum Marie karena paham dengan perasaan putrinya.


"Baiklah-baiklah, ibu paham. Berlatihlah dengan giat, ibu akan membicarakan tentang pernikahan kalian berdua dengan ayahmu." Marie menepuk-nepuk bahu Karina kemudian ia pergi.


Karina terdiam sebentar mencoba memproses apa yang dimaksud oleh ibunya. Kemudian ia paham dan wajahnya semakin memerah.


 


"Julian Roley, ya..." batin Marie.


Marie menjadi tertarik seperti apa pria yang disukai oleh putrinya. Karena Karina tidak pernah menunjukkan ketertarikan terhadap pria manapun.


Bahkan Lukas, yang merupakan pangeran kedua tidak bisa membuat Karina tersenyum apalagi membuat wajahnya memerah karena malu.

__ADS_1


"Yah, kurasa aku harus membicarakan ini dengan Hadden," batin Marie.


Hadden yang dimaksud oleh Marie adalah suaminya yaitu Hadden Largus yang merupakan pemimpin Keluarga Largus sekaligus menyandang gelar Duke.


...----------------...


Karina mengesampingkan pikiran mengenai ucapan ibunya, ia fokus untuk mengendalikan kecepatan dari mantra sihir baginya, yaitu Leap.


Leap merupakan sebuah mantra sihir yang berupa lompatan entah itu ke depan atau ke atas dan dengan tujuan untuk menghindar atau melakukan serangan lanjutan tergantung pengguna.


Karina tiba-tiba teringat masa lalunya saat ia pernah terkena petir miliknya sendiri dan itu membuat dirinya sedikit trauma.


Dari ingatan masa lalunya itu, Karina berpikir untuk membuat mantra sihir berupa lompatan. Rencananya, mantra sihir ini akan digunakan untuk menghindar.


Tapi setelah diuji coba, Karina melihat kalau Leap bisa digunakan untuk mendekati musuh dan melakukan serangan lanjutan.


Konsep ******Leap****** memang sangat sederhana, namun ditambah dengan elemen petir milik Karina membuat lompatannya menjadi sangat cepat.


Itulah mengapa Karina sampai menabrak tempat senjata latihan tadi bahkan merusaknya karena tidak menyangka kecepatannya akan sangat tinggi.


"Hm, jika aku melompat ke atas, pasti akan sangat tinggi. Lalu bagaimana caranya aku mendarat?" Karina menyentuh dagunya dan berpikir.


"Aku perlu sebuah pijakan, tapi aku tidak memiliki afinitas dengan elemen angin. Apakah aku bisa membuat pijakan di udara dengan elemen petir?" batin Karina.


Karena tidak tahan dengan kebingungannya, ia memutuskan untuk langsung mencobanya. Sama seperti sebelumnya, ia menyalurkan elemen petir di telapak kakinya.


Kemudian Karina melompat dan lompatannya sangat tinggi hampir mirip seperti terbang. Lalu saat ia di udara, ia mencoba untuk membuat sebuah pijakan dari elemen petir.


Karina berpikir dengan keras bagaimana caranya membuat pijakan dari elemen petir. Ia kemudian mendapatkan sebuah ide yang tidak tahu apakah berhasil atau tidak.


Karina membuat dua bola petir dari elemen petir yang ada di kakinya. Kemudian ia menggunakan kedua bola petir tersebut sebagai pijakan.


Tapi, mungkin karena terlalu bersemangat, ia jadi sedikit ceroboh. Kaki kiri Karina berhasil menginjak bola petir, tapi kaki kanannya tidak yang mengakibatkan dirinya terjatuh.


"Tidak!!!!" Karina berteriak sebelum pada akhirnya ia membentur tanah.


"Nona Karina!!!" Para prajurit berteriak dengan khawatir melihat nona mereka jatuh dari langit.


"Uhuk, uhuk. Aku tidak apa-apa." Karina batuk karena menghirup asap.


Meskipun tubuhnya sakit, ia tidak menunjukkan ekspresi menyakitkan. Justru wajahnya membuat ekspresi gembira sampai wajahnya memerah.


Bukan karena Karina sedikit melenceng yang membuat ia gembira akan rasa sakit, melainkan karena ia berhasil menginjak bola petir yang berarti idenya berhasil.


"Tapi tidak terlalu efisien untuk membuat bola petir, aku takut kalau saat pertarungan aku gagal berpijak. Hm, sepertinya aku perlu membuat pijakan yang datar," batin Karina.


Kemudian, Karina terus mencoba membuat pijakan baru selain bola petir lagi dan lagi. Para prajurit juga menjadi semangat berlatih karena melihat kalau Karina juga berlatih dengan sungguh-sungguh..


"Aku tidak akan kalah dengan Nona Karina!" itu adalah pikiran dari para prajurit.

__ADS_1


__ADS_2