
"Seperti apa gadis yang Vian suka?" tanya Nissa antusias dan menjadi sangat penasaran.
"Akan Vian kasih tahu kalau gadis itu menerima Vian."
"Eh, masak ada gadis yang nolak cucu Oma yang ganteng ini?" tanya Nissa sambil mengusap puncak kepala Vian.
"Kalau jejeran sama Om, hilang gantengnya Vian di ambil Om semua."
"Mana mungkin begitu. Kalian punya daya tarik tersendiri. Oma yakin, gadis itu akan menerima Vian."
Huuufffttt
Vian menghela nafasnya, walau rasa percaya diri sudah kembali ia kumpulkan untuk menyatakan perasaannya lagi. Tapi entah kenapa, Vian merasa akan mendapatkan penolakan lagi.
"Masalahnya Vian sudah pernah di tolak, Oma."
"WHAT!" pekik Nissa tidak percaya. "Bisa-bisanya cucu Oma yang tampan ini di tolak. Oma jadi ingin tahu, bagaimana cantiknya gadis itu? Apa Vian menyimpan fotonya?" rasa penasaran Nissa semakin memuncak saja.
"Ada Oma. Hanya saja, Vian tidak ingin memperlihatkannya terlebih dulu. Vian bahkan belum sama sekali mengatakan ke Mama dan Papa. Baru Om dan Oma saja yang tahu, kalau Vian menyukai seorang gadis."
.
.
.
"Kita mau pulang ke rumah Nda Mas?" tanya Ruby karena mobil yang di kemudikan Zen seharusnya ambil arah ke kanan tapi Zen mengambil arah ke kiri.
"He'em. Mulai malam ini kita akan tidur di rumah Nda."
"Yes. Kalau begini kan enak, setiap pulang kuliah By bisa langsung pulang ke rumah saja."
"Kan kalau kejauhan bisa pulang ke kantor."
Ruby langsung menoleh menatap serius wajah Zen yang sedang fokus melihat jalanan.
"Baru sadar ya kalau suami kamu ini ganteng, menawan, rupawan, dan masih banyak hal lainnya lagi," tutur Zen mulai dengan sikap pede over dosisnya.
__ADS_1
"Jangan lupa satu lagi Mas."
"Apa?"
"Mesum," cibir Ruby.
Ruby pikir, Zen tadi benar-benar mau mengajaknya ke sebuah pulau. Tapi nyatanya pulaunya pulau kapuk alias tempat tidur.
Namun, aksi terselubung Zen gagal total karena Nabila datang ke kantor secara dadakan. Mengajak Zen dan Alan untuk membahas penambahan tenaga kerja di rumah sakit mereka.
Saat itu lah Ruby menyadari. Kalau suaminya selalu mengambil kesempatan setiap kali ia datang ke kantor. Membuat Ruby merutuki dirinya sendiri, karena baru menyadari akal bulus suaminya.
"Tapi enakkan?" tanya Zen melihat sekilas Ruby bersamaan dengan senyum menggoda yang Zen berikan. "Buktinya saja kamu sampai Ahhh ... Masss," Zen mengikuti suara des*ah nafas Ruby yang menjadi kesukaannya. "Awww ..." ringis Zen saat perutnya di cubit Ruby.
"By begitu juga gara-gara Mas, tahu nggak." Wajah Ruby mulai memerah karena pembahasan mereka.
"Kamu cantik loh sayang kalau wajah kamu jadi memerah malu. Malu-malu tapi mende*sah."
Plak
"Pokoknya nanti malam kita lembur."
"Lembur ngapain Mas?"
"Double update karena tadi gagal total."
Ruby mulai harus mencerna kata-kata modus Zen dengan baik dan benar.
"Hisss, dasar Mas aja yang kemaruk tahu nggak?"
Tak lama kemudian, mobil Zen sudah memasuki halaman rumah.
"Itu bukannya Om Hendri, Mas?" tanya Ruby saat akan membuka pintu mobil.
"Iya. Ayo kita salim kesana dulu."
Zen menggandeng Ruby kearah Yusuf dan Hendri yang sedang berbincang.
__ADS_1
"Daddy ..." teriak Zen.
Hendri yang merasa terpanggil dengan panggilan keramat Zen, hanya bisa menepuk jidatnya sendiri.
"Astagfirullah arek Iki, wes rabi kelakuane panggah ae," gerutu Hendri. (Astagfirullah anak ini, sudah nikah tingkahnya tetap sama)
Ruby lebih dulu mencium punggung tangan Yusuf dan Hendri. Sedangkan Zen, tentu saja lelaki itu menghambur ke pelukan Hendri.
"Kangen Daddy ..." ucapnya seperti anak kecil. Membuat Ruby melongo melihat kelakuan suaminya sendiri.
"Geli Zeeennn ..." pekik Hendri. Namun tangannya menepuk punggung Zen. Rasanya rindu juga dengan adiknya yang masih saja terlihat seperti anak kecil di matanya.
"Maira jangan heran sama kelakuan suami kamu yang tengil ini ya," ucap Hendri karena melihat wajah Ruby yang tercengang. Yusuf saja sampai terkekeh sendiri melihatnya.
"By nggak heran kok Om, eh maksudnya Mas Hendri," lirih Ruby, merasa aneh dengan cara panggilannya sekarang. Zen melepaskan pelukannya pada Hendri.
"Panggil seperti biasanya juga nggak apa-apa Mai. Nih suami Mai saja, manggil juga sesukanya."
"Iya Om."
"Queen pasti senang tuh, kamu sudah datang."
"Loh Queen juga ikut kesini Om?" tanya Ruby semangat.
"Tentu dong Mai. Setelah dari acara wisuda Alvian kami memutuskan untuk mampir ke sini."
"Mas By masuk rumah duluan," pamit Ruby sambil lari begitu saja.
Rasanya Ruby sangat merindukan sahabatnya itu. Ruby lari cepat menaiki anak tangga.
"Eh," seketika Ruby terkejut dan spontan memundurkan tubuhnya saat hampir saja menabrak tubuh seseorang.
"Maira."
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1