Istri Kecil Milik Mas Ganteng

Istri Kecil Milik Mas Ganteng
BAB 7 ORANG SEPERTI APA KAMU?


__ADS_3

"Siapa lelaki itu Bun?" tanya Ruby penasaran.


"Kami tidak akan memberi tahu By siapa orangnya ataupun namanya. Dia dari keluarga terpandang dan yang pasti dari keluarga baik-baik By," jelas Arjuno.


"Cincin itu, sekarang By yang simpan dan pikirkan baik-baik. Simpan jika memang By menerimanya, tapi kalau By menolaknya, Segera kembalikan cincin itu pada kami. Agar kami juga bisa segera kembalikan cincin itu pada lelaki itu, nak." Tutur Zantisya.


"Apa By mengenal dekat orang itu, sampai dia berani datang menemui ayah dan bunda?"


"Kalian pernah bertemu satu kali."


Ruby di buat tercengang dengan jawaban ayahnya. "Bagaimana mungkin bertemu satu kali bisa meminta By seperti ini? Aaahhh ... By tahu, pasti dia terpesona dengan kecantikan yang By punya," keluar sudah sikap narsis Ruby.


"Narsis banget sih kak," cibir Safir.


"Masih cantikan bunda, kak." Ucap Arfan.


Sedangkan Arjuno dan Zantisya hanya terkekeh dengan sikap pede yang di miliki Ruby. Sangat berbeda jauh dengan saudara kembarnya. Safir yang super pendiam dan Ruby yang menuruni sikap Arjuno.


"Tapi sayangnya, Bunda selalu puji kakak cantik tuh." Sombong Ruby yang hanya di tunjukkan pada orang terdekatnya saja.


"Tetap bunda yang lebih can-"


Ruby langsung membekap mulut adiknya yang belum selesai mendebatnya. "Bentar Fan, Kakak belum selesai bicara sama ayah dan bunda tadi."


"Dia belum tahu wajah By yang sekarang. Karena kalian bertemu sudah beberapa tahun lalu. Sudah cukup lama."

__ADS_1


Sejak tadi Ruby hanya duduk bersila di atas ranjang sambil menatap lekat cincin yang masih aman di tempatnya.


Setelah pembicaraan selesai, semua orang tentu saja langsung menuju kamar masing-masing.


Ruby mengingat kembali wajah kedua orang tuanya yang nampak berseri saat menyampaikan apa yang baru saja ia ketahui.


Ruby menopang dagunya dengan kedua tangan. Tubuhnya semakin membungkuk menatap cincin yang begitu cantik.


"Orang seperti apa kamu, sampai membuat orang tua ku seolah menyukai mu?" Ruby menghela nafasnya. Ruby terkekeh pelan karena merasa aneh sendiri. "Orang gila dari mana, jatuh cinta dengan orang yang hanya sekali di temui" Ruby mengambil cincin itu dari tempatnya. "Aku sebut kamu suhu kalau cincin ini pas di jari ku."


Deg


Nafas Ruby seketika tercekat, memenuhi rongga dadanya, saat setelah memasang cincin itu pada jari manisnya. Jantung Ruby bahkan berdebar dengan sendirinya saat ia yakin cincin itu terpasang pas di jarinya.


"Orang seperti apa kamu, sampai tahu ukuran jari ku."


Di Jakarta


"Ck, habis lagi airnya," gerutu Zen saat menekan tombol dispenser untuk air dingin. Zen langsung mengambil galon yang ada di bagian bawah, untuk segara turun dan mengambil air galon yang baru. Sungguh mandiri kamu Zen.


"Kehabisan air?" tanya Yusuf yang berpapasan dengan Zen.


"Iya. Ayah kok belum tidur?" pertanyaan bodoh macam apa ini. Saat malam sudah larut tapi Zen bertanya seperti bocah polos.


"Ehm ... Ayah juga mau minum. Di kamar, airnya juga habis."

__ADS_1


"Biar Zen bantu gantikan galonnya yah," Zen menawarkan jasanya.


"Nggak usah, Ayah bisa sendiri. Ayo duduk dulu, ayah mau bicara."


Zen mengikuti Yusuf yang menuju kursi ruang makan.


"Ada apa yah?" tanya Zen setelah ikut duduk di sana.


"Bagaimana kalau kamu sama Nabila, mencoba untuk menjalin hubungan lebih dari teman, Zen."


"Zen sama Bila itu hanya berteman ayah, Zen nggak punya perasaan lebih dari itu."


"Ayah ini sudah semakin tua Zen. Ayah juga ingin segera lihat kamu menikah, bahagia dengan pasangan hidup kamu. Syukur-syukur kalau ayah di kasih panjang umur agar bisa menimang cucu dari kamu."


"Zen tahu ayah. Tolong Ayah jangan bicara seperti itu lagi," lirih Zen.


Beberapa tahun yang lalu, Jaya dan Jumiasih meninggal dunia. Hal itu membuat Amira benar-benar terpukul. Semua orang memahami perasaan Amira. Keponakan Nissa yang sudah yatim-piatu sejak lahir ke dunia. Di besarkan oleh Jaya dan Jumiasih dengan rasa cinta yang mereka punya. Hal itu tentu membuat Zen terenyuh. Terkadang Zen berpikir, takut kalau ayah atau bundanya lebih dulu pergi, saat ia belum bisa membahagiakan kedua orang tuanya.


"Kalau kamu tahu, coba ikuti saran dari kami Zen. Seharian ini nda kamu banyak melamun. Tentu kamu tahu apa yang menjadi bahan lamunan Nda kamu kan?"


Perkiraan Yusuf, Nissa melamun karena anaknya yang tak kunjung menikah. Padahal tanpa Yusuf tahu, Nissa sedang berpikir bagaimana caranya untuk membuka ponsel Zen.


"Tolong sabar dulu ayah. Kasih Zen waktu."


Bersambung ...

__ADS_1


Ada yang inget Nabila anaknya Tasya?


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2