
"Dia?" pekik Ruby jengah. "Yang Kakak sebut dia itu Om Zen. Om, Kakak sendiri," ucap Ruby memperingati. "Kakak jangan berani maju lagi, Ruby bisa nekat kalau kakak dekati Ruby," ucap Ruby mengancam.
"Aku ingin tahu, kamu tidak pernah bertemu dengan Om Zen. Sedangkan dengan ku? Kita lebih sering bertemu. Tapi kenapa kamu lebih memilih Om ku dari pada aku? Sudah jelas, aku lebih dulu mengungkapkan perasaan ku. Kenapa Mai?"
"Mas Zen datang dengan cara baik-baik melamar Ruby secara langsung pada orang tua By. Bagiamana mungkin Ruby tidak menerima lelaki yang berniat baik, terlebih lagi orang tua By sudah mengenalnya sejak lama."
"Kalau kamu meminta ku untuk melamar secara langsung, aku pasti akan melakukan hal yang sama."
"Hal seperti itu, seharusnya menjadi inisiatif sendiri seorang lelaki yang mencintai seorang gadis."
Tentu saja ucapan Ruby berhasil membuat Vian terdiam dan nampak berfikir.
"Aku mau kamu menyimpan ini. Aku yakin suami kamu tidak akan tahu kalau kamu diam dan menyimpannya agar tetap aman."
"Kakak minta By untuk mengelabuhi suami By sendiri?" Ruby menatap tajam Vian. "By sangat mencintai Mas Zen, jadi tolong berpikirlah dengan benar Kak. By rasa Kak sudah mengerti mana yang benar dan mana yang salah."
"Kalau begitu izinkan aku memasang cincin ini sebentar saja, Setelah itu terserah kamu mau membuangnya atau bagaimana."
Ruby jelas tahu, Vian berniat menjebaknya karena di ruangan lift ini, terdapat CCTV yang bisa menjadi alasan Vian untuk menyudutkannya, kalau Ruby terperdaya dengan ucapan Vian.
Ruby tetap waspada karen Vian bisa saja nekat menyentuhnya.
Ruby melihat angka lift yang berhenti di lantai 3, Dengan cepat Ruby mendorong tubuh Vian yang tengah lengah karena terpaku menatapnya.
"Iiisss ..." ringis Vian saat merasakan punggungnya mendarat pada dinding lift. Jujur, Vian tidak menyangka kalau tenaga Ruby cukup kuat menghempas tubuhnya.
Ruby bergegas lari untuk keluar lift. Vian yang sadar Ruby meninggalkannya, lelaki itu ikut lari dan langsung mencekal lengan tangan Ruby.
"Tolong jangan pergi, Mai."
Ruby yang tidak terima karena Vian sudah berani menyentuhnya. Ruby bergerak cepat memelintir tangan Vian.
"Aw."
"Jangan sembarangan sentuh Ruby ya kak," ucap Ruby marah. Ruby menghempaskan tubuh tinggi Vian.
Ruby kembali lari cepat menuruni anak tangga. Sedangkan Vian yang masih ingin berbicara berdua dengan Ruby, lelaki itu bergegas mengejar Ruby. Berharap Vian bisa menghentikan lari Ruby di lantai dua. Mumpung semua orang sedang pergi.
__ADS_1
"Mai tolong berhenti dan kita bicara baik-baik," pinta Vian.
"Ndaaa ... Ayaaahhh ..." teriak Ruby sambil lari menuruni anak tangga.
"Panggil saja sesuka mu karena semua orang sedang keluar," batin Vian sambil berusaha mengejar Ruby.
"Bibi ..." teriak Ruby. Entah kemana para Art rumah sebesar ini berada.
Nissa yang baru saja keluar dari kamarnya, bergegas mencari suara teriakan Ruby. Betapa terkejutnya Nissa saat melihat Ruby lari menuruni anak tangga sedangkan di belakangnya ada Vian yang sedang mengejar Ruby
"VIAN," sentak Nissa menghentikan aksi Vian.
Brug
"Awww," ringis Ruby karena ia terpeleset. Tubuhnya mendarat di lantai setelah melewati beberapa anak tangga.
"Ibu Ruby," pekik Nina yang hendak menyusul Ruby karena ia sudah terlalu lama menunggu.
"Ruby."
