
"Dasar aki-aki, sudah tua kenapa obat seperti itu masih bereaksi dengan baik," oceh Nissa sambil memijat tubuhnya sendiri. Semalam Nissa sudah memberikan segelas susu dan juga kopi yang katanya bisa menawarkan obat perang**sang. Tapi nyatanya, tubuh Yusuf tidak mampu di tawarkan. Akhirnya, Nissa dengan terpaksa menjadi pelampiasan sang suami. Aslinya sih ya sama-sama enak.
"Sepertinya cara seperti ini bukanlah jalan yang tepat," Nissa terus bermonolog seorang diri sambil melangkah keluar kamar. "Aku harus mendapatkan cucu dari jalan yang lurus," gumam Nissa sambil berpikir keras.
"Nda kenapa?" tanya Ruby saat melihat Nissa berjalan sambil memijat pinggangnya.
"Nggak apa-apa By," Nissa langsung berjalan seperti biasanya. "Zen di mana By?" tanya Nissa menatap kesana kemari mencari anaknya.
"Mas Zen lagi ke luar Nda. Katanya mau beli bubur ayam untuk sarapan."
"Ah syukurlah aku nggak perlu masak," batin Nissa. "Nda ke dapur dulu ya By."
Tak berselang lama Ruby melihat Yusuf keluar dari kamar. "Tadi Nda jalan sambil pijatin pinggang, sekarang Ayah juga. Kenapa pagi-pagi pada encok semua," gumam Ruby menatap heran.
"Ayah sakit pinggang juga, seperti Nda?" tanya Ruby penasaran.
"Enggak By. Pinggang Ayah hanya pegel-pegel saja," Yusuf tersenyum canggung melihat mantunya yang super polos.
"Gagal aku punya cucu kembar laki-laki," batin Yusuf galau. "Kalau semalam Ruby ngomong jusnya buatan Nda, pasti Ayah sama Nda nggak akan encok begini By," batin Yusuf semakin galau tapi senang juga.
"Nda sama Zen dimana By?"
"Nda di dapur Ayah. Kalau Mas lagi keluar beli bubur Ayam."
.
.
.
Beberapa hari kemudian. Saat ini Ruby dan Zen sedang menikmati sarapan pagi mereka berdua.
"Om."
"Hem."
"Sepertinya apartemen ini angker."
__ADS_1
Uhuk! Uhuk!
Zen seketika tersedak saat mendengar penuturan istri kecilnya yang selalu membuat Zen menahan diri.
"Kenapa kamu bisa mengatakan hal demikian?"
"Aku sebenarnya nggak mau ngomongin ini Om. Tapi aku sudah nggak bisa sembunyikan ini. Ini sudah ke empat kalinya terjadi, setiap pagi tubuh aku rasanya pegel-pegel terus di leher aku ada tanda merah. Aku takut ada dedemit yang nakal Om."
Zen ingin sekali tertawa mendengar Ruby bercerita. Bisa-bisanya manusia seganteng Zen di bilang dedemit.
"Coba kamu tidur sama suami, nggak mungkin ada dedemit nakal By."
"Isss ... aku serius Om."
"Aku juga serius By. Oh iya, hari ini aku mau ke luar kota sama Alan, Sepertinya akan pulang malam. Nanti akan ada sopir yang jemput kamu pulang kuliah."
"Kalau Om nggak bisa jemput, biar By pulang naik Grab saja."
"NO! drivers grab kebanyakan laki-laki. Dan satu lagi, kalau kamu lapar hubungi kontak restoran yang ada di lantai dasar. Kamu pesan saja nanti akan ada yang mengantar makanan."
Apa lagi yang bisa di lakukan Ruby selain menurut dengan ucapan Zen.
.
.
.
Tiara hanya tertawa terbahak-bahak saat dengan polosnya, Ruby menceritakan perihal dedemit nakal yang membuat jejak kemerahan di lehernya.
Tiara sungguh tidak menyangka kalau Ruby tidak peka dengan suaminya yang melakukan skinship sepihak, di saat Ruby lelap.
"Aku takut Kak kalau nanti pulang kuliah, dedemitnya nongol tiba-tiba. Mana malam ini suami aku pulangnya telat lagi Kak," keluh Ruby dengan wajah lesu.
"Aku yakin dedemitnya nggak akan muncul By. Ehm kamu ingin lihat wujud dedemit nakal itu nggak?"
Ruby menggelengkan kepalanya. "Aku takut dedemitnya serem Kak."
__ADS_1
"Aku yakin dedemitnya gak seserem bayangan kamu sekarang By. Nanti malam saat kamu akan tidur coba kamu on kamera buat video ke arah tempat tidur kamu. Aku yakin dengan cara ini kamu akan tahu wujud dedemit nakal itu."
"Tapi nanti kalau serem gimana Kak?"
"Nggak By. Percaya sama aku. Atau kamu jangan tidur By. Kamu begadang saja biar bisa menangkap basah dedemit itu."
"Kok semakin ekstrim Kak."
Tiara hanya bisa menahan kekehannya sendiri melihat wajah polos Ruby saat ini.
.
.
.
Setelah mempertimbangkan sekali lagi saran dari Tiara. Akhirnya dengan sangat yakin, Ruby memasang kamera, untuk mendokumentasikan tidurnya malam ini.
Ruby merasakan resah sendiri sampai gadis itu sulit untuk lelap. Padahal malam semakin larut.
Pukul 23.30 WIB, Zen baru memasuki apartemennya. Zen melirik kamar Ruby sejenak lalu bergegas menuju kamarnya.
Setelah selesai mandi, Zen langsung keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bethrobe dan handuk kecil untuk mengusap rambutnya yang masih basah.
Zen langsung keluar dari kamar dan langsung turun menjejaki anak tangga.
Ruby yang sejak tadi belum tidur, gadis itu langsung memejamkan mata saat mendengar seseorang membuka pintu kamarnya.
"Bukankah kata Om, tombol password kamar ini rusak?" batin Ruby panik.
Ruby sedikit membuka matanya untuk mengintip siapa yang baru saja memasuki kamarnya dan kembali menutup pintu.
Sekalipun lampu kamar Ruby menggunakan pencahayaan lampu temaram. Ruby jelas bisa tahu siapa sosok yang menyelinap masuk ke kamarnya Secara diam-diam.
"Apa dia dedemit nakal itu?" batin Ruby.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya para kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️