
"Deal!" bisik Zen.
Mendengar kata deal, entah kenapa Ruby jadi merasa salah mengambil strategi. Apa lagi kini, tubuhnya seperti di sengat oleh satu kata yang terdengar yakin Zen ucapkan.
"Ooommm ...," teriak Ruby kuat dan langsung meloncat cepat dari pangkuan Zen. Bagiamana mungkin Ruby tidak terkejut kalau Zen mendaratkan kecupan di telinganya. Sekalipun ia menggunakan jilbab, tentu Ruby masih merasakan tindakan Zen barusan.
Semua crew tentu saja langsung menatap Ruby dan Zen.
"Kenapa By?" tanya Reina mewakili semua orang yang ada di sana.
"Tante. Om ini, barusan saja ci ...," bibir Ruby langsung mengatup. Mana mungkin ia berkata jujur apa adanya, sedangkan semua mata tertuju padanya dan Zen.
"Ci, apa By?" tanya Reina penasaran.
"Bukan apa-apa Tante." Ruby menatap Zen, lelaki itu terlihat santai seperti tidak melakukan hal apapun. Bahkan Ruby tidak bisa mengartikan senyuman Zen saat ini.
"Ya sudah, kita mulai sekarang," ucap kang foto.
"Om ini sebenarnya beneran ga*y apa memang sedang usil dengan ku sih," gumam Ruby sambil melangkah mendekati Zen.
"Ayo," ajak Zen sambil menepuk pahanya.
"Tenang By, tenang. Ini hari terakhir kerja, setelah ini kamu nggak perlu melakukan adegan seperti ini lagi," Ruby menarik nafas dalam-dalam, menenangkan perasaannya yang gugup.
Beberapa gaya Ruby dan Zen sudah berhasil di abadikan oleh fotografer, setelah Ruby kembali duduk di pangkuan Zen.
"Sekarang Pak Zen dan Ruby saling pandang ya, Ruby tangannya melingkar di leher pak Zen ya. Buat seolah akan berciuman. Tangan Pak Zen juga melingkari Ruby."
__ADS_1
Ruby dan Zen mengikuti semua instruksi yang mereka dapatkan. Kedua mata mereka saling memandang dengan jarak yang pastinya sangat dekat, seperti dua insan yang siap saling berciuman.
"Satu, dua, ti ..."
Cup
Kedua mata Ruby membulat saat Zen mengecup bibirnya tanpa aba-aba. "Aaa ... " teriak Ruby sambil melompat, menjauhi Zen.
"Kenapa By?" tanya semua orang yang ada di sana secara bersamaan.
Ruby melihat Zen sejenak, lelaki itu sepertinya sangat tahu apa yang Ruby bayangkan sampai lompat secara kilat.
"Nggak apa-apa. Maaf sudah buat lama pekerjaan kita hari ini."
Ruby harus mengenyahkan bayangan yang tidak-tidak. Agar Ruby dan semua orang di sana kembali profesional dalam bekerja.
Zen kembali melajukan mobilnya untuk segera pulang. Sesekali ia melirik Ruby yang sejak awal memasuki mobil, langsung memejamkan kedua matanya.
Zen ingin sekali menjahili Ruby. Menggoda istri kecil Zen perkara hal tadi. Namun, Zen memilih diam karena Zen tahu, Ruby benar-benar butuh istirahat.
"By ... By ..."
Entah berapa kali Zen membangunkan Ruby. Bukannya bangun, Ruby malah menggumam pelan berusaha mencari posisi yang pas.
Zen keluar mobil lebih dulu, dan bergegas menuju pintu mobil bagian Ruby. Zen langsung membuka safety belt Ruby setelah membuka pintu mobil pelan-pelan.
Zen menatap wajah Ruby yang lelap. "Bocil bar-bar," ungkap Zen sambil mencolek hidung mungilnya Ruby.
__ADS_1
Zen bergegas masuk ke dalam rumah sambil menggendong Ruby yang tetap lelap.
"Tidur?" tanya Nissa sambil menggerakkan bibirnya tanpa bersuara. Sudah sejak tadi ia menunggu anak dan menantunya pulang ke rumah.
Zen mengangguk. "Zen ke atas dulu Nda," ucapnya pelan.
Zen menaiki anak tangga pelan-pelan. Rasanya perasaan Zen menumpuk menjadi satu, saat memasuki rumah Ayah dan Nda nya ini. Rumah tempat mereka pulang saat di Malang. Apa lagi sekarang Zen pulang ke rumah orang tuanya bersama sang istri.
Zen langsung merebahkan tubuh Ruby setelah memasuki kamarnya. Kamar yang terakhir kali ia singgahi satu tahun lalu. Semenjak di Jakarta, Zen memang sangat jarang pulang ke Malang. Karena keluarga di Malang lah yang datang ke Jakarta.
"Cantik ..." gumam Zen. Lelaki itu duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah Ruby.
Tangan Zen menyanggah tubuhnya, karena kini ia membungkukkan tubuhnya untuk mengapa wajah Ruby lebih dekat.
Pelan-pelan tangan Zen mengabsen wajah Ruby. Pipi, alis, mata, hidung tak luput tadi usapan lembut tangan Zen.
Zen semakin terpaku saat jarinya berhenti di bibir Ruby. Bibir mungil yang dulu tidak sengaja ia cium. Ke dua mata Zen sampai tak berkedip menatap benda kenyal yang melambai-lambai.
Detak jantung Zen sudah ingin lari rasanya. Nafasnya sudah tercekat di dada. Zen menelan salivanya secara kasar dan berulang-ulang, karena merasa tergoda. Lidahnya berulang kali membasahi bibirnya yang sudah ingin mendarat.
Tanpa pikir panjang, Zen langsung mendekatkan wajahnya. Merasakan hembusan nafas hangat Ruby yang menerpa.
"Tidak apa-apa kan kalau aku melakukan ini diam-diam?"
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1