"Stop Kak. By nggak mau Kakak tolong. Jangan sentuh Ruby lagi," ucap Ruby saat Vian akan menolongnya.
Mendengar ucapan Ruby membuat Nissa jadi berprasangka. "Nina cepat tolong Ruby," perintah Nissa bernada marah.
"Baik Bu."
Nina bergegas menghampiri Ruby. Membantu Ruby berdiri karena sepertinya kaki Ruby terlilit. Dengan hati-hati Nina memapah Ruby menuju ruang keluarga.
Vian terpaku saat mendapatkan tatapan tajam dari Omanya.
"Oma pikir, setelah Oma menjelaskan panjang lebar, Vian akan mengerti dan belajar ikhlas menerima semuanya. Sebenarnya apa yang ada di pikiran mu Alvian Reindri Ann Wijaya?"
Vian tidak menjawab. Memilih bungkam, karena menurutnya, Nissa tidak akan mengerti perasaannya.
"Sudah Oma katakan. Ruby bukan jodoh kamu Vian. Ruby jodoh Om kamu. Apa dari sebuah kenyataan itu kamu tidak bisa mengerti juga?"
"Oma bingung dengan jalan pikiran kamu Vian. Padahal kamu bukanlah anak kecil lagi. Tapi kenapa rasanya kamu kesulitan memahami."
__ADS_1
"Oma minta Vian paham. Tapi Oma tidak memahami perasaan Vian. Vian hanya ingin berbicara berdua saja dengan Maira. Dan memintanya untuk menerima cincin yang sudah Vian siapkan ini. Tapi Maira justru tidak menghargai usaha Vian."
"Ruby melakukan hal yang benar karena dia sudah menjadi istri Om kamu, Vian."
"Oma hanya terus membela Om. Oma nggak mau mengerti perasaan Vian bagaimana. Oma menjaga perasaan Om tapi nggak mau menjaga perasaan Vian. Kenapa Oma pilih kasih?"
Mulut Nissa seketika terasa kelu tidak mampu mengatakan sesuatu. Hati Nissa terasa di pukul dengan sangat kuat saat mendengar Vian, mengatakan kalau dirinya pilih kasih.
"Kenapa Oma diam?"
Reina, Divya, Queen, Luna, dan Amira yang baru saja memasuki rumah tentu terkejut mendengar pertanyaan Vian pada Nissa. Mereka yang penasaran memilih diam dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Apa karena Vian anak Mama. Mama bukan anak yang Oma lahirkan dari rahim Oma sendiri, jadi Oma membela Om. Satu-satunya anak yang Oma lahirkan. Oh, Vian tahu. Nanti juga kalau Om sudah kasih cucu ke Oma pasti Oma lebih sayang ke cucu Oma yang asli dari pada ke kami. Oma pilih kasih," teriak Vian.
Tiba-tiba Nissa melangkah mundur satu langkah karena menahan hatinya yang terasa sakit. Dan air mata yang akan jatuh.
"Apa selama ini aku pilih kasih dengan ke dua anak ku?" batin Nissa.
"VIAN," teriak Divya saat mendengar ucapan kuat Vian.
PLAK ...
Reina yang tidak tahu ada masalah apa antara Nissa dan Vian, sehingga terjadi pertengkaran ini. Membuat Reina melangkah lebar dan menampar pipi Vian dengan kuat.
"Mama," lirih Vian.
"Siapa yang ngajarin kamu kurang ajar dan berani berkata kasar pada Oma, Vian?" sentaknya.
"Kamu bilang Oma pilih kasih? coba kamu tanya Mbak Amira, antara Mama dan Om, Siapa yg lebih di sayang Oma? Om Zen saja tidak pernah komplain seperti kamu, lah kok kamu berani sekali bicara seperti itu ke Oma." Reina menatap marah pada anak laki-laki satu-satunya.
"Dengar kalian Semua, Divya, Queen dan kamu Vian. Jangan pernah lupa kalau kalian di jaga Oma hampir 24 jam saat Mama kerja. Jika kalian bersikap kurang ajar sama Oma, Itu Artinya kalian sudah kurang ajar sama Mama."
Reina menatap anaknya yang menunduk. "Sekarang minta maaf ke Oma," perintah Reina. "Vian," bentak Reina saat Vian tidak juga melakukan perintahnya.
Bersambung ...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